<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959</id><updated>2011-12-24T10:10:21.141-08:00</updated><title type='text'>GEOGRAFI</title><subtitle type='html'>KERANGKA BERFIKIR ENTREPRENEUR DALAM RUANG BUMI</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>144</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-4485793453410209059</id><published>2011-10-14T18:36:00.001-07:00</published><updated>2011-10-14T18:36:23.965-07:00</updated><title type='text'>Pranata Sosial</title><content type='html'>A. Pengertian Pranata Sosial&lt;br /&gt;Pranata sosial berasal dari istilah bahasa Inggris social institution. Istilah-istilah lain pranata sosial ialah lembaga sosial dan bangunan sosial. Walaupun istilah yang digunakan berbeda-beda, tetapi social institution menunjuk pada unsur-unsur yang mengatur perilaku anggota masyarakat.&lt;br /&gt;Pranata juga berasal dari bahasa latin instituere yang berarti mendirikan. Kata bendanya adalah institution yang berarti pendirian. Dalam bahasa Indonesia institution diartikan institusi (pranata) dan institut (lembaga). Institusi adalah sistem norma atau aturan yang ada. Institut adalah wujud nyata dari norma-norma.&lt;br /&gt;Pranata adalah seperangkat aturan yang berkisar pada kegiatan atau kebutuhan tertentu. Pranata termasuk kebutuhan sosial. Seperangkat aturan yang terdapat dalam pranata termasuk kebutuhan sosial yang berpedoman kebudayaan. Pranata merupakan seperangkat aturan, bersifat abstrak.&lt;br /&gt;Menurut Koentjaraningrat, istilah pranata dan lembaga sering dikacaukan pengertiannya. Sama halnya dengan istilah institution dengan istilah institute. Padahal kedua istilah itu memiliki makna yang berbeda. &lt;br /&gt;Menurut Horton dan Hunt (1987), pranata sosial adalah suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat dipandang penting. Dengan kata lain, pranata sosial adalah sistem hubungan sosial yang terorganisir yang mengejawantahkan nilai-nilai serta prosedur umum yang mengatur dan memenuhi kegiatan pokok warga masyarakat. Oleh karena itu, ada tiga kata kunci di dalam setiap pembahasan mengenai pranata sosial yaitu:&lt;br /&gt;a. Nilai dan norma.&lt;br /&gt;b. Pola perilaku yang dibakukan atau yang disebut prosedur umum.&lt;br /&gt;c. Sistem hubungan, yakni jaringan peran serta status yang menjadi wahana untuk melaksanakan perilaku sesuai dengan prosedur umum yang berlaku.&lt;br /&gt;Menurut Koentjaraningrat (1979) yang dimaksud dengan pranata-pranata sosial adalah sistem-sistem yang menjadi wahana yang memungkinkan warga masyarakat itu untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat. Pranata sosial pada hakikatnya bukan merupakan sesuatu yang bersifat empirik, karena sesuatu yang empirik unsur-unsur yang terdapat didalamnya selalu dapat dilihat dan diamati. Sedangkan pada pranata sosial unsur-unsur yang ada tidak semuanya mempunyai perwujudan fisik. Pranata sosial adalah sesuatu yang bersifat konsepsional, artinya bahwa eksistensinya hanya dapat ditangkap dan dipahami melalui sarana pikir, dan hanya dapat dibayangkan dalam imajinasi sebagai suatu konsep atau konstruksi pikir.&lt;br /&gt; Unsur-unsur dalam pranata sosial bukanlah individu-individu manusianya itu, akan tetapi kedudukan-kedudukan yang ditempati oleh para individu itu beserta aturan tingkah lakunya. Dengan demikian pranata sosial merupakan bangunan atau konstruksi dari seperangkat peranan-peranan dan aturan-aturan tingkah laku yang terorganisir. Aturan tingkah laku tersebut dalam kajian sosiologi sering disebut dengan istilah “norma-norma sosial”.&lt;br /&gt; Herkovits, mengatakan bahwa pranata sosial itu tidak lain adalah wujud dari respon-respon yang diformulasikan dan disistematisasikan dari segala kebutuhan hidup (1952: 229 dalam Harsojo, 1967 : 157). Hetzler (1929 : 67/68 dalam Harsojo, 1967 : 157) secara lebih rinci mendefinisikan pranata sosial itu sebagai satu konsep yang kompleks dan sikap-sikap yang berhubungan dengan pengaturan hubungan antara manusia tertentu yang tidak dapat dielakkan, yang timbul karena dipenuhinya kebutuhan-kebutuhan elementer individual, kebutuhan-kebutuhan social yang wajib atau dipenuhinya tujuan-tujuan sosial penting. Konsep-konsep itu berbentuk keharusan-keharusan dan kebiasaan, tradisi, dan peraturan. Secara individual paranta sosial itu mengambil bentuk berupa satu kebiasaan yang dikondisikan oleh individu di dalam kelompok, dan secara sosial pranata sosial itu merupakan suatu struktur. Kemudian Elwood (1925 : 90-91 dalam Harsojo, 1967 : 157), pranata sosial itu dapat juga dikatakan sebagai satu adat kebiasaan dalam kehidupan bersama yang mempunyai sanksi, yang disistematisasikan dan dibentuk oleh kewibawaan masyarakat. Pranata sosial yang penting adalah hak milik, perkawinan, religi, sistem hukum, sistem kekerabatan, dan edukasi (harsojo, 1967 : 158).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Perbedaan Pranata Sosial dengan Lembaga Sosial&lt;br /&gt;Institution (pranata) adalah sistem norma atau aturan yang menyangkut suatu aktivitas masyarakat yang bersifat khusus. Sedangkan institute (lembaga) adalah badan atau organisasi yang melaksanakannya. Lembaga sosial merupakan wadah/tempat dari aturan-aturan khusus, wujudnya berupa organisasi atau asosiasi. Contohnya KUA, mesjid, sekolah, partai, CV, dan sebagainya. Sedangkan pranata sosial adalah suatu sistem tata kelakuan yang mengatur perilaku dan hubungan antara anggota masyarakat agar hidup aman, tenteram dan harmonis. Dengan bahasa sehari-hari kita sebut “aturan main/cara main”. Jadi peranan pranata sosial sebagai pedoman kita berperilaku supaya terjadi keseimbangan sosial. Pranata sosial merupakan kesepakatan tidak tertulis namun diakui sebagai aturan tata perilaku dan sopan santun pergaulan. Contoh: kalau makan tidak berbunyi, di Indonesia pengguna jalan ada di kiri badan jalan, tidak boleh melanggar hak orang lain, dan sebagainya. Jadi lembaga sosial bersifat konkret, sedangkan pranata sosial bersifat abstrak, namun keduanya saling berkaitan. &lt;br /&gt;  Pranata adalah seperangkat aturan yang berkisar pada kegiatan atau kebutuhan tertentu. Pranata termasuk kebutuhan sosial. Seperangkat aturan yang terdapat dalam pranata termasuk kebutuhan sosial yang berpedoman kebudayaan. Pranata merupakan seperangkat aturan, bersifat abstrak. Wujud nyata dari pranata adalah lembaga. Untuk jelasnya lihat tabel berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pranata dan Lembaga&lt;br /&gt;No. Kegiatan dan Kebutuhan&lt;br /&gt; Pranata Lembaga&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;3. Makanan, pakaian, perumahan&lt;br /&gt;Peran serta politik&lt;br /&gt;Pengembangan keturunan Perdagangan&lt;br /&gt;Pemilihan umum&lt;br /&gt;Pernikahan Keluarga Abimanyu&lt;br /&gt;Komisi Pemilihan Umum&lt;br /&gt;KUA, Catatan Sipil, Gereja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Ciri-Ciri Pranata Sosial&lt;br /&gt;Menurut John Levis Gillin dan John Phillpe Gillin ciri umum pranata sosial adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;•Pranata sosial merupakan suatu organisasi pola pemikiran dan pola perilaku yang terwujud melalui aktivitas kemasyarakatan dan hasilnya terdiri atas adat istiadat, tata kelakuan, kebiasaan, serta unsur-unsur kebudayaan yang secara langsung atau tidak langsung tergabung dalam satu unit yang fungsional.&lt;br /&gt;•Hampir semua pranata sosial mempunyai suatu tingkat kekekalan tertentu sehingga orang menganggapnya sebagai himpunan norma yang sudah sewajarnya harus dipertahankan. Suatu sistem kepercayaan dan aneka macam tindakan, baru akan menjadi bagian pranata sosial setelah melewati waktu yang sangat lama.&lt;br /&gt;•Pranata sosial mempunyai satu atau beberapa tujuan tertentu.&lt;br /&gt;•Pranata sosial mempunyai alat perlengkapan yang digunakan untuk mencapai tujuan.&lt;br /&gt;•Panata sosial biasanya memiliki lambang-lambang tertentu yang secara simbolis menggambarkan tujuan dan fungsinya.&lt;br /&gt;•Pranata sosial mempunyai suatu tradisi tertulis ataupun tidak tertulis yang merupakan dasar bagi pranata yang bersangkutan dalam menjalankan fungsinya. Tradisi tersebut merumuskan tujuan dan tata tertib yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Tipe-Tipe Pranata Sosial&lt;br /&gt;Dalam kehidupan masyarakat terdapat berbagai macam pranata sosial, dimana satu dengan yang lain sering terjadi adanya perbedaan-perbedaan maupun persamaan-persamaan tertentu. Persamaan dari berbagai pranata sosial itu diantaranya, selain bertujuan untuk mengatur pemenuhan kebutuhan warganya, juga karena pranata itu terdiri dari seperangkat kaidah dan pranata sosial. Sedangkan perbedaannya, seperti dikemukakan oleh J.L. Gillin dan J. P. Gillin (1954), bahwa pranata sosial itu diantaranya dapat diklasifikasikan menurut:&lt;br /&gt;1. Dari Sudut Perkembangan&lt;br /&gt;Dari sudut perkembangannya dikenal 2 macam pranata sosial yaitu :&lt;br /&gt;•Crescive institutions, pranata sosial yang tidak disengaja tumbuh dari adat istiadat masyarakat sehingga disebut juga pranata yang paling primer. Contoh : pranata hak milik, perkawinan, dan agama.&lt;br /&gt;•Enacted institutions, pranata sosial yang sengaja dibentuk untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Contoh : pranata utang-piutang dan pranata pendidikan.&lt;br /&gt;2.  Dari Sudut Sistem Nilai yang Diterima oleh Masyarakat&lt;br /&gt;Dari sudut sistem nilai yang diterima oleh masyarakat dikenal 2 macam pranata social yaitu :&lt;br /&gt;•Basic institutions, pranata sosial yang penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat, misalnya keluarga, sekolah, dan Negara.&lt;br /&gt;•Subsidiary institutions, pranata sosial yang berkaitan dengan hal yang dianggap oleh masyarakat kurang penting, misalnya rekreasi.&lt;br /&gt;       3.  Dari Sudut Penerimaan Masyarakat&lt;br /&gt;Dari sudut penerimaan masyarakat dikenal 2 macam pranata sosial yaitu :&lt;br /&gt;•Aproved dan Sanctioned institutions, pranata sosial yang diterima oleh masyarakat, seperti sekolah dan perdagangan.&lt;br /&gt;•Unsantioned institutions, pranata sosial yang ditolak oleh masyarakat meskipun masyarakat tidak mampu memberantasnya, misalnya pemerasan, kejahatan, dan pencolongan.&lt;br /&gt;4. Dari Sudut Penyebaran&lt;br /&gt;• General institutions, pranata sosial yang dikenal oleh sebagian besar masyarakat dunia. Misalnya : pranata agama, HAM.&lt;br /&gt;• Restructed institutions, pranata sosial yang hanya dikenal oleh sebagian masyarakat tertentu, misalnya pranata Agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dll.&lt;br /&gt;5. Dari Sudut Fungsi&lt;br /&gt;• Operative institutions, pranata sosial yang berfungsi menghimpun pola-pola atau cara-cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan dari masyarakat yang bersangkutan, misalnya pranata industri.&lt;br /&gt;• Regulative institutions, pranata sosial yang bertujuan mengawasi adat istiadat atau tata kelakuan yang ada dalam masyarakat, misalnya pranata hukum seperti kejaksaan dan pengadilan.&lt;br /&gt; E. Tujuan dan Fungsi Pranata Sosial&lt;br /&gt;Secara umum, tujuan utama diciptakannya pranata sosial yaitu untuk mengatur agar kebutuhan hidup manusia dapat terpenuhi secara memadai, dan untuk mengatur agar kehidupan sosial warga masyarakat bisa berjalan dengan tertib dan lancar sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Sebagai contoh, pranata keluarga mengatur bagaimana keluarga harus memelihara anak. Sementara itu, pranata pendidikan mengatur bagaimana sekolah harus mendidik anak-anak hingga menghasilkan lulusan yang handal. Tanpa adanya pranata sosial, kehidupan manusia nyaris bisa dipastikan bakal porak-poranda karena jumlah prasarana dan sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia relatif terbatas, sementara jumlah warga masyarakat yang membutuhkan justru semakin lama semakin banyak.&lt;br /&gt;  Untuk mewujudkan tujuannya, menurut Soerjono Soekanto (1970), pranata sosial didalam masyarakat harus dilaksanakan dengan fungsi-fungsi berikut :&lt;br /&gt;1. Memberi pedoman pada anggota masyarakat tentang bagaimana bertingkah laku atau bersikap didalam usaha untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya.&lt;br /&gt;2. Menjaga keutuhan masyarakat dari ancaman perpecahan atau disintegrasi masyarakat.&lt;br /&gt;3. Berfungsi untuk memberikan pegangan dalam mengadakan sistem pengendalian sosial (social control).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; F.  Macam-Macam Pranata Sosial&lt;br /&gt;1.  Pranata Keluarga&lt;br /&gt;Keluarga merupakan unit masyarakat yang terkecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan&lt;br /&gt;anak. Keluarga mempunyai banyak fungsi penting yaitu :&lt;br /&gt;•Fungsi Reproduksi : Keluarga merupakan lembaga yang fungsinya mempertahankan kelangsungan hidup manusia. Dalam masyarakat yang beradab, keluarga adalah satu-satunya tempat untuk tujuan itu. Berlangsungnya fungsi reproduksi berkaitan erat dengan aktivitas seksual laki-laki dan wanita. Dengan berkeluarga, manusia dapat melanjutkan keturunan secara tepat, wajar, dan teratur di lihat dari segi moral, cultural, sosial, dan kesehatan.&lt;br /&gt;•Fungsi Afeksi : Salah satu kebutuhan manusia adalah kasih saying atau rasa saling mencintai. Apabila kebutuhan kasih sayang tidak terpenuhi, keluarga akan mendapatkan gangguan emosional, masalah perilaku, dan kesehatan fisik.&lt;br /&gt;•Fungsi Sosialisasi : Keluarga merupakan tempat sosialisasi pertama dan paling utama bagi anak sehingga kelak dapat berperan dengan baik di masyarakat. Keluarga sebagai media sosialisasi kelompok primeryang pertama bagi seorang anak, dan dari situlah perkembangan kepribadian dimulai. Pada saat anak sudah cukup umur untuk memasuki kelompok atau media sosialisasi lain diluar keluarga. Pondasi dasar kepribadian anak sudah tertanam secara kuat, dan kepribadiannya pun sudah terarah dengan baik melalui keluarga. &lt;br /&gt;•Fungsi Ekonomi : Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi anggota keluarganya. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, semua anggota keluarga melakukan kerja sama. Pada umumnya, seorang suami melakukan kegiatan ekonomi untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan keluarga, sedangkan isteri berfungsi mengatur keuangan dan belanja keluarga.&lt;br /&gt;2. Pranata Ekonomi&lt;br /&gt;  Pranata ekonomi adalah pranata sosial yang menangani masalah kesejahteraan materiil, yang mengatur kegiatan atau cara berproduksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa yang diperlukan bagi kelangsungan hidup masyarakat agar semua lapisan masyarakat mendapatkan bagian yang semestinya. Fungsi pranata ekonomi yaitu :&lt;br /&gt;• Memelihara ketertiban,&lt;br /&gt;• Mencapai consensus,&lt;br /&gt;• Meningkatkan produksi ekonomi semaksimal mungkin.&lt;br /&gt;Contoh dari Pranata Ekonomi adalah , bertani, industri, bank, koperasi dan sebagainya.&lt;br /&gt;3. Pranata Politik&lt;br /&gt; Pranata Politik adalah peraturan-peraturan untuk memelihara tata tertib, untuk mendamaikan pertentangan-pertentangan dan untuk memilih pemimpin yang wibawa. Fungsi pranata politik yaitu :&lt;br /&gt;•Melaksanakan undang-undang yang telah disahkan,&lt;br /&gt;•Melembagakan norma melalui undang-undang yang dibuat oleh lembaga legislatif,&lt;br /&gt;•Menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi diantara warga masyarakat, dll.&lt;br /&gt;  Contoh Pranata politik adalah seperti sistem hukum, sistem kekuasaan, partai,wewenang, pemerintahan.&lt;br /&gt;4. Pranata Pendidikan&lt;br /&gt;  Tujuan pranata pendidikan ialah memberikan ilmu pengetahuan, pendidikan sikap, dan melatih keterampilan kepada warga agar seseorang dapat mandiri dalam mencari penghasilan. Contohnya seperti Kegiatan Belajar Mengajar, sistem pengetahuan, aturan, kursus, pendidikan keluarga, ngaji.&lt;br /&gt;5. Pranata Kepercayaan/Agama&lt;br /&gt; Fungsi pokok pranata agama adalah memberikan pedoman bagi manusia untuk berhubungan dengan Tuhannya dan memberikan dasar perilaku yang ajeg dalam masyarakat. Contohnya seperti upacara semedi, tapa, zakat, infak, haji dan ibadah lainnya.&lt;br /&gt;6. Pranata Kesenian&lt;br /&gt; Fungsi Pranata Kesenian adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia akan keindahan, contohnya seperti seni suara, seni lukis, seni patung, seni drama, dan sebagainya.&lt;br /&gt;7. Hubungan Antarpranata&lt;br /&gt;  Dalam masyarakat terdapat bermacam-macam pranata sosial yang saling berhubungan. Contohnya dalam masyarakat Jakarta merupakan suatu tatanan yang terdiri dari berbagai pranata sosial yang saling berkaitan, antara lain pranata keluarga, pranata pendidikan, pranata politik, pranata agama, dll.&lt;br /&gt;8. Pranata Total&lt;br /&gt;  Masyarakat merupakan tatanan pranata sosial. Kehidipan dalam masyarakat berarti adanya kesempatan berpindah dari satu pranata ke pranata lain. Warga masyarakat mengalami perpindahan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya kehidupan siswa SMA biasanya sejak pagi hingga malam hari ditandai oleh perpindahan tsb. Pagi hari ketika bangun tidur siswa tsb berada dalam pranata keluarga. Norma-norma yang mengatur, cara berpikir, bertindak, dan berperasaan bersumber pada pranata keluarga. Kemudian pindah ke pranata pendidikan dan rekreasi. Begitu seterusnya sampai pulang ke rumah.&lt;br /&gt;9. Pranata Dominan&lt;br /&gt;  Pranata dominan merupakan pranata sosial yang menuntut loyalitas penuh dari orang-orang yang berada dibawah naungannya. Contohnya militer dan pranata sekte keagamaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-4485793453410209059?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/4485793453410209059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pranata-sosial_7676.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/4485793453410209059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/4485793453410209059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pranata-sosial_7676.html' title='Pranata Sosial'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-1925555358219594087</id><published>2011-10-14T18:25:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T18:33:36.480-07:00</updated><title type='text'>RINGKASAN MATERI SOSIOLOGI</title><content type='html'>DEFERENSIASI SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.    PENGERTIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deferensiasi atau perbedaan sosial adalah pembedaan penduduk atau warga masyarakat ke dalam golongan-golongan atau kelompok-kelompok secara horisontal ( tidak bertingkat ). Perwujudannya adalah penggolongan penduduk atas dasar perbedaan-perbedaan dalam hal yang tidak menunjukkan tingkatan, antara lain ras, agama, jenis kelamin, profesi, klen dan suku bangsa.&lt;br /&gt;Dalam pelapisan sosial warga masyarakat dibedakan di dalam berbagai lapisan (hierarki). Dalam diferensiasi, hierarki atau tingkatan sosial tidak ada. Hal itu berarti tidak ada perbedaan tingkatan ras, agama, jenis kelamin, profesi, klen dan suku bangsa.&lt;br /&gt;Diferensiasi sosial menunjukkan adanya keanekaragaman dalam masyarakat. Suatu masyarakat yang di dalamnya terdiri atas berbagai unsur yang satu dengan yang lin menunjukkan perbedaan tidak bertingkat (horizontal) disebut masyarakat majemuk.&lt;br /&gt;Yang menjadi tekanan dalam pengertian diferensiasi sosial adalah pengaruh adanya perbedaan terhadap hak, kewajiban, dan tanggung jawab masing-masing orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.     BENTUK-BENTUK DIFERENSIASI SOSIAL DALAM MASYARAKAT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk diferensiasi sosial digolongkan ke dalam dua bagian :&lt;br /&gt;1.      Bentuk diferensiasi sosial secara biologis meliputi :&lt;br /&gt;a.       Diferensiasi jenis kelamin.&lt;br /&gt;Perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan mempengaruhi perolehan hak dan kewajiban dalam banyak aspek, seperti kondisi kerja, kehidupan ekonomi dan politik dan lain-lain.&lt;br /&gt;b.      Diferensiasi umur.&lt;br /&gt;Perbedaan perolehan hak dan kewajiban anggota masyarakat yang berbeda umur tidak hanya ada pada situasi masyarakat tradisional, tetapi juga pada masyarakat feodal dan masyarakat modern.&lt;br /&gt;c.       Diferensiasi intelektual.&lt;br /&gt;Diferensiasi intelektual yaitu perolehan hak dan kewajiban yang berbeda bagi setiap anggota masyarakat secara horisontal atas dasar perbedaan kepandaian.&lt;br /&gt;d.      Diferensiasi Ras.&lt;br /&gt;Ras adalah katagori untuk sekelompok individu yang secara turun-temurun memiliki ciri fisik dan biologis tertentu yang sama. Ciri morfologis (fisik dan biologis) ini meliputi dua hal :&lt;br /&gt;-          secara kuantitatif : ukuran badan, bentuk kepala dan bentuk hidung.&lt;br /&gt;-          Secara kualitatif : warna kulit, jenis rambut dan warna mata.&lt;br /&gt;Jenis ras dibagi dalam 4 kelompok besar yaitu Caucasoid, Mongoloid, Negroid dan ras Khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Bentuk diferensiasi sosial sehubungan dengan kondisi sosio kulturalnya&lt;br /&gt;a.       Diferensiasi Suku Bangsa&lt;br /&gt;Setiap anggota sebuah suku bangsa tertentu mempunyai ciri khas yang sama yaitu adat-istiadat, bahasa, religi dan kepercayaan, ciri-ciri fisik dan kesamaan dalam hal tata nilai budaya.&lt;br /&gt;b.      Diferensiasi Agama&lt;br /&gt;Agama apa pun mempunyai dua aspek ajaran bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhan (transenden) dan bagaimana manusia berhubungan dengan dunia (imanen)&lt;br /&gt;c.       Diferensiasi Klan.&lt;br /&gt;Klan adalah kelompok kekerabatan yang terdiri dari satu nenek moyang melauli garis keturunan (unilateral) apakah garis keturunan ayah (patrilineal) atau keturunan ibu (mterilineal).&lt;br /&gt;d.      Diferensiasi Profesi&lt;br /&gt;Diferensiasi profesi adalah perolehan hak dan kewajiban yang berbeda karena perbedaan profesi masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku Menyimpang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P&lt;br /&gt;erilakau menyimpang menyiratkan kesan, meskipun tidak ada masyarakat yang seluruh warganya dapat menaati dengan patuh seluruh aturan  norma social yang berlaku tetapi apabila terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh seseorang, maka hal itu dianggap telah mencoreng aib diri sendiri, keluarga maupun  kumunitas besarnya.&lt;br /&gt;            Sumbangan sosiologi cukup signifikan dalam memetakan berbagai bentuk penyimpangan perilaku dan reaksi masyarakat yang ditimbulkannya. Kajian tentang perilaku menyimpang dipelajari oleh sosiologi karena berkaitan dengan pelanggaran terhadap norma-norma sosial dan nilai-nilai kulutral yang telah ditegakkan oleh masyarakat. Selain itu, melalui teori dan hasil-hasil penelitian yang dikembangkannya, sosiologi membantu masyarakat untuk dapat menggali akar-akar penyebab terjadinya tindakan menyimpang. Upaya untuk menghentikan atau paling tidak menahan bertambahnya penyimpangan perilaku dapat dipelajari pula melalui kajian tentang lembaga kontrol sosial dan efektivitasnya dalam mencegah terjadinya tindakan tersebut.&lt;br /&gt;Secara sederhana kita dapat mengatakan, bahwa seseorang berperilaku menyimpang apabila menurut anggapan besar masyarakat ( minimal di suatu kelompok atau komunitas tertentu ) perilaku atau tindakan tersebut di luar kebiasaan, adat istiadat, aturan, nilai-nilai, atau norma sosial yang berlaku.&lt;br /&gt;Tindakan menyimpang yang dilakukan orang-orang tidak selalu berupa tindakan kejahatan besar, seperti merampok, korupsi, menganiaya atau membunuh. Melainkan bisa pula cuma berupa tindakan pelanggaran kecil-kecilan, semacam berkehalahi dengan teman, suka meludah di sembarang tempat, makan dengan tangan kiri dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun secara nyata kita dapat menyebutkan  berbagai bentuk perilaku menyimpang, namun mendefinisikan arti perilaku menyimpang itu sendiri merupakan hal yang sulit karena kesepakatan umum tentang itu berbeda-beda di antara berbagai kelompok masyarakat. Ada segolongan orang yang menyatakan perilaku menyimpang adalah ketika orang lain melihat perilaku itu sebagai sesuatu yang berbeda dari kebiasaan umum. Namun, ada pula yang menyebut perilaku menyimpang sebagai tindakan yang dilakukan oleh kelompok minoritas atau kelompok-kelompok tertentu yang memiliki nilai dan norma sosial berbeda dari kelompok sosial yang lebih dominan.&lt;br /&gt;Definisi tentang perilaku menyimpang dengan demikian bersifat relatif, tergantung dari masyarakat yang mendefinisikannya, nilai-nilai budaya dari suatu masyarakat, dan masa, zaman, atau kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt;Hal lain yang juga menyebabkan perilaku menyimpang bersifat relatif adalah karena perilaku menyimpang itu juga dianggap sebagai gaya haidup, kebiasaan-kebiasaan, fashion atau mode yang dapat berubah dari zaman ke zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pertama, secara statistikal adalah segala perilaku yang bertolak dari suatu tindakan yang bukan rata-rata atau perilaku yang jarang dan tidak sering dilakukan. Pendekatan ini berasumsi, bahwa sebagian besar masyarkat dianggap melakukan cara-cara dan tindakan yang benar.&lt;br /&gt;Kedua, secara absolut atau mutlak. Definisi perilaku menyimpang yang bersasal dari kaum absolutis ini berangkat dari aturan-aturan sosial yang dianggap sebagai sesuatu yang “mutlak” atau jelas dan nyata, sudah ada sejak dulu, serta berlaku tanpa terkecuali, untuk semua warga masyarakat. Kelompok ini berasumsi bahwa aturan-aturan dasar dari suatu masyarakat adalah jelas dan anggota-anggotanya harus menyetujui tentang apa yang disebut sebagai menyimpang dan bukan.&lt;br /&gt;Ketiga, secara reaktif yaitu perilaku menyimpang yang berkenaan dengan rekasi masyarakat atau agen kontrol sosial terhadap tindakan yang dilakukan seseorang. Artinya apabila ada reaksi dari masyarakat atau agen kontrol sosial dan kemudian mereka memberi cap atau tanda (labeling) terhadap si pelaku maka perilaku itu telah dicap menyimpang, demikian pula si pelaku, juga dikatan menyimpang. Dengan demikian apa yang menyimpang dan apa yang tidak, tergantung dari ketetapan-ketetapan ( atau reaksi-reaksi) dari anggota masyarakat terhadap suatu tindakan.&lt;br /&gt;Keempat, secara normatif ;  penyimpangan adalah suatu pelanggaran dari suatu norma sosial. Norma adalah suatu standar tentang “apa yang seharusnya atau tidak seharusnya dipikirkan, dikatakan, atau dilakukan oleh warga masyarakt pada suatu keadaan tertentu” Secara keseluruhan, maka definisi normatif dari suatu perilaku menyimang adalah tindakan-tindakan atau perilaku yang menyimpang dari norma-norma, dimana tindakan-tindakan tersebut tidak disetujui atau dianggap tercela dan akan mendapatkan sanksi negatif dari masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Perilaku Menyimpang Perlu Dipalajari ?&lt;br /&gt;Oleh karena cukup banyak pelanggaran atau penyimpangan perilaku yang dilakukan manusia dan hal itu terkadang dapat dianggap mengancam ketentraman masyarakat, maka perlu juga kita mempelajarinya, untuk mengetahui apa yang menjadi penyebabnya dan bagaimana melakukan pencegahan terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, yang digolongkan sebagai perilaku menyimpang, antara lain adalah :&lt;br /&gt;1.      Tindakan yang nonconform, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai atau norma yang ada. Contoh : memakai sandal butut ke kampus; merokok di area di larang merokok, membuang sampah bukan pada tempat yang semestinya dsb.&lt;br /&gt;2.      Tindakan yang antisosial atau asosial, yaitu tindakan yang melawan kebiasaan masyarakat atau kepentingan umum. Bentuk tindakan sosial itu antara lain : menarik diri dari pergaulan, tidak mau berteman, penyimpangan seksual, pelacuran dsb.&lt;br /&gt;3.      Tindakan-tindakan kriminal, yaitu tindakan yang nyata-nyata telah melanggar aturan-aturan hukum tertulid dan mengancam jiwa atau keselamatan orang lain. Misalnya, pencurian, perampokan, pembunuhan dsb.&lt;br /&gt;Rangkaian pengamalan atau karier menyimpang sesorang dimulai dari penyimpangan-penyimpangan kecil yang mungkin tidak disadarinya (primary deviance/penyimpangan primer). Penyimpangan jenis ini dialami oleh seseorang mana kala ia belum memiliki konsep sebagai penyimpang atau tidak menyadari jika perilakunya menyimpang.&lt;br /&gt;            Penyimpangan yang lebih berat akan terjadi apabila seseorang sudah sampai pada tahap secondary deviance (penyimpangan sekunder) yaitu suatu tindakan menyimpang yang berkembang ketika perilaku dari si penyimpang itu mendapat penguatan (reinforcement) melalui keterlibatannya dengan orang atau kelompok yang juga menyimpang.&lt;br /&gt;            Tindakan menyimpang, baik primer maupun sekunder, tidak terjadi begitu saja tapi berkembang melalui periode waktu dan juga sebagai hasil dari serangkaian tahapan interaksi yang melibatkan interpretasi tentang kesempatan untuk bertindak menyimpang. Karier menyimpang juga didukung oleh pengendalian diri yang lemah serta kontrol masyarakat yang longgar (permisif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku menyimpang tidak saja dilakukan secara perorang, tapi tak jarang juga dilakukan secara berkelompok. Penyimpangan yang dilakukan oleh kelompok acap disebut dengan subkulur menyimpang.&lt;br /&gt;            Subkultur adalah sekumpulan norma, nilai, kepercayaan, kebiasaan, atau gaya hidup yang berbeda dari kultur dominan.&lt;br /&gt;            Asal mula terjadinya subkultur menyimpang karena ada interaksi di antara sekelompok orang yang mendapatkan satatus atau cap menyimpang. Melalui interaksi dan intensitas pergaulan yang cukup erat, maka terbentuklah perasaan senasib, dan memiliki jalan pikuran nilai dan norma serta aturan bertingkah laku yang berbeda dengan norma-norma sosial masyarakat pada umumnya(kultur dominan).&lt;br /&gt;            Para anggota dari suatu subkultur menyimpang biasanya juga mengajarkan kepada anggota-anggota barunya tentang berbagai keterampilan untuk melanggar hukum dan menghindari kejaran agen-agen kontrol sosial. Mereka juga mengindoktrinasi suatu keyakinan yang berbeda dari keyakinan yang dianut mayoritas masyarakat kepada yuniornya. Begitu pula ketika menerima keanggotaan baru, ujian yang cukup keras akan diberlakukan kepada anggota-anggota baru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua perspektif yang bisa digunakan untuk memahami sebab-sebab dan latar belakang seseorang atau sekelompok orang berperilaku menyimpang. Yang pertama adalah perspektif individualistik dan yang kedua adalah teori-toeri sosiologi.&lt;br /&gt;Teori-teori individualistik berusaha mencari penjelasan tentang munculnya tindakan menyimpang melalui kondisi yang secara unik mempengaruhi individu seperti warisan genetis-biologis atau pengalaman-pengalaman awal ari kehidupan seseorang di dalam keluarganya. Teori-teori individualistik sebagian besar didasarkan pada proses-proses yang sifatnya individual dan mengabaikan proses sosialisasi atau belajar tentang norma-norma sosial yang menyimpang.&lt;br /&gt;            Berbeda halnya dengan teori individualistik, teori-teori yang berspektif sosiologis tentang penyimpangan berupaya menggali kondisi-kondisi sosial yang mendasari penyimpangan. Beberapa hal yang dianggap bersifat sosiologis dalam memahami tindakan menyimpang misalnya proses penyimpangan yang ditetapkan oleh masyarakat ; bagaimana faktor-faktor kelompok dan subkultur berpengaruh terhadap terjadinya perilaku menyimpang pada seseorang; dan reaksi-reaksi apa yang diberikan oleh masyarakat apda orang-orang yang dianggap menyimpang dari norma-norma sosialnya.&lt;br /&gt;Teori Anomie&lt;br /&gt;Teori anomie berasumsi bahwa penyimpangan adalah akibat dari adanya berbagai ketegangan dalam suatu struktur sosial sehingga ada individu-individu yang mengalami tekanan dan akhirnya menjadi menyimpang. Anomie adalah suatu keadaan atau nama dari situasi di mana kondisi sosial/situasi masyarakat lebih menekankan pentingnya tujuan-tujuan status, tetapi cara-cara yang sah untuk mencapai tujuan-tujuan status tersebut jumlahnya lebih sedikit.&lt;br /&gt;Situasi anomie tersebut dapat berakibat negatif bagi sekelompok masyarakat, di mana untuk mencapai tujuan statusnya mereka terpaksa melakukannya melalui cara-cara yang tidak sah, di antaranya melakukan penyimpangan atau kejahatan.&lt;br /&gt;Teori Belajar atau Teori Sosialisasi&lt;br /&gt;Salah seorang ahli teori belajar adalah Edwin H. Sutherland yang menamakan teorinya dengan Asosiasi Diferensial, menurut teori ini penyimpangan adalah konsekuensi dari kemahiran dan penguasaan atas suatu sikap atau tindakan yang dipelajari dari norma-norma yang menyimpang, terutama dari subkultur atau diantara teman-teman sebaya yang menyimpang.&lt;br /&gt;ü  Perilaku menyimpang adalah hasil dari proses belajar atau yang dipelajari, ini berarti bahwa penyimpangan bukan diwariskan atau diturunkan, bukan juga hasil ari intelegensi yang rendah atau karena kerusakan otak.&lt;br /&gt;ü  Perilaku menyimpang dipelajari oleh seseorang dalam interaksinya dengan orang lain secara intens.&lt;br /&gt;ü  Bagian utama dari belajar tentang perilaku menyimpang terjadi di dalam kelompok-kelompok personal yang intim atau akrab.&lt;br /&gt;ü  Hal-hal yang dipelajari ; teknis-teknis penyimpangan, motif, dorongan &amp; sikap&lt;br /&gt;ü  Petunjuk-petunjuk khusus ttg. Dorongan menyimpang dipelajari dari definisi ttg, norma yang baik atau tidak baik.&lt;br /&gt;ü  Seseorang menjadi menyimpang karena ia menganggap lebih menguntungkan untuk melanggar norma daripada tidak.&lt;br /&gt;ü  Terbentuknya asosiasi diferensial itu bervariasi tergantung dari frekuensi, durasi, prioritas dan intensitas&lt;br /&gt;ü  Proses mempelajari penyimpangan melalui mekanisme yang berlaku di dalam setiap proses belajar.&lt;br /&gt;Teori Labeling ( Teori Pemberian cap atau teori Reaksi Masyarakat )&lt;br /&gt;Teori ini menjelaskan penyimpangan terutama ketika perilaku itu sudah sampai pada tahap penyimpangan sekunder (secodary deviance). Analisis tentang pemberian cap itu dipusatkan pada reaksi orang lain. Artinya ada orang-orang yang memberi definisi, julukan, atau pemberi label (definers/labelrs) pada individu-individu atau tindakan yang menurut penilaian orang tersebut adalah negatif.&lt;br /&gt;Teori labeling ( Becker ) mendefinisikan penyimpangan sebagai “suatu konsekuensi dari penerapan aturan-aturan dan sanksi oleh orang lain kepada seorang pelanggar”. Melalui definisi itu dapat ditetapkan bahwa menyimpang adalah tindakan yang dilabelkan kepada seseorang, atau pada siapa label secara khusus telah ditetapkan. Dengan demikian dimensi penting dari penyimpangan adalah pada adanya reaksi masyarakat, bukan pada kualitas dari tindakan itu sendiri. Atau dengan kata lain penyimpangan tidak ditetapkan berdasarkan norma, tetapi melalui reaksi atau sanksi dari penonton sosialnya.&lt;br /&gt;            Konsekuensi dari pemberian label pada diri seseorang maka ia cenderung mengembangkan konsep diri yang menyimpang dan kemungkinan berakibat pada suatu karier yang menyimpang.&lt;br /&gt;Teori Kontrol&lt;br /&gt;Ide utama di belakang teori kontrol adalah bahwa penyimpangan merupakanhasil dari kekosongan kontrol atau pengendalian sosial. Teori ini dibangun atas dasar pandangan bahwa setiap manusia cenderung untuk tidak patuh pada hukum atau memiliki dorongan untuk melakukan pelanggaran hukum. Oleh sebab itu teori ini menilai perilaku menyimpang adalah konsekuensi logis dari kegagalan seseorang untuk mentaati hukum.&lt;br /&gt;Teori Konflik&lt;br /&gt;Persepektif konflik lebih menekankan sifat pluralistik dari masyarakat dan ketidakseimbangan distribusi kekuasaan yang terjadi di antara berbagai kelompoknya. Berkaitan dengan hal itu, persepektif konflik memahami masyarakat sebagai kelompok-kelompok dengan berbagai kepentingan yang bersaing dan akan cenderung saling berkonflik. Melalui  persaingan itu maka kelompok-kelompok dengan kekuasaan yang berlebih akan menciptakan hukum dan aturan-aturan yang menjamin kepentingan mereka dimenangkan.&lt;br /&gt;Teori-teori konflik kontemporer sering kali juga menganggap kejahatan sebagai suatu tindakan rasional. Orang-orang yang mencuri dan merampok telah didorong masuk ke dalam tindakan-tindakan tersebut melalui kondisi sosial yang disebabkan oleh distribusi kekayaan yang tidak seimbang, dimana kejahatan perusahaan dan berbagai kejatan kerah putih secara langsung melindungi serta memperbesar modal kapitas mereka. Kejahatan yang terorganisir adalah suatu cara rasional untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ilegal dalam masyarakat kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Sosiologi “Teks Pengantar Dan Terapan” J. Dwi Narwoko–Bagong Suyatno(ed)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.    Pengertian Sosiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara etimologis, sesungguhnya sosiologi berasal dari kata Latin “Socius” yang berarti kawan ( dapat juga diartikan sebagai pergaulan hidup manusia atau masyarakat), dan kata Yunani “Logos” berarti kata atau pembicaraan sehingga akhirnya berarti Ilmu. Jadi secara sederhana sosiologi adalah suatu ilmu tentang hubungan antara teman dan teman. Secara lebih luas, sosiologi adalah ilmu tentang masyarakat.&lt;br /&gt;      Sehubungan dengan hal ini banyak ahli mencoba memberikan definisi tentang sosiologi yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selo Soemarjan dan Soelaeman Soemardi&lt;br /&gt;Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk  perubahan-perubahan sosial. Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yakni kaidah-kaidah sosial (norma-norma sosial), lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial serta lapisan-lapisan sosial. Proses sosial adalah pengauh timbal balik antara pelbagai segi kehidupan bersama, misalnya antara kehdiupan ekonomi dan kehidupan politik atau antara kehidupan hukum dan kehidupan agama&lt;br /&gt;Roucek dan Warren&lt;br /&gt;Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antarmanusia dalam kelompok.&lt;br /&gt;Pitirim Sorokin&lt;br /&gt;Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari :&lt;br /&gt;·         Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial&lt;br /&gt;·         Hubungan dan salih pengaruh antara gejala-gejala sosial dan gejala non sosial&lt;br /&gt;·         Ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Definisi para ahli di atas agak berbeda satu sama lain, namun bila dirumuskan dapat diperoleh sebuah definisi yang lebih tepat sebagai berikut :&lt;br /&gt;B.     Obyek Kajian Sosiologi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyek studi atau kajian sosiologi adalah manusia ( manusia adalah multidimensi ) namun sosiolodi mempelajari manusia dari aspek sosial yang kita sebut masyarakat, yakni hubungan antara manusia dan proses sebab akibat yang timbul dari hubungan tersebut. Istilah masyarakat sering digunakan untuk menyebut kesatuan hidup manusia,misalnya masyarakat desa, masyarakat kota, masyarakat Bali dan masyarakat lainnya. Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat kontinu dan terikat oleh rasa identitas bersama. Adat istiadat : tata kelakuan yang kekal dan turun-temurun dari generasi ke generasi lain sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku masyarakat.&lt;br /&gt;Ciri-ciri masyarakat :&lt;br /&gt;v  Adanya manusia yang hidup bersama yang dalam ukuran minimalnya berjumlah dua orang atau lebih&lt;br /&gt;v  Adanya pergaulan (hubungan) dan kehidupan bersama antara manusia dalam waktu yang cukup lama.&lt;br /&gt;v  Adanya kesadaran bahwa mereka merupakan suatu kesatuan&lt;br /&gt;v  Adanya sistem hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu Astrid S. Susanto membedakan Obyek Sosiologi menjada dua macam yaitu :&lt;br /&gt;Obyek materi dari sosiologi adalah kehidupan sosial manusia, dan gejala serta proses hubungan antar manusia yang mempengaruhi kesatuan hidup bersama&lt;br /&gt;Obyek Formal adalah ; pengertian terhadap lingkungan hidup manusia dalam kehidupan sosial, meningkatkan kehidupan harmonis masyarakatnya, meningkatkan kerja sama antar manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.     Sosiologi sebagai ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Soerjono Soekanto Ilmu Pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran (logika), sehingga pengetahuan mana akan selalu dapat diperiksa dan diuji secara kritis oleh orang lain. Dengan demikian ilmu pengetahuan memiliki beberapa unsur pokok yang tergabung dalam satu kebulatan yaitu sebagai berikut :&lt;br /&gt;Pengetahuan (knowledge) ; kesan di dalam fikiran manusia -&gt;panca indra.&lt;br /&gt;Tersusun secara sistematis -&gt;menurut urutan tertentu (kebulatan)&lt;br /&gt;Menggunakan pemikiran (logis dan rasional) -&gt;fakta yang nyata (x emosi)&lt;br /&gt;Terbuka terhadap kritik (objektif).-&gt;diumumkan kepada khalayak.&lt;br /&gt;Secara umum dan  konvensional dikenal adanya empat kelompok ilmu pengetahuan, yaitu :&lt;br /&gt;Ilmu Matematika&lt;br /&gt;Ilmu Pengetahuan Alam -&gt; hayati dan tidak hayati (fisika)&lt;br /&gt;Ilmu tentang Prilaku - &gt; perilaku hewan (animal behavior ), perilaku manusia (human behavior ) ; ilmu-ilmu sosial&lt;br /&gt;Ilmu Pengetahuan Kerohanian -&gt; manifestasi spiritual.&lt;br /&gt;Menurut penerapannya Ilmu Pengetahuan di bagi menjadi :&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan murni (pure science) -&gt;untuk membentuk dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara absrak, yaitu untuk mempertinggi mutunya.&lt;br /&gt; Ilmu Pengetahuan Praktis (applied science)- &gt; mempergunakan dan menerapkan ilmu pengetahuan tersebut di dalam masyarakat dengan maksud untuk membantu masyarakat dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut sifatnya Ilmu Pengetahuan dibagi :&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan yang eksak&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan yang noneksak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari hal tersebut Sosiologi merupakan suatu ilmu karena :&lt;br /&gt;Obyeknya jelas - &gt;masyarakat terutama menganai jaringan hub antar manusia&lt;br /&gt;Menggunakan metode ilmiah&lt;br /&gt;Tersusun secara sistematis-&gt;tersusun secara sistimatis logis antara variabel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi telah memenuhi syarat-syarat ilmu seperti di atas dan merupakan ilmu yang berdiri sendiri karena memenuhi segenap unsur dan sifat ilmu pengetahuan yaitu :&lt;br /&gt;Menurut harry M. Johnson karakteristik sosiologi yaitu :&lt;br /&gt;Ø  Empiris : ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi (pengamatan) terhadap kenyataan dan menggunakan akal sehat (tidak spekulatif melainkan obyektif ).&lt;br /&gt;Ø  Teoritis : berusaha menghimpun suatu ikhtisar dari hasil pengamatannya (abastraksi dari hasil observasi), dalam mana susunannya harus bersifat logis sehingga hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lainnya sungguh merupakan hubungan sebab akibat.&lt;br /&gt;Ø  Kumulatif : teori-teori sosiologi terbentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada. Jadi sosiologi memperbaiki, memperluas dan memperhalus teori-teori yang sudah ada itu.&lt;br /&gt;Ø  Nonetis : yang menjadi inti persoalan dalam sosiologi bukanlah  persoalan baik buruknya suatu fakta melainkan, tujuan yang hendak dicapai dengan menjelaskan fakta tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.    Methode Sosiologi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara-cara sosiologi mempelajari lingkungan atau lapangan kerjanya ( methode) yaitu methode kwalitatif dan methode kwantitatis.&lt;br /&gt;1.      Methode Kwalitatif : methode yang mengutamakan bahan-bahan yang sukar diukur dengan angka-angka atau dengan ukuran-ukuran lain yang eksakt (matematis), meskipun bahan-bahan nyata terdapat dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Metode tersebut seperti :&lt;br /&gt;a.       Methode historis : penelahaan peristiwa-peristiwa dan proses-proses dari lembaga-lembaga peradaban masa lampau untuk mendapatkan prinsip-prinsip umum di dalam mempelajari sosiologi.&lt;br /&gt;b.      Komperatif : membandingkan berbagai macam masyarakat beserta kelompok-kelompok yang ada di dalamnya untuk menyingkap perbedaan dan persamaan untuk dapat dipergunakan sebagai petunjuk untuk  mengetahui prilaku masyarakatnya.&lt;br /&gt;c.       Historis komperatif : kombinasi.&lt;br /&gt;d.      Case study ( study kasus ) : untuk mempelajari kondisi yang sedalam-dalamya dari suatu kelompok, lembaga, perorangan yang ada di dalam suatu masyarakat. Dasarnya yaitu bahwa setiap kasus yang diteliti merupakan pencerminan atau gejala umum dari seluruh kasus, sehingga dapat digeneralisir untuk menghasilkan dalil-dalil yang berlaku umum..&lt;br /&gt;2.      Methode Kwantitaif : methode yang mempergunakan angka-angka sebagai bahan keterangan, sehingga gejala-gejala yang diteliti dapat diukur dengan mempergunakan tabel, indek, sekala dll yang sifatnya matematis seperti Methode statistik, methode eksperimen.&lt;br /&gt;3.      Methode Empiris : (methode reseurch) ; methode yang menyandarkan diri pada keadaan-keadaan yang dengan nyata didapatkan dalam masyarakat.&lt;br /&gt;4.      Methode Deduktif : pengambilan kesimpulan dengan berlandaskan prinsip-prinsip atau kaidah-kaidah yang bersifat umum untuk diterapkan kedalam gejala-gejala yang khusus.&lt;br /&gt;5.      Methode Induktif : methode yang mempelajari suatu gejala yang khusus untuk mendapatkan kaidah-kadiah atau hukum-hukum yang berlaku umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.     Sosiologi dan Ilmu-Ilmu Sosial lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi merupakan ilmu sosial yang obyeknya adalah masyarakat namun demikian sosiologi tetap merupakan ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri (karena telah memiliki unsur-unsur sebagai ilmu pengetahuan ). Secara umum dapat dikatakan bahwa ilmu sosiologi adalah mempelajari masyarakat secara keseluruhan beserta hubungan-hubungannya yang terjadi didalamnya. Untuk jelasnya perlu diadakan perbandingan dengan ilmu sosial lainnya.&lt;br /&gt;a.       Segi Ekonomi : yang menjadi perhatiannya adalah bagaimana memproduksi, mendistribusi dan memasarkan barang dan jasa ( hanya segi ekonomi yang dipelajari ) tetapi sosiologi mempelajari unsur-unsur kemasyarakatan secara umum, terutama pola-pola hubungan, keajegan-keajegan yang telah terjadi, misalkan adanya stratifikasi dari segi ekonomi contoh gol ekonomi atas, menengah dan rendah.&lt;br /&gt;b.      Segi Politik : yang dibahas adalah hal-hal  yang menyangkut kekuasaan, negara, kebijaksanaan, pengambilan keputusan, pembagian. Sedangkan yang dibahas sosiologi adalah mengenai bentuk-bentuk kerjasamanya, persaingan ataupun mengenai conflict yang terjadi.&lt;br /&gt;c.       Dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F.      Lahirnya Sosiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang sosial lahirnya sosiologi adalah perubahan masyarakat di Eropa Barat akibat Revolusi industri ( Inggris ) dan Revolusi Perancis. Banyak orang pada masa itu berharap bahwa revolusi industri dan revolusi prancis bakal memabawa kemajuan dengan munculnya teknologi baru yang mempermudah sekaligus meningkatkan produksi masyarakat dan berharap akan timbul Kesamaan (egalite), Persaudaraan (fraternite) dan Kebebasan (liberte) yang menjadi semboyan dari revolusi.&lt;br /&gt;Akan tetapi apa yang diharapkan tidak ada dalam kenyataan. Revolusi memang telah  mendatangkan perubahan namun pada saat yang sama juga telah mendatangkan kekuatiran yang lebih besar yaitu timbulnya anarki (situasi tanpa aturan) dan kekacauan lebih besar setelah Revolusi Perancis dan sebagai akibat dari Revolusi Industri timbul kesenjangan sosial yang baru antara yang kaya dan yang miskin.&lt;br /&gt;Adalah Auguste Comte (1798-1857) yang pertama kali membuat diskripsi ilmiah atas situasi sosial tersebut dan dialah juga yang pertama kali menggunakan kata “sosiologi” dalam bukunya The positive Philosophy (1842).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G.    Manfaat Sosiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah manfaat-manfaat sosiologi :&lt;br /&gt;ü  Sosiologi membantu kita memahami pola-pola interaksi sosial, kontrol soial, status dan peranan sosial dalam masyarakat&lt;br /&gt;ü  Sosiologi membantu kita mamahami nilai, norma, tradisi dan keyakinan yang dianut oleh masyarakat-masyarakat lain. Konflik antar budaya yang sering terjadi&lt;br /&gt;ü  Sosiologi membantu kita bersikap tanggap, kritis dan rasional terhadap setiap kenyataan sosial dalam masyarakat, serta mampu mengambil sikap dan tindakan yang tepat terhadap berbagai kenyataan sosial.&lt;br /&gt;Dikaitkan dengan sosiologi hukum maka kegunaan sosiologi hukum adalah :&lt;br /&gt;Ø  Sosiologi hukum berguna untuk memberikan kemampuan-kemampuan bagi pemahaman terhadap hukum di dalam konteks sosial&lt;br /&gt;Ø  Dapat memberikan kemampuan-kemampuan untuk mengadakan analisa terhadap efektivitas hukum dalam masyarakat, baik sebagai sarana pengendalian sosial, sarana untuk mengubah masyarakat dan sarana untuk mengatur interaksi sosial, agar mencapai keadaan sosial tertentu.&lt;br /&gt;Ø  Dapat mengidentifikasi unsur-unsur kebudayaan manakah yang mempengaruhi isi atau substansi hukum.&lt;br /&gt;Ø  Lembaga-lembaga manakan yang sangat berpengaruh di dalam pembentukan hukum dan penegakannya.&lt;br /&gt;Ø  Golongan manakah di dalam masyarakat yang beruntung atau sebaliknya malahan dirugikan dengan adanya hukum-hukum tertentu.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.google.co.id/#sclient=psy-ab&amp;hl=id&amp;source=hp&amp;q=sma+tasikmalaya&amp;pbx=1&amp;oq=sma+tasikmalaya&amp;aq=f&amp;aqi=&amp;aql=1&amp;gs_sm=e&amp;gs_upl=2360l9397l0l10820l35l21l0l0l0l3l519l5395l2-7.9.0.1l21l0&amp;bav=on.2,or.r_gc.r_pw.,cf.osb&amp;fp=d5f24d866879373b&amp;biw=1366&amp;bih=634"&gt;SMA TASIKMALAYA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.google.co.id/#pq=sma+tasikmalaya&amp;hl=id&amp;sugexp=kjrmc&amp;cp=7&amp;gs_id=4a&amp;xhr=t&amp;q=sma+MUHammadiyah&amp;pf=p&amp;sclient=psy-ab&amp;biw=1366&amp;bih=634&amp;source=hp&amp;pbx=1&amp;oq=sma+MUH&amp;aq=0&amp;aqi=g4&amp;aql=f&amp;gs_sm=&amp;gs_upl=&amp;bav=on.2,or.r_gc.r_pw.,cf.osb&amp;fp=d5f24d866879373b"&gt;SMA MUHAMMADIYAH&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-1925555358219594087?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/1925555358219594087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/ringkasan-materi-sosiologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/1925555358219594087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/1925555358219594087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/ringkasan-materi-sosiologi.html' title='RINGKASAN MATERI SOSIOLOGI'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-3511894652270410899</id><published>2011-10-14T18:23:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T18:24:19.781-07:00</updated><title type='text'>STRATIFIKASI SOSIAL</title><content type='html'>STRATIFIKASI SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap masyarakat senantiasa mempunyai penghargaan tertentu terhadap hal-hal tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan. Penghargaan yang lebih tinggi terhadap hal-hal tertentu, akan menempatkan hal tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi dari hal-hal lainnya. Kalau suatu masyarakat lebih menghargai kekayaan material daripada kehormatan, misalnya, maka mereka yang lebih banyak mempunyai kekayaan material akan menempati kedudukan yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan fihak-fihak lain. Gejala tersebut menimbulkan lapisan masyarakat, yang merupakan pembedaan posisi seseorang atau suatu kelompok dalam kedudukan yang berbeda-beda secara vertikal. Dalam masyarakat pengertian kelas adalah paralel dengan pengertian lapisan, namun kelas biasanya dihubungkan dengan tolok ukur ekonomi dan kedudukan/status dikaitkan dengan kehormatan.&lt;br /&gt;Cara yang paling mudah untuk memahami pengertian konsep stratifikasi sosial adalah dengan berfikir membanding-bandingkan kemampuan dan apa yang dimiliki anggota masyarakat yang satu dengan anggota masyarakat lainnya.&lt;br /&gt;Sadar atau tidak, pada saat Anda mulai membedakan kemampuan antara anggota masyarakat yang satu dengan yang lain dan mulai menyusun pemilahan-pemilihan masyarakat ke dalam berbagai golongan atau strata itu, sebenarnya anda mulai sedikit paham tentang hakekat stratifikasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.    PENGERTIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sosiologi, pelapisan dalam masyarakat dikenal dengan istilah stratifikasi sosial ( sosial stratification ) kata stratifikasi sosial berasal dari bahasa Latin Stratum : tingkatan dan Socius : rekan/masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat para pakar mengenai pelapisan sosial :&lt;br /&gt;PLATO (428-347/345 SM) masyarakat negara dibedakan menjadi tiga golongan yaitu : filsuf à pemimpin negara, prajuritàpenjamin hukum, rakyat/petaniàwarga negara.&lt;br /&gt;ARISTOTELES(384-322 SM) kaya sekali, melarat dan diantara keduanya.&lt;br /&gt;PITRIM SOROKIN masyarakat menjadi tingkatan scr vertikal dari sesuatu yang berharga yang dimilikinya.&lt;br /&gt;Jadi pelapisan sosial ada dua unsur : 1. Pembedaan 2. Hirarki Vertikal&lt;br /&gt;Sehingga dilihat dari unsur tersebut dapat dirumuskan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelapisan Sosial : Pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal, yang diwujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang tinggi sampai ke yang lebih rendah.&lt;br /&gt;Karakteristik Stratifikasi Sosial :&lt;br /&gt;ü      Perbedaan dalam kemampuan atau kesanggupan&lt;br /&gt;ü      Perbedaan dalam gaya hidup (life style)&lt;br /&gt;ü      Perbedaan dalam hal hak dan akses dalam memanfaatkan sumber daya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal pelapisan dari perbedaan tertentu menyangkut status diri / turunan àpekerjaan/profesi àberagam/konplekàintelektual,politik, ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. PROSES TERBENTUKNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Secara Tidak Sengaja:&lt;br /&gt;-          terbentuk sejalan dg perkembangan masyarakat.&lt;br /&gt;-          Terbentuk diluar kontrol masyarakat&lt;br /&gt;-          Terjadi sesuai dengan kondisi sosbud di wilayah ybs.&lt;br /&gt;-          Status dan peranan terjadi secara otomatis. Ex. Tkt. Umur, sex, kepandaian, sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat, dan mungkin juga harta dalam batas-batas tertentu..&lt;br /&gt;2. Secara Sengaja&lt;br /&gt;-          Pelapisan sosial yg dibentuk oleh suatu kelompok sosial/masy dlm rangka mengejar tujuan tertentu.&lt;br /&gt;-          bertujuan untuk pengaturan interaksi sosial dengan berorientasi pada kepentingan bersama.&lt;br /&gt;-          Diperlukan masy agar mampu menyesuaikan diri dengan keperluan2 yg nyata contoh : badan-badan resmi&lt;br /&gt;-          Menggalang keteraturan dalam suatu kelompok sosial ( masyarakat ) demi tercapainya tujuan bersama.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;C. KRITERIA PELAPISAN SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolok ukur yang menjadi dasar pembentukan pelapisan sosial, yang berupa sesuatu yg dianggap berharga oleh masyarakat, yang berbeda-beda antara masyarakat yang satu dan masyarakat yang lain. (KOMULATIF)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOERJONO SOEKANTO : kekayaan,kekuasaan, kehormatan dan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;BERNARD BARBER : jabatan/pekerjaan, wewenang/kekuasaan, pendidikan/IP, keagamaan, dan kedudukan dalam system kekerabatan.&lt;br /&gt;PAUL B. HORTON : kekayaan/penghasilan, pekerjaan dan pendidikan.&lt;br /&gt;Jadi dibagi menjadi kriteria EKONOMI, SOSAL, POLITIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. JENIS-JENIS PELAPISAN SOSIAL&lt;br /&gt;1.      Menurut Kriteria Ekonomi: berkaitan dengan kekayaan              pendapatan&lt;br /&gt;            Propesi/jabatan. Kriteria ekonomi berdasarkan pada piramida yaitu dari gol   ekonomi   lemah , sedang dan  gol ekonomi kuat.&lt;br /&gt;2.      Menurut Kriteria Sosial : berdasarkan nilai status, tinggi rendah à penghormatan(keseganan) warga masyarakat terhadapnya yang tergantung pada kondisi masing-masing kelompok  masyarakat :&lt;br /&gt;a.       Pelapisan sosial di Desa&lt;br /&gt;b.      Pelapisan sisial di kota&lt;br /&gt;Menurut Kriteria Politik : membedakan masyarakat menjadi pihak yang berkuasa dan pihak yang dikuasai. Makin tinggi kekuasaan makin tinggi kedudukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. SIFAT SISTEM PELAPISAN MASYARAKAT&lt;br /&gt;a.        Sistem Pelapisan Sosial Tertutup (closed sosial stratificaton) : pelapisan sosial yang tidak memungkinkan warga masyarakat pindah dari lapisan yang satu ke lapisan yang lain dimana status sosial ditentukan sejak lahir. àKasta, feodal, rasial (kawin sekasta / ENDOGAMI )Contoh : DEGREGATION ( kulit putih dan hitam di US) APARTEHID ( di Afrika Selatan ), PATRILINIAL ( laki lebih dominan)&lt;br /&gt;b.        Sistem Pelapisan Sosial Terbuka (open sosial stratification) pelapisan yang membuka kesempatan warganya untuk turun-naik antarlapisanàberlaku dalam masyarakat modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F.  PERSPEKTIF TENTANG STRATIFIKASI SOSIAL&lt;br /&gt;Stratifikasi sosial anggota masyarakat ke dalam berbagai kelas sosial itu sebenarnya  diperlukan atau tidak ? Jawaban atas pertanyaan ini sifatnya relatif, tergantung dari mana sudut kita melihatnya dan pendekatan macam apa yang kita jadikan titik acuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v     Pendekatan Fungsional&lt;br /&gt;Pelopor pendekatan fungsionalis adalah Kingsley Davis dan Wilbert Moore. Menurut kedua pakar ini stratifikasi dibutuhkan demi kelangsungan hidup masyarakat yang membutuhkan pelbagai macam jenis  pekerjaan.. Tanpa adanya stratifikasi sosial, masyarakat tidak akan terangsang untuk menekuni pekerjaan-pekerjaan sulit atau pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan proses belajar yang lama dan mahal.&lt;br /&gt;Disini tercakup  pengertian bahwa pelapisan sosial itu  perlu ada agar masyarakat berfungsi, bahwa berbagai lapisan dalam  masyarakat bergerak bersama untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat dan bahwa sistem yang ada, paling tidak secara diam-diam memang telah disetujui oleh para anggota masyarakat.&lt;br /&gt;Tujuan pelapisan sosial : dalam rangka penataan masyarakat, dimana setiap masyarakat harus menempatkan individu-individu pada tempat-tempat tertentu dalam struktur sosial dan mendorong mereka untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai akibat penempatan tersebut. Dengan demikian pelapisan sosial berfungsi untuk menempatkan individu-individu tersebut dan kedua mendorong agar mereka melaksanakan kewajibannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v     Pendekatan Konflik&lt;br /&gt;Pendekatan konflik memiliki asumsi yang berhadapan secara diametral dengan pendekatan fungsional. Dengan dipelopori oleh Karl Marx, pendekatan konflik berpandangan bahwa bukan kegunaan fungsional yang menciptakan stratifikasi sosial, melainkan dominasi kekuasaan. Artinya menurut pendekatan konflik, adanya pelapisan sosial bukan dipandang sebagai hasil konsensus, tetapi lebih dikarenakan anggota masyarakat terpaksa harus menerima adanya  perbedaan itu sebab mereka tidak memiliki kemampuan untuk menentangnya dan dasar pembentukannya merupakan penghisapan suatu kelas oleh kelas lain yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;Bagi penganut pendekatan konflik, pemberian kesempatan yang tidak sama dan semua bentuk diskriminasi dinilai menghambat orang dari strata rendah untuk mengembangkan bakat dan potensi mereka semaksimal mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. CARA MEMPELAJARI STRATIFIKASI SOSIAL&lt;br /&gt;ü      Pendekatan Objektif&lt;br /&gt;Artinya, usaha untuk memilah-milah masyarakat ke dalam beberapa lapisan dilakukan menurut ukuran-ukuran yang objektif berupa variabel yang mudah diukur secara kuantitatif. ( katagori statistik )&lt;br /&gt;ü      Pendekatan Subjektif&lt;br /&gt;Artinya, munculnya pelapisan sosial dalam masyarakat tidak diukur dengan kriteria-kriteria yang objektif, melainkan dipilih menurut kesadaran subjektif warga masyarakat itu sendiri. ( katagori sosial ).&lt;br /&gt;ü      Pendekatan Reputasional&lt;br /&gt;Artinya, pelapisan sosial disusun dengan cara subjek penelitian diminta menilai status orang lain dengan jalan menempatkan orang lain tersebut tersebut ke dalam skala tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F.  UNSUR-UNSUR LAPISAN SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      &lt;br /&gt;Dalam sosiologi status sosial bersifat netral.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;STATUS SOSIAL : posisi seseorang dalam masyarakat dalam hubungannya dengan orang lain, baik mencakup perilaku, hak maupun kewajiban. STATUS : Tpt./posisi seseorang dalam suatu klp. Sosial àKEDUDUKAN. Jika menyangkut masyarakat luas maka status sosial makin tinggi.&lt;br /&gt;A.    STATUS YANG DIUSAHAKAN ( ACHIEVED STATUS) : kedudukan di dalam masyarakat yang diraih melalui usaha sendiri yang disengaja (terbuka).&lt;br /&gt;B.     STATUS YANG DIGARISKAN (ASCRIBED STATUS) :  kedudukan dalam masyarakat yang diperoleh melalui garis keturunan/kalahiran. (tertutup).&lt;br /&gt;C.     STATUS YANG DIBERIKAN (ASSIGNED STATUS) : yakni kedudukan yang lebih tinggi yang diberikan kpd seseorang/sklp. Karena dianggap telah bekerja sama memenuhi kepentingan masyarakatnya berjasa, misalnya gelar kehormatan, kenaikan pangkat dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      PERANAN SOSIAL (aspek dinamis dari status sosial ; hak dan kewajiban yang dilaksanakan sesuai status sosial ) : rangkaian norma  dan perilaku yang dijalankan seseorang sesuai dengan status sosialnya dalam masyarakat.&lt;br /&gt;( Jika seseorang melaksanakan hak &amp; kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu peranan.&lt;br /&gt;Perubahan status sosial akan berdampak pada perubahan peranan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      PERANAN PILIHAN ( ACHIEVED ROLES ) : peranan yang hanya diperoleh melalui usaha tertentu ßà achieved status.&lt;br /&gt;2.      PERANAN BAWAAN ( ASCRIBED ROLES ) : peranan yang diperoleh secara otomatis bukan karena usaha tertentu.&lt;br /&gt;3.      PERANAN YANG DIHARAPKAN ( EXPECTED ROLES): peranan yang dilaksanakan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan bersama bersama.&lt;br /&gt;4.      PERANAN YANG DISESUAIKAN ( ACTUAL ROLES ) : peranan yang dilaksanakan sesuai situasi yang selalu berubah-ubah.&lt;br /&gt;Di Indonesia : mengutamakan kedudukan dibandingkan peranan karena lebih mengutamakan material dpd spiritual àkonsumtifàhedonisme.&lt;br /&gt;(MEMPEROLEH ROLE FACILITIES)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. KONSEKUENSI STRATIFIKASI SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.       Terbentuknya simbol status : status sosial terungkap dari gaya hidupnya sehingga gaya hidup merupakan lambang suatu status sosial ( yang melekat pada status sosial dan menjadi cirri hidupnya) gejala inilah yang dinamakan simbol status (status symbol).àinternalized.&lt;br /&gt;b.      Terjadinya Integrasi Status dan Peranan Sosial : penerimaan seseorang atau sekelompok warga terhadap status dan peranan sosialnya :&lt;br /&gt;1.      Aktif : integrasi terjadi secara sukarela&lt;br /&gt;2.      Pasif  : integrasi terjadi secara paksaan.&lt;br /&gt;c.       Munculnya Konflik Status dan Peranan Sosial : hal ini muncul saat kepentingan seseorang tidak lagi sejalan dengan kepentingan masyarakat àkesenjangan peranan (role distance)&lt;br /&gt;d.      Peluang Hidup dan Kesehatan ; Studi yang dilakukan Robert Chambers (1987) menemukan bahwa di lingkungan keluarga yang miskin, tidak berpendidikan dan rentan, meraka umumnya lemah jasmani dan mudah terserang penyakit.&lt;br /&gt;e.       Respons Terhadap Perubahan ; Orang-orang kelas rendah pada umumnya ragu-ragu untuk menerima pemikiran dan cara-cara baru serta curiga terhadap para pencipta hal-hal baru. Kelas sosial atas- dimana sebagian besar berpendidikan relatif memadai – cenderung lebih responsif terhadap ide-ide baru, sehingga acapkali mereka lebih sering bisa m emetik manfaat dengan cepat atas program baru atau inovasi yang diketahuinya.&lt;br /&gt;f.        Peluang Bekerja dan Berusaha ; peluang bekerja dan berusaha antara kelas sosial rendah dengan kelas sosial di atasnya umumnya jauh berbeda.&lt;br /&gt;g.      Perilaku Politik ; berbagai studi memperlihatkan bahwa kelas sosial mempengaruhi perilaku politik orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.     PERLUNYA SISTEM LAPISAN MASYARAKAT&lt;br /&gt;Pelapisan sosial dapat memecahkan persoalan yang dihadapi masyarakat : yaitu penempatan individu dalam tempat-tempat yang tersedia dalam struktur sosial dan mendorongnya agar melaksanakan kewajiban yang sesuai dengan kedudukan serta peranannya. Pengisian tempat-tempat tersebut merupakan daya pendorong agar masyarakat bergerak sesuai dengan fungsinya, maka tak dapat dihindarkan bahwa masyarakat harus menyediakan beberapa macam sistem pembalasan jasa sebagai pendorong agar individu mau melaksanakan kewajiban-kewajibannya yang sesuai dengan posisinya dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Sumber : “Sosiologi Suatu Pengantar, Soerjono Soekanto”&lt;br /&gt;“Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, J.dwi Narwoko-Bagong Suyatno (ed.)“&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-3511894652270410899?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/3511894652270410899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/stratifikasi-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/3511894652270410899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/3511894652270410899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/stratifikasi-sosial.html' title='STRATIFIKASI SOSIAL'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-6289451492261114220</id><published>2011-10-14T18:21:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T18:22:43.527-07:00</updated><title type='text'>NILAI DAN NORMA SOSIAL</title><content type='html'>NILAI DAN NORMA SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam masyarakat manusia selau ada, dan selalu dimungkinkan adanya, apa yang disebut double reality yaitu :&lt;br /&gt;1.  Sistem fakta, yaitu sistem yang tersusun atas segala apa yang senyatanya di dalam kenyataan ada.&lt;br /&gt;2   Dan di lain pihak ada sistem normatif, yaitu sistem yang berada di dalam mental yang membayangkan segala apa yang seharusnya ada.&lt;br /&gt;Kedua sistem tersebut bukan dua realitas yang identik namun keduanya tidak saling berpisahan dan keduanya ada pertalian yang erat.&lt;br /&gt;            Pertama-tama, sistem fakta berfungsi sebagai determinan sistem normatif. Artinya, bahwa apa yang dibayangkan di dalam mental sebagai suatu keharusan itu sesungguhnya adalah selalu sesuatu yang di alam kenyataan merupakan sesuatu yang betul-betul ada, dan atau mungkin ada. Norma atau keharusan selalu dipertimbangkan dalam kenyataan dan mempertimbangkan pula segala kemungkinan yang ada di dalam situasi fakta.&lt;br /&gt;            Sementara itu, di lain pihak sistem normatif pun pada gantinya balik mempengaruhi sistem fakta (kenyataan). Di dalam hal ini, wujud dan bentuk perilaku-perilaku kultural yang di alam kenyataan ditentukan oleh pola-pola kultural yang telah diketahui di dalam mental sebagai keharusan-keharusan yang harus dikerjakan.&lt;br /&gt;PENGERTIAN NILAI SOSIAL&lt;br /&gt;Nilai merupakan sesuau yang baik, yang diinginkan, dicita-citakan dan dianggap penting oleh warga masyarakat. Nilai terbentuk dari apa yang benar, pantas, dan luhur untuk dikerjakan dan diperhatikan. Nilai bukanlah keinginan, melainkan apa yang diinginkan, jadi bersifat subjektif. Selain itu nilai juga bersifat relatif karena apa yang menurut kita sudah benar dan baik belum tentu disebut nilai. Penentuan suatu nilai  harus didasarkan pada pandangan dan ukuran orang banyak. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TOLOK UKUR NILAI SOSIAL&lt;br /&gt;Tolok ukur nilai sosial adalah daya guna fungsional suatu nilai dan kesungguhan penghargaan, penerimaan atau pengakuan yang diberikan oleh seluruh atau sebagian besar masyarakat terhadap nilai sosial tersebut, sehingga harus memenuhi syarat :&lt;br /&gt;a.  Penghargaan itu harus diberikan dan disetujui oleh seluruh atau sebagian besar anggota masyarakat.&lt;br /&gt;b.   Tolok ukur itu harus diterima sungguh-sungguh oleh masyarakat, minimal oleh sebagian besar.&lt;br /&gt;JENIS-JENIS NILAI SOSIAL&lt;br /&gt;Menurut Prof. Dr. Notonagoro, nilai dapat dibagi atas tiga jenis.&lt;br /&gt;a.   Nilai material, segala benda yang berguna bagi manusia&lt;br /&gt;b. Nilai vital, segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat hidup dan mengadakan kegiatan atau aktivitas.&lt;br /&gt;c.   Nilai spiritual, segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia ; nilai kebenaran(logika), nilai keindahan(estetika), nilai moral (etika), nilai religius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Norma merupakan konstruksi-konstruksi imajinasi (artinya, suatu konstruksi yang hanya ada karena dibayangkan di dalam pikiran-pikiran) dan banyak dipengaruhi oleh daya kreatif mental, namun norma-norma ini-sebagai norma, atau keharusan, yang bertujuan merealisasi imajinasi mental ke wujud-wujud konkret di alam kenyataan-haruslah memahami betul-betul alam realita dan fakta sehingga memberikan efek di alam kenyataan.&lt;br /&gt;Menurut M. Sitorus, norma adalah kadiah atau aturan  berbuat dan berkelakuan yang dibenarkan untuk mewujudkan cita-cita. Singkatnya bila nilai merupakan pola kelakuan yang diinginkan, maka norma dapat disebut sebaga cara-cara kelakuan sosial yang disetujui untuk mencapai nilai tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya Ikat Norma&lt;br /&gt;Norma-norma yang ada di  dalam masyarakat mempunyai kekuatan mengikat yang berbeda-beda. Berdasarkan daya ikat norma dibedakan :&lt;br /&gt;a.  Cara (usge).  Cara menunjuk pada suatu bentuk perbuatan yang mempunyai daya ikat yang sangat lemah.&lt;br /&gt;b.   Kebiasaan (folkways). Diterjemahkan menurut arti kata-katanya, folkways itu berarti tata cara (ways) yang lazim dikerjakan atau diikuti oleh rakyat kebanyakan (folk). Folkways merupakan norma-norma sosial yang terlahir dari adanya pola-pola perilaku yang selalu diikuti oleh  orang-orang kebanyakan-di dalam hidup mereka sehari-harinya – karena dipandang sebagai suatu hal yang lazim.&lt;br /&gt;      Folkways kebanyakan dianut orang di dalam batas-batas kelompok tertentu. Ancaman-ancaman sanksi terhadap pelanggaran-pelanggaran folkways  pun hanya akan datang dari kelompok-kelompok tertentu saja. Oleh karena itu maka sanksi-sanksi informal yang mempertahankan folkways sering kali terbutki tidak efektif kalau ditunjukkan kepada orang-orang yang tidakmenjadi warga penuh dari kelompok pendukung folkways itu.&lt;br /&gt;c.   Tata kelakuan (Mores). Apabila kebiasaan tersebut tidak semata-mata dianggap sebagai cara perilaku saja, tetapi diterima sebagai norma pengatur maka kebiasaan tadi menjadi tata kelakuan. Dibandingkan dengan norma-norma folkways yang biasanya dipandang relatif kurang begitu penting-dan oleh karenanya dipertahankan oleh ancaman-ancaman sanksi yang tidak seberapa keras-maka apa yang disebut mores itu dipandang lebih esensial bagi terjaminnya kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu selalu dipertahankan oleh ancaman-ancaman sanksi yang jauh lebih keras. Pelanggaran terhadap mores selalu disesali dengan sanat, dan orang selalu berusaha dengan amat kerasnya agar mores tidak dilanggar.&lt;br /&gt;      Mores sering dirumuskan di dalam bentuk negatif, berupa sebuah larangan keras. Mores yang dirumuskan di dalam bentuk larangan ini disebut tabu. Sebagai contoh tabu ini, misalnya adalah larangan incest, yaitu larangan perkawinan antara orang-orang yang dipandang masih berdarah dekat.&lt;br /&gt;d.   Hukum. Hukum adalah aturan tertulis maupun tidak tertulis yang berisi perintah atau larangan yang memaksa dan yang akan memberikan sanksi yang tegas bagi setiap orang yang melanggarnya. Berbeda halnya dengan folkways dan mores, pada hukum didapati adanya organisasi-politik khususnya, yang secara formal dan berprosedur bertugas memaksakan ditaatinya kaidah-kaidah sosial yang berlaku. Inilah organisasi yang lazim dikenal dengan nama badan peradilan. Apabila suatu mores memerlukan kekuatan organisasi peradilan semacam itu agar penataannya bisa dijamin, maka sesegera itu pula mores itu telah bida dipandang sebagai hukum. Di sisi lain, karena mores itu tak lain adalah kaidah-kaidah yang tak tertulis, maka hukum yang dijadikan dari mores-dengan ditunjang oleh wibawa suatu struktur kekuasaan politik-ini pun lalu merupakan hukum yang tak tertulis (atau lazim dinamakan hukum adat, customary law).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan ( J.Dwi Narwoko-Bagong Suyatno (ed).&lt;br /&gt;                Berkenalan dengan Sosiologi ( M. Sitorus ).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-6289451492261114220?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/6289451492261114220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/nilai-dan-norma-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/6289451492261114220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/6289451492261114220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/nilai-dan-norma-sosial.html' title='NILAI DAN NORMA SOSIAL'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-5576384526722683118</id><published>2011-10-14T18:20:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T18:21:25.781-07:00</updated><title type='text'>PENGENDALIAN ATAU KONTROL SOSIAL</title><content type='html'>PENGENDALIAN ATAU KONTROL SOSIAL&lt;br /&gt;A. PENGENDALIAN SOSIAL&lt;br /&gt;            Dalam kehidupan sehari-hari, sepanjang semua anggota masyarakat bersedia menaati aturan yang berlaku, hampir bisa dipastikan kehidupan bermasyarakat akan bisa berlangsung dengan lancar dan tertib. Tetapi, berharap semua anggota masyarakat bisa berperilaku selalu taat, tentu merupakan hal yang mahal. Di dalam kenyataan, tentu tidak semua orang akan selalu bersedia dan bisa memenuhi ketentuan atau aturan yang berlaku dan bahkan tidak jarang ada orang-orang tertentu yang sengaja melanggar aturan yang berlaku untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.&lt;br /&gt;            Secara rinci, beberapa faktor yang menyebabkan warga masyarakat berperilaku menyimpang dari norma-norma yang berlaku adalah sebagai berikut ( Soekanto, 181:45)&lt;br /&gt;1.   Karena kaidah-kaidah yang ada tidak memuaskan bagi pihak tertentu atau karena tidah memenuhi kebutuhan dasarnya.&lt;br /&gt;2.   Karena kaidah yang ada kurang jelas perumusannya sehingga menimbulkan aneka penafsiran dan penerapan.&lt;br /&gt;3.   Karena di dalam masyarakat terjadi konflik antara peranan-peranan yang dipegang warga masyarakat, dan&lt;br /&gt;4.   Karena memang tidak mungkin untuk mengatur semua kepentingan warga masyarakat secara merata.&lt;br /&gt;            Pada situasi di mana orang memperhitungkan bahwa dengan melanggar atau menyimpangi sesuatu norma dia malahan akan bisa memperoleh sesuatu reward atau sesuatu keuntungan lain yang lebih besar, maka di dalam hal demikianlah enforcement  demi tegaknya norma lalu terpaksa harus dijalankan dengan sarana suatu kekuatan dari luar. Norma tidak lagi self-enforcing (norma-norma sosial tidak lagi dapat terlaksana atas kekuatannya sendiri ), dan akan gantinya harus dipertahankan oleh petugas-petugas kontrol sosial dengan cara mengancam atau membebankan sanksi-sanksi kepada mereka-mereka yang terbukti melanggar atau menyimpangi norma.&lt;br /&gt;            Apabila ternyata norma-norma tidak lagi self-enforcement dan proses sosialisasi tidak cukup memberikan efek-efek yang positif, maka masyarakat – atas dasar kekuatan otoritasnya – mulai bergerak melaksanakan kontrol sosial (social control).&lt;br /&gt;            Menurut Soerjono Soekanto, pengendalian sosial adalah suatu proses baik yang direncanakan atau tidak direncanakan, yang bertujuan untuk mengajak, membimbing atau bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang berlaku.&lt;br /&gt;            Obyek (sasaran) pengawasan sosial, adalah perilaku masyarakat itu sendiri. Tujuan pengawasan adalah supaya kehidupan masyarakat berlangsung menurut pola-pola dan kidah-kaidah yang telah disepakati bersama. Dengan demikian, pengendalian sosial meliputi proses sosial yang direncanakan maupun tidak direncanakan (spontan) untuk mengarahkan seseorang. Juga pengendalian sosiap pada dasarnya merupakan sistem dan proses yang mendidik, mengajak dan bahkan memaksa warga masyarakat untuk berperilaku sesuai dengan norma-norma sosial.&lt;br /&gt;1.  Sistem mendidik dimaksudkan agar dalam diri seseorang terdapat perubahan sikap  dan tingkah laku untuk bertindak sesuai dengan norma-norma.&lt;br /&gt;2.  Sistem mengajak bertujuan mengarahkan agar perbuatan seseorang didasarkan pada norma-norma, dan tidak menurut kemauan individu-individu.&lt;br /&gt;3.   Sistem memaksa bertujuan untuk mempengaruhi secara tegas agar seseorang bertindak sesuai dengan norma-norma. Bila ia tidak mau menaati kaiah atau norma, maka ia akan dikenakan sanksi.&lt;br /&gt;            Dalam pengendalian sosial kita bisa melihat pengendalian sosial berproses pada tiga pola yakni :&lt;br /&gt;1.   Pengendalian kelompok terhadap kelompok&lt;br /&gt;2.   Pengendalian kelompok terhadap anggota-anggotanya&lt;br /&gt;3.   Pengendalian pribadi terhadap pribadi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. JENIS-JENIS PENGENDALIAN SOSIAL&lt;br /&gt;            Pengendalian sosial dimaksudkan agar anggota masyarkat mematuhi norma-norma sosial sehingga tercipta keselarasan dalam kehidupan sosial. Untuk maksud tersebut, dikenal beberapa jenis pengendalian. Penggolongan ini dibuat menurut sudut pandang dari mana seseorang melihat pengawasan tersebut.&lt;br /&gt;a.  Pengendalian preventif merupakan kontrol sosial yang dilakukan sebelum terjadinya pelanggaran atau dalam versi ”mengancam sanksi” atau usaha pencegahan terhadap terjadinya penyimpangan terhadap norma dan nilai. Jadi, usaha pengendalian sosial yang bersifat preventif dilakukan sebelum terjadi penyimpangan.&lt;br /&gt;b.  Pengendalian represif  ; kontrol sosial yang dilakukan setelah terjadi pelanggaran dengan maksud hendak memulihkan keadaan agar bisa berjalan seperti semula dengan dijalankan di dalam versi “menjatuhkan atau membebankan, sanksi”. Pengendalian ini berfungsi untuk mengembalikan keserasian yang terganggu akibat adanya pelanggaran norma atau perilaku meyimpang. Untuk mengembalikan keadaan seperti semula, perlu diadakan pemulihan. Jadi, pengendalian disini bertujuan untuk menyadarkan pihak yang  berperilaku menyimpang tentang akibat dari penyimpangan tersebut, sekaligus agar dia mematuhi norma-norma sosial.&lt;br /&gt;c.  Pengendalian sosial gabungan merupakan usaha yang bertujuan untuk mencegah terjadinya penyimpangan (preventif) sekaligus mengembalikan penyimpangan yang tidak sesuai dengan norma-norma sosial (represif). Usaha pengendalian dengan memadukan ciri preventif dan represif ini dimaksudkan agar suatu perilaku tidak sampai menyimpang dari norma-norma dan kalaupun terjadi penyimpangan itu tidak sampai merugikan yang bersangkutan maupun orang lain.&lt;br /&gt;d.  Pengendalian resmi (formal) ialah pengawasan yang didasarkan atas penugasan oleh badan-badan resmi, misalnya negara maupun agama.&lt;br /&gt;e. Pengawasan tidak resmi (informal) dilaksanakan demi terpeliharanya peraturan-peraturan yang tidak resmi milik masyarakat. Dikatakan tidak resmi karena peraturan itu sendiri tidak dirumuskan dengan jelas, tidak ditemukan dalam hukum tertulis, tetapi hanya diingatkan oleh warga masyarakat.&lt;br /&gt;f.  Pengendalian institusional ialah pengaruh yang datang dari suatu pola kebudayaan yang dimiliki lembaga (institusi) tertentu. Pola-pola kelakuan dan kiadah-kaidah lembaga itu tidak saja mengontrol para anggota lembaga, tetapi juga warga masyarakat yang berada di luar lembaga tersebut.&lt;br /&gt;g.  Pengendalian berpribadi ialah pengaruh baik atau buruk yang datang dari orang tertentu. Artinya, tokoh yang berpengaruh itu dapat dikenal. Bahkan silsilah dan riwayat hidupnya, dan teristimewa ajarannya juga dikenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. CARA DAN FUNGSI PENGENDALIAN SOSIAL&lt;br /&gt;Pengendalian sosial dapat dilaksanakan melalui :&lt;br /&gt;1.   Sosialisasi&lt;br /&gt;Sosialisasi dilakukan agar anggota masyarkat bertingkah laku seperti yang diharapkan tanpa paksaan. Usaha penanaman pengertian tentang nilai dan norma kepada anggota masyarakat diberikan melakui jalur formal dan informal secara rutin.&lt;br /&gt;2.   Tekanan Sosial&lt;br /&gt;      Tekanan sosial perlu dilakukan agar masyarakat sadar dan mau menyesuaikan diri dengan aturan kelompok. Masyarakat dapat memberi sanksi kepada orang yang melanggar aturan kelompok tersebut.&lt;br /&gt;      Pengendalian sosial pada kelompok primer (kelompok masyarkat kecil yang sifatnya akrab dan informal seperti keluarga, kelompok bermain, klik ) biasanya bersifat informal, spontan, dan tidak direncanakan, biasanya berupa ejekan, menertawakan, pergunjingan (gosip) dan pengasingan.&lt;br /&gt;      Pengendalian sosial yang diberikan kepada kelompok sekunder (kelompok masyarkat yang lebih besar yang tidak bersifat pribadi (impersonal) dan mempunyai tujuan yang khusus seperti serikat buruh, perkumpulan seniman, dan perkumpulan wartawan ) lebih bersifat formal. Alat pengendalian sosial berupa peraturan resmi dan tata cara yang standar, kenaikan pangkat, pemberian gelar, imbalan dan hadiah dan sanksi serta hukuman formal.&lt;br /&gt;3.   Kekuatan dan kekuasaan dalam bentuk peraturan hukum dan hukuman formal&lt;br /&gt;      Kekuatan da kekuasaan akan dilakukan jika cara sosialisasi dan tekanan sosial gagal. Keadaan itu terpaksa dipergunakan pada setiap masyarakat untuk mengarahkan tingkah laku dalam menyesuaikan diri dengan nilai dan norma sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Disamping cara di atas juga agar proses pengendalian berlangsung secara efektif dan mencapai tujuan yang diinginkan, perlu dberlakukan cara-cara tertentu sesuai dengan kondisi budaya yang berlaku.&lt;br /&gt;a.   Pengendalian tanpa kekerasan (persuasi); bisasanya dilakukan terhadap yang hidup dalam keadaan relatif tenteram. Sebagian besar nilai dan norma telah melembaga dan mendarah daging dalam diri warga masyarakat.&lt;br /&gt;b.   Pengendalian dengan kekerasan (koersi) ; biasanya dilakukan bagi masyarakat yang kurang tenteram, misalnya GPK (Gerakan Pengacau Keamanan).&lt;br /&gt;      Jenis pengendalian dengan kekerasan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni kompulsi dan pervasi.&lt;br /&gt;      1)  Kompulsi (compulsion) ialah pemaksaan terhadap seseorang agar taat dan patuh  tehadap norma-norma sosial yang berlaku.&lt;br /&gt;      2)  Pervasi ( pervasion ) ialah penanaman norma-norma yang ada secara berulang -ulang dengan harapan bahwa hal tersebut dapat masuk ke dalam kesadaran seseorang. Dengan demikian, orang tadi akan mengubah sikapnya. Misalnya, bimbingan yang dilakukan terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Fungsi Pengendalian Sosial&lt;br /&gt;            Koentjaraningrat menyebut sekurang-kurangnya lima macam fungsi pengendalian sosial, yaitu :&lt;br /&gt;      a.   Mempertebal keyakinan masyarakat tentang kebaikan norma.&lt;br /&gt;      b.   Memberikan imbalan kepada warga yang menaati norma.&lt;br /&gt;      c.   Mengembangkan rasa malu&lt;br /&gt;      d.   Mengembangkan rasa takut&lt;br /&gt;      e.   Menciptakan sistem hukum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontrol sosial – di dalam arti mengendalikan tingkah pekerti-tingkah pekerti warga masyarakat agar selalu tetap konform dengan keharusan-keharusan norma-hampir selalu dijalankan dengan bersarankan kekuatan sanksi (sarana yang lain:pemberian incentive positif). Adapun yang dimaksud dengan sanksi dalam sosiologi ialah sesuatu bentuk penderitaan yang secara sengaja dibebankan oleh masyarakat kepada seorang warga masy arakat yang terbukti melanggar atau menyimpangi keharusan norma sosial, dengan tujuan agar warga masyarakat ini kelak tidak lagi melakukan pelanggaran dan penyimpangan terhadap norma tersebut.&lt;br /&gt;            Ada tiga jenis sanksi yang digunakan di dalam usaha-usaha pelaksanaan kontrol sosial ini, yaitu :&lt;br /&gt;1. Sanksi yang bersifat fisik,&lt;br /&gt;2. Sanksi yang bersifat psikologik, dan&lt;br /&gt;3. Sanksi yang bersifat ekonomik.&lt;br /&gt;            Pada praktiknya, ketiga jenis sanksi tersebut di atas itu sering kali terpaksa diterapkan secara bersamaan tanpa bisa dipisah-pisahkan, misalnya kalau seorang hakim menjatuhkan pidana penjara kepada seorang terdakwa; ini berarti bahwa sekaligus terdakwa tersebut dikenai sanksi fisik (karena dirampas kebebasan fisiknya), sanksi psikologik (karena terasakan olehnya adanya perasaan aib dan malu menjadi orang hukuman), dan sanksi ekonomik ( karena dilenyapkan kesempatan meneruskan pekerjaannya guna menghasilkan uang dan kekayaan ).&lt;br /&gt;            Sementara itu, untuk mengusahakan terjadinya konformitas, kontrol sosial sesungguhnya juga dilaksanakan dengan menggunakan incentive-incentive positif yaitu dorongan positif yang akan membantu individu-individu untuk segera meninggalkan pekerti-pekertinya yang salah, Sebagaimana halnya dengan sanksi-sanksi, pun incentive itu bisa dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :&lt;br /&gt;1.  Incentive yang bersifat fisik;&lt;br /&gt;2.  Incentive yang bersifat psikologik; dan&lt;br /&gt;3.  Incentive yang bersif ekonomik.&lt;br /&gt;            Incentive fisik tidaklah begitu banyak ragamnya, serta pula tidak begitu mudah diadakan. Pun, andaikata bisa diberikan, rasa nikmat jasmaniah yang diperoleh daripadanya tidaklah akan sampai seekstrem rasa derita yang dirasakan di dalam sanksi fisik. Jabatan tangan, usapan tangan di kepala, pelukan, ciuman tidaklah akan sebanding dengan ekstremitas penderitaan sanksi fisik seperti hukuman cambuk, hukuman kerja paksa, hukuman gantung dan lain sebagainya. Bernilai sekadar sebagai simbol, kebanyakan incentive fisik lebih tepat dirasakan sebagai incentive psikologik. Sementara itu, disamping incentive fisik dan psikologik tidak kalah pentingnya adalah incentive ekonomik. Incentive ekonomik kebanyakan berwujud hadiah-hadiah barang atau ke arah penghasilan uang yang lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kontrol sosial itu selalu cukup efektif untuk mendorong atau memaksa warga masyarakat agar selalu conform dengan norma-norma sosial (yang dengan demikian menyebabkan masyarakat selalu berada di dalam keadaan tertib ) ? Ternyata tidak. Usaha-usaha kontrol sosial ternyata tidak berhasil menjamin terselenggaranya ketertiban masyarakat secara mutlak, tanpa ada pelanggaran atau penyimpangan norma-norma sosial satu kalipun.&lt;br /&gt;            Ada lima faktor yang ikut menentukan sampai seberapa jauhkah sesungguhnya sesuatu usaha kontrol sosial oleh kelompok masyarakat itu bisa dilaksanakan secara efektif, yaitu :&lt;br /&gt;1.   Menarik-tidaknya kelompok masyarakat itu bagi warga-warga yang bersangkutan ;&lt;br /&gt;2.   Otonom-tidaknya kelompok masyarakat itu;&lt;br /&gt;3.   Beragam-tidaknya norma-norma yang berlaku di dalam kelompok itu,&lt;br /&gt;4.   Besar-kecilnya dan bersifat anomie-tidaknya kelompok masyarakat yang bersangkutan; dan&lt;br /&gt;5.   Toleran-tidaknya sikap petugas kontrol sosial terhadap pelanggaran yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.   Menarik-Tidaknya Kelompok Masyarakat Itu Bagi Warga yang Bersangkutan.&lt;br /&gt;            Pada umumnya, kian menarik sesuatu kelompok bagi warganya, kian besarlah efektivitas kontrol sosial atas warga tersebut, sehingga tingkah pekerti-tingkah pekerti warga itu mudah dikontrol conform dengan keharusan-keharusan norma yang berlaku. Pada kelompok yang disukai oleh warganya, kuatlah kecendrungan pada pihak warga-warga itu untuk berusaha sebaik-baiknya agar tidak melanggar norma kelompok. Norma-norma pun menjadi self-enforcing. Apabila terjadi pelanggaran, dengan mudah si pelanggar itu dikontrol dan dikembalikan taat mengikuti keharusan norma. Sebaliknya, apabila kelompok itu tidak menarik bagi warganya, maka berkuranglah motif pada pihak warga kelompok untuk selalu berusaha menaati norma-norma sehingga karenanya-bagaimanapun juga keras dan tegasnya kontrol sosial dilaksanakan-tetaplah juga banyak pelanggaran-pelanggaran yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.   Otonom-Tidaknya Kelompok Masyarakat Itu.&lt;br /&gt;            Makin otonom suatu kelompok, makin efektiflah kontrol sosialnya, dan akan semakin sedikitlah jumlah penyimpangan-penyimpangan dan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di atas norma-norma kelompok. Dalil tersebut diperoleh dari hasil studi Marsh.&lt;br /&gt;            Penyelidikan Marsh ini dapat dipakai sebagai landasan teoritis untuk menjelaskan mengapa kontrol sosial efektif sekali berlaku di dalam masyarakat-masyarakat yang kecil-kecil dan terpencil; dan sebaliknya mengapa di dalam masyarakt kota besar-yang terdiri dari banyak kelompok-kelompok sosial besar maupun kecil itu – kontrol sosial bagaimanapun juga kerasnya dilaksanakan tetap saja kurang efektif menghadapi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.   Beragam-Tidaknya Norma-norma yang Berlaku di dalam Kelompok Itu&lt;br /&gt;            Makin beragam macam norma-norma yang berlaku dalam suatu kelompok-lebih-lebih apabila antara norma-norma itu tidak ada kesesuaian, atau apabila malahan bertentangan-maka semakin berkuranglah efektivitas kontrol sosial yang berfungsi menegakkannya. Dalil ini pernah dibuktikan di dalam sebuah studi eksperimental yang dilakukan oleh Meyers.&lt;br /&gt;            Dihadapkan pada sekian banyak norma-norma yang saling berlainan dan saling berlawanan, maka individu-individu warga masyarakat lalu silit menyimpulkan adanya sesuatu gambaran sistem yang tertib, konsisten, dan konsekuen. Pelanggaran atas norma yang satu (demi kepentingan pribadi) sering kali malahan terpuji sebagai konformitas yang konsekuen pada norma yang lainnya. Maka, dalam keadaan demikian itu,  jelas bahwa masyarakat tidak akan mungkin mengharapkan dapat terselenggaranya kontrol sosial secara efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.   Besar-Kecilnya dan Bersifat Anomie-Tidaknya Kelompok Masyarakat yang Bersangkutan&lt;br /&gt;            Semakin besar suatu kelompok masyarakat, semakin sukarlah orang saling mengidentifikasi dan saling mengenali sesama warga kelompok. Sehingga, dengan bersembunyi di balik keadaan anomie (keadaan tak bisa saling mengenal), samakin bebaslah individu-individu untuk berbuat “semaunya”, dan kontrol sosialpun akan lumpuh tanpa daya.&lt;br /&gt;            Hal demikian itu dapat dibandingkan dengan apa yang terjadi pada masyarakat-masyarakat primitif yang kecil-kecil, di mana segala interaksi sosial lebih bersifat langsung dan face-to-face. Tanpa bisa bersembunyi di balik sesuatu anomie, dan tanpa bisa sedikit pun memanipulasi situasi heterogenitas norma, maka warga masayarakat di dalam masyarakat-masyarakat yang kecil-primitif itu hampir-hampir tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari kontrol sosial. Itulah sebabnya maka kontrol sosial di masyarakat primitif itu selalu terasa amat kuatnya, sampai-sampai suatu kontrol sosial yang informal sifatnya-seperti ejekan dan sindiran-itu pun sudah cukup kuat untuk menekan individu-individu agar tetap memerhatikan apa yang telah terlazim dan diharuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.   Toleran-Tidaknya Sikap Petugas Kontrol Sosial Terhadap Pelanggaran yang Terjadi&lt;br /&gt;            Sering kali kontrol sosial tidak dapat terlaksana secara penuh dan konsekuen, bukan kondisi-kondisi objektif yang tidak memungkinkan, melainkan karena sikap toleran (menenggang) agen-agen kontrol sosial terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi. Mengambil sikap toleran, pelaksana kontrol sosial itu sering membiarkan begitu saja sementara pelanggar norma lepas dari sanksiyang seharusnya dijatuhkan.&lt;br /&gt;            Adapun toleransi pelaksana-pelaksana kontrol sosial terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi umumnya tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Ekstrim-tidaknya pelanggaran  norma itu;&lt;br /&gt;b. Keadaan situasi sosial pada ketika pelanggaran norma itu terjadi;&lt;br /&gt;c. Status dan reputasi individu yang ternyata melakukan pelanggaran; dan&lt;br /&gt;d. Asasi-tidaknya nilai moral-yang terkandung di dalam norma-yang terlanggar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontrol atau pengendalian sosial mengacu kepada berbagai alat yang dipergunakan oleh suatu masyarakat untuk mengembalikan anggota-anggota yang kepala batu ke dalam relnya. Tidak ada masyarakat yang bisa berjalan tanpa adanya kontrol sosial.&lt;br /&gt;Bentuk kontrol sosial atau cara-cara pemaksaan konformitas relatif beragam. Cara pengendalian masyarakat dapat dijalankan dengan cara persuasif atau dengan cara koersif. Cara persuasif terjadi apabila pengendalian sosial ditekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing, sedangkan cara koersif tekanan diletakkan pada kekeraan atau ancaman dengan mempergunakan atau mengandalkan kekuatan fisik. Menurut Soekanto (1981;42) cara mana yang lebih baik senantiasa tergantung pada situasi yang dihadapi dan tujuan yang hendak dicapai, maupun jangka waktu yang dikehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam masyarakat yang makin kompleks dan modern, usaha penegakan kaidah sosial tidak lagi bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan kesadaran warga masyarakat atau pada rasa sungkan warga masyarakat itu sendiri. Usaha penegakan kaidah sosial di dalam masyarakat yang makin modern, tak pelak harus dilakukan dan dibantu oleh kehadiran aparat petugas kontrol sosial.&lt;br /&gt;            Di dalam berbagai masyarakat, beberapa aparat petugas kontrol sosial yang lazim dikenal adalah aparat kepolisian, pengadilan, sekolah, lembaga keagamaan, adat, tokoh masyarakat-seperti kiai-pendeta-tokoh yang dituakan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diarikan dari : “Berkenalan dengan Sosiologi, M. Sitorus”&lt;br /&gt;“Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, J.dwi Narwoko-Bagong Suyatno (ed.)“&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-5576384526722683118?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/5576384526722683118/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pengendalian-atau-kontrol-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/5576384526722683118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/5576384526722683118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pengendalian-atau-kontrol-sosial.html' title='PENGENDALIAN ATAU KONTROL SOSIAL'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-2960395998915901383</id><published>2011-10-14T18:19:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T18:20:52.673-07:00</updated><title type='text'>MOBILITAS SOSIAL</title><content type='html'>MOBILITAS SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; A.    Pengertian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata mobilitas berasal dari bahasa Latin mobilis yang artinya mudah dipindahkan atau banyak gerak. Kata sosial yang melekat pada istilah mobilitas bermaksud menekankan bahwa istilah itu mengandung makna gerak dengan melibatkan seseorang atau sekelompok warga dalam masyarakat. Dengan demikian mobilitas sosial ialah suatu gerak perpindahan seseorang atau sekelompok warga dari status sosial yang satu ke status sosial yang lain. Mobilitas sosial bisa berupa peningkatan atau penurunan dalam segi status sosial dan (biasanya) termasuk pula segi penghasilan yang dapat dialami oleh beberapa individu atau oleh keseluruhan anggota kelompok.&lt;br /&gt;Mobilitas sosial dapat diartikan gerakan sosial. Gerakan sosial yang menggunakan nada protes, penuh emosi, serta dengan kekerasan.lebih tepat disebut gerakan sosial (social  movment).&lt;br /&gt;Tingkat mobilitas sosial pada masing-masing masyarakat berbeda-beda. Pada masyarakat yang bersistem kelas sosial terbuka maka mobilitas sosial warga masyarakatnya akan cenderung tinggi. Tetapi sebaliknya pada sistem kelas sosial tertutup – seperti masyarakat    feodal atau masyarakat bersistem kasta -  maka mobilitas sosial warga masyarakatnya akan cenderung sangat rendah dan sangat sulit diubah atau bahkan sama sekali tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.     Jenis Mobilitas Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ü      Mobilitas sosial vertikal ; perpindahan individu atau objek sosial dari kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat.&lt;br /&gt;Sesuai dengan arahnya dikenal dua jenis mobilitas vertikal, yakni :&lt;br /&gt;Gerak sosial yang meningkat (social climbing), yakni gerak perpindahan anggota masyarakat dari kelas sosial rendah ke kelas sosial yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;Gerak sosial yang menurun (social sinking), yakni gerak perpindahan anggota masyarakat dari kelas sosial tertentu ke kelas sosial lain lebih rendah posisinya.&lt;br /&gt;ü      Mobilitas sosial horizontal ; perpindahan individu atau objek-objek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial yang satu ke kelompok sosial lainnya yang sederajat. Dalam mobilitas sosial yang horizontal tidak terjadi perubahan dalam derajat status seseorang ataupun objek sosial lainnya. Mobilitas sosial horizontal bisa terjadi secara sukarela, tetapi bisa pula terjadi karena terpaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.     Saluran-saluran Mobilitas sosial vertikal (sirkulasi sosial)&lt;br /&gt;a.    Angkatan Bersenjata&lt;br /&gt;b.      Lembaga-lembaga pendidikan&lt;br /&gt;c.    Lembaga-lembaga keagamaan&lt;br /&gt;d.      Organisasi Politik&lt;br /&gt;e.    Organisasi Ekonomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.    Determinan Mobilitas Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Horton dan Hunt (1987) mencatat ada dua faktor yang mempengaruhi tingkat mobilitas pada masyarakat modern, yakni :&lt;br /&gt;1.      Faktor struktrual ; yakni jumlah relatif dari kedudukan tinggi yang bisa dan harus diisi seta kemudahan untuk memperolehnya. Contoh: ketidakseimbangan jumlah lapangan kerja yang tersedia dibandingkan dengan jumlah pelamar atau pencari kerja.&lt;br /&gt;2.      Faktor individu ; kualitas orang per orang, baik ditinjau dari segi tingkat pendidikannya, penampilannya, keterampilan pribadi, dan lain-lain-termasuk faktor kemujuran yang menentukan siapa yang akan berhasil mencapai kedudukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.     Konsekuensi Mobilitas Sosial&lt;br /&gt;1.      Konflik&lt;br /&gt;Konflik ; suatu benturan antara berbagai nilai dan kepentingan tertentu.Benturan itu terjadi karena suatu masyarakat belum siap menerima perubahan yang dibawa oleh mobilitas sosial.&lt;br /&gt;2.      Penyesuaian&lt;br /&gt;o perlakuan baru untuk masyarkat kelas sosial, kelompok sosial, atau generasi    tertentu.&lt;br /&gt;o Penerimaan individu atau sekelompok warga dalam kedudukannya yang baru&lt;br /&gt;o Pergantian dominasi dalam suatu kelompok sosial atau masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : “Sosiologi Suatu Pengantar, Soerjono Soekanto”&lt;br /&gt;“Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, J.dwi Narwoko-Bagong Suyatno (ed.)“&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-2960395998915901383?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/2960395998915901383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/mobilitas-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/2960395998915901383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/2960395998915901383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/mobilitas-sosial.html' title='MOBILITAS SOSIAL'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-2052373577968997508</id><published>2011-10-14T18:15:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T18:18:08.691-07:00</updated><title type='text'>PRANATA SOSIAL,</title><content type='html'>PRANATA SOSIAL&lt;br /&gt;Manusia pada dasarnya selalu hidup di dalam suatu lingkungan yang serba berpranata. Artinya, segala tindak tanduk atau perilaku manusia senantiasa akan diatur menurut cara-cara tertentu yang telah disepakati bersama.&lt;br /&gt;            Di dalam kehidupan masyarakat, jumlah pranata sosial yang ada relatif beragam dan jumlahnya terus berkembang sesuai dengan dinamika perkembangan masyarakat itu sendiri seperti pranata keluarga, pranata ekonomi, pranata pendidikan, pranata politik dan pranata agama dan masih banyak pranata sosial lain yang memiliki fungsi yang sama yaitu mengatur cara-cara warga masyarakat dalam memenuhi berbagai kebutuhan yang penting.&lt;br /&gt;Pengertian pranata sosial secara prinsipil tidak jauh berbeda dengan apa yang sering dikenal dengan lembaga sosial, organisasi sosial maupun lembaga kemasyarakatan, karena di dalam masing –&lt;br /&gt;masing istilah tersebut tersirat adanya unsur-unsur yang mengatur perilaku setiap warga masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Menurut Horton dan Hunt (1987), yang dimaksud dengan pranata sosial (lembaga sosial) adalah suatu sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat dipandang penting. Dengan kata lain, pranata sosial adalah sistem norma yang mengatur segala tindakan manusia dalam memenuhi kebutuhan pokoknya dalam hidup bermasyarakat.&lt;br /&gt;            Sistem norma  yaitu sejumlah aturan sosial, atau patokan perilaku yang pantas, yang menjadi kesepakatan semua anggota masyarakat untuk dipegang dan dijadikan pedoman untuk mengatur kehidupan bersama.&lt;br /&gt;            Istilah pranata sosial berhubungan erat dengan apa yang disebut “lembaga” meskipun keduanya berlainan arti. Dua istilah tersebut berakar dari satu ungkapan bahasa Latin institure yang berarti “mendirikan”. Kata benda dari istilah tersebut adalah institutio yang berarati “pendirian” atau “apa yang didirikan”. Institutio tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan dua istilah yang berbeda yaitu institusi (pranata) dan institut (lembaga).&lt;br /&gt;            Institusi adalah sistem norma atau aturan yang ada, sedangkan institut adalah wujud nyata/konkret dari norma-norma tersebut.&lt;br /&gt;            Pranata sosial pada hakekatnya bukan merupakan sesuatu yang bersifat empirik, karena sesuatu yang empirik unsur-unsur yang terdapat di dalamnya selalu dapat dilihat dan diamati-amati. Sedangkan pada pranata sosial unsur-unsur yang ada tidak semuanya mempunyai perwujudan fisik. Pranata sosial adalah sesuatu yang bersifat konsepsional, artinya bahwa eksistensinya hanya dapat ditangkap dan dipahami melalui sarana pikir, dan hanya dapat dibayangkan dalam imajinasi sebagai suau konsep atau konstruksi pikir.&lt;br /&gt;            Unsur-unsur pranata sosial sesungguhnya bukanlah individu-individu manusianya itu, akan tetapi kedudukan-kedudukan yang ditempati oleh para individu itu beserta aturan tingkah lakunya sebab manusia-manusia di dalam kelompok atau pranata sosial itu hanyalah sebagai pelaksana fungsi atau pelaksana kerja dari unsur saja. Sehingga dalam kenyataannya mereka itu bisa datang atau pergi dan diganti oleh orang lain tanpa mengganggu eksistensi dan kelestarian dari pranata sosial. Dengan demikian pranata sosial adalah merupakan bangunan atau konstruksi dari seperangkat peranan-peranan dan aturan-aturan tingkah laku yang terorganisir. Aturan tingkah laku tersebut dalam kajian sosiologi sering disebut dengan istilah norma-norma sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Secara umum, tujuan utama diciptakannya pranata sosial, selain untuk mengatur agar kebutuhan hidup manusia dapat terpenuhi secara memadai, juga sekaligus untuk mengatur agar kehidupan sosial warga masyarakat bisa berjalan dengan tertib dan lancar sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.&lt;br /&gt;            Untuk mewujudkan tujuannya, menurut Soerjono Soekanto (1970), pranata sosial di dalam masyarakat dengan demikian harus dilaksanakan fungsi-fungsi berikut :&lt;br /&gt;Memberi pedoman pada anggota masyarakat tentang bagaimana bertingkah laku atau bersikap di dalam usaha untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya.&lt;br /&gt;Menjaga keutuhan masyarakat dari ancaman perpecahan atau disintegrasi masyarakat.&lt;br /&gt;Berfungsi untuk memberikan pegangan dalam mengadakan sistem pengendalian sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pranata tumbuh karena kebutuhan masyarkat untuk tujuan keteraturan kehidupan bersama. Karena tujuan keteraturanlah masyarakat akhirnya mempunyai sejumlah norma yang harus dipegang oleh setiap anggota masyarakat manakala ia masih terikat dalam keanggotaan. Sejumlah norma itulah yang kita sebut dengan pranata.&lt;br /&gt;            Suatu atau sejumlah aturan tidak secara langsung menjadi pranata begitu saja. Tidak secara otomatis norma yang ada dijadikan pranata kehidupan bersama. Proses sebuah aturan menjadi pranata sosial disebut dengan institusionalisasi (disebut juga dengan istilah pelembagaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Institusionalisasi yaitu proses berjalan dan terujinya sebuah kebiasaan dalam masyarakat menjadi institusi/pranata, yang akhirnya menjadi patokan dalam kehidupan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Proses itu memakan waktu yang lama dan harus melalui proses internalisasi (atau pembudayaan), yaitu pembatinan atau penghayatan kebiasaan dalam kehidupan bersama sehingga menjadi milik diri setiap anggota masyarakat. Sesudah menjadi bagian pranata, maka suatu norma mempunyai kekuatan memaksa agar ditaati.&lt;br /&gt;            Pranata menjadi sesuatu yang harus dipegang dan dijadikan aturan yang mengikat dalam masyarakat karena proses bertumbuhnya (institusionalisasi) harus memenuhi 3 syarat yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Penjelasan di atas akan lebih jelas jika digambarkan seperti bagan berikut :&lt;br /&gt;            Dengan demikian ada beraneka ragam pranata, tetapi keanekaragaman itu dapat kita telusuri dengan pendekatan sanksi. Artinya sejauh mana sebuah norma itu mempunyai sanksi sejauh itu pulalah ketatnya pranata dimiliki oleh anggota masyarakat. Sanksi tersebut kita dapatkan pada 4 macam tindakan norma yang mempunyai kekuatan pengikat, yaitu :&lt;br /&gt;a)      Cara (Usage), yaitu :&lt;br /&gt;Menunjuk pada suatu bentuk perbuatan, mempunyai kekuatan mengikat yang paling lemah. Bagi individu yang melakukan penyimpangan tidak mendapat sanksi hukuman yang tegas, sanksi yang diterima sifatnya lemah, misalnya berupa celaan dan teguran. Misalnya, cara makan yang benar sesuai dengan norma harus menggunakan tangan kanan, jika ada individu yang makan dengan menggunakan tangan kiri, maka individu tersebut sudah dikategorikan menyimpang, tetapi hanya mendapat teguran saja.&lt;br /&gt;b)      Kebiasaan (Folk Ways)&lt;br /&gt;Kebiasaan mempunyai kekuatan mengikat yang lebih tinggi daripada cara (usage). Kebiasaan diartikan sebagai perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama karena orang banyak menyukai perbuatan tersebut. Contoh, kebiasaan menghormati orang-orang yang lebih tua.&lt;br /&gt;c)      Tata Kelakuan (Mores)&lt;br /&gt;Tata kelakukan merupakan perilaku yang diakui dan diterima oleh masyarakat sebagai norma pengatur yang bersumber dari kebiasaan. Ciri dari tata kelakuan adalah bahwa tata kelakuan mencerminkan sikap hidup kelompok, sebagai alat pengawas, memaksa suatu perbuatan, melarang dan menuntut anggota masyarakat untuk beradaptasi.&lt;br /&gt;d)     Adat-istiadat (Custom)&lt;br /&gt;Tata kelakuan yang kekal dan kuat integrasinya (menyatunya) dengan pola-pola perilaku masyarakat, lama-kelamaan meningkat kekuatan mengikatnya menjadi adat-istiadat. Bagi anggota masyarakat yang melanggar adat-istiadat akan mendapat sanksi yang tegas dan keras.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan masyarakat banyak ditemui berbagai pranata sosial, sehingga sering tidak mudah untuk membedakan antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu pranata sosial sebagai suatu sistem norma mempunyai ciri-ciri tertentu. Ciri ini dirasakan perlu untuk membedakan apakah sistem norma tersebut dianggap sebagai suatu pranata atau bukan. Beberapa ciri yang bisa disampaikan adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;Pranata sosial merupakan sistem pola-pola pemikiran dan pola-pola perilaku yang tersusun atau berstruktur.&lt;br /&gt;Pranata sosial itu relatif mempunyai tingkat kekekalan tertentu.&lt;br /&gt;Pranata sosial itu mempunyai tujuan yang ingin dicapai atau diwujudkan&lt;br /&gt;Pranata sosial mempunyai alat-alat perlengkapan yang dipergunakan untuk mencapai tujuannya&lt;br /&gt;Pranata sosial memiliki lambang-lambang atau simbol sebagai ciri khasnya&lt;br /&gt;Pranata sosial mempunyai tradisi tertulis maupun tidak tertulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pranata dapat diklasifikasikan dari berbagai sudut. Berikut ini ditunjukkan beberapa tipe pranata sosial menurut Gillin dan Gillin (Soerjono Soekanto, 1987).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Berdasarkan Sistem Nilai yang Diterima Masyarakat&lt;br /&gt;basic institutions, pranata sosial yang sangat penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib masyarakat, misalnya keluarga, sekolah,  dan negara.&lt;br /&gt;subsidiary institutions, pranata yang dianggap masyarakat kurang penting, misalnya kegiatan rekreasi..&lt;br /&gt;b. Berdasarkan Perkembangannya&lt;br /&gt;crescive institutions, pranata sosial yang tidak disengaja tumbuh (dengan sendirinya tumbuh ) dari adat-istiadat masyarakat sehingga disebut juga pranata yang paling primer. Contoh ; pranata hak milik, perkawinan dan agama&lt;br /&gt;enacted institutions, pranata sosial yang sengaja dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu. Contoh : pranata utang-piutang dan pranata pendidikan.&lt;br /&gt;c.  Berdasarkan Sudut Penerimaan Masyarakat&lt;br /&gt;approved institutions, pranata sosial yang diterima oleh masyarkat, seperti pranata sekolah dan perdagangan.&lt;br /&gt;unsanctioned institutions, pranata sosial yang ditolak oleh masyarakat meskipun masyarakat tidak mampu memberantasnya, misalnya  pemerasan, kejahatan dan pencolengan&lt;br /&gt;d.  Berdasarkan Penyebarannya&lt;br /&gt;general institutions, pranata yang dikenal oleh sebagian besar masyarakat dunia, misalnya pranata agama, hak-hak asasi manusia (HAM)&lt;br /&gt;resticted institutions, pranata sosial yang hanya dikenal oleh sebagian masyarakat tertentu, misalnya pranata agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu dan Budha.&lt;br /&gt;e.  Berdasarkan Fungsinya&lt;br /&gt;cooperative institutions, pranata sosial yang berfungsi menghimpun pola-pola atau cara-cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu, misalnya pranata industri.&lt;br /&gt;regulative institutions, pranata sosial yang berfungsi mengawasi adat-istiadat atau tata kelakukan yang ada dalam masyarakat, misalnya kejaksaan dan pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Setiap masyarakat mempunyai sistem nilai-nilai yang menentukan lembaga kemasyarakatan manakah yang dianggap sebagai pusat dari pergaulan hidup masyarkat yang kemudian dianggap berada di atas lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya. Akan tetapi di dalam setiap masyarakat sedikit banyak akan dapat dijumpai pola-ola yang mengatur hubungan antara lembaga-lembaga kemasjyarakatan tersebut. Sistem dari pola-pola tersebut lazimnya dinamakan institutional configuration. Sistem tadi dalam masyarakat homogen dan tradisional mempunyai kecendrungan untuk bersifat statis dan tetap. Lain halnya dengan masyarakat-masyarakat yang sudah kompleks dan terbuka bagi terjadinya perubahan-perubahan sosial, maka sistem tersebut seringkali mengalami perubahan-perubahan. Hal itu disebabkan, oleh karena dengan masuknya hal-hal yang baru, masyarakat biasanya juga mempunyai anggapan-anggapan baru tentang kaidah-kaidah yang berkisar pada kebutuhan pokoknya.&lt;br /&gt;            Dengan pertakaan lain, maka lembaga kemasyarakatan yang pada suatu waktu mendapatkan penilaian tertinggi dari masyarakat, mungkin merupakan lembaga kemasyarakatan yang mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya. Dalam hal ini, hukum dapat merupakan suatu lembaga kemasyarakatan yang primer di dalam suatu masyarakat apabila dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.      sumber dari hukum tersebut mempunyai wewenang (authority) dan berwibawa (prestigeful);&lt;br /&gt;2.      hukum tadi jelas dan sah secara yuridis, filosofis maupun sosiologis;&lt;br /&gt;3.      penegak hukum dapat dijadikan teladan bagi faktor kepatuhan terhadap hukum;&lt;br /&gt;4.      diperhatikannya faktor pengendapan hukum di dalam jiwa pada warga masyarakat;&lt;br /&gt;5.      para penegak dan pelaksana hukum merasa dirinya terikat pada hukum yang diterapkannya dan membuktikannya di dalam pola-pola perikelakuannya;&lt;br /&gt;6.      sanksi-sanksi yang positif maupun negatif dapat dipergunakan untuk menunjang pelaksanaan hukum;&lt;br /&gt;7.      perlindungan yang efektif terhadap mereka yang terkena oleh aturan-aturan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila syarat-syarat tersebut dipenuhi, maka tidak mustahil bahwa hukum akan berpengaruh terhadap lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disarikan dari : “Sosiologi &amp; Politik Ekonomi” Oman Sukmana&lt;br /&gt;                          “Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan” J. Dwi Narwoko-Bagong Suyatno (ed.)&lt;br /&gt;                    “Pokok-Pokok Sosiologi Hukum “Prof. Dr. Soerjono Soekanto, S.H.,M.A.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-2052373577968997508?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/2052373577968997508/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pranata-sosial_14.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/2052373577968997508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/2052373577968997508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pranata-sosial_14.html' title='PRANATA SOSIAL,'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-1512319040661948038</id><published>2011-10-14T18:12:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T18:13:22.298-07:00</updated><title type='text'>bunuh diri secara sosiologis.</title><content type='html'>Emile durkheim berbicara mengenai  bunuh diri atau yang dikenal dengan sucide.Perubahan-perubahan dalam tingkat integrasi dalam suatu masyarakat secara empiris dapat dinyatakan dalam satu manifestasi utama yang dianalisa durkheim secara intensif yakni perubahan dalam angka bunuh diri dilihatnya bukan sebagai fakta individual tetapi sebagai fakta social.Menurut Durkheim angka bunuh diri dalam tiap masyarakat yang dari tahun ke tahun cenderung relative konstan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan tentang bunuh diri bukan hal yang baru bagi durkheim,Pada saat itu ada dua pemikiran yang umum tentang penyebab bunuh diri,yaitu tafsir gangugan psikologi.bunuh diri dilihat sebagai gejala individual yang terjadi karena pelakunya menderita gangguan mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Durkheim tafsir psikologi ini susah untuk dipertanggung jawabkan kebenaranya karena tidak semua pelaku bunuh diri mengalami gangguan psikologi.Duekheim berpendapat adanya hubungan diantara kasus bunuh diri dengan ciri-ciri social pelakunya.Beberapa cirri tersebut yaitu jenis kelamin,agama,usia,dan asal Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, bunuh diri itu bukan sekedar dampak dari faktor-faktor psikologis.Sebagaimana dengan tafsir psikologis, Durkheim juga menolak anggapan tafsir biologis yang menganggap adanya hubungan di antara kasus bunuh diri dengan ras dan asal-usul keturunan pelakunya. Hal ini didasarkan pada ketidakjelasan “ras” yang digunakan dan data-data statistic yang diperoleh Durkheim lebih merujuk pada factor non-biologis yang melatarbelakangi seseorang melakukan tindak bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil tafsir ekologis juga tidak memuaskan Durkheim, berdasarkan data statistic tidak terlihat adanya hubungan antara tingkat bunuh diri dengan variabel-variabel ekologis seperti iklim, suhu dan kelembaban udara baik di Eropa maupun tempat-tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durkheim menegaskan penolakannya terhadap anggapan tafsir ekologis ini dengan mengatakan bahwa walaupun tingkat bunuh diri meningkat pada bulan Januari hingga Juli, dimana pada bulan-bulan tersebut memang merupakan musim panas yang menyengat namun bukan karena panasnya sengatan matahari yang mengakibatkan banyak orang melakukan tindak bunuh diri mealainkan karena aktifitas manusia di musim panas lebih padat ketimbang musim lainnya yang menyebabkan timbulnya tekanan yang cukup hebat dalam diri manusia. Intinya, factor ekologis tersebut tidak mempengaruhi peningkatan bunuh diri namun lebih disebabkan oleh kondisi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Durkheim pun menerangkan bunuh diri secara sosiologis.Namun,tidak semua proposisi dasar penjelasan yang ada disanggahnya, dalam batas-batas tertentu ada yang diterimanya, misal: ia mengakui bahwa bunuh diri bukan merupakan gejala yang lepas dari pengaruh gejala-gejala di luar gejala sosial. Menurutnya, walaupun bunuh diri merupakan keputusan individu namun tingkat bunuh diri tidak dapat dipandang sebagai tindakan individual. Bunuh diri merupakan gejala sosial dalam masyarakat dan juga sebuah fakta social.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durkheim melakukan telaah sosiologisnya untuk mencari penyebab bunuh diri dengan dua fakta sosial utamanya, yaitu integrasi merupakan kuat tidaknya keterikatan individu dengan masyarakat.Dan yang kedua regulasi yakni merujuk pada tingkat paksaan eksternal yang dirasakan individu. Berdasarkan fakta regulasi ini.Pada Integrasi tipe bunuh diri ada dua yaitu bunuh diri egoistic dan altruistic,sedangkan berdasar regulasi juga ada dua tipe yakni anomic sucide dan fatalistic sucide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Egoistic sucide&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunuh diri egoistic ini karena rendahnya tingkat integrasi suatu kelompok sosial. Lemahnya integrasi ini menimbulkan perasaan bahwa individu bukan bagian dari masyarakat bukan pula bagian dari individu. Ringkasnya, kecenderungan bunuh diri beragam berdasarkan tingkat integrasi kelompok sosial tempat individu berada. Untuk sampai ke kesimpulan umum ini, Durkheim membandingkan tingkat bunuh diri yang terjadi dari tahun ke tahun di berbagai kelompok sosial: kelompok keagamaan, kelompok domestic (keluarga) dan masyarakat politik. Bunuh diri ini terjadi karena adanya suatu tekanan yang kuat pada seseorang  atau kurangnya ikatan social yang cukup dengan kelompok social.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dikatakan hubungan seseorang dengan teman,kerabat,keluarga maupun dengan masyarakat disekitarnya mampu memeberikan peran dalam kehidupan seseorang. sikap seseorang tidak berintregrasi dengan groupnya, yaitu keluarganya, kelompok rekan-rekan, kumpulan agama, dan sebagainya. Hidupnya tidak terbuka terhadap orang lain, sehingga ketika di mendaptkan masalah, mak oranglain tidak ada yang bisa membantu. Karena disebabkan oleh rasa egoismenya yang tinggi, maka ketika dia tersudut dalam keadaan yang sulit, dia akan membunuh dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Bunuh diri Altruistik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunuh diri yang terjadi akibat dari integrasi sosial yang sangat kuat di dalam masyarakat.Tingkat integrasi yang kuat itu menekan individualitas ke suatu titik dimana individu dipandang tidak penting lagi dalam kedudukannya sebagai individu.Sehingga individu tertempatkan pada sisi untuk tunduk sepenuhnya kepada tuntutan kelompok.Keinginan individu berada pada posisi lebih rendah bila dibandingkan dengan keinginan kelompok.Jika tingkat solidaritas itu cukup tinggi ,individu mingkin biisa sebaliknya.Ia merasa puas dan bersedia mengorbankan diri untuk kebaikan kelompok yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Durkheim, ada perbedaan mendasar diantara di antara bunuh diri altruistik dengan bunuh diri egoistik. Perbedaan penyebab membuat tipe bunuh diri ini berbeda dengan yang lain, dan emosi yang mengalir di satu tipe berbeda dengan yang lain. Pada tipe bunuh diri egoistik seseorang merasakan kejerihan yang tak terobati dan tekanan batin yang luar biasa. Bunuh diri, dalam hal ini, merupakan upaya melepaskan diri dari semua tekanan tersebut, lantaran sang pelaku tak mampu menemukan tempat untuk meringankan bebannya ini. Namun pada tipe altruistik, bunuh diri berasal dari harapan; kepercayaan bahwa ada sesuatu yang indah di balik kehidupan ini. Bunuh diri ini bahkan dilakukan dengan antusias dan dengan keyakinan akan mendapat kepuasan yang meluap-luap. Bunuh diri ini dilakukan dengan suatu semangat yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Anomik sucide&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muncul dari pudarnya norma yang mtuk mengatur bagi tujuan dan aspirasi individu.Norma-norma pengatur itu biasanya menjamin bahwa keinginan individu dan aspirasinya pada umumnya berbanding dengan alat-alat yang tersedia atau sarana yang ada pada individu .Jika norma pengatur perilaku tidak berdaya lagi maka keinginan individu akan meledak diluar kemingkinan untuk mencapainya,akibatnya banyak keinginan individu yang tidak dapat dipenuhi lagi,dan hal itu akan mengakibatkan individu semakin  frustasi secara terus menerus karena meningkatnya frustasi dari keinginan yang tidak dapat dipenuhi itu maka angka bunuh diri akan meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan regulasi masyarakat terganggu dimana terjadi ketidakjelasan norma-norma yang mengatur cara berpikir, bertindak dan merasa para anggota masyarakat, gangguan itu mungkin membuat individu merasa tidak puas karena lemahnya control terhadap nafsu mereka, yang akan bebas berkeliaran dalam ras yang tidak akan pernah puas terhadap kesenangan. Menurut Durkheim, suatu keadaan anomik dapat dilihat dari indikator ekonomi maupun domestik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa statistik Durkheim memperlihatkan bahwa krisis ekonomi membuat orang kehilangan arah.Dalam keadaan seperti ini,ungkap Durkheim mereka harus beradaptasi dengan kondisi yang menimpa mereka, kondisi yang sangat menyiksa mereka membayangkan penderitaan karena serba berkekurangan bahkan sebelum mereka mencoba kehidupan ini.Pertumbuhan kemakmuran yang mendadak dalam masyarakat juga memiliki dampak serupa terhadap peningkatan angka bunuh diri dalam masyarakat.Pertumbuhan ekonomi yang mendadak membuat tatanan moral sekonyong-konyong runtuh,sementara tatanan moral yang baru belum cukup rampung untuk menggantikan tatanan moral sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.Fatalistik Sucide&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe bunuh diri ini tidak terlalu banyak dibahas oleh Dukheim. Kalau bunuh diri anomik terjadi dalam situasi di mana nilai dan norma yang berlaku di masyarakat melemah, namun sebaliknya bunuh diri fatalistik ini terjadi ketika nilai dan norma yang berlaku di masyarakat meningkat, sehingga menyebabkan individu ataupun kelompok tertekan oleh nilai dan norma tersebut. Dukheim menggambarkan seseorang yang melakukan bunuh diri fatalistik seperti seseorang yang masa depanya telah tertutup dan nafsu yang tertahan oleh nilai dan norma yang menindas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Kasus Bunuh diri yang terjadi di kalangan artis-artis Korea&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini jika kita melihat dilayar kaca telivisi,majalah,dan media cetak  lainya banyak yang memberitakan kepopuleran artis dari korea,Sari hal yang terkecil hingga prestasi dan ketenaran yang didapat para artis-artis korea ini.Namun dari pemberitaan tentang prestasi,ketenaran dan gaya hidup artis korea tersebut ada hal yang tersembunyi yakni kasus bunuh diri yang marak terjadi di kalangan selebritis asal korea ini.Dibawah ini merupakan artikel mengenai artis korea yang bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa banyak artis Korea yang bunuh diri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak muncul pertanyaan mengapa banyak terjadi kasus artis korea yang melakukan bunuh diri.Dari data yang diperoleh sebanyak 20 % responden atau lebih memebeli racun atau alat bunuh diri.Indeks stress artis korea jiga tinggi yaitu 53,12 dari total nilai 100.Hal ini lebih tinggi dari wirausahawan yang mendapat poin 48,12 dan pekerja kantoran yang memperoleh 48,18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang menyebabkan artis korea yang bunuh diri mengalami depresi.Antara lain karena tuntutan pekerjan didunia artis yang begitu tinggi.Bahkan seorang artis menjalani latihan selama 10-12 jam setiap hari selama tujuh hari dalam satu minggu.Menejemen artis yang begitu ketat mengontrol hidup sang artis dalam pembentukan citra sang artis dan demi keuntungan pribadi sebuah agensi artis..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya dalam kasus bunuh diri Park Yong Ha karena melakukan bunuh diri menimbulkan sejumlah pertanyaan. Apa yang membuat aktor top Korea itu mengakhiri hidupnya secara mengenaskan? Kematian Park Yong Ha membuat sejumlah rekannya sesama artis sangat sedih dengan keputusan pria tersebut.Pasalnya, para teman-temannya itu melihat sebelum menghembuskan nafas terakhir tak ada keganjilan atau keanehan yang diperlihatkan Park Yong Ha. Tetapi, setelah diselidiki lebih lanjut, kabarnya Park Yong Ha putus asa menghadapi penyakit kanker perut yang diderita sang ayah. Ayahnya sudah cukup lama menderita penyakit serius tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Park Yong Ha sangat menyayangi ayahnya dan dia merasa bersalah atas penyakit yang diderita ayahnya tersebut. Dia sangat peduli dan selalu mengkhawatirkan ayahnya. “Setelah ayahnya dinyatakan sakit kanker, Park Yong Ha merawat ayahnya. Dia selalu mengkhawatirkan ayahnya” kata salah satu teman Park Yong Ha s. Demi sang ayah, aktor yang juga penyanyi ini rela istirahat sementara dari karirnya yang sedang cemerlang di dunia keartisan Korea. Dia memilih untuk tinggal di rumah dan merawat ayahnya yang sedang sakit.”Dia lebih fokus merawat ayahnya,” ucap temannya lagi.dan ada kasus artis  bunuh diri yang lainya seperti kasus hutang yang membelit,kasus perceraian yang membuat depresi,bahkan hinaan para fans di internet pun menjadikan penyebab kasus bunuh diri pada artis Korea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara social Korea juga memiliki masalah besar dalam unsur bunuh diri korea selatan menempati peringkat atas dalam masalah bunuh diri bahkan melampaui Jepang.Menurut kmentrian kesehatan Korea Selatan 24,3 dari 100.000 orang melakukan bunuh diri .Jika dirata-rata 35 orang bunuh diri tiap hari.( http://www.anneahira.com dipeoleh pada tanggal 18 Juni 2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Analisa kasus bunuh diri Artis Korea&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat dalam teori yang dikemukakan Durkheim secara sosiologis,factor bunuh diri tersebut bukan berasal dari dalam diri individu melainkan dating dari eksternal atau dari luar individu.Kasus bunuh diri yang marak terjadi pada artis korea ini memunculkan sikap artis korea yang lebih merasa bahwa dirinya mampu menhadapi segala masalah yang ada dalam hidupnya seolah-olah baginya tidak ada yang mampu membantu menyelesaikan masalah hidupnya,Jika dilihat dalam jenis-jenis bunuh diri yang telah dikemukakan Durkheim Kasus bunuh diri pada artis korea ini  termasuk kedalam jenis Egoistic sucide karena rendahnya tingkat integrasi individu dengan masyarakat.Integrasi seorang artis korea dengan teman,bahkan keluarga  dianggap kurang.Karena mendapat tekanan pekerjaan yang terus menerus maka seorang artis kurang dalam berinteraksi dengan kerabat dan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari kasus yang menimpa artis Park Yong Ha,banyak teman bahkan keluarga tidak mengetahui masalah yang dalami orang tersebut.Dihadapan keluarga dan temanya Ia berusaha bertingkah laku seperti tidak terjadi sesuatu.Disaat ia mengidap penyakit pun tidak ada yang mengetahui hal tersebut,dapat dikatakan hidupnya tidak terbuka dengan orang disekitarnya  sehingga disaat ia mendapat masalah orang lain tidak ada yang dapat membantunya,disebabkan oleh rasa egoismenya yang tinggi,maka saat dia dalam titik terendah,dia akan membunuh dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kasus bunuh diri yang menggambarkan bahwa rendahnya hubungan seseorang dengan teman,keluarga.Baginya ia merasa bukan baguan dari mereka sehingga ia melakukan segala kebutuhan hidupnya dan mengahadapi segala masalahnya dangan usahanya sendiri sampai saat ia putus asa pun ia mngambil langkah bunh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurhadi,Muflich.1998.Buku Pegangan Kuliah Teori Sosiologi Klasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surakarta:Depdikbud Republik Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritzer,George and Goodman,Douglas J.2004.Teori Sosiologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantul:Kreasi Wacana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunarto,Kamanto.2004.Pengantar Sosiologi(Edisi Revisi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta:Lembaga penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Ekonomi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-1512319040661948038?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/1512319040661948038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/bunuh-diri-secara-sosiologis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/1512319040661948038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/1512319040661948038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/bunuh-diri-secara-sosiologis.html' title='bunuh diri secara sosiologis.'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-904674792820440484</id><published>2011-10-14T18:09:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T18:10:15.273-07:00</updated><title type='text'>Status Sosial Hubunganya dengan  Peran Sosial</title><content type='html'>Suatu peranan peranan pada hakikatnya mencakup paling sedikit tiga hal yakni peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat.Peranan juga suatu konsep tentang apa yang dapt dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi,serta peran dapat dikatakan sebagai suatu perilaku individu yang penting bagi struktur social masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan atau status. Status Sosial adalah suatu posisi seseorang dalam suatu kelompok,atau posisi suatu kelompok dalam hubunganya dengan kelompok lain.Status social seseorang atau kelompok dapat diperoleh karena usahanya sendiri,diberikan karena jasa- jasanya bahkan diperoleh sejak lahir atau warisan.Sesorang pasti memiliki status dalam suatu kelompok masyarakat,dan didalam statusnya itu terdapat seperangkat peran yang melekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran  yang harus dikerjakan oleh seseorang merupakan akibat dari status yang melekat pada diri orang tersebut. Konsepsi peran  mengandaikan seperangkat harapan. Kita diharapkan untuk bertindak dengan cara-cara tertentu dan mengahrapkan orang lain untuk bertindak dengan cara-cara tertentu pula.Peranan yang melekat pada diri seseorang ,harus dibedakan dengan posisi atau tempatnya dalam kehidupan di masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu peranan peranan pada hakikatnya mencakup paling sedikit tiga hal yakni peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat.Peranan juga suatu konsep tentang apa yang dapt dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi,serta peran dapat dikatakan sebagai suatu perilaku individu yang penting bagi struktur social masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran social adalah perialku yang diharapkan dari sesorang yang menduduki status tertentu. Individu dikatakan menjalankan peranan jika individu melakukan hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya.Peranan yang melekat dalam kehidupan masyarakat harus dibedakan sesuai dengan posisi atau status dalam pergaulan.Misalkan seorang Ayah bekerja sebagai ketua RT,di masyarakat Ia memiliki peran mengayomi masyarakat di lingkup RT dan jika dilingkungan keluarga Ia memiliki status sebagai ayah dan berperan menjadi kepala keluarga,mencari nafkah untuk keluarga dan lainya. Sehingga status dan peran merupakan dua aspek saling berkait&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Peranan Mengatur Perikelakuan Seseorang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibanya sesuai dengan kedudukanya maka dia telah menjalankan suatu peranan.Setiap orang mempunyai macam-macam peranan yang berasal dari pola-pola pergaulan hidup dan hal ini sekaligus berarti bahwa peranan menentukan apa yang diperbuatnya bagi masyarakat kepadanya,yang artinya peran menyebabkan seeorang pada batas-batas tertentu dapat melakukan perbuatan perbuatan orang lain,sehingga orang tersebut dapat menyesuaikan perikelakuan dirinya dengan perikelakuan orang lain didalam kelompoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran bukan hanya semata mata sebagai sebuah cara berperilaku yang bias diawasi saja melainkan di dalam peran tersebut terdapat sebuah cara berperilaku yang mesti dipikirkan dan dipertimbangkan dahulu oleh orang yang bersangkutan tersebut.Gagasan tentang apa yang mesti dilakukan serta sesuatu yang layak dan pantas tersebut dinamakan norma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam masyarakat terdapat hubungan –hubungan social ,hubungan social tersebut merupakan hubungan antar peranan individu dalam masyarakat.Peran tersebut diatur oleh norma yang berlaku dalam masyarakat.Misalkan norma kesopanan seorang anak berbicara kepada ibunya dengan menggunakan bahasa yang sopan dan baik (bahasa Indonesia,bahasa jawa kromo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Peranan itu meliputi norma – norma yang dihubungkan dengan posisi atau kedudukan seseorang dalam masyarakat atau merupakan rangkaian peraturan – peraturan yang membimbing individu dalam kehidupan masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Konflik Peran Sosial dan Role Distance&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan-harapan yang diharapkan dalam menjalankan sebuah peran bukan hanya sesuatu yang dilakukan oleh seseorang tetapi sevara keseluruhanya diatur oleh suatu norma,dimana seseorang yang memiliki sebuah status wajib melaksanakan peranannya.Dalam kaitanya melakukan sebuah peran yang melekat dalam diri  tidak semuanya dapat terlaksana dengan baik.Oleh karena itu sering terjadi kekurang berhasilan dalm menjalankan peran,hal ini sering disebut Role Conflict.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang menjalankan seperangkat peran yang berbeda-beda,kadang-kadang peran tersebut membawa harapan-harapan yang bertentangan.Pertentangan peranan terjadi jika untuk menaati suatu pola,sehingga seseorang harus melanggar pola yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Role distance ini timbul apabila individu merasakan tertekan karena merasa bahwa dirinya tidak sesuai melaksanakan peranan yang diberikan oleh masyarakat ,sehingga ia tidak melaksanakan peranya dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekanto,Soerjono.1986.SosiologiSuatuPengantar.Jakarta:Rajawali Pers.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-904674792820440484?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/904674792820440484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/status-sosial-hubunganya-dengan-peran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/904674792820440484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/904674792820440484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/status-sosial-hubunganya-dengan-peran.html' title='Status Sosial Hubunganya dengan  Peran Sosial'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-6905324853600024659</id><published>2011-10-14T18:00:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T18:02:07.149-07:00</updated><title type='text'>PENDEKATAN INDIVIDU</title><content type='html'>A. Hanya ada individu-individu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif individualistis dapat dikatakan bahwa kepentingan serta keberadaan individu dalam masyarakat lebih didahulukan daripada kepentingan masyarakat.Berbeda dengan perspektif organis,yakni individu diabaikan dan hanya dipandang secara luas. J.J. Rousseau berpendapat bahwa masyarakat sebagai “kontrak social”yang diadakan antara pihak-pihak otonom.Jadi masyarakat itu terbentuk bukan dengan adanya kaitan social batiniah yang timbul dari manusia untuk menyatu jadi masyarakat.Jikadiumpamakan hubungan antara individu seperti hubungan antar molekul-molekul yang mengabungkan diri,dengan molekul yang lain dan berkombinasi menjadi sesuatu.begitu juga dengan manusia akan bergabung atau menjalin hubungan dengan manusia lain memebentuk masyarakat.Masyarakat terbina karena orang-orang yang kebetulan tidak berhubungan satu sama lain itu berhubungan disebabkan oleh adanya suatu kebutuhan, sehingga masing-masing individu itu mengadakan kontrak sosial untuk hidup bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Evolusi atau Perubahan Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evolusi adalah perubahan social dengan waktu yang cukup lama.Masyarakat sebenarnya tidak berevolusi dan tidak maju.Jika ada yang sering mengatakan adanya masyarakat mengalami perubahan social atau ada istilah revolusi politik itu bukan perubahan melainkan pergeseran saja.Pandangan ini disebut Seesaw Theory of History,yang artinya masyarakat adalah bagian ungkat ungkit yang selalu mencari keseimbangan antara kedua ujungnya.Misalkan kedudukan si A yang menduduki sebuah jabatan tinggi dan Si B yang duduk dijabatan rendah.Suatu saat si A akan bergeser duduk pada jabatan yang rendah dan si Bakan bergeser pada jabatan yang tinggi.Jadi apa yang nampaknya perubahan .sebenarnya hanya perpindahan atau pergesaran  posisi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Masyarakat terdiri dari perilaku manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pareto adalah salah satu tokoh pendasar mekanisme yang berpendapat bahwa hidup bermasyarakat terdiri dari perilaku oleh individu.sebagian besar kelakuan manusia bersifat mekanis, yakni melihat kebelakang dalam usahanya untuk mencari sebab sebab semua gejala social.Ada perbuatan logis dan non logis.Logis jika  perilaku direncanakan oleh akal budi serta langkah atau tindakan yang diambil seseorang tepat dan rasional.Pareto menganggap seluruh perilaku manusia itu nonlogis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat yang terdiri dari perilaku manusia senantiasa  mengarah kepada keseimbangan yakni pemeliharaan keseimbangan setelah terjadi pergolakan.dalam diri individu ada “perasaan-perasaan” yang menentang setiap hal yang mengancam atau mengganggu kestabilan.Keseimbangan adalah akibat proses mekanis.”perasaan –persaan”tersebut yakni naluri, residu,derivasi kepentingan dan factor rasial etnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Residu-residu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian residu secara harafiah adalah endapan,denagan maksud struktur dasar manusia yang selalu sama mantap dan tidak berubah sepanjang peredaran zaman struktur dasar ini melandasi dan menentukan perilaku tertentu yang selalu sama.Pareto menyebut enam residu yang menonjol yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.       tiap individu kecenderungan untuk mengabungkan hal yang tidak ada hubunganya satiu sama lain sehingga menjadi sesuatu yang baru.misalnya sesorang mengasosiasikan kejadian yang buruk terhadapnya dengan kejadian ia menabrak kucing diwaktu sebelumnya.gejala yang kebetulan ini dihubungakan satu sama lain.Maka residu ini menerangkan tiap –tiap perkembangan dibidang intelektual ,struktur politik dan kemajuan teknik.Manusia tidak pernah berhenti mencari kombinasi yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.       Kecenderungan untuk mempertahankan dan melestarikan kombinasi yang telah dibuat.misalkan lembaga lembaga social,politik,agama yang pernah dibentuk dianggap seolah olah abadi.Maka Residu ini mengimbangi kearah perubahan dan pencarian kombinasi baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.        Kecenderunagan untuk mengungkapkan emosi secara lahiriah.yakni dengan tangisan,tertawa,demonstarsi,teriakan,aksi mogok dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.       Sosialitas atau kecenderungan manusia untuk bersatu dengan yang lainya.residu ini mrndorong manusia untuk membentuk masyarakat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.        Kecenderungan untuk mempertahankan diri sebagai individu yang utuh.setiap orang menjaga nama baiknya dan identitasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.        Kecenderungan untuk mengarahkan dan mengungkapkan seksualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Derivasi-derivasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia tidak hanya merasa diri didorong untuk bertindak atas cara tertentu ,melainkan juga untuk membenarkan dan mempertanggungjawabkan tindakanya secara teoritis.Rasionalisasi atau pembenaran perbuatan yang non logis dinamakan derivasi.Artinya manusiia bertindak lebih dahulu kemudian mencari motivasinya.Tiga macam Derivasi menurut Pareto:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.         cara membenarkan diri yang paling mudah yakni menyatakan saja.Banyak orang yang hanya cenderung untuk menerima sesuatu pernyataan secara mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.         menumpang pada kewibawaan orang lain atau kekuasaan Tuhan sendiri.misalkan seorang anak mda yang berbicara bahasa gaul, pasti akan mengatakan semua anak muda sekarang juga melakukan hal seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.          Orang dengan mudah membenarkan apa yang cocok atau bersesuaian dengan perasaan,kepentingan atau keinginan mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Kesukaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan suka ,senang,atau merasa diri tertarik kepada hal-hal tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Kepentingan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua individu dan golongan digerakkan dan dirangsang oleh apa yang menjadi kepentingan mereka dalam bentuk barang kedudukan,atau kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Heterogenitas social&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Individu  individu tidak semuanya sama dilihat dari segi segi intelektual ,moral,dan fisik .dengan kata lain masyarakat itu tidak sama .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikaian perspektif masyarakat sebagai individualistis.Individu sangat mempengaruhi masyarakat,karena masyarakat terbentuk dari individu yang aktif,mempunyai rasionalitas dan tujuan yang sama.Paham individu memandang manusia sebagai individu itu segala-galanya di luar individu itu tidak ada.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-6905324853600024659?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/6905324853600024659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pendekatan-individu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/6905324853600024659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/6905324853600024659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pendekatan-individu.html' title='PENDEKATAN INDIVIDU'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-2094260531243000929</id><published>2011-10-14T17:58:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T17:59:54.075-07:00</updated><title type='text'>Pranata Sosial dan Lembaga Sosial</title><content type='html'>Pranata Sosial merupakan sistem norma yang bertujuan untuk mengatur tindakan maupun kegiatan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok dan bermasyarakat bagi manusia.Pranata social ini sebenarnya lebih menunjuk pada tata kelakuan masyarakat atau norma-norma untuk memenuhi kebutuhan pokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Soerjono Soekanto bahwa suatu sisitem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktifitas yang memenuhi kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat.Dapat dijelaskan bahwa dalam  hidup masyarakat terdapat banyak sekali kebutuhan pokok yang begitu komplek,sehingga dalam mewujudkan atau mencapai kebutuhan tersebut diperlukan adanya sitem peraturan yang mengatur pola perilaku masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat ini memunculkan adanya lembaga social yang muncul.Semakin komplek kebutuhan masyarakat semakin banyak pula jebis-jenis lembaga social yang muncul.Sehingga lembaga social dan Pranata social ini saling berkaitan.begitu banyak bentuk-bentuk lembaga social dalam masyarakat maka dalam suatu lembaga tersebut juga terbentuk pranata sosial,misalkan lembaga keluarga.Didalam lembaga keluarga berbagai macam pranata,yakni sebuah aturan dalam keluarga misalkan orang tua melarang anak perempuanya agar tidak pulang lebih dari jam sembilan malam,dibuatlah jadwal pekerjaan di rumah pada setiap anggota keluarga.semua peraturan yang terdapat dalam keluarga ini akan membantu berjalanya lembaga keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga kemasyarakatan dianggap  sebagai yang sesungguhnya atau yang mampu berjalan dengan baik,apabila norma-normanya sepenuhnya membantu pelaksanaan pola-pola kemasyarakatan.Jadi lembaga social akan selalu ada jika semua masyarakat dapat menaati norma-norma yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pranata social sebagai batas-batas perilaku masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam hubungan antar manusia didalam suatu masyarakat diperlukan adanya peraturan atau norma-norma yang hendak mengatur perilaku masyarakat.Pada hakikatnya Pranata social pun merupakan alat yang mampu memerintahkan dan melarang seseorang anggota masyarakat melakukan suatu perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pranata sosial yakni sebagai alat pengawas ,secara sadar maupun tidak sadar oleh masyarakat .pranata sosial di satu pihak memaksakan suatu perbuatan dan di pihak lain melarangnya sehingga secara langsung sebagai alat agar masyarakat menyesuaikan perialkunya dengan pranata yang sudah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran suatu pranata dalam lembaga social akan terlihat jika setiap pranata yang ada harus selalu diketahui,dipahami,ditaati dan selanjutnya dihargai oleh setiap masyarakat.Yang artinya seseorang harus tahu adanya batasan-batasan dalam ia bertingkah laku dan tidak boleh dilanggar.Jika batasan itu dialanggar,maka orang yang bersangkutan akan mendapat sanksi.Sebagai contoh seorang pemuda mengendarai sepeda motor tidak memakai helm,maka ia akan kena sanksi tilang oleh polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun berbeda apabila seseorang mampu memahami norma-norma yang mengatur kehidupanya ,maka akan timbul kecenderungan untuk bersikap taat terhadap norma-norma,misalkan seseorang mahasiswa tidak memakai sandal jepit saat kuliah karena akan melanggar peraturan perkuliahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pranata social berupa tentang perintah dan larangan .Sesuatu diperintahkan karena akan membawa akibat yang baik,sedangkan sesuatu dilarang ,karena bila dilanggar akan berakibat buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pranata social menjaga solidaritas masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan masyarakat yang sangat komplek,sering terjadi adanya permasalahan.Pranata sebagai pedoman seseorang dalam berperilaku mampu berperan menjaga keutuhan masyarakat.Pranata social yang memeiliki sifat mengatur dalam setiap berperilaku serta memiliki kekuatan memaksa berakibat sesorang mau tidak mau harus patuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika setiap masyarakat mampu menyesuaikan diri terhadap siatu kelompok dengan beberapa pranata yang ada,maka akan terjadi suatu keteraturan atau ketertiban didalamnya.Sebagai contoh dalam antrean pembelian tiket,pada didning tertulis “harap antre”.jika ada seseorang yang mendahlui,tidak ikut dalam antrean maka akan terjadi keributan antar para pembeli tiket.Lain halnya jika semua para pembeli tertib dalam berantre,akan mudah serta berjalan baik pembelian tiket tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap  masyarakat memiliki pranata social sendiri-sendiri.Pranata social menjaga keutuhan dan kerjasama antar anggota-anggota masyarakat.Karena pranata sebagai pedoman masyarakat dalam berperilaku.Masyarakat yang mampu menjalankan semua aturan dan mampu menyesuaikan diri maka akan menjadi masyarakat yang utuh dan kerukunan pun akan terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Horton,paul. dan  Chester L.Hunt.1999.Sosiologi.Jakarta:Erlangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekanto,Soerjono.1990.Sosiologi Suatu Pengantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta:Rajawali Pers.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-2094260531243000929?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/2094260531243000929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pranata-sosial-dan-lembaga-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/2094260531243000929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/2094260531243000929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pranata-sosial-dan-lembaga-sosial.html' title='Pranata Sosial dan Lembaga Sosial'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-5956417715787394938</id><published>2011-10-14T17:55:00.000-07:00</published><updated>2011-10-14T17:56:20.740-07:00</updated><title type='text'>Pranata Sosial</title><content type='html'>Di antara kita mungkin sudah ada yang telah mengenal apa itu pranata, namun walaupun di antara kita telah yang mengenalnya, kami akan mencoba mengulas kembali tentang pranata tersebut. Supaya kita akan lebih menambah wawasan yang lebih banyak lagi tentang pranata itu.&lt;br /&gt;Pranata sosial merupakan wadah yang memungkinkan untuk berinteraksi menurut pola prilaku yang sesuai dengan norma yang berlaku di sekitarnya. Namun manusia dapat melakukan banyak aktivitas atau berinteraksi dengan individu-individu. dan Manusia selalu dapat melakukan banyak tindakan antar individu dalam rangka hidup bermasyarakat.&lt;br /&gt;Di antara semua tindakan yang berkelompok perlu diadakan antara tindakan-tindakan yang dilaksanakan menurut pola-pola yang tidak resmi. Sistem-sistem yang terjadi wahana yang memungkinkan warga masyarakat untuk berinteraksi menurut pola-pola resmi dalam ilmu ilmu sosiologi dan antropologi disebut pranata. Dan akan lebih jelasnya kami akan membahas dalam bab-bab berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. pengertian pranata sosial &lt;br /&gt;Pranata sosial adalah wadah yang memungkinkan masyarakat untuk berinteraksi satu sama lain menurut pola prilaku yang sesuai dengan norma- norma yang berlaku di masyarakat sekitarnya. Menurut Horton dan hunt pranata sosial dalah merupakan adalah suatu hubungan terorganisir yang memperlihatkan nilai-nilai dan prosedur-prosedur yang sama, dan yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tertentu dalam masyarakat . Seperti contoh: sekolah adalah sebagai lembaga sosial yang di dalamnya mempunyai aturan-aturan, sehigga dalam proses belajar mengajarnya berjalan dengan baik. Begitupula seperti lembaga masyarakat misalnya bank yang mempunyai aturan tersendiri, dan karyawan-karyawannya bertindak sesuai dengan aturan aturan yang berlaku di lembaga tersebut. &lt;br /&gt;Kemudian manusia melakukan banyak tindakan interaksi antar individu dalam rangka hidup bermasyarakat. Di antara semua tindakannya yang berpola, perlu di adakan perbedaan antara tindakan-tindakan yang di laksanakan dengan pola-pola yang resmi, sistem-sistem yang menjadi wahana yang memungkinkan warga masyarakat itu berinteraksi dengan pola-pola yang resmi, dalam ilmu sosiologi dan antroplogi bisa di sebut pranata.&lt;br /&gt;Pranata dan suatu sistem norma khusus yang menata suatu rangkaian tindakan yang berpola dengan mantap guna memenuhi suatu keperluan khusus dari manusia dalam kehidupan masyarakat. Konsep pranata atau instution telah lam berketimbang di pergunakan dalam ilmu sosiologi, dan merupakan suatu konsep dasar yang di uraikan secara panjang lebar dalam banyak buku mengenai ilmu tersebut, sebaliknya dalam ilmu antropologi konsep pranata kurang di perankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pranata dan lembaga&lt;br /&gt;Dalam bahasa sehari-hari istilah institution sering dikacaukan dengan istilah institute. Dalam bahasa Indonesia pertukaran arti juga terjadi. Istilah Indonesia untuk institut adalah “lembaga” maka sesuai dengan itu dalam surat kabar dan bahasa popular di Indonesia sering kita baca istilah “dilembagakan”. Padahal antara “pranata” dan “lembaga” harus diadakan perbedaan secara tajam. Pranata adalah system norma atau aturan-aturan yang mengenai suatu aktifitas masyarakat yang khusus, sedangakan lembaga atau institute adalah badan atau organisasi yang melaksakan aktivitasnya. &lt;br /&gt;Lembaga sosial (social institution) mengandug pengertian adanya betuk yang sekaligus juga mengandung pengertian yang anstrak sekaligus norma-norma dan aturan-aturan tertentu yang menjadi ciri lembaga kemasyarakatan. . tokoh lain, R. M. Mcliver dan C. H Page, menjelaskan lembaga kemasyaraktan adalah tata cara atau prosedur yang diciptakan untuk mengatut anatar hubungan manusia yang berkelompok dalam suatu lembaga kemasyaraktan yang disebut dengan asosiasi. &lt;br /&gt;Kenyataan menunjukkan bahwa lembabaga kemasyaraktan itu tak dapat dipisahkan adanya dari kelompok manusia. Dan bahkan juga merupakan bagian dari kebudayaan, dengan demikian ” lembaga” mengandung dua hal yaitu: pertama perangkat norma atau aturan dan satu sistem hubungan sosial, sehingga norma-norma tersebut dipraktekkan diwujudkan &lt;br /&gt;Menurut Soekanto (2002 :1997) secara umum lembaga kemasyarakatan itu untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia. Ia mengatakan bahwa pada dasaranya lembabag kemasyaraktan mempunyai beberapa fungsi antara lain: &lt;br /&gt;a. memberikan pedoman pada masyarakat, bagaimana bertingkah laku, bersikap didalam menghadapi masalah dalam masyarakat. Terutama yang mengatur kebutuhan menyangkut kebutuhan&lt;br /&gt;b. menjaga kebutuhan masyarakat.&lt;br /&gt;c. Memberikan pegangan kepada masyaarakat untuk mengadakan sisitem pengendalian sosial (sosial control). Artinya sistem pengawasan masyarakat terhadap tingkah laku anggota-anggotanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Macam-macam pranata sosial&lt;br /&gt;a. Pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan kehidupan kekerabatan, yaitu yang sering disebut kinship atau domistic institution perkawinan, tolong menolong anatar kerabat, pengasuhan anak-anak, sopan santun antar kerabat, sistem istilah kekerabatan dsb.&lt;br /&gt;b. Pranata-pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan manusia dan untuk tata pencaharian hidup, memproduksi menimbun, menyimpan, dan mendistribusikan hasil produksi dan harta pertanian, peternakan, pemburuhan, koperasi, penjualan, penggudangan, perbankan dsb. Feodalisme sebagai suatu sistem hubungan antara pemilik tanah dan penggarap tanah, yang pada hakikatnya mengakibatkan suatu produksi dari hasil tani yang dapat dianggap suatu pranata ekonomi, tetapi sehingga suatu sistem hubungan antara pihak berkuasa dan pihak rakyat sebagai suatu pranata politik.&lt;br /&gt;c. Pranata-pranata yang berfungsi memenuhi keperluan ilmiah menyelami alam semesta disekelilingnya adalan scientific institution. Teologi ilmiah penelitan, pendidikan ilmiah, dsb.&lt;br /&gt;d. Pranata-pranata yang berfungsi memenuhi keperluan manusia untuk menghayatkan rasa keindahannya dan untuk rekreasi adalah westhesic and recreacional institution. Kom/seni rupa, seni suara, seni gerak, seni drama, kesusastraan olahraga dsb. &lt;br /&gt;e. Pranata-pranata yang berfungsi memenuhi keperluan manusia untuk berhubungan dengan berbakti kepada tuhan atau dengan alam ghaib, adalah relegius institution. Com/doa, kenduri, upacara, semedi, bertapa, penyiaran agama, pantangan, himbauan, ilmu dukun dsb.&lt;br /&gt;f. Pranata-pranata yang berfungsi memenuhi keperluan manusia untuk mengatur dan mengelola keseimbangan keksuasan dalam kehidupan dalam masyarakat, adalah political institution com/pemerintahan, demokrasi, kehakiman, kepartaian, kepolisian, ketentaraan dsb.&lt;br /&gt;g. Pranata-pranata yang berfungsi keperluan fisik dan kenyamanan hidup manusia adalah, sociatic institution, com/pemeliharaan, kecantikan, kesehatan, kedokteran, dsb.&lt;br /&gt;Penggolongan tersebut diatas tentu tidak lengkap karena tidak mencakup segala macam pranata yang mungkin ada dalam masyarakat. Kalau dipikirkan secara mendalam dan obyektif maka hal-hal seperti kejahatan banditisme pencurian dsb juga merupakan pranata sosial. &lt;br /&gt;Kemudian penggolongan pranata sosial ada beberapa macam yakni: &lt;br /&gt;1. pranata ekonomi (memenuhi kebutuhan material) bertani industri, bank, koperasi dsb.&lt;br /&gt;2. pranata sosial / memnuhi kebutuhan sosial misalnya ; perkawinan, keluarga sistem kekerabatan pengaturan keturunan.&lt;br /&gt;3. pranata politik atau jalan alat untuk mencapai tujuan bersama dalam hidup bermasyarakta, seperti sistem hokum, sistem kekuasaan, partai, dan wewenang pemerintahan.&lt;br /&gt;4. pranata kepercayaan dan agama kebutuhan spiritual seprti upacara, semidi, tapa, zakat, infaq.&lt;br /&gt;5. pranata pendidikan/ memenuhi kebutuhan pendidikan, seperti BBM, sistem pengetahuan, aturan, kursus, pendidikan keluarga ngaji.&lt;br /&gt;6. pranata kesenian/ memenuhi kebutuhan manusia akan keindahan, seperti seni suara, seni lukis, seni patung, seni drama, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Fungsi pranata&lt;br /&gt;Pranata-pranata yang berfungsi memenuhi keperluan penerangan dan pendidikan manusia, supaya menjadi anggota masyarakat yang berguna/ pengasuhan anak-anak, pendidikan rakyat, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, pemberantasan buta huruf, pendidikan keamanan, pers, perp&lt;br /&gt;ustakaan umum dsb. Begitu pula dengan adanya suatu lembaga yang ada di masyarakat mengalami suatu fungsi yakni memfungsikan suatu lembaga-lembaga yang ada, semisal sekolah, masjid, musholla, dan lembaga lainnya. Dan di antara beberapa lembaga tersebut di atas dapat berfungsi sebagai tempat untuk mengelompokkan masyarakat untuk di beri bimbingan, supaya masa depannya tidak memburuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa pembahasan di atas kami dapat menyempulkan bahwa pranata adalah suatu wadah yang memotivasi masyarakat untuk berinteraksi menurut pola prilaku yang sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.&lt;br /&gt;Ada beberapa macam pranata salah-satunya adalah pranata yany berfungsi untuk memenuhi kepentingan hidup bermasyarakat, pranata yang berfungsi untuk keperluan untuk pencaharian hidup, memproduksi, menyempan. dsb &lt;br /&gt;sistem norma khusus yang menata suatu rangkaian suatu tindakan yang berpola tetap guna memenuhi suatu keperluan khusus dari manusia dalam kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;Adapula penggolongan pranata sosial&lt;br /&gt;-pranata ekonomi/ memenuhi kebutuhan material.&lt;br /&gt;-pranata sosial/ memenuhi kebutuhan sosial&lt;br /&gt;-pranata politik/ jalan atau alat untuk mencapai tujuanbersama dalam hidup bemasyarakat.&lt;br /&gt;-pranata pendidikan/ memenuhi kebutuhan pendidikan.&lt;br /&gt;-pranata kesenian/ memenuhi kebutuhan manusia akan keindahan dsb.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-5956417715787394938?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/5956417715787394938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pranata-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/5956417715787394938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/5956417715787394938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pranata-sosial.html' title='Pranata Sosial'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-3887569755741821895</id><published>2011-10-11T08:40:00.000-07:00</published><updated>2011-10-11T08:42:36.427-07:00</updated><title type='text'>PENGANTAR SOSIOLOGI</title><content type='html'>PENGERTIAN SOSIOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal, kamu pasti berteman dan bergaul dengan orang lain. Tidak ada manusia di dunia ini yang mampu hidup sendiri tanpa melakukan hubungan dengan manusia lain. Secara umum, hubungan tersebut dilakukan guna memenuhi kebutuhan hidup manusia mengingat keterbatasan yang dimilikinya. Hubungan yang dilakukan manusia dalam masyarakat secara mendalam akan kita pelajari dalam sosiologi. Apakah sosiologi itu? Nah untuk mengetahuinya, mari bersama-sama kita pahami uraian bab ini.&lt;br /&gt;Manusia selalu mengadakan hubungan ke mana pun dan di mana pun secara berulang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Agar hubungan itu berjalan dengan baik, maka dalam berperilaku manusia senantiasa berpedoman pada nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Nilai dan norma yang dimiliki setiap masyarakat tidak sama. Dengan menyadari persamaan dan perbedaannya, serta keikutsertaan kita dalam hubungan sosial memberikan gambaran kepadamu tentang ilmu yang akan kita pelajari, yaitu sosiologi. Istilah sosiologi secara etimologis berasal dari kata Latin socius yang berarti 'teman, kawan', dan logos yang berasal dari kata Yunani yang berarti 'ilmu'. Jadi apakah yang dimaksud sosiologi? Merujuk pada arti dua kata tersebut, maka sosiologi berarti ilmu tentang teman. Dalam arti yang lebih luas, sosiologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi manusia di dalam masyarakat. Sosiologi bermaksud untuk mengkaji kejadiankejadian dalam masyarakat, yaitu persekutuan manusia yang selanjutnya berusaha untuk mendatangkan perbaikan dalam kehidupan bersama. Istilah sosiologi pertama kali digunakan Auguste Comte untuk mempelajari keadaan masyarakat Eropa pada saat itu. Sosiologi sebagai ilmu mulai dikenal sejak abad ke-19 dengan melepaskan diri dari filsafat.&lt;br /&gt;Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat, dan menyelidiki ikatan-ikatan antarmanusia dalam kehidupan. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk, tumbuh, dan berubahnyakumpulan-kumpulan manusia yang hidup bersama itu, serta kepercayaan, keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam tiap persekutuan hidup manusia. Singkatnya, sosiologi merupakan ilmu masyarakat atau ilmu kemasyarakatan yang mempelajari manusia sebagai anggota golongan atau masyarakat (tidak sebagai individu yang terlepas dari golongan atau masyarakat), serta ikatan-ikatan adat, kebiasaan, kepercayaan atau agama, tingkah laku, dan kesenian atau kebudayaan masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;Bagaimanakah pengertian sosiologi menurut pendapat para ahli? Seiring dengan perkembangan sosiologi, berikut ini pengertian sosiologi menurut pendapat para ahli dari sudut pandang masing-masing.&lt;br /&gt;1. Auguste Comte&lt;br /&gt;Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari manusia sebagai makhluk yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama dengan sesamanya.&lt;br /&gt;2. Emile Durkheim&lt;br /&gt;Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta sosial. Fakta sosial merupakan cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu, serta mempunyai kekuatan memaksa dan mengendalikan.&lt;br /&gt;3. Max Weber&lt;br /&gt;Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tindakan sosial. Tindakan sosial adalah tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan dan berorientasi pada perilaku orang lain.&lt;br /&gt;4. P.J. Bouman&lt;br /&gt;Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan-hubungan sosial antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta sifat dan perubahanperubahan dalam lembaga-lembaga dan ide-ide sosial.&lt;br /&gt;5. Pitirim A. Sorokin&lt;br /&gt;Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari mengenai:&lt;br /&gt;a. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial, misalnya antara gejala ekonomi dan agama, keluarga dan moral, hukum dan ekonomi, gerak masyarakat dan politik, dan sebagainya.&lt;br /&gt;b. Hubungan dan saling pengaruh antara gejala-gejala sosial dan gejala-gejala nonsosial, misalnya gejala geografis, biologis, dan sebagainya.&lt;br /&gt;c. Ciri-ciri umum semua jenis gejala sosial.&lt;br /&gt;6. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi&lt;br /&gt;Sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.&lt;br /&gt;7. Kingsley Davis&lt;br /&gt;Sosiologi adalah suatu studi yang mengkaji bagaimana masyarakat mencapai kesatuannya, kelangsungannya, dan caracara masyarakat itu berubah.&lt;br /&gt;CIRI-CIRI UTAMANYA :&lt;br /&gt;a. Sosiologi bersifat empiris yang berarti bahwa ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat seta hasilnya tidak bersifat spekulatif&lt;br /&gt;b. Sosiologi bersifat teoretis , yaitu ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil obesrvasi.&lt;br /&gt;c. Sosiologi bersifat kumulatif yang berarti bahwa teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas serta memperhalus teori-teori lama.&lt;br /&gt;d. Bersifat non-etis , yakni yang dipersoalkan bukanlah buruk-baiknya fakta tertentu, akan tetapi tujuannya adalah untuk menjalaskan fakta tersebut secara analitis.&lt;br /&gt;HAKIKAT SOSIOLOGI&lt;br /&gt;* Sosiologi adalah suatu ilmu sosial dan bukan merupakan ilmu pengetahuan alam ataupun ilmu pengetahuan kerohanian&lt;br /&gt;* Sosiologi bukan merupakan disiplin yang normatif akan tetapi adalah suatu disiplin yang kategoris, artinya sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini dan bukan mengenai apa yang terjadi atau seharusnya terjadi.&lt;br /&gt;* Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang murni (pure science) dan bukan merupakan ilmu pengetahuan terapan atau terpakai (apllied science)&lt;br /&gt;* Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang konkrit&lt;br /&gt;* Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum&lt;br /&gt;* Sosiologi merupakan pengetahuan yang empiris dan rasional&lt;br /&gt;* Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang khusus.&lt;br /&gt;MANFAAT SOSIOLOGI&lt;br /&gt;Sesungguhnya, studi sosiologi sangat penting bagi kita sebagai makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan orang lain dalam masyarakat. Mengapa? Sosiologi mempelajari berbagai hubungan yang dilakukan manusia sebagai anggota masyarakat. Agar hubungan itu berjalan dengan baik, tertib, lancar, dan bisa mencapai tujuan yang diinginkan, maka dalam hidup bermasyarakat tersebut manusia menciptakan berbagai norma, nilai, dan tradisi sebagai pengatur sekaligus pedoman bagi anggota masyarakat dalam bersikap dan bertingkah laku.&lt;br /&gt;Namun demikian tidak jarang muncul perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat, sehingga melahirkan perilaku menyimpang dan konflik di antara anggota masyarakat. Uraian yang telah kita bahas bersama menunjukkan bahwa sosiologi pada dasarnya berbicara mengenai kita serta masyarakat di mana kita hidup dan melakukan interaksi. Manfaat apa yang dapat kamu petik dan rasakan dengan mempelajari sosiologi?&lt;br /&gt;Berikut ini disebutkan beberapa manfaat mempelajari sosiologi.&lt;br /&gt;1. Dengan mempelajari sosiologi, kita akan dapat melihat dengan lebih jelas siapa diri kita, baik sebagai pribadi maupun (dan terutama) sebagai anggota kelompok atau masyarakat.&lt;br /&gt;2. Sosiologi membantu kita untuk mampu mengkaji tempat kita dalam masyarakat, serta dapat melihat 'dunia' atau 'budaya' lain yang belum kita ketahui sebelumnya.&lt;br /&gt;3. Sosiologi membantu kita mendapatkan pengetahuan tentang berbagai bentuk interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat, baik antarindividu, antarkelompok, maupun antarindividu dan kelompok.&lt;br /&gt;4. Sosiologi membantu mengontrol dan mengendalikan tindakan dan perilaku sosial tiap anggota masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.&lt;br /&gt;5. Dengan bantuan sosiologi, kita akan semakin memahami norma, tradisi, keyakinan, dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat lain, serta memahami perbedaan-perbedaan yang ada. Tanpa hal itu perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat akan menjadi alasan untuk timbulnya konflik di antara anggota masyarakat.&lt;br /&gt;6. Akhirnya, bagi kita sebagai generasi penerus bangsa, mempelajari sosiologi membuat kita lebih tanggap, kritis, dan rasional menghadapi gejala-gejala sosial dalam masyarakat yang dewasa ini semakin kompleks, serta mampu mengambil sikap dan tindakan yang tepat dan akurat terhadap setiap situasi sosial yang kita hadapi sehari-hari.&lt;br /&gt;METODE-METODE DALAM SOSIOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode merupakan cara kerja yang digunakan untuk memudahkan kita dalam melaksanakan suatu pekerjaan atau kegiatan, agar tercapai tujuan seperti yang telah kita tentukan dan harapkan. Metode sekurang-kurangnya memiliki beberapa ciri pokok, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Ada permasalahan yang akan dikaji atau diteliti.&lt;br /&gt;2. Ada hipotesis, yaitu kesimpulan yang bersifat sementara, yang harus dibuktikan kebenarannya melalui data. Hipotesis merupakan jawaban sementara atas permasalahan yang akan dikaji melalui teori yang ada.&lt;br /&gt;3. Ada usulan mengenai cara kerja atau cara penyelesaian permasalahan dari hipotesis yang ada.&lt;br /&gt;Dalam penelitian sosiologi, kita menggunakan dua metode, yaitu metode kualitatif dan kuantitatif.&lt;br /&gt;1. Metode Kualitatif&lt;br /&gt;Metode ini mengutamakan cara kerja dengan menjabarkan data yang diperoleh. Metode ini dipakai apabila data hasil penelitian tidak dapat diukur dengan angka atau dengan ukuran lain yang bersifat eksak. Istilah penelitian kualitatif dimaksudkan sebagai jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Contohnya penelitian tentang kehidupan, riwayat, dan perilaku seseorang, di samping juga tentang peranan organisasi, pergerakan sosial, atau hubungan timbal balik. Sebagian datanya dapat dihitung sebagaimana data sensus, namun analisisnya bersifat kualitatif.&lt;br /&gt;2. Metode Kuantitatif&lt;br /&gt;Metode ini digunakan dalam penelitian yang analisis datanya mengutamakan keterangan berdasarkan angka-angka. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode ini adalah survei dan eksperimen. Gejala yang diteliti diukur dengan skala, indeks, tabel, atau formula-formula tertentu yang cenderung menggunakan uji statistik. Apakah perbedaan antara dua metode yang telah kita bahas di atas? Beberapa perbedaan mendasar dari dua metode tersebut dapat kamu pahami pada tabel berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping metode-metode tersebut, ada beberapa metode yang sering digunakan sosiologi untuk menelaah masyarakat didasarkan pada jenisnya. Metode-metode tersebut meliputi metode induktif, deduktif, fungsionalisme, empiris, dan rasionalistis.&lt;br /&gt;1. Metode induktif adalah metode yang mempelajari suatu gejala khusus untuk mendapatkan kaidah-kaidah yang berlaku umum dalam lapangan yang lebih luas.&lt;br /&gt;2. Metode deduktif adalah metode yang menggunakan proses yang berkebalikan dengan metode induktif, yaitu dimulai dengan kaidah-kaidah yang dianggap berlaku umum untuk kemudian dipelajari dalam keadaan yang bersifat khusus.&lt;br /&gt;3. Metode fungsionalisme adalah metode yang bertujuan untuk meneliti fungsi lembaga kemasyarakatan dan struktur sosial dalam masyarakat. Metode ini memiliki gagasan pokok bahwa unsur-unsur yang membentuk masyarakat mempunyai hubungan timbal balik yang saling memengaruhi dan masing-masing mempunyai fungsi tersendiri dalam masyarakat.&lt;br /&gt;4. Metode empiris adalah metode yang mendasarkan diri kepada keadaan-keadaan yang dengan nyata diperoleh dari dalam masyarakat.&lt;br /&gt;5. Metode rasionalistis adalah metode yang mengutamakan penilaian dengan logika dan pikiran sehat untuk mencapai pengertian tentang kemasyarakatan.&lt;br /&gt;PERSPEKTIF DALAM SOSIOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat tentunya sering ditemukan beberapa pandangan yang berbeda satu sama lain. Dalam melihat kenyataan sosial atau biasa disebut dengan realitas sosial dalam masyarakat juga demikian. Penalaran atau penilaian atas sebuah realitas umumnya dimulai dengan asumsi ( assumption ), yaitu dugaan individu yang belum teruji kebenarannya. Dari asumsi-asumsi tersebut berkembang menjadi perspektif, pandangan, atau paradigma. Berikut ini beberapa perspektif dalam sosiologi.&lt;br /&gt;1. Perspektif Evolusionis&lt;br /&gt;Perspektif ini merupakan perspektif teoretis yang paling awal dalam sosiologi. Penganutnya adalah Auguste Comte dan Herbert Spencer. Perspektif ini memberikan keterangan yang memuaskan tentang bagaimana masyarakat manusia tumbuh dan berkembang.&lt;br /&gt;Para sosiolog yang menggunakan perspektif ini mencari pola perubahan dan perkembangan yang muncul dalam masyarakat yang berbeda untuk mengetahui apakah ada urutan perubahan yang berlaku umum. Dalam perspektif ini secara umum dapat dikatakan bahwa perubahan manusia atau masyarakat itu selalu bergerak maju (secara linear), namun ada beberapa hal yang tidak ditinggalkan sama sekali dalam pola kehidupannya yang baru dan akan terus dibawa meskipun hanya kecil sampai pada perubahan yang paling baru.&lt;br /&gt;2. Perspektif Fungsionalis&lt;br /&gt;Dalam perspektif ini, masyarakat dilihat sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerja sama secara terorganisasi dan teratur, serta memiliki seperangkat aturan dan nilai yang dianut sebagian besar anggota masyarakat tersebut. Jadi, masyarakat dipandang sebagai suatu sistem yang stabil, selaras, dan seimbang. Dengan demikian menurut pandangan perspektif ini, setiap kelompok atau lembaga melaksanakan tugas tertentu secara terus-menerus, karena hal itu fungsional. Sehingga, pola perilaku timbul karena secara fungsional bermanfaat dan apabila kebutuhan itu berubah, pola itu akan hilang atau berubah.&lt;br /&gt;Hal ini juga berarti bahwa perubahan sosial akan mengganggu keseimbangan masyarakat yang stabil tersebut. Namun tidak lama kemudian akan tercipta kembali keseimbangan. Perspektif ini lebih menekankan pada keteraturan dan stabilitas dalam masyarakat. Lembaga-lembaga sosial seperti keluarga, pendidikan, dan agama dianalisis dalam bentuk bagaimana lembaga-lembaga itu membantu mencukupi kebutuhan masyarakat. Ini berarti lembaga-lembaga itu dalam analisis ini dilihat seberapa jauh peranannya dalam memelihara stabilitas masyarakat. Perspektif fungsionalis menekankan pada empat hal berikut ini.&lt;br /&gt;a. Masyarakat tidak bisa hidup kecuali anggota-anggotanya mempunyai persamaan persepsi, sikap, dan nilai.&lt;br /&gt;b. Setiap bagian mempunyai kontribusi pada keseluruhan.&lt;br /&gt;c. Masing-masing bagian terintegrasi satu sama lain dan saling memberi dukungan.&lt;br /&gt;d. Masing-masing bagian memberi kekuatan, sehingga keseluruhan masyarakat menjadi stabil.&lt;br /&gt;Beberapa sosiolog pendukung perspektif ini adalah Talcott Parsons, Kingsley Davis, dan Robert K. Merton. Seorang antropolog yang juga sangat mendukung perspektif ini, bahkan dapat dikatakan sebagai pelopornya adalah Bronislaw Malinowsky (Polandia).&lt;br /&gt;3. Perspektif Interaksionisme&lt;br /&gt;Perspektif ini cenderung menolak anggapan bahwa fakta sosial adalah sesuatu yang determinan terhadap fakta sosial yang lain. Bagi perspektif ini, orang sebagai makhluk hidup diyakini mempunyai perasaan dan pikiran. Dengan perasaan dan pikiran orang mempunyai kemampuan untuk memberi makna terhadap situasi yang ditemui, dan mampu bertingkah laku sesuai dengan interpretasinya sendiri. Sikap dan tindakan orang tidak dipaksa oleh struktur yang berada di luarnya (yang membingkainya) serta tidak semata-mata ditentukan oleh masyarakat. Jadi, orang dianggap bukan hanya mempunyai kemampuan mempelajari, memahami, dan melaksanakan nilai dan norma masyarakatnya, melainkan juga bisa menemukan, menciptakan, serta membuat nilai dan norma sosial (yang sebagian benar-benar baru). Karena itu orang dapat membuat, menafsirkan, merencanakan, dan mengontrol lingkungannya.&lt;br /&gt;Singkatnya, perspektif ini memusatkan perhatian pada interaksi antara individu dengan kelompok, terutama dengan menggunakan simbol-simbol, antara lain tanda, isyarat, dan katakata baik lisan maupun tulisan. Atau dengan kata lain perspektif ini meyakini bahwa orang dapat berkreasi, menggunakan, dan berkomunikasi melalui simbol-simbol. Tokoh-tokoh yang terkenal sebagai penganut perspektif ini adalah George Herbert Mead dan W.I. Thomas.&lt;br /&gt;4. Perspektif Konflik&lt;br /&gt;Perspektif ini melihat masyarakat sebagai sesuatu yang selalu berubah, terutama sebagai akibat dari dinamika pemegang kekuasaan yang terus berusaha memelihara dan meningkatkan posisinya. Perspektif ini beranggapan bahwa kelompokkelompok tersebut mempunyai tujuan sendiri yang beragam dan tidak pernah terintegrasi. Dalam mencapai tujuannya, suatu kelompok seringkali harus mengorbankan kelompok lain. Karena itu konflik selalu muncul, dan kelompok yang tergolong kuat setiap saat selalu berusaha meningkatkan posisinya dan memelihara dominasinya.&lt;br /&gt;Ciri lain dari perspektif ini adalah cenderung memandang nilai dan moral sebagai rasionalisasi untuk keberadaan kelompok yang berkuasa. Dengan demikian kekuasaan tidak melekat dalam diri individu, tetapi pada posisi orang dalam masyarakat. Pandangan ini juga menekankan bahwa fakta sosial adalah bagian dari masyarakat dan eksternal dari sifatsifat individual. Singkatnya, pandangan ini berorientasi pada studi struktur sosial dan lembaga-lembaga sosial. Ia memandang masyarakat terus- menerus berubah dan masing-masing bagian dalam masyarakat potensial memacu dan menciptakan perubahan sosial. Dalam konteks pemeliharaan tatanan sosial, perspektif ini lebih menekankan pada peranan kekuasaan. Tokoh yang menganut perspektif ini adalaCABANG-CABANG SOSIOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi yang berkembang dalam masyarakat memiliki beberapa cabang yang disesuaikan dengan bidang keilmuannya. Berikut ini kita akan membahas beberapa cabang sosiologi.&lt;br /&gt;1. Sosiologi Pendidikan&lt;br /&gt;Sosiologi pendidikan adalah cabang sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental. Masalah-masalah itu muncul sebagai akibat perubahan zaman, seperti perubahan masyarakat dari pertanian menuju ke masyarakat industri. Perubahan itu menuntut dibuatnya berbagai sarana pendidikan, seperti gedung sekolah, buku-buku pelajaran, dan fasilitas lainnya. Hal itu mengingat pentingnya pendidikan dalam dunia industri.&lt;br /&gt;Sosiologi pendidikan mencoba mengkaji hubungan antara fenomena yang terjadi dalam masyarakat dengan pendidikan. Materi yang dikaji antara lain peranan lembaga pendidikan dalam proses sosialisasi, peranan pendidikan dalam perubahan masyarakat dan lingkungan pendidikan itu sendiri, serta peranan pendidikan sebagai pranata sosial.&lt;br /&gt;2. Sosiologi Agama&lt;br /&gt;Sosiologi agama mempelajari hubungan antara fenomena yang terjadi dalam masyarakat dengan agama. Dalam sosiologi agama dipelajari beberapa materi yang meliputi perilaku manusia yang berhubungan dengan keyakinan yang dipeluknya, peranan agama sebagai pranata sosial, peranan agama dalam perubahan masyarakat, dan peranan agama sebagai agen pengendalian sosial.&lt;br /&gt;3. Sosiologi Hukum&lt;br /&gt;Sosiologi hukum mempelajari kaitan antara fenomena yang terjadi dalam masyarakat dengan hukum. Materi yang dipelajari antara lain perilaku masyarakat dalam hubungannya dengan hukum yang berlaku, peranan hukum dalam masyarakat, dan lembaga-lembaga yang berkaitan dengan hukum yang ada dalam masyarakat.&lt;br /&gt;4. Sosiologi Keluarga&lt;br /&gt;Sosiologi keluarga membahas kegiatan atau interaksi antara fenomena yang terjadi dalam masyarakat dengan keluarga. Hal yang dipelajari dalam sosiologi keluarga antara lain peranan keluarga dalam masyarakat, peranan keluarga dalam perubahan sosial, dan beberapa bentuk keluarga yang ada dalam masyarakat.&lt;br /&gt;5. Sosiologi Industri&lt;br /&gt;Pada hakikatnya sosiologi industri lebih menekankan pada perkembangan industri seiring dengan perkembangan masyarakat. Hal ini mengingat antara industri dan masyarakat mempunyai hubungan yang erat, karena adanya industri akan menimbulkan berbagai perubahan sosial dalam masyarakat. Misalnya dengan adanya industri, mata pencaharian hidup masyarakat berubah, dari sektor agraris menjadi sektor industri dengan bekerja sebagai buruh pabrik.&lt;br /&gt;Sosiologi industri mengkaji hubungan antara fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat dengan kegiatan industri. Beberapa materi yang dipelajari antara lain peranan industri dalam perubahan sosial, aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan pokok ekonomi (produksi, distribusi, dan konsumsi), serta hubungan industri dengan berbagai struktur yang ada dalam masyarakat.&lt;br /&gt;6. Sosiologi Pembangunan&lt;br /&gt;Cabang sosiologi ini mengkaji masyarakat dan segala pola aktivitasnya di alam pembangunan. Sosiologi menghendaki pembangunan yang dilaksanakan di masyarakat tidak hanya mengejar aspek materiilnya saja, melainkan juga memerhatikan masyarakat yang ada di sekitarnya. Beberapa materi yang dipelajari dalam sosiologi pembangunan antara lain pengaruh pembangunan dalam perubahan sosial, peranan pembangunan dalam kehidupan masyarakat, dan peranan pembangunan terhadap perekonomian masyarakat.&lt;br /&gt;7. Sosiologi Politik&lt;br /&gt;Sosiologi politik mempelajari tentang fenomena politik dengan mengaitkan variabel sosial dan variabel politik dalam wujud saling keterkaitan antara struktur sosial dan lembaga politik atau antara masyarakat dan negara. Dengan demikian sosiologi politik bertujuan mengkaji hubungan antara fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat dengan kegiatan-kegiatan politik. Ruang lingkup kajian sosiologi politik antara lain perilaku politik, lembaga politik, dan peranan politik dalam masyarakat.&lt;br /&gt;8. Sosiologi Pedesaan&lt;br /&gt;Cabang sosiologi ini mempelajari masyarakat pedesaan dan segala pola interaksi yang dilakukannya sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Materi yang dipelajari dalam sosiologi pedesaan antara lain mata pencaharian hidup, pola hubungan, pola pemikiran, serta sikap dan sifat masyarakat pedesaan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;9. Sosiologi Perkotaan&lt;br /&gt;Sosiologi perkotaan mempelajari masyarakat perkotaan dan segala pola interaksi yang dilakukannya sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Materi yang dipelajari antara lain mata pencaharian hidup, pola hubungan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, dan pola pikir dalam menyikapi suatu permasalahan.&lt;br /&gt;10. Sosiologi Kesehatan&lt;br /&gt;Sosiologi kesehatan bertujuan mengkaji cara penerapan berbagai teori sosiologi dalam menganalisis masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan. Cabang sosiologi ini berusaha untuk mengkaji perilaku sakit, perilaku sehat, peran sehat, dan peran sakit para anggota masyaraKATh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-3887569755741821895?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/3887569755741821895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pengantar-sosiologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/3887569755741821895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/3887569755741821895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pengantar-sosiologi.html' title='PENGANTAR SOSIOLOGI'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-6859375445925628375</id><published>2011-10-11T08:38:00.002-07:00</published><updated>2011-10-11T08:40:12.957-07:00</updated><title type='text'>TINDAKAN SOSIAL,NORMA DAN NILAI SOSIAL</title><content type='html'>TINDAKAN SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup bermasyarakat, kamu pasti mengadakan hubungan dengan orang lain. Hubungan tersebut dalam sosiologi disebut interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan intisari dari kehidupan sosial. Sebelum kita pelajari lebih jauh mengenai interaksi sosial, ada suatu hal yang mendasari terjadinya interaksi sosial, yaitu tindakan sosial. Apakah yang dimaksud dengan tindakan sosial dan apa saja bentukbentuknya? Lebih lengkap akan kita bahas berikut ini.&lt;br /&gt;Setiap hari kamu melakukan tindakan dengan maksud dan tujuan tertentu. Tindakan itu umumnya berkaitan dengan orang lain, mengingat kodratmu sebagai makhluk sosial.&lt;br /&gt;1. Pengertian Tindakan Sosial&lt;br /&gt;Kita sebagai makhluk hidup senantiasa melakukan tindakantindakan untuk mencapai tujuan tertentu. Tindakan merupakan suatu perbuatan, perilaku, atau aksi yang dilakukan oleh manusia sepanjang hidupnya guna mencapai tujuan tertentu. Misalnya kamu les bahasa Inggris dengan tujuan agar kamu terampil dan mahir dalam berbahasa Inggris. Tidak semua tindakan manusia dapat dianggap sebagai tindakan sosial. Lalu tindakan yang bagaimanakah yang disebut dengan tindakan sosial? Perhatikan cerita berikut ini. "Suatu sore, Bintang duduk-duduk diteras depan sambil mendengarkan musik. Tiba-tiba ada seorang gadis cantik berambut panjang lewat di depan rumahnya. Dengan maksud untuk menggoda gadis itu, Bintang kemudian bersiul".&lt;br /&gt;Dari cerita di atas, tindakan 'bersiul' yang dilakukan Bintang merupakan bentuk tindakan sosial. Mengapa? Bintang 'bersiul' karena ingin menggoda gadis cantik berambut panjang yang lewat di depan rumahnya. Dari situ, dapatkah kamu memberikan definisi mengenai tindakan sosial? Tindakan sosial adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan berorientasi pada atau dipengaruhi oleh orang lain.&lt;br /&gt;2. Jenis-Jenis Tindakan Sosial&lt;br /&gt;Menurut Max Weber, tindakan sosial dapat digolongkan menjadi empat kelompok (tipe), yaitu tindakan rasional instrumental, tindakan rasional berorientasi nilai, tindakan tradisional, dan tindakan afeksi.&lt;br /&gt;a. Tindakan Rasional Instrumental&lt;br /&gt;Tindakan ini dilakukan seseorang dengan memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dengan tujuan yang akan dicapai. Misalnya guna menunjang kegiatan belajarnya dan agar bisa memperoleh nilai yang baik, Fauzi memutuskan untuk membeli buku-buku pelajaran sekolah daripada komik.&lt;br /&gt;b. Tindakan Rasional Berorientasi Nilai&lt;br /&gt;Tindakan ini bersifat rasional dan memperhitungkan manfaatnya, tetapi tujuan yang hendak dicapai tidak terlalu dipentingkan oleh si pelaku. Pelaku hanya beranggapan bahwa yang paling penting tindakan itu termasuk dalam kriteria baik dan benar menurut ukuran dan penilaian masyarakat di sekitarnya. Misalnya menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing.&lt;br /&gt;c. Tindakan Tradisional&lt;br /&gt;Tindakan ini merupakan tindakan yang tidak rasional. Seseorang melakukan tindakan hanya karena kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat tanpa menyadari alasannya atau membuat perencanaan terlebih dahulu mengenai tujuan dan cara yang akan digunakan. Misalnya berbagai upacara adat yang terdapat di masyarakat.&lt;br /&gt;d. Tindakan Afektif&lt;br /&gt;Tindakan ini sebagian besar dikuasai oleh perasaan atau emosi tanpa pertimbangan-pertimbangan akal budi. Seringkali tindakan ini dilakukan tanpa perencanaan matang dan tanpa kesadaran penuh. Jadi dapat dikatakan sebagai reaksi spontan atas suatu peristiwa. Contohnya tindakan meloncat-loncat karena kegirangan, menangis karena orang tuanya meninggal dunia, dan sebagainya.&lt;br /&gt;NORMA SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan manusia di dalam masyarakat membutuhkan seperangkat aturan yang lebih dikenal dengan istilah norma sosial. Apakah norma sosial itu? Mengapa norma sosial ada dalam masyarakat? Untuk itu mari kita simak materi berikut ini.&lt;br /&gt;1. Pengertian Norma Sosial&lt;br /&gt;Pada jam istirahat sekolah, ada seorang siswa membuang bungkus permen di koridor sekolah. Tindakan itu mendapat teguran dari guru dan siswa tersebut disuruh mengambil, serta membuang bungkus permen itu ke tempat sampah. Cerita tersebut merupakan contoh sederhana adanya norma dalam masyarakat. Norma adalah aturan atau pedoman perilaku dalam suatu kelompok tertentu. Norma berisi petunjuk-petunjuk untuk hidup, di mana di dalamnya terdapat perintah atau larangan bagi setiap manusia untuk berperilaku sesuai dengan aturan yang ada, sehingga tercipta sebuah kondisi yang disebut keteraturan atau ketertiban.&lt;br /&gt;Norma juga dilengkapi dengan sanksi-sanksi yang dimaksudkan untuk mendorong bahkan menekan individu maupun kelompok atau masyarakat secara keseluruhan untuk mencapai nilai-nilai sosial. Nilai dan norma sosial merupakan dua hal yang saling berkaitan walaupun keduanya dapat dibedakan. Bagaimanakah hubungan antara nilai dan norma sosial? Nilai merupakan sesuatu yang baik, diinginkan, dicita-citakan, dan dianggap penting oleh masyarakat, sedangkan norma merupakan kaidah atau aturan berbuat dan berkelakuan yang dibenarkan untuk mewujudkan cita-cita itu. Singkatnya, apabila nilai merupakan pola perilaku yang diinginkan, maka norma dapat disebut sebagai cara-cara perilaku sosial yang disetujui untuk mencapai nilai tersebut.&lt;br /&gt;2. Terbentuknya Norma Sosial&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa melakukan hubungan dan bekerja sama dengan manusia lainnya di masyarakat. Agar kerja sama antarsesama manusia dapat berlangsung dengan baik, lancar, dan dapat optimal, manusia membutuhkan suasana dan kondisi yang tertib dan teratur. Dalam hal ini manusia membutuhkan aturan, tata pergaulan, sehingga mereka dapat hidup dalam suasana yang harmonis. Uraian tersebut menunjukkan arti pentingnya norma-norma sosial dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, ada hubungan antara interaksi sosial dengan norma sosial. Di manakah letak hubungannya?&lt;br /&gt;Norma lahir karena adanya interaksi sosial dalam masyarakat. Masyarakat yang berinteraksi membutuhkan aturan main, tata pergaulan yang dapat mengatur mereka untuk mencapai suasana yang diharapkan, yaitu tertib dan teratur. Untuk mencapainya, maka dibentuklah norma sebagai pedoman yang dapat digunakan untuk mengatur pola perilaku dan tata kelakuan yang akhirnya disepakati bersama oleh anggota kelompok masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;3. Ciri-Ciri Norma Sosial&lt;br /&gt;Ada beberapa ciri yang dimiliki norma sosial. Apa sajakah ciri-ciri tersebut? Mari kita identifikasi bersama.&lt;br /&gt;a. Pada umumnya norma sosial tidak tertulis atau lisan. Misalnya adat istiadat, tata pergaulan, kebiasaan, cara, dan lain sebagainya. Kecuali norma hukum sebagai tata tertib yang bersifat tertulis. Kaidah-kaidah ini disepakati oleh masyarakat dan sanksinya mengikat seluruh anggota kelompok atau masyarakat.&lt;br /&gt;b. Hasil kesepakatan dari seluruh anggota masyarakat pada wilayah tertentu. Hasil ini merujuk pada kebudayaan wilayah setempat mengenai tata kelakuan dan aturan dalam pergaulan.&lt;br /&gt;c. Bersifat mengikat, sehingga seluruh warga masyarakat sebagai pendukung sangat menaatinya dengan sepenuh hati.&lt;br /&gt;d. Ada sanksi yang tegas terhadap pelanggarnya sesuai dengan kesepakatan bersama.&lt;br /&gt;e. Norma sosial bersifat menyesuaikan dengan perubahan sosial. Artinya norma sosial bersifat fleksibel dan luwes terhadap perubahan sosial. Setiap ada keinginan dari masyarakat untuk berubah, norma akan menyesuaikan dengan perubahan tersebut. Meskipun tidak berubah seluruhnya, aturan ini pasti akan mengalami perubahan.&lt;br /&gt;4. Jenis-Jenis Norma Sosial&lt;br /&gt;Untuk mengetahui jenis-jenis norma sosial, mari kita coba menggolongkan menjadi dua cabang, yaitu berdasarkan kekuatan mengikatnya dan bidang-bidang kehidupan tertentu.&lt;br /&gt;a. Menurut Kekuatan Mengikat&lt;br /&gt;Norma-norma yang ada di dalam masyarakat mempunyai kekuatan mengikat yang berbeda-beda. Ada norma yang berdaya ikat lemah, sedang, dan kuat. Untuk dapat membedakan kekuatan mengikat norma-norma tersebut, dikenal empat pengertian norma, yaitu cara (usage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan (mores), dan adat istiadat (custom) .&lt;br /&gt;1) Cara ( Usage )&lt;br /&gt;Norma ini mempunyai daya ikat yang sangat lemah dibanding dengan kebiasaan. Cara (usage) lebih menonjol di dalam hubungan antarindividu. Suatu penyimpangan terhadap cara tidak akan mengakibatkan hukuman yang berat, tetapi hanya sekedar celaan. Misalnya, cara makan dengan mengeluarkan bunyi. Orang yang melakukannya akan mendapat celaan dari anggota masyarakat yang lain karena dianggap tidak baik dan tidak sopan.&lt;br /&gt;2) Kebiasaan ( Folkways )&lt;br /&gt;Kebiasaan mempunyai kekuatan mengikat yang lebih tinggi daripada cara (usage) . Kebiasaan diartikan sebagai perbuatan diulang-ulang dalam bentuk yang sama yang membuktikan bahwa banyak orang menyukai perbuatan tersebut. Contohnya kebiasaan menghormati orangorang yang lebih tua, membuang sampah pada tempatnya, mencuci tangan sebelum makan, serta mengucapkan salam sebelum masuk rumah. Setiap orang yang tidak melakukan perbuatan tersebut dianggap telah menyimpang dari kebiasaan umum yang ada dalam masyarakat. Nah, kebiasaan-kebiasaan apa saja yang kamu lakukan, baik di rumah maupuan di sekolah?&lt;br /&gt;3) Tata Kelakuan ( Mores )&lt;br /&gt;Apabila kebiasaan tidak semata-mata dianggap sebagai cara perilaku saja, tetapi diterima sebagai norma pengatur, maka kebiasaan tersebut menjadi tata kelakuan. Tata kelakuan mencerminkan sifat-sifat yang hidup dari kelompok manusia dan dilaksanakan sebagai alat pengawas oleh masyarakat terhadap anggota-anggotanya. Tata kelakuan di satu pihak memaksakan suatu perbuatan, namun di lain pihak merupakan larangan, sehingga secara langsung menjadi alat agar anggota masyarakat menyesuaikan perbuatan-perbuatannya dengan tata kelakuan tersebut. Dalam masyarakat, tata kelakuan mempunyai fungsi sebagai berikut.&lt;br /&gt;a) Memberikan batas-batas pada kelakuan individu&lt;br /&gt;Setiap masyarakat mempunyai tata kelakuan masingmasing, yang seringkali berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Misalnya pada suatu masyarakat perkawinan dalam satu suku dilarang, tetapi di suku lain tidak ada larangan.&lt;br /&gt;b) Mengidentifikasikan individu dengan kelompoknya&lt;br /&gt;Di satu pihak tata kelakuan memaksa orang agar menyesuaikan tindakan-tindakannya dengan tata kelakuan yang berlaku, di lain pihak diharapkan agar masyarakat menerima seseorang karena kesanggupannya untuk menyesuaikan diri.&lt;br /&gt;c) Menjaga solidaritas di antara anggota-anggotanya&lt;br /&gt;Misalnya tata pergaulan antara pria dan wanita yang berlaku bagi semua orang, segala usia, dan semua golongan dalam masyarakat.&lt;br /&gt;4) Adat Istiadat ( Custom )&lt;br /&gt;Tata kelakuan yang berintegrasi secara kuat dengan polapola perilaku masyarakat dapat meningkat menjadi adat istiadat. Anggota masyarakat yang melanggar adat istiadat akan mendapatkan sanksi keras. Contohnya hukum adat masyarakat Lampung yang melarang terjadinya perceraian antara suami istri. Apabila terjadi perceraian, maka tidak hanya nama orang yang bersangkutan yang tercemar, tetapi juga seluruh keluarga, bahkan seluruh suku. Oleh karena itu, orang yang melakukan pelanggaran tersebut dikeluarkan dari masyarakat, termasuk keturunannya, sampai suatu saat keadaan semula pulih kembali. Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan upacara adat khusus (yang biasanya membutuhkan biaya besar).&lt;br /&gt;b. Menurut Bidang-Bidang Kehidupan Tertentu&lt;br /&gt;Apabila digolongkan menurut bidang kehidupan tertentu, dalam masyarakat ada enam golongan utama norma, yaitu norma agama, norma kesopanan, norma kelaziman, norma kesusilaan, norma hukum, dan mode.&lt;br /&gt;1) Norma Agama&lt;br /&gt;Norma agama adalah suatu petunjuk hidup yang berasal dari Tuhan bagi penganut-Nya agar mereka mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.&lt;br /&gt;Para pemeluk agama mengakui dan berkeyakinan bahwa peraturan-peraturan hidup itu berasal dari Tuhan dan merupakan tuntunan hidup ke jalan yang benar. Daya ikat norma agama sebenarnya cukup kuat, namun karena sanksi yang diterima tidak langsung, masyarakat cenderung bersikap biasa-biasa saja apabila melanggar aturan yang telah digariskan agama.&lt;br /&gt;Namun, bagi orang yang tingkat pemahaman agamanya tinggi, melanggar aturan dalam agama berarti dia akan masuk neraka kelak dalam kehidupan di akhirat. Contohnya larangan mengambil barang milik orang lain, larangan berdusta, larangan berzina, dan lain-lain.&lt;br /&gt;2) Norma Kesopanan&lt;br /&gt;Norma kesopanan adalah peraturan hidup yang timbul dari pergaulan segolongan manusia dan dianggap sebagai tuntunan pergaulan sehari-hari sekelompok masyarakat. Peraturan hidup yang dijabarkan dari rasa kesopanan ini diikuti dan ditaati sebagai pedoman yang mengatur tingkah laku manusia dalam masyarakat. Norma kesopanan ini lebih bersifat khusus. Mengapa demikian? Karena setiap wilayah memiliki aturan dan tata pergaulan yang berbeda-beda. Selain itu, sesuatu yang dianggap sopan oleh suatu masyarakat tertentu belum tentu sopan untuk masyarakat lain. Misalnya, di sebagian besar negara Eropa, memegang kepala orang yang lebih tua merupakan hal yang biasa, bahkan pada peristiwa tertentu hal itu justru dianggap sebuah penghormatan. Namun, di Indonesia hal itu dianggap tidak sopan dan merupakan penghinaan.&lt;br /&gt;3) Norma Kelaziman&lt;br /&gt;Segala tindakan tertentu yang dianggap baik, patut, sopan, dan mengikuti tata laksana seolah-olah sudah tercetak dalam kebiasaan sekelompok manusia disebut dengan norma kelaziman. Jumlah kelaziman sangat banyak dan hampir memengaruhi setiap tindakan dan gerak-gerik kita. Sifatnya pun berbeda-beda dari masa ke masa, dalam setiap bangsa, dan di setiap tempat.&lt;br /&gt;Perbedaan sifat kelaziman itu disebabkan oleh berubahnya cara-cara untuk berbuat sesuatu dari masa ke masa. Serta tergantung pada kebudayaan yang bersangkutan. Umpamanya, masyarakat kita dulu makan dengan menggunakan tangan, kini sudah menggunakan sendok. Ada juga bangsa atau masyarakat yang tidak mengenal sendok, tetapi menggunakan sumpit. Orang yang melakukan penyimpangan dari kelaziman ini dianggap aneh, ditertawakan, atau diejek.&lt;br /&gt;4) Norma Kesusilaan&lt;br /&gt;Norma kesusilaan dianggap sebagai aturan yang datang dari suara hati sanubari manusia. Peraturan-peraturan hidup ini datang dari bisikan kalbu atau suara batin yang diakui dan diinsyafi oleh setiap orang sebagai pedoman dalam sikap dan perbuatannya. Penyimpangan dari norma kesusilaan dianggap salah atau jahat, sehingga pelanggarnya akan diejek atau disindir. Misalnya, anak yang tidak menghormati orang tua akan diejek dan disindir karena tindakan itu dianggap tindakan asusila.&lt;br /&gt;Apabila penyimpangan kesusilaan dianggap keterlaluan, maka pelakunya akan diusir atau diisolasi. Contohnya, orang yang melakukan perkawinan sumbang (incest) akan diusir dari lingkungan kelompok tempat tinggalnya karena tindakan itu dapat meresahkan masyarakat. Pelanggaran terhadap norma kesusilaan tidak dihukum secara formal, tetapi masyarakatlah yang menghukumnya secara tidak langsung.&lt;br /&gt;5) Norma Hukum&lt;br /&gt;Semua norma yang disebutkan di atas bertujuan untuk membina ketertiban dalam kehidupan manusia, namun belum cukup memberi jaminan untuk menjaga ketertiban dalam masyarakat. Hal itu mengingat normanorma di atas tidak bersifat memaksa dan tidak mempunyai sanksi yang tegas apabila salah satu peraturannya dilanggar.&lt;br /&gt;Oleh karena itu diperlukan adanya suatu norma yang dapat menegakkan tatanan dalam masyarakat serta bersifat memaksa dan mempunyai sanksi-sanksi yang tegas. Jenis norma yang dimaksud adalah norma hukum. Hukum adalah aturan tertulis maupun tidak tertulis yang berisi perintah atau larangan yang memaksa dan yang menimbulkan sanksi yang tegas bagi setiap orang yang melanggarnya.&lt;br /&gt;Hukum sebagai sistem norma berfungsi untuk menertibkan dan menstabilkan kehidupan sosial. Selain itu, hukum juga berfungsi sebagai sistem kontrol sosial. Oleh sebab itu, setiap tindakan akan dikontrol oleh norma hukum dan hukum tersebut akan menjatuhkan sanksi terhadap orang yang melanggarnya. Akhirnya, hukum dapat mengaktifkan kembali suatu proses interaksi yang macet dan sekaligus menentukan ketertiban dalam hubungan. Misalnya, dalam kasus perselisihan wilayah Israel, Palestina, dan Lebanon yang berbuntut pada pengeboman wilayah Lebanon oleh Israel, dan PBB bertindak sebagai penengah. Ini menunjukkan bahwa hukum berlaku untuk memfungsikan hubungan antarkekuasaan dan menjamin ketertiban.&lt;br /&gt;6) Mode&lt;br /&gt;Mode (fashion) adalah cara dan gaya dalam melakukan dan membuat sesuatu yang sifatnya berubah-ubah serta diikuti oleh banyak orang. Ciri utama mode adalah bahwa orang yang mengikutinya bersifat massal, dan kalangan luas menggandrunginya. Mode banyak dipengaruhi oleh gaya. Gaya dimaksudkan sebagai penjelmaan dari cita-cita dan konsep keindahan baru serta teknologi baru. Cita-cita dan konsep baru itu mempunyai dasar yang lebih dalam dan mencerminkan perubahan-perubahan kemasyarakatan yang penting.&lt;br /&gt;Misalnya mode pakaian, sepatu, tas, rambut, dan lainlain. Contohnya pada suatu waktu di masyarakat berkembang tren rambut keriting, kemudian berubah menjadi tren rambut lurus yang dikenal dengan istilah rebonding setelah ditemukannya teknologi baru di bidang pelurusan rambut. Contoh lainnya adalah perubahan mode pakaian pada wanita, di mana suatu waktu berkembang tren para wanita memakai rok mini, kemudian berubah ke rok panjang, dan selanjutnya kembali lagi ke rok mini.&lt;br /&gt;5. Fungsi Norma Sosial&lt;br /&gt;Dalam kehidupan masyarakat, norma memiliki beberapa fungsi atau kegunaan. Apa sajakah fungsi norma dalam kehidupan masyarakat? Kita mengenal beberapa fungsi norma, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Pedoman hidup yang berlaku bagi semua anggota masyarakat pada wilayah tertentu.&lt;br /&gt;b. Memberikan stabilitas dan keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat.&lt;br /&gt;c. Mengikat warga masyarakat, karena norma disertai dengan sanksi dan aturan yang tegas bagi para pelanggarnya.&lt;br /&gt;d. Menciptakan kondisi dan suasana yang tertib dalam masyarakat.&lt;br /&gt;e. Adanya sanksi yang tegas akan memberikan efek jera kepada para pelanggarnya, sehingga tidak ingin mengulangi perbuatannya melanggar norma.&lt;br /&gt;NILAI SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terlintas dalam pikiranmu ketika mendengar istilah nilai? Hasil ulangan yang telah kamu peroleh ataukah pengertian yang lainnya? Nilai dan norma merupakan dua hal yang saling berkaitan satu sama lainnya. Apakah nilai dan norma yang dimaksud di sini? Untuk menjawabnya, simaklah penjelasan dalam bab ini yang akan membawa kamu untuk dapat mengenal nilai dan norma dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Bagi seorang siswa seperti kamu, bolpoin merupakan barang yang bernilai. Mengapa? Tanpa bolpoin kamu tidak dapat mencatat materi pelajaran yang disampaikan oleh guru dan tidak dapat mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Dalam sosiologi, sesuatu yang bernilai itu disebut dengan nilai sosial. Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan nilai sosial?&lt;br /&gt;1. Pengertian Nilai Sosial&lt;br /&gt;Dalam pengertian sehari-hari nilai diartikan sebagai harga (taksiran harga), ukuran, dan perbandingan dua benda yang dipertukarkan. Nilai juga bisa berarti angka kepandaian (nilai ujian, nilai rapor), kadar, mutu, dan bobot. Dalam sosiologi, nilai mengandung pengertian yang lebih luas daripada pengertian sehari-hari. Nilai merupakan sesuatu yang baik, yang diinginkan, yang dicita-citakan, dan dianggap penting oleh warga masyarakat.&lt;br /&gt;Lalu apakah nilai sosial itu?&lt;br /&gt;Nilai sosial adalah segala sesuatu yang dianggap baik dan benar, yang diidam-idamkan masyarakat. Agar nilai-nilai sosial itu dapat tercipta dalam masyarakat, maka perlu diciptakan norma sosial dengan sanksi-sanksi sosial. Nilai sosial merupakan penghargaan yang diberikan masyarakat kepada segala sesuatu yang baik, penting, luhur, pantas, dan mempunyai daya guna fungsional bagi perkembangan dan kebaikan hidup bersama. Berikut ini definisi nilai sosial menurut pendapat para ahli.&lt;br /&gt;a. Alvin L. Bertrand&lt;br /&gt;Nilai adalah suatu kesadaran yang disertai emosi yang relatif lama hilangnya terhadap suatu objek, gagasan, atau orang.&lt;br /&gt;b. Robin Williams&lt;br /&gt;Nilai sosial adalah hal yang menyangkut kesejahteraan bersama melalui konsensus yang efektif di antara mereka, sehingga nilai-nilai sosial dijunjung tinggi oleh banyak orang.&lt;br /&gt;c. Young&lt;br /&gt;Nilai sosial adalah asumsi-asumsi yang abstrak dan sering tidak disadari tentang apa yang benar dan apa yang penting&lt;br /&gt;d. Clyde Kluckhohn&lt;br /&gt;Dalam bukunya ' Culture and Behavior ', Kluckhohn menyatakan bahwa yang dimaksud dengan nilai bukanlah keinginan, tetapi apa yang diinginkan. Artinya nilai bukan hanya diharapkan, tetapi diusahakan sebagai suatu yang pantas dan benar bagi diri sendiri dan orang lain.&lt;br /&gt;e. Woods&lt;br /&gt;Nilai sosial adalah petunjuk-petunjuk umum yang telah berlangsung lama, yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;f. Koentjaraningrat&lt;br /&gt;Suatu sistem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.&lt;br /&gt;g. Notonagoro&lt;br /&gt;Nilai dibedakan atas nilai material, vital, dan kerohanian.&lt;br /&gt;1) Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia.&lt;br /&gt;2) Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitasnya.&lt;br /&gt;3) Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai kerohanian dapat dibedakan atas nilai-nilai berikut ini.&lt;br /&gt;a) Nilai kebenaran atau kenyataan yang bersumber pada unsur akal manusia (rasio, budi, cipta).&lt;br /&gt;b) Nilai keindahan yang bersumber pada unsur rasa manusia (perasaan, estetis).&lt;br /&gt;c) Nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber pada unsur kehendak atau keamanan (karsa, etika).&lt;br /&gt;d) Nilai religius yang merupakan nilai ketuhanan serta kerohanian yang tertinggi dan mutlak. Nilai religius ini bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia.&lt;br /&gt;2. Jenis-Jenis Nilai Sosial&lt;br /&gt;Di masyarakat kita dapat menjumpai berbagai nilai yang dianut demi kebaikan bersama anggota masyarakat. Di samping beberapa jenis nilai sosial seperti yang diutarakan Notonagoro di atas, masih ada beberapa jenis nilai sosial dilihat dari sifat, ciri, dan tingkat keberadaannya.&lt;br /&gt;a. Berdasarkan Sifatnya&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal tujuh jenis nilai dilihat dari sifatnya, yaitu nilai kepribadian, kebendaan, biologis, kepatuhan hukum, pengetahuan, agama, dan keindahan.&lt;br /&gt;1) Nilai kepribadian, yaitu nilai yang dapat membentuk kepribadian seseorang, seperti emosi, ide, gagasan, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;2) Nilai kebendaan, yaitu nilai yang diukur dari kedayagunaan usaha manusia untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Biasanya jenis nilai ini disebut dengan nilai yang bersifat ekonomis.&lt;br /&gt;3) Nilai biologis, yaitu nilai yang erat hubungannya dengan kesehatan dan unsur biologis manusia. Misalnya dengan melakukan olahraga untuk menjaga kesehatan.&lt;br /&gt;4) Nilai kepatuhan hukum, yaitu nilai yang berhubungan dengan undang-undang atau peraturan negara. Nilai ini merupakan pedoman bagi setiap warga negara agar mengetahui hak dan kewajibannya.&lt;br /&gt;5) Nilai pengetahuan, yaitu nilai yang mengutamakan dan mencari kebenaran sesuai dengan konsep keilmuannya.&lt;br /&gt;6) Nilai agama, yaitu nilai yang berhubungan dengan agama dan kepercayaan yang dianut oleh anggota masyarakat. Nilai ini bersumber dari masing-masing ajaran agama yang menjelaskan sikap, perilaku, perbuatan, perintah, dan larangan bagi umat manusia.&lt;br /&gt;7) Nilai keindahan, yaitu nilai yang berhubungan dengan kebutuhan akan estetika (keindahan) sebagai salah satu aspek dari kebudayaan.&lt;br /&gt;b. Berdasarkan Cirinya&lt;br /&gt;Berdasarkan cirinya, kita mengenal dua jenis nilai, yaitu nilai yang tercernakan dan nilai dominan.&lt;br /&gt;1) Nilai yang tercernakan atau mendarah daging ( internalized value ), yaitu nilai yang menjadi kepribadian bawah sadar atau dengan kata lain nilai yang dapat mendorong timbulnya tindakan tanpa berpikir panjang. Sebagai contohnya seorang ayah dengan sangat berani dan penuh kerelaan menolong anaknya yang terperangkap api di rumahnya, meskipun risikonya sangat besar.&lt;br /&gt;2) Nilai dominan, yaitu nilai yang dianggap lebih penting daripada nilai-nilai yang lainnya. Mengapa suatu nilai dikatakan dominan? Ada beberapa ukuran yang digunakan untuk menentukan dominan atau tidaknya suatu nilai, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;a) Banyaknya orang yang menganut nilai tersebut.&lt;br /&gt;b) Lamanya nilai dirasakan oleh anggota kelompok yang menganut nilai itu.&lt;br /&gt;c) Tingginya usaha untuk mempertahankan nilai tersebut.&lt;br /&gt;d) Tingginya kedudukan orang yang membawakan nilai itu.&lt;br /&gt;c. Berdasarkan Tingkat Keberadaannya&lt;br /&gt;Kita mengenal dua jenis nilai berdasarkan tingkat keberadaannya, yaitu nilai yang berdiri sendiri dan nilai yang tidak berdiri sendiri.&lt;br /&gt;1) Nilai yang berdiri sendiri, yaitu suatu nilai yang diperoleh semenjak manusia atau benda itu ada dan memiliki sifat khusus yang akhirnya muncul karena memiliki nilai tersebut. Contohnya pemandangan alam yang indah, manusia yang cantik atau tampan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;2) Nilai yang tidak berdiri sendiri, yaitu nilai yang diperoleh suatu benda atau manusia karena bantuan dari pihak lain. Contohnya seorang siswa yang pandai karena bimbingan dan arahan dari para gurunya. Dengan kata lain nilai ini sangat bergantung pada subjeknya.&lt;br /&gt;3. Ciri-Ciri Nilai Sosial&lt;br /&gt;Apa sajakah ciri-ciri nilai sosial itu? Sekarang kita akan mengidentifikasi beberapa ciri nilai sosial, di antaranya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Konstruksi masyarakat yang tercipta melalui interaksi sosial antarwarga masyarakat. Artinya nilai sosial merupakan sebuah bangunan kukuh yang berisi kumpulan aspek moral dan mentalitas yang baik yang tercipta dalam sebuah masyarakat melalui interaksi yang dikembangkan oleh anggota kelompok tersebut.&lt;br /&gt;b. Ditransformasikan dan bukan dibawa dari lahir. Artinya tidak ada seorangpun yang sejak lahir telah dibekali oleh nilai sosial. Mereka akan mendapatkannya setelah berada di dunia dan memasuki kehidupan nyata. Hal ini karena nilai sosial diteruskan dari satu orang atau kelompok kepada orang atau kelompok lain melalui proses sosial, seperti kontak sosial, komunikasi, interaksi, sosialisasi, difusi, dan lain-lain.&lt;br /&gt;c. Terbentuk melalui proses belajar. Nilai sosial diperoleh individu atau kelompok melalui proses pembelajaran secara bertahap, dimulai dari lingkungan keluarga. Proses ini disebut dengan sosialisasi, di mana seseorang akan mendapatkan gambaran tentang nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.&lt;br /&gt;d. Nilai memuaskan manusia dan dapat membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosialnya. Artinya dengan nilai manusia mampu menentukan tingkat kebutuhan dan tingkat pemenuhan kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Kesesuaian antara kemampuan dan tingkat kebutuhan ini akan mengakibatkan kepuasan bagi diri manusia.&lt;br /&gt;e. Sistem nilai sosial bentuknya beragam dan berbeda antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain. Mengingat kebudayaan lahir dari perilaku kolektif yang dikembangkan dalam sebuah kelompok masyarakat, maka secara otomatis sistem nilai sosial yang terbentuk juga berbeda, sehingga terciptalah sistem nilai yang bervariasi.&lt;br /&gt;f. Masing-masing nilai mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap setiap orang dalam masyarakat. Artinya tingkat penerimaan nilai antarmanusia dalam sebuah kelompok atau masyarakat tidak sama, sehingga menimbulkan pandangan yang berbeda-beda antara satu dan yang lainnya.&lt;br /&gt;g. Nilai-nilai sosial memengaruhi perkembangan pribadi seseorang, baik positif maupun negatif. Adanya pengaruh yang berbeda akan membentuk kepribadian individu yang berbeda pula. Nilai yang baik akan membentuk pribadipribadi yang baik, begitupun yang sebaliknya. Contohnya orang yang hidup dalam lingkungan yang lebih mengutamakan kepentingan individu daripada kepentingan kelompok mempunyai kecenderungan membentuk pribadi masyarakat yang egois dan ingin menang sendiri.&lt;br /&gt;h. Asumsi-asumsi dari bermacam-macam objek dalam masyarakat. Asumsi adalah pandangan-pandangan orang mengenai suatu hal yang bersifat sementara karena belum dapat diuji kebenarannya. Biasanya asumsi-asumsi ini bersifat umum serta melihat objek-objek faktual yang ada dalam masyarakat.&lt;br /&gt;4. Fungsi Nilai Sosial&lt;br /&gt;Secara garis besar, kita tahu bahwa nilai sosial mempunyai tiga fungsi, yaitu sebagai petunjuk arah dan pemersatu, benteng perlindungan, dan pendorong.&lt;br /&gt;a. Petunjuk Arah dan Pemersatu&lt;br /&gt;Apakah maksud nilai sebagai petunjuk arah? Cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat umumnya diarahkan oleh nilai-nilai sosial yang berlaku. Pendatang baru pun secara moral diwajibkan mempelajari aturan-aturan sosiobudaya masyarakat yang didatangi, mana yang dijunjung tinggi dan mana yang tercela. Dengan demikian, dia dapat menyesuaikan diri dengan norma, pola pikir, dan tingkah laku yang diinginkan, serta menjauhi hal-hal yang tidak diinginkan masyarakat.&lt;br /&gt;Nilai sosial juga berfungsi sebagai pemersatu yang dapat mengumpulkan orang banyak dalam kesatuan atau kelompok tertentu. Dengan kata lain, nilai sosial menciptakan dan meningkatkan solidaritas antarmanusia. Contohnya nilai ekonomi mendorong manusia mendirikan perusahaanperusahaan yang dapat menyerap banyak tenaga kerja.&lt;br /&gt;b. Benteng Perlindungan&lt;br /&gt;Nilai sosial merupakan tempat perlindungan bagi penganutnya. Daya perlindungannya begitu besar, sehingga para penganutnya bersedia berjuang mati-matian untuk mempertahankan nilai-nilai itu. Misalnya perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan nilai-nilai Pancasila dari nilainilai budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya kita, seperti budaya minum-minuman keras, diskotik, penyalahgunaan narkotika, dan lain-lain. Nilai-nilai Pancasila seperti sopan santun, kerja sama, ketuhanan, saling menghormati dan menghargai merupakan benteng perlindungan bagi seluruh warga negara Indonesia dari pengaruh budaya asing yang merugikan.&lt;br /&gt;c. Pendorong&lt;br /&gt;Nilai juga berfungsi sebagai alat pendorong (motivator) dan sekaligus menuntun manusia untuk berbuat baik. Karena ada nilai sosial yang luhur, muncullah harapan baik dalam diri manusia. Berkat adanya nilai-nilai sosial yang dijunjung tinggi dan dijadikan sebagai cita-cita manusia yang berbudi luhur dan bangsa yang beradab itulah manusia menjadi manusia yang sungguh-sungguh beradab. Contohnya nilai keadilan, nilai kedisiplinan, nilai kejujuran, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Di samping fungsi nilai-nilai sosial yang telah kita bahas di atas, nilai sosial juga memiliki fungsi yang lain, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Dapat menyumbangkan seperangkat alat untuk menetapkan harta sosial dari suatu kelompok.&lt;br /&gt;b. Dapat mengarahkan masyarakat dalam berpikir dan bertingkah laku.&lt;br /&gt;c. Penentu akhir bagi manusia dalam memenuhi perananperanan sosialnya.&lt;br /&gt;d. Alat solidaritas di kalangan anggota kelompok atau masyarakat.&lt;br /&gt;e. Alat pengawas perilaku manusia.&lt;br /&gt;Menurut Kluckhohn, semua nilai dalam setiap kebudayaan pada dasarnya mencakup lima masalah pokok berikut ini.&lt;br /&gt;a. Nilai mengenai hakikat hidup manusia. Misalnya, ada yang memahami bahwa hidup itu buruk, hidup itu baik, dan hidup itu buruk tetapi manusia wajib berikhtiar supaya hidup itu baik.&lt;br /&gt;b. Nilai mengenai hakikat karya manusia. Misalnya, ada yang beranggapan bahwa manusia berkarya untuk mendapatkan nafkah, kedudukan, dan kehormatan.&lt;br /&gt;c. Nilai mengenai hakikat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu. Misalnya, ada yang berorientasi ke masa lalu, masa kini, dan masa depan.&lt;br /&gt;d. Nilai mengenai hakikat manusia dengan sesamanya. Misalnya, ada yang berorientasi kepada sesama (gotong royong), ada yang berorientasi kepada atasan, dan ada yang menekankan individualisme (mementingkan diri sendiri).&lt;br /&gt;e. Nilai mengenai hakikat hubungan manusia dengan alam. Misalnya, ada yang beranggapan bahwa manusia tunduk kepada alam, menjaga keselarasan dengan alam, atau berhasrat menguasai alam.&lt;br /&gt;Jadi, nilai memegang peranan penting dalam setiap kehidupan manusia karena nilai-nilai menjadi orientasi dalam setiap tindakan melalui interaksi sosial. Nilai sosial itulah yang menjadi sumber dinamika masyarakat. Kalau nilai-nilai sosial itu lenyap dari masyarakat, maka seluruh kekuatan akan hilang dan derap perkembangan akan berhenti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-6859375445925628375?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/6859375445925628375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/tindakan-sosialnorma-dan-nilai-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/6859375445925628375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/6859375445925628375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/tindakan-sosialnorma-dan-nilai-sosial.html' title='TINDAKAN SOSIAL,NORMA DAN NILAI SOSIAL'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-8859379478343527082</id><published>2011-10-11T08:38:00.001-07:00</published><updated>2011-10-11T08:38:42.914-07:00</updated><title type='text'>INTERAKSI SOSIAL</title><content type='html'>INTERAKSI SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari kita pasti bergaul atau berhubungan dengan teman, orang tua, saudara, maupun orang-orang yang ada di sekitar kita. Aktivitas bergaul dengan orang lain itu kita sebut dengan interaksi sosial.&lt;br /&gt;1. Pengertian Interaksi Sosial&lt;br /&gt;Kodrat manusia sebagai makhluk sosial adalah keinginannya untuk selalu hidup bersama dengan orang lain dalam suatu kelompok atau masyarakat. Tidak seorang pun di dunia ini yang mampu hidup sendiri tanpa melakukan hubungan atau kerja sama dengan orang lain. Karena pada kodratnya manusia memiliki keterbatasan dan sejak lahir sudah dibekali dengan naluri untuk berhubungan dengan orang lain. Misalnya, seorang balita memerlukan perawatan dan bantuan ibunya karena ia belum mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Selanjutnya, ia memerlukan pemeliharaan kesehatan, pendidikan, dan pergaulan.&lt;br /&gt;Dari contoh tersebut jelas bahwa pada dasarnya kita selalu membutuhkan orang lain. Kita membutuhkan banyak hal dalam hidup kita. Semua kebutuhan hidup itu hanya dapat kita penuhi dengan jalan mengadakan hubungan sosial dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Melalui hubungan itu kita menyampaikan maksud, tujuan, dan keinginan untuk mendapatkan tanggapan (reaksi) dari pihak lain. Hubungan timbal balik (aksi dan reaksi) inilah yang kita sebut interaksi sosial. Jadi apakah yang dimaksud dengan interaksi sosial? Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan dinamis yang menyangkut hubungan antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, atau antara kelompok dengan kelompok, baik berbentuk kerja sama, persaingan, ataupun pertikaian.&lt;br /&gt;2. Jenis-Jenis Interaksi Sosial&lt;br /&gt;Seperti terlihat dalam definisi di atas, interaksi sosial selalu melibatkan dua orang atau lebih. Oleh karena itu, terdapat tiga jenis interaksi sosial, yaitu interaksi antara individu dengan individu, antara kelompok dengan kelompok, dan antara individu dengan kelompok.&lt;br /&gt;a. Interaksi antara Individu dengan Individu&lt;br /&gt;Pada saat dua individu bertemu, walaupun tidak melakukan kegiatan apa-apa, namun sebenarnya interaksi sosial telah terjadi apabila masing-masing pihak sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan perubahan dalam diri masingmasing. Seperti minyak wangi, bau keringat, bunyi sepatu ketika berjalan, dan hal-hal lain yang bisa mengundang reaksi orang lain. Interaksi jenis ini selain tidak harus konkret seperti telah dijelaskan di atas, juga bisa sangat konkret. Wujudnya antara lain berjabat tangan, saling bercakap-cakap, saling menyapa, dan lain-lain.&lt;br /&gt;b. Interaksi antara Kelompok dengan Kelompok&lt;br /&gt;Interaksi jenis ini terjadi pada kelompok sebagai satu-kesatuan, bukan sebagai pribadi-pribadi anggota kelompok yang bersangkutan. Maksudnya kepentingan individu dalam kelompok merupakan satu-kesatuan yang berhubungan dengan kepentingan individu dalam kelompok lain. Contohnya pertandingan antartim kesebelasan sepak bola. Mereka bermain untuk kepentingan kesebelasannya (kelompok).&lt;br /&gt;c. Interaksi antara Individu dengan Kelompok&lt;br /&gt;Interaksi antara individu dengan kelompok menunjukkan bahwa kepentingan individu berhadapan dengan kepentingan kelompok. Bentuk interaksi ini berbeda-beda sesuai dengan keadaan. Contohnya seorang guru yang mengawasi murid-muridnya yang sedang mengerjakan ujian. Dalam hal ini seorang guru sebagai individu berhubungan dengan murid-muridnya yang berperan sebagai kelompok.&lt;br /&gt;3. Syarat Terjadinya Interaksi Sosial&lt;br /&gt;Syarat utama terjadinya suatu interaksi sosial adalah adanya kontak sosial (social contact) dan komunikasi (communication) .&lt;br /&gt;a. Kontak Sosial&lt;br /&gt;Kontak berasal dari kata Latin cum atau con yang berarti bersama-sama, dan tangere yang memiliki arti menyentuh. Jadi, secara harafiah kontak berarti bersama-sama menyentuh. Dalam pengertian sosiologis, kontak merupakan gejala sosial, di mana orang dapat mengadakan hubungan dengan pihak lain tanpa mengadakan sentuhan fisik, misalnya berbicara dengan orang lain melalui telepon, surat, dan sebagainya. Jadi, kontak sosial merupakan aksi individu atau kelompok dalam bentuk isyarat yang memiliki makna bagi si pelaku dan si penerima, dan si penerima membalas aksi itu dengan reaksi.&lt;br /&gt;Kita membedakan kontak berdasarkan cara, sifat, bentuk, dan tingkat hubungannya.&lt;br /&gt;1) Berdasarkan Cara&lt;br /&gt;Kita mengenal dua macam kontak dilihat dari caranya, yaitu kontak langsung dan kontak tidak langsung.&lt;br /&gt;a) Kontak langsung terjadi secara fisik. Misalnya dengan berbicara, tersenyum, atau bahasa gerak (isyarat).&lt;br /&gt;b) Kontak tidak langsung terjadi melalui media atau perantara tertentu, seperti pesawat telepon, radio, televisi, telegram, surat, dan lain-lain.&lt;br /&gt;2) Berdasarkan Sifat&lt;br /&gt;Berdasarkan sifatnya, kita mengenal tiga macam kontak, yaitu kontak antarindividu, antara individu dengan kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok.&lt;br /&gt;a) Kontak antarindividu, misalnya tindakan seorang anak mempelajari kebiasaan-kebiasaan dalam keluarganya.&lt;br /&gt;b) Kontak antara kelompok dengan kelompok, misalnya pertandingan bola voli antarsiswa SMA se-Jakarta.&lt;br /&gt;c) Kontak antara individu dengan kelompok, misalnya tindakan seorang guru yang sedang mengajar siswanya agar mereka mempunyai persepsi yang sama tentang sebuah masalah. Contohnya guru tari yang melatih beberapa murid, sehingga terjadi persamaan gerak di antara mereka.&lt;br /&gt;3) Berdasarkan Bentuk&lt;br /&gt;Dilihat dari bentuknya, kita mengenal dua macam kontak, yaitu kontak positif dan kontak negatif.&lt;br /&gt;a) Kontak positif mengarah pada suatu kerja sama. Misalnya seorang pedagang melayani pelanggannya dengan baik dan si pelanggan merasa puas dalam transaksi tersebut.&lt;br /&gt;b) Kontak negatif mengarah pada suatu pertentangan, bahkan berakibat putusnya interaksi sebagaimana tampak dalam perang Lebanon dan Israel.&lt;br /&gt;4) Berdasarkan Tingkat Hubungan&lt;br /&gt;Menurut tingkat hubungannya, kita mengenal kontak primer dan kontak sekunder.&lt;br /&gt;a) Kontak primer terjadi apabila orang yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan bertatap muka. Misalnya orang yang saling berjabat tangan, saling melempar senyum, dan sebagainya.&lt;br /&gt;b) Kontak sekunder memerlukan suatu perantara atau media, bisa berupa orang atau alat. Selain itu juga dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Kontak sekunder langsung misalnya berbicara melalui telepon.&lt;br /&gt;Adapun contoh kontak sekunder tidak langsung dapat kamu pahami dari cerita berikut ini. "Toni berkata kepada Sigit bahwa Ani mengagumi permainannya sebagai pemegang peran utama dalam pementasan sandiwara yang lalu. Ani mendapat ucapan terima kasih dari Sigit atas pujiannya melalui Toni". Dari cerita tersebut dapat diketahui bahwa walaupun Toni sama sekali tidak bertemu dengan Ani, tetapi di antara mereka telah terjadi suatu kontak karena masing-masing memberi tanggapan.&lt;br /&gt;b. Komunikasi&lt;br /&gt;Dalam berinteraksi dengan kawan-kawanmu, tentu kamu juga melakukan komunikasi. Apakah komunikasi itu? Komunikasi dapat diwujudkan dengan pembicaraan gerakgerik fisik, ataupun perasaan. Selanjutnya, dari sini timbul sikap dan ungkapan perasaan, seperti senang, ragu, takut, atau menolak, bersahabat, dan sebagainya yang merupakan reaksi atas pesan yang diterima. Saat ada aksi dan reaksi itulah terjadi komunikasi. Jadi, komunikasi adalah tindakan seseorang menyampaikan pesan terhadap orang lain dan orang lain itu memberi tafsiran atas sinyal tersebut serta mewujudkannya dalam perilaku.&lt;br /&gt;Dari uraian di atas, tampak bahwa komunikasi hampir sama dengan kontak. Namun, adanya kontak belum tentu berarti terjadi komunikasi. Komunikasi menuntut adanya pemahaman makna atas suatu pesan dan tujuan bersama antara masing-masing pihak.&lt;br /&gt;Dalam komunikasi terdapat empat unsur, yaitu pengirim, penerima, pesan, dan umpan balik.&lt;br /&gt;1) Pengirim (sender) atau yang biasa disebut communicator adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada orang lain.&lt;br /&gt;2) Penerima ( receiver) yang biasa disebut communicant adalah pihak yang menerima pesan dari sender .&lt;br /&gt;3) Pesan ( message) adalah isi atau informasi yang disampaikan pengirim kepada penerima.&lt;br /&gt;4) Umpan balik ( feed back) adalah reaksi dari penerima atas pesan yang diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ciri-Ciri Interaksi Sosial&lt;br /&gt;Interaksi sosial yang dilakukan manusia sebagai anggota masyarakat pada hakikatnya mempunyai ciri-ciri berikut ini.&lt;br /&gt;a. Jumlah pelaku lebih dari satu orang, artinya dalam sebuah interaksi sosial, setidaknya ada dua orang yang sedang bertemu dan mengadakan hubungan.&lt;br /&gt;b. Ada komunikasi antarpelaku dengan menggunakan simbolsimbol, artinya dalam sebuah interaksi sosial di dalamnya terdapat proses tukar menukar informasi atau biasa disebut dengan proses komunikasi dengan menggunakan isyarat atau tanda yang dimaknai dengan simbol-simbol yang hendak diungkapkan dalam komunikasi itu.&lt;br /&gt;c. Ada dimensi waktu (masa lampau, masa kini, dan masa mendatang) yang menentukan sifat aksi yang sedang berlangsung, artinya dalam proses interaksi dibatasi oleh dimensi waktu sehingga dapat menentukan sifat aksi yang sedang dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam interaksi.&lt;br /&gt;d. Ada tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebut dengan yang diperkirakan oleh pengamat, artinya dalam sebuah interaksi sosial, orang-orang yang terlibat di dalamnya memiliki tujuan yang diinginkan oleh mereka. Apakah untuk menggali informasi, atau sekedar beramah-tamah atau yang lainnya.&lt;br /&gt;5. Faktor-Faktor yang Mendasari Interaksi Sosial&lt;br /&gt;Interaksi yang terjadi di masyarakat didasarkan pada berbagai faktor, antara lain imitasi, sugesti, identifikasi, simpati, motivasi, dan empati. Faktor-faktor tersebut dapat bergerak sendiri-sendiri secara terpisah ataupun saling berkaitan.&lt;br /&gt;a. Imitasi&lt;br /&gt;Imitasi merupakan suatu tindakan meniru sikap, tingkah laku, atau penampilan orang lain. Tindakan ini pertama kali dilakukan manusia di dalam keluarga dengan meniru kebiasaan-kebiasaan anggota keluarga yang lain, terutama orang tuanya. Imitasi akan terus berkembang ke lingkungan yang lebih luas, yaitu masyarakat. Dewasa ini proses imitasi dalam masyarakat semakin cepat dengan berkembangnya media masa, seperti televisi dan radio. Dalam interaksi sosial, imitasi dapat bersifat positif, apabila mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku sehingga tercipta keselarasan dan keteraturan sosial.&lt;br /&gt;Namun, imitasi juga dapat berpengaruh negatif, apabila yang dicontoh itu adalah perilaku-perilaku menyimpang. Akibatnya berbagai penyimpangan sosial terjadi di masyarakat yang dapat melemahkan sendi-sendi kehidupan sosial budaya. Imitasi yang berlebihan dapat melemahkan bahkan mematikan daya kreativitas manusia.&lt;br /&gt;b. Sugesti&lt;br /&gt;Sugesti adalah cara pemberian suatu pandangan atau pengaruh oleh seseorang kepada orang lain dengan cara tertentu, sehingga orang tersebut mengikuti pandangan atau pengaruh tersebut tanpa berpikir secara kritis dan rasional. Sugesti terjadi karena pihak yang menerima anjuran itu tergugah secara emosional dan biasanya emosi ini menghambat daya pikir rasionalnya.&lt;br /&gt;Sugesti umumnya dilakukan dari orang-orang yang berwibawa, mempunyai sifat otoriter, atau kelompok mayoritas dalam masyarakat. Selain itu juga dapat dilakukan oleh orang tua atau orang dewasa kepada anak-anak, maupun iklan di berbagai media massa. Contohnya seorang dokter anak yang membujuk atau memengaruhi pasiennya untuk minum obat agar cepat sembuh.&lt;br /&gt;c. Identifikasi&lt;br /&gt;Identifikasi adalah kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi 'sama' dengan orang lain yang menjadi idolanya. Identifikasi merupakan bentuk lebih lanjut dari imitasi dan sugesti. Dengan identifikasi seseorang mencoba menempatkan diri dalam keadaan orang lain, atau 'mengidentikkan' dirinya dengan orang lain. Proses identifikasi ini tidak hanya meniru pada perilakunya saja, bahkan menerima kepercayaan dan nilai yang dianut orang lain tersebut menjadi kepercayaan dan nilainya sendiri. Jadi, proses identifikasi dapat membentuk kepribadian seseorang.&lt;br /&gt;Bagaimana identifikasi berlangsung? Proses identifikasi berlangsung dalam suatu keadaan di mana seseorang yang melakukan identifikasi benar-benar mengenal orang lain yang menjadi tokoh atau idolanya, baik secara langsung maupun tidak langsung (melalui televisi). Contohnya seorang remaja yang mengubah penampilannya, mulai dari cara berpakaian, cara berbicara, dan model rambut sesuai dengan artis idolanya. Ia mengidentifikasikan dirinya dengan artis tersebut.&lt;br /&gt;d. Simpati&lt;br /&gt;Simpati adalah perasaan 'tertarik' yang timbul dalam diri seseorang dan kemampuan untuk merasakan diri kita seolaholah berada dalam keadaan orang lain. Simpati bisa disampaikan kepada seseorang, kelompok, atau institusi. Dalam simpati seseorang ikut larut merasakan apa yang dialami, dilakukan, dan diderita oleh orang lain. Misalnya kita merasa sedih melihat penderitaan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah gempa dan tsunami di daerah Pangandaran, Tasikmalaya, Jawa Barat.&lt;br /&gt;e. Motivasi&lt;br /&gt;Motivasi merupakan dorongan, rangsangan, pengaruh yang diberikan oleh individu kepada individu lain, sehingga individu yang diberi motivasi menuruti atau melaksanakan apa yang diberikan itu secara kritis, rasional, dan penuh rasa tanggung jawab. Motivasi juga dapat diberikan oleh individu kepada kelompok, kelompok kepada kelompok, atau bahkan kelompok kepada individu. Contohnya untuk memotivasi semangat belajar siswanya, seorang guru memberikan tugas-tugas yang berhubungan dengan materi yang telah disampaikan.&lt;br /&gt;f. Empati&lt;br /&gt;Empati adalah proses kejiwaan seseorang untuk larut dalam perasaan orang lain, baik suka maupun duka. Contohnya apabila kamu melihat orang tua temanmu meninggal dunia. Kamu tentu ikut merasakan penderitaan dan kesedihan temanmu. Kamu seolah-olah juga ikut merasakan kehilangan seperti yang dirasakan oleh temanmu.&lt;br /&gt;6. Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial&lt;br /&gt;Menurut Gillin dan Gillin, ada dua macam proses sosial yang timbul akibat interaksi sosial, yaitu proses asosiatif dan proses disosiatif.&lt;br /&gt;a. Proses Asosiatif&lt;br /&gt;Pada hakikatnya proses ini mempunyai kecenderungan untuk membuat masyarakat bersatu dan meningkatkan solidaritas di antara anggota kelompok.&lt;br /&gt;Kita mengenal empat bentuk proses asosiatif, yaitu kerja sama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi.&lt;br /&gt;1) Kerja Sama ( Cooperation )&lt;br /&gt;Kerja sama merupakan bentuk interaksi sosial yang pokok. Kerja sama dilakukan oleh manusia dalam masyarakat dengan tujuan agar kepentingannya lebih mudah tercapai. Kerja sama merupakan suatu usaha bersama antarpribadi atau antarkelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Kerja sama dilakukan sejak manusia berinteraksi dengan sesamanya, yang dimulai dalam kehidupan keluarga lalu meningkat dalam lingkungan yang lebih luas, yaitu masyarakat. Kerja sama dalam masyarakat muncul karena adanya beberapa situasi tertentu seperti berikut ini.&lt;br /&gt;a) Adanya keadaan alam yang kurang bersahabat, seperti terjadinya bencana.&lt;br /&gt;b) Musuh bersama yang datang dari luar wilayah.&lt;br /&gt;c) Pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga kerja.&lt;br /&gt;d) Kegiatan keagamaan yang sakral.&lt;br /&gt;Kita mengenal beberapa bentuk kerja sama dalam masyarakat, yaitu tawar menawar, kooptasi, koalisi, dan usaha patungan.&lt;br /&gt;a) Tawar menawar (bargaining) adalah perjanjian atau persetujuan antara pihak-pihak yang mengikat diri atau bersengketa melalui perdebatan, pemberian usul, dan lain-lain.&lt;br /&gt;b) Kooptasi (cooptation) adalah proses penerimaan unsur-unsur baru oleh pemimpin suatu organisasi sebagai salah satu usaha untuk menghindari terjadinya keguncangan atau kekacauan dalam sebuah organisasi.&lt;br /&gt;c) Koalisi (coalition) adalah kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama. Koalisi dapat menghasilkan keadaan yang tidak stabil untuk sementara waktu karena dua organisasi atau lebih tersebut kemungkinan mempunyai struktur yang tidak sama satu sama lain.&lt;br /&gt;d) Usaha patungan (join venture) adalah kerja sama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu, misalnya pengeboran minyak, pembangunan jembatan layang, pembangunan hotel, dan sebagainya.&lt;br /&gt;2) Akomodasi ( Accomodation )&lt;br /&gt;Akomodasi adalah suatu bentuk proses sosial yang di dalamnya terdapat dua atau lebih individu atau kelompok yang berusaha untuk saling menyesuaikan diri, tidak saling mengganggu dengan cara mencegah, mengurangi, atau menghentikan ketegangan yang akan timbul atau yang sudah ada, sehingga tercapai kestabilan (keseimbangan).&lt;br /&gt;Lalu, apakah tujuan dari akomodasi? Akomodasi bertujuan untuk berikut ini.&lt;br /&gt;a) Mengurangi pertentangan antara dua kelompok atau individu.&lt;br /&gt;b) Mencegah terjadinya suatu pertentangan secara temporer.&lt;br /&gt;c) Memungkinkan terjadinya kerja sama antarindividu atau kelompok sosial.&lt;br /&gt;d) Mengupayakan peleburan antara kelompok sosial yang berbeda (terpisah), misalnya lewat perkawinan campuran (amalgamasi).&lt;br /&gt;Adapun bentuk-bentuk akomodasi adalah koersi, kompromi, arbitrasi, mediasi, konsiliasi, toleransi, stalemate, ajudikasi, rasionalisasi, gencatan senjata, segregation, dan dispasement .&lt;br /&gt;a) Koersi (coercion) adalah suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilakukan dengan paksaan. Artinya, ada pemaksaan kehendak oleh pihak tertentu terhadap pihak lain yang posisinya lebih rendah. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara fisik maupun secara psikologis.&lt;br /&gt;b) Kompromi (compromise) adalah suatu bentuk akomodasi di mana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian perselisihan yang ada.&lt;br /&gt;c) Arbitrasi (arbitration) adalah suatu bentuk akomodasi yang menghadirkan pihak ketiga yang bersifat netral untuk mencapai suatu penyelesaian perselisihan.&lt;br /&gt;d) Mediasi (mediation) , hampir sama dengan arbitrasi, tetapi pada mediasi pihak ketiga yang netral yang berfungsi sebagai penengah tidak mempunyai wewenang untuk memberi keputusan-keputusan penyelesaian perselisihan di antara pihak-pihak yang berselisih.&lt;br /&gt;e) Konsiliasi (conciliation) adalah suatu usaha mempertemukan keinginan-keinginan pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama.&lt;br /&gt;f) Toleransi (tolerance) adalah suatu bentuk akomodasi tanpa persetujuan formal. Kadang-kadang toleransi timbul secara tidak sadar dan tanpa direncanakan sebelumnya.&lt;br /&gt;g) Stalemate adalah suatu bentuk akomodasi, di mana pihak-pihak yang bertentangan, karena mempunyai kekuatan seimbang, berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya.&lt;br /&gt;h) Ajudikasi (adjudication) adalah penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan atau melalui jalur hukum.&lt;br /&gt;i) Rasionalisasi adalah pemberian keterangan atau alasan yang kedengarannya rasional untuk&lt;br /&gt;membenarkan tindakan-tindakan yang sebenarnya akan dapat menimbulkan konflik.&lt;br /&gt;j) Gencatan senjata (cease-fire) adalah penghentian sementara pertikaian karena ada satu hal yang mengharuskan pertikaian atau peperangan berhenti, misalnya pembersihan jenazah korban, adanya negosiasi perdamaian, dan sebagainya&lt;br /&gt;k) Segregation adalah upaya untuk saling memisahkan diri dan menghindar di antara pihak-pihak yang saling bertentangan dengan tujuan untuk mengurangi ketegangan.&lt;br /&gt;l) Dispasement adalah usaha mengakhiri konflik dengan mengalihkan pada objek masing-masing.&lt;br /&gt;3) Asimilasi&lt;br /&gt;Asimilasi merupakan sebuah proses yang ditandai oleh adanya usaha-usaha untuk mengurangi perbedaanperbedaan yang terdapat di antara individu-individu atau kelompok individu.&lt;br /&gt;Menurut Koentjaraningrat, proses asimilasi akan terjadi apabila berikut ini.&lt;br /&gt;a) Ada kelompok-kelompok yang berbeda kebudayaannya.&lt;br /&gt;b) Saling bergaul secara langsung dan intensif dalam waktu yang cukup lama.&lt;br /&gt;c) Kebudayaan dari kelompok-kelompok tersebut masing-masing mengalami perubahan dan saling menyesuaikan diri.&lt;br /&gt;Ada beberapa faktor yang dapat mempermudah atau mendorong terjadinya asimilasi, di antaranya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;a) Toleransi, keterbukaan, saling menghargai, dan menerima unsur-unsur kebudayaan lain.&lt;br /&gt;b) Kesempatan yang seimbang dalam bidang ekonomi yang dapat mengurangi adanya kecemburuan sosial.&lt;br /&gt;c) Sikap menghargai orang asing dengan kebudayaannya.&lt;br /&gt;d) Sikap terbuka dari golongan penguasa.&lt;br /&gt;e) Adanya perkawinan campur dari kelompok yang berbeda (amalgamasi).&lt;br /&gt;f) Adanya musuh dari luar yang harus dihadapi bersama.&lt;br /&gt;Selain itu ada pula beberapa faktor yang dapat menghambat atau memperlambat terjadinya asimilasi, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;a) Perbedaan yang sangat mencolok, seperti perbedaan ras, teknologi, dan perbedaan ekonomi.&lt;br /&gt;b) Kurangnya pengetahuan terhadap kebenaran&lt;br /&gt;kebudayaan lain yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;c) Kecurigaan dan kecemburuan sosial terhadap kelompok lain.&lt;br /&gt;d) Perasaan primordial, sehingga merasa kebudayaan sendiri lebih baik dari kebudayaan bangsa atau kelompok lainnya.&lt;br /&gt;4) Akulturasi ( Acculturation )&lt;br /&gt;Di era globalisasi sekarang ini yang ditandai dengan pesatnya arus informasi dan komunikasi antarnegara mengakibatkan batas antarnegara seolah-olah menjadi tidak ada. Berbagai pengaruh dari suatu negara dapat dengan mudah masuk ke negara lain. Selain itu berbagai kejadian atau peristiwa yang terjadi pada suatu negara dapat dengan cepat diketahui oleh negara lain. Dalam hal ini kita tidak dapat menutup diri terhadap berbagai pengaruh, terutama unsur-unsur kebudayaan yang berasal dari negara lain. Masuknya unsur-unsur kebudayaan asing itu salah satunya dapat menimbulkan suatu keadaan yang disebut akulturasi.&lt;br /&gt;Akulturasi adalah suatu keadaan di mana unsur-unsur kebudayaan asing yang masuk lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri. Dalam akulturasi kita mengenal unsur-unsur kebudayaan yang mudah diterima dan unsur-unsur kebudayaan yang sulit diterima. Unsur-unsur apa sajakah itu? Unsur-unsur kebudayaan yang mudah diterima dalam akulturasi di antaranya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;a) Kebudayaan materiil, misalnya atap masjid Demak yang menggunakan model Meru seperti dalam agama Hindu.&lt;br /&gt;b) Kebudayaan yang mudah disesuaikan dengan kondisi setempat, misalnya kesenian, olahraga, dan hiburan.&lt;br /&gt;c) Kebudayaan yang pengaruhnya kecil, misalnya model pakaian, potongan rambut, bentuk rumah, model sepatu dan lain-lain.&lt;br /&gt;d) Teknologi ekonomi yang bermanfaat dan mudah dioperasionalkan, seperti traktor, mesin penghitung uang, komputerisasi di bidang akuntansi, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Sementara itu, unsur-unsur kebudayaan yang sulit untuk diterima dalam akulturasi adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;a) Unsur kebudayaan yang menyangkut kepercayaan, ideologi, falsafah atau religi suatu kelompok.&lt;br /&gt;b) Unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi. Misalnya makanan pokok dan sopan santun kepada orang yang lebih tua.&lt;br /&gt;b. Proses Disosiatif&lt;br /&gt;Proses disosiatif merupakan sebuah proses yang cenderung membawa anggota masyarakat ke arah perpecahan dan merenggangkan solidaritas di antara anggota-anggotanya.&lt;br /&gt;Kita mengenal tiga bentuk proses disosiatif, yaitu persaingan, kontravensi, dan konflik.&lt;br /&gt;1) Persaingan ( Competition )&lt;br /&gt;Persaingan merupakan suatu proses sosial di mana individu atau kelompok mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada masa tertentu menjadi pusat perhatian umum, tanpa menggunakan ancaman atau kekerasan. Persaingan harus dilaksanakan dengan berpedoman pada nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Hal-hal yang dapat menimbulkan terjadinya persaingan atau kompetisi antara lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;a) Perbedaan pendapat mengenai hal yang sangat mendasar.&lt;br /&gt;b) Perselisihan paham yang mengusik harga diri dan kebanggaan masing-masing pihak yang ditonjolkan.&lt;br /&gt;c) Keinginan terhadap sesuatu yang jumlahnya sangat terbatas atau menjadi pusat perhatian umum.&lt;br /&gt;d) Perbedaan sistem nilai dan norma dari kelompok masyarakat.&lt;br /&gt;e) Perbedaan kepentingan politik kenegaraan, baik dalam negeri maupun luar negeri.&lt;br /&gt;2) Kontravensi ( Contravention )&lt;br /&gt;Kontravensi adalah suatu proses komunikasi antarmanusia, di mana antara pihak yang satu dengan pihak yang lain sudah terdapat benih ketidaksesuaian, namun di antara pihak-pihak yang terlibat itu saling menyembunyikan sikap ketidaksesuaiannya. Namun apabila tidak saling berhadapan, benih-benih ketidaksesuaian itu ditampakkan secara jelas kepada pihak ketiga. Biasanya kontravensi dikatakan pula sebagai sebuah proses sosial yang berada di antara persaingan dan konflik.&lt;br /&gt;Menurut Leopold Von Wiesse dan Howard Becker, proses kontravensi itu bertingkat-tingkat hingga semakin hebat dan hampir mendekati bentuk persaingan dan konflik. Tahukah kamu bagaimana tingkatan kontravensi itu?&lt;br /&gt;Ada lima tingkatan kontravensi, yaitu general contravention, medial contravention, intensive contra vention, misterious contravention, dan tactical contravention.&lt;br /&gt;a) General contravention, contohnya penolakan, keengganan, perlawanan, tindakan menghalang-halangi, protes, gangguan-gangguan, perbuatan kekerasan, dan mengacaukan rencana pihak lain.&lt;br /&gt;b) Medial contravention, contohnya menyangkal pernyataan orang lain di muka umum, memaki-maki orang lain, mencerca, memfitnah dengan melemparkan beban pembuktian kepada pihak lain, dan seterusnya.&lt;br /&gt;c) Intensive contravention, contohnya menghasut, menyebarkan desas-desus, mengecewakan pihak lain, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;d) Misterious contravention, contohnya membuka rahasia pihak lain pada pihak ketiga, berkhianat, dan lainlain.&lt;br /&gt;e) Tactical contravention, contohnya mengejutkan lawan, mengganggu atau membingungkan pihak lawan secara sembunyi.&lt;br /&gt;Kita mengenal tiga tipe kontravensi, yaitu kontravensi antargenerasi, kontravensi antarkelompok, dan kontravensi jenis kelamin.&lt;br /&gt;a) Kontravensi antargenerasi, misalnya perbedaan pendapat antara golongan tua dengan golongan muda mengenai masuknya unsur-unsur budaya asing.&lt;br /&gt;b) Kontravensi antarkelompok, misalnya perbedaan kepentingan antara golongan mayoritas dan golongan minoritas.&lt;br /&gt;c) Kontravensi jenis kelamin, misalnya perbedaan pendapat antara golongan pria dan perempuan tentang cuti hamil dan melahirkan.&lt;br /&gt;3) Konflik ( Conflict )&lt;br /&gt;Istilah 'konflik' berasal dari kata Latin 'configere' yang berarti saling memukul. Dalam pengertian sosiologi, konflik dapat didefinisikan sebagai suatu proses sosial di mana dua orang atau kelompok berusaha menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.&lt;br /&gt;Menurut Robert M.Z. Lawang, konflik adalah perjuangan untuk memperoleh hal-hal yang langka seperti nilai, status, kekuasaan, dan sebagainya, di mana tujuan mereka yang berkonflik itu tidak hanya untuk memperoleh keuntungan, tetapi juga untuk menundukkan pesaingnya. Konflik merupakan keadaan yang wajar dalam setiap masyarakat. Tidak ada orang atau masyarakat yang tidak pernah mengalami konflik dalam hidupnya.&lt;br /&gt;a) Sebab-Sebab Terjadinya Konflik&lt;br /&gt;Hal-hal yang dapat menimbulkan terjadinya konflik antara lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;(1) Adanya perbedaan kepribadian di antara mereka yang terlibat konflik, akibat adanya perbedaan latar belakang kebudayaan.&lt;br /&gt;(2) Adanya perbedaan pendirian atau perasaan antara individu yang satu dengan individu yang lain.&lt;br /&gt;(3) Adanya perbedaan kepentingan individu atau kelompok di antara mereka.&lt;br /&gt;(4) Adanya perubahan-perubahan sosial yang cepat dalam masyarakat karena adanya perubahan nilai atau sistem yang berlaku.&lt;br /&gt;b) Akibat Konflik&lt;br /&gt;Konflik dapat mengakibatkan hal yang positif maupun hal yang negatif. Hal itu tergantung apa&lt;br /&gt;bentuk konflik itu dan dari mana kita memandangnya&lt;br /&gt;Secara umum konflik dapat menimbulkan akibat berikut ini.&lt;br /&gt;(1) Bertambah kuatnya rasa solidaritas di antara sesama anggota kelompok. Hal ini biasanya&lt;br /&gt;dicapai apabila terjadi konflik antarkelompok dalam masyarakat.&lt;br /&gt;(2) Hancur atau retaknya kesatuan kelompok. Hal ini biasanya muncul dari konflik yang terjadi di&lt;br /&gt;antara anggota dalam suatu kelompok.&lt;br /&gt;(3) Adanya perubahan kepribadian individu.&lt;br /&gt;(4) Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia.&lt;br /&gt;c) Cara Pemecahan Konflik&lt;br /&gt;Selain cara-cara akomodasi yang telah kita bahas bersama di muka, masih ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk memecahkan atau menyelesaikan konflik, di antaranya elimination, subjugation atau domination, majority rule, minority consent, dan integrasi.&lt;br /&gt;(1) Elimination, berarti pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat dalam konflik antara lain,&lt;br /&gt;dengan ucapan 'kami mengalah', 'kami mundur', 'kami keluar', dan sebagainya.&lt;br /&gt;(2) Subjugation atau domination, berarti orang atau pihak yang mempunyai kekuatan terbesar dapat memaksa orang atau pihak lain untuk menaatinya, terutama pihak yang lemah.&lt;br /&gt;(3) Majority rule, berarti suara terbanyak yang ditentukan melalui pemungutan suara atau voting yang akan menentukan keputusan tanpa mempertimbangkan argumentasi.&lt;br /&gt;(4) Minority consent, berarti ada kelompok mayoritas yang menang, namun kelompok minoritas tidak merasa dikalahkan dan menerima keputusan, serta sepakat untuk melakukan kegiatan bersama.&lt;br /&gt;(5) Integrasi, berarti pendapat-pendapat yang bertentangan didiskusikan, dipertimbangkan, dan ditelaah kembali sampai kelompok yang saling bertentangan mencapai suatu keputusan yang memuaskan bagi semua pihak.&lt;br /&gt;d) Bentuk-Bentuk Konflik&lt;br /&gt;Di dalam kehidupan masyarakat, terdapat beberapa bentuk konflik, yaitu konflik pribadi, politik, rasial, antarkelas sosial, dan konflik yang bersifat internasional.&lt;br /&gt;(1) Konflik pribadi adalah konflik yang terjadi di antara individu karena masalah-masalah pribadi. Misalnya individu yang terlibat utang, atau masalah pembagian warisan dalam keluarga.&lt;br /&gt;(2) Konflik politik adalah konflik antarpartai politik karena perbedaan ideologi, asas perjuangan, dan citacita politik. Misalnya bentrokan antarpartai politik pada saat kampanye.&lt;br /&gt;(3) Konflik rasial adalah konflik yang terjadi di antara kelompok ras yang berbeda karena kepentingan dan kebudayaan yang saling bertabrakan. Misalnya konflik antarsuku yang terjadi di Timika, Papua.&lt;br /&gt;(4) Konflik antarkelas sosial adalah konflik yang disebabkan munculnya perbedaan-perbedaan kepentingan, misalnya konflik antara buruh dengan majikan.&lt;br /&gt;(5) Konflik yang bersifat internasional adalah konflik yang melibatkan beberapa kelompok negara (blok) karena perbedaan kepentingan masing-masing. Misalnya pertikaian negara Israel dan Lebanon yang melibatkan beberapa negara besar.&lt;br /&gt;7. Aturan-Aturan dalam Interaksi Sosial&lt;br /&gt;Dalam kajian sosiologis, ada beberapa aturan mengenai interaksi sosial yang berbeda dengan faktor yang memengaruhi interaksi yang telah kita bahas di muka. Karp dan Yoels (1979) menyatakan tiga jenis aturan dalam interaksi sosial, yaitu aturan mengenai ruang, waktu, dan gerak tubuh.&lt;br /&gt;a. Aturan Mengenai Ruang&lt;br /&gt;Karp dan Yoels mendasarkan teorinya pada karya Edward T. Hall mengenai konsep jarak sosial. Menurut Hall, dalam situasi sosial orang cenderung menggunakan empat macam jarak, yaitu jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, dan jarak publik.&lt;br /&gt;1) Jarak Intim (sekitar 0-45 cm)&lt;br /&gt;Dalam jarak intim terjadi keterlibatan intensif pancaindera dengan tubuh orang lain. Contohnya dua orang yang melakukan olahraga jarak dekat, seperti sumo dan gulat. Apabila seseorang terpaksa berada dalam jarak intim, seperti di dalam bus atau kereta api yang penuh sesak, ia akan berusaha sebisa mungkin menghindari kontak tubuh dan kontak pandangan mata dengan orang di sekitarnya.&lt;br /&gt;2) Jarak Pribadi (sekitar 45 cm-1,22 m)&lt;br /&gt;Jarak pribadi cenderung dijumpai dalam interaksi antara orang yang berhubungan dekat, seperti suami isteri atau ibu dan anak.&lt;br /&gt;3) Jarak Sosial (sekitar 1,22 m-3,66 m)&lt;br /&gt;Dengan jarak sosial orang yang berinteraksi dapat berbicara secara wajar dan tidak saling menyentuh. Contohnya interaksi di dalam pertemuan santai dengan teman, guru, dan sebagainya.&lt;br /&gt;4) Jarak Publik (di atas 3,66 m)&lt;br /&gt;Umumnya digunakan oleh orang yang harus tampil di depan umum, seperti politisi dan artis. Semakin besar jarak, semakin keras pula suara yang harus dikeluarkan.&lt;br /&gt;b. Aturan Mengenai Waktu&lt;br /&gt;Setiap masyarakat memiliki makna sendiri tentang waktu yang mengatur interaksi seseorang dengan orang lain. Misalnya pada suatu masyarakat tertentu dikenal adanya istilah 'jam karet'. Bagi mereka, keterlambatan kedatangan bus, pesawat, atau kereta api menjadi hal yang biasa. Namun apabila kondisi ini terjadi di negara maju, banyak aktivitas orang menjadi terganggu.&lt;br /&gt;c. Aturan Mengenai Gerak Tubuh&lt;br /&gt;Komunikasi nonverbal (tanpa menggunakan bahasa lisan maupun tulisan) merupakan bentuk komunikasi pertama bagi manusia. Komunikasi ini terkadang disadari atau tidak, digunakan seseorang untuk menyampaikan pesan dalam interaksinya dengan orang lain. Contohnya memicingkan mata, menjulurkan lidah, mengangkat bahu, membungkukkan badan, menganggukkan kepala, mengerutkan dahi, mengangkat ibu jari, dan lainnya. Namun demikian,&lt;br /&gt;makna komunikasi ini bisa berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Oleh karena itu, komunikasi nonverbal hanya efektif dilakukan dalam interaksi antaranggota masyarakat yang memiliki pemaknaan yang sama terhadap gerakan-gerakan tersebut.&lt;br /&gt;8. Interaksi Sosial sebagai Wujud Status dan Peranan Sosial&lt;br /&gt;Dalam interaksi manusia di masyarakat, status dan peranan individu mempunyai arti yang penting. Mengapa? Karena langgengnya suatu masyarakat tergantung pada keseimbangan kepentingan-kepentingan individu tersebut, kaitannya dengan status dan peranan yang ada pada dirinya.&lt;br /&gt;a. Kedudukan (Status)&lt;br /&gt;Status atau kedudukan adalah posisi sosial yang merupakan tempat di mana seseorang menjalankan kewajibankewajiban dan berbagai aktivitas lain, sekaligus merupakan tempat bagi seseorang untuk menanamkan harapanharapan. Dengan kata lain status merupakan posisi sosial seseorang dalam suatu kelompok atau masyarakat.&lt;br /&gt;Menurut Ralph Linton, dalam kehidupan masyarakat dikenal tiga macam status, yaitu ascribed status, achieved status, dan assigned status .&lt;br /&gt;1) Ascribed Status&lt;br /&gt;Ascribed status adalah status yang diperoleh seseorang tanpa usaha tertentu. Status sosial demikian biasanya diperoleh karena warisan, keturunan, atau kelahiran. Contohnya seorang anak yang lahir dari lingkungan bangsawan, tanpa harus berusaha, ia sudah dengan sendirinya memiliki status sebagai bangsawan.&lt;br /&gt;2) Achieved Status&lt;br /&gt;Status ini diperoleh karena suatu prestasi tertentu. Atau dengan kata lain status ini diperoleh seseorang dengan melakukan usaha-usaha yang disengaja untuk mengejar serta mencapai tujuan-tujuannya. Misalnya setiap orang dapat menjadi dokter setelah memenuhi persyaratanpersyaratan tertentu, seperti lulus sebagai sarjana kedokteran.&lt;br /&gt;3) Assigned Status&lt;br /&gt;Assigned status adalah status yang dimiliki seseorang karena jasa-jasanya terhadap pihak lain. Karena jasanya tersebut, orang diberi status khusus oleh lembaga, badan, atau kelompok tertentu. Misalnya gelar-gelar seperti pahlawan revolusi, peraih kalpataru, dan lainnya.&lt;br /&gt;b. Peranan ( Role )&lt;br /&gt;Dalam hidup bermasyarakat, selain mempunyai status yang mencerminkan kedudukanmu, kamu juga mempunyai peranan-peranan tertentu sesuai dengan status yang melekat pada dirimu. Peranan merupakan aspek dinamis kedudukan atau status. Peranan adalah perilaku yang diharapkan oleh pihak lain dalam melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan status&lt;br /&gt;yang dimilikinya. Misalnya di rumah kamu berstatus sebagai seorang anak yang mempunyai peranan untuk menaati dan mematuhi nasihat orang tua, membantu pekerjaan rumah orang tua, tidak melanggar peraturan dalam keluarga, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Interaksi sosial yang ada di dalam masyarakat merupakan hubungan antara peranan-peranan individu dalam masyarakat. Ada tiga hal yang tercakup dalam peranan, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;1) Norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau kedudukan seseorang dalam masyarakat.&lt;br /&gt;2) Suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.&lt;br /&gt;3) Perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.&lt;br /&gt;9. Hubungan antara Tindakan dan Interaksi Sosial&lt;br /&gt;Tahukah kamu, bagaimana hubungan antara tindakan sosial dengan interaksi sosial? Merujuk pada pengertian tindakan sosial dan interaksi sosial yang telah kita bahas di muka memperlihatkan dengan jelas bahwa di antara keduanya mempunyai hubungan yang tidak terpisahkan. Tindakan sosial adalah perbuatan yang dipengaruhi oleh orang lain untuk mencapai&lt;br /&gt;tujuan dan maksud tertentu, sedangkan interaksi sosial adalah hubungan yang terjadi sebagai akibat dari tindakan individuindividu dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Tidak semua tindakan yang dilakukan oleh manusia dikatakan sebagai interaksi sosial. Misalnya tabrakan yang terjadi di jalan raya. Tabrakan itu bukan merupakan interaksi sosial karena tidak ada aksi dan reaksi. Namun apabila setelah terjadinya tabrakan itu mereka saling menolong atau justru saling berkelahi, maka tindakan itu menjadi interaksi sosial. Mengapa? Karena terjadi hubungan timbal balik yang disebabkan oleh adanya tindakan (aksi) dan tanggapan (reaksi) antara dua pihak. Tanpa tindakan, tidak mungkin ada hubungan. Jadi, tindakan merupakan syarat mutlak terbentuknya hubungan timbal balik atau interaksi sosial.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-8859379478343527082?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/8859379478343527082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/interaksi-sosial_11.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/8859379478343527082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/8859379478343527082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/interaksi-sosial_11.html' title='INTERAKSI SOSIAL'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-3922943973513285652</id><published>2011-10-11T08:37:00.001-07:00</published><updated>2011-10-11T08:37:49.604-07:00</updated><title type='text'>SOSIALISASI</title><content type='html'>SOSIALISASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali memasuki lingkungan yang baru, kamu harus mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan itu. Apabila kamu tidak mau mempelajarinya, apa yang akan terjadi? Mampukah kamu bergaul dengan lingkungan itu? Nah, mari kita simak bagaimana mempelajari lingkungan yang akan kita masuki tersebut. Seringkali dalam kehidupan sehari-hari, kamu mendengar bahkan mengucapkan kata 'sosialisasi'. Sebenarnya apakah maksud dari sosialisasi itu?&lt;br /&gt;1. Pengertian Sosialisasi&lt;br /&gt;Secara sederhana, sosialisasi dapat disamakan dengan bergaul. Dalam pergaulan tersebut dipelajari berbagai nilai, norma, dan pola-pola perilaku individu ataupun kelompok. Lambat laun nilai dan norma yang ada dapat diserap menjadi bagian dari kepribadian individu serta kelompok. Seperti telah diulas dalam bab-bab terdahulu, manusia tercipta sebagai makhluk pribadi sekaligus juga sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk pribadi, manusia berjuang untuk memenuhi kebutuhannya untuk bertahan hidup. Dalam memenuhi kebutuhannya tersebut manusia tidak dapat hidup sendiri. Manusia memerlukan orang lain untuk mencapai tujuannya. Itulah sebabnya, manusia berinteraksi dengan manusia lainnya sebagai makhluk sosial. Dalam bab ini, kamu akan dikenalkan dengan sosialisasi yang berfungsi sebagai sarana pembentukan kepribadian. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai apa itu sosialisasi, mari kita simak beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli berikut ini.&lt;br /&gt;a. Charlotte Buhler&lt;br /&gt;Sosialisasi adalah proses yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri terhadap bagaimana cara hidup dan bagaimana cara berpikir kelompoknya, agar ia dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya.&lt;br /&gt;b. Koentjaraningrat&lt;br /&gt;Sosialisasi adalah seluruh proses di mana seorang individu sejak masa kanak-kanak sampai dewasa, berkembang, berhubungan, mengenal, dan menyesuaikan diri dengan individu-individu lain yang hidup dalam masyarakat sekitarnya.&lt;br /&gt;c. Irvin L. Child&lt;br /&gt;Sosialisasi adalah segenap proses yang menuntut individu mengembangkan potensi tingkah laku aktualnya yang diyakini kebenarannya dan telah menjadi kebiasaan serta sesuai dengan standar dari kelompoknya.&lt;br /&gt;d. Peter L. Berger&lt;br /&gt;Sosialisasi adalah proses di mana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Dari pengertian yang dikemukakan para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa sosialisasi merupakan suatu proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati norma-norma serta nilai-nilai masyarakat tempat ia menjadi anggota, sehingga terjadi pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan atau perilaku masyarakatnya. Jadi, proses sosialisasi membuat seseorang menjadi tahu dan memahami bagaimana harus bersikap dan bertingkah laku di lingkungan masyarakatnya. melalui proses ini juga, seseorang akan mengetahui dan dapat menjalankan hak-hak serta kewajibannya berdasarkan peranan-peranan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;2. Tujuan Sosialisasi&lt;br /&gt;Setiap proses sosial pasti memiliki tujuan. Demikian juga sosialisasi. Berikut ini akan diuraikan beberapa tujuan sosialisasi.&lt;br /&gt;a. Memberi keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan seseorang untuk melangsungkan kehidupannya kelak di tengah-tengah masyarakat di mana dia akan menjadi salah satu anggotanya.&lt;br /&gt;b. Mengembangkan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif dan efisien, serta mengembangkan kemampuannya untuk membaca, menulis, dan bercerita. Dengan melakukan komunikasi, berbagai informasi mengenai masyarakat akan diperoleh untuk kelangsungan hidup seseorang sebagai anggota masyarakat.&lt;br /&gt;c. Mengembangkan kemampuan seseorang mengendalikan fungsi-fungsi organik melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat. Artinya, dengan sosialisasi seseorang akan dapat memahami hal-hal yang baik dan dianjurkan dalam masyarakat untuk dilakukan. Selain itu juga dapat mengetahui dan memahami hal-hal buruk yang sebaiknya dihindari dan tidak dilakukan.&lt;br /&gt;d. Menanamkan kepada seseorang nilai-nilai dan kepercayaan pokok yang ada pada masyarakat.&lt;br /&gt;3. Tahapan-Tahapan Sosialisasi&lt;br /&gt;Penyesuaian diri terjadi secara berangsur-angsur, seiring dengan perluasan dan pertumbuhan pengetahuan serta penerimaan individu terhadap nilai dan norma yang terdapat dalam lingkungan masyarakat. Dengan melandaskan pemikirannya pada Teori Peran Sosial, George Herbert Mead dalam bukunya yang berjudul Mind, Self, and Society from The Standpoint of Social Behaviorist (1972) berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat diklasifikasikan melalui tahap-tahap berikut ini.&lt;br /&gt;a. Tahap Persiapan (Preparatory Stage)&lt;br /&gt;Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya. Pada tahap ini juga anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna. Dalam tahap ini, individu sebagai calon anggota masyarakat dipersiapkan dengan dibekali nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pedoman bergaul dalam masyarakat oleh lingkungan yang terdekat, yaitu keluarga.&lt;br /&gt;Lingkungan yang memengaruhi termasuk individu yang berperan dalam tahapan ini relatif sangat terbatas, sehingga proses penerimaan nilai dan norma juga masih dalam tataran yang paling sederhana.&lt;br /&gt;b. Tahap Meniru (Play Stage)&lt;br /&gt;Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan oleh seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari dirinya. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan orang-orang yang jumlahnya banyak telah juga mulai terbentuk.&lt;br /&gt;c. Tahap Siap Bertindak (Game Stage)&lt;br /&gt;Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat, sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama.&lt;br /&gt;Pada tahap ini individu mulai berhubungan dengan temanteman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.&lt;br /&gt;d. Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalizing Stage)&lt;br /&gt;Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, dia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya, tetapi juga dengan masyarakat secara luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama, bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya. Dalam tahap ini, individu dinilai sudah mencapai tahap kematangan untuk siap terjun dalam kehidupan masyarakat. Untuk lebih mudah memahami tahapan-tahapan sosialisasi yang telah kita bahas di atas, berikut ini disajikan dalam bentuk tabel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Sosialisasi&lt;br /&gt;Ada dua faktor yang secara garis besar dapat memengaruhi proses sosialisasi, yaitu faktor intrinsik dan ekstrinsik.&lt;br /&gt;a. Faktor Intrinsik&lt;br /&gt;Sejak lahir manusia sesungguhnya telah memiliki pembawaan-pembawaan yang berupa bakat, ciri-ciri fisik, dan kemampuan-kemampuan khusus warisan orang tuanya. Hal itu disebut sebagai faktor intrinsik, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri seseorang yang melakukan sosialisasi. Faktor ini akan menjadi bekal seseorang untuk melaksanakan beragam aktivitas dalam sosialisasi. Hasilnya akan sangat berpengaruh terutama dalam perolehan keterampilan, pengetahuan, dan nilai-nilai dalam sosialisasi itu sendiri.&lt;br /&gt;b. Faktor Ekstrinsik&lt;br /&gt;Sejak manusia dilahirkan dia telah mendapat pengaruh dari lingkungan di sekitarnya yang disebut sebagai faktor ekstrinsik. Faktor ini dapat berupa nilai-nilai, kebiasaankebiasaan, adat istiadat, norma-norma, sistem sosial, sistem budaya, dan sistem mata pencaharian hidup yang ada dalam masyarakat. Nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat menjadi pedoman bagi seseorang untuk melakukan berbagai aktivitas agar sikap dan perilakunya sesuai dengan harapan masyarakat. Perpaduan antara faktor intrinsik dan ekstrinsik akan berakumulasi pada diri seseorang dalam melaksanakan sosialisasi.&lt;br /&gt;5. Pola Sosialisasi&lt;br /&gt;Sosialisasi selain sebagai proses belajar dan mewariskan suatu kebudayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya, juga sebagai sarana untuk mengembangkan diri sendiri yang berarti membangun diri sendiri untuk membentuk kepribadiannya. Dalam sosialisasi dikenal dua macam pola sosialisasi, yaitu sosialisasi represif (repressive socialization) dan sosialisasi partisipatif (partisipatory socialization).&lt;br /&gt;a. Sosialisasi Represif&lt;br /&gt;Di masyarakat seringkali kita melihat ada orang tua yang memberikan hukuman fisik pada anak yang tidak menaati perintahnya. Misalnya memukul anak yang tidak mau belajar, atau mengunci anak di kamar mandi karena berkelahi dengan teman. Contoh ini merupakan salah satu bentuk sosialisasi represif yang ada di sekitar kita. Dari contoh tersebut dapatkah kamu menyimpulkan apa sebenarnya sosialisasi represif itu? Sosialisasi represif merupakan sosialisasi yang lebih menekankan penggunaan hukuman, terutama hukuman fisik terhadap kesalahan yang dilakukan anak.&lt;br /&gt;Adapun ciri-ciri sosialisasi represif di antaranya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;1) Menghukum perilaku yang keliru.&lt;br /&gt;2) Adanya hukuman dan imbalan materiil.&lt;br /&gt;3) Kepatuhan anak kepada orang tua.&lt;br /&gt;4) Perintah sebagai komunikasi.&lt;br /&gt;5) Komunikasi nonverbal atau komunikasi satu arah yang berasal dari orang tua.&lt;br /&gt;6) Sosialisasi berpusat pada orang tua.&lt;br /&gt;7) Anak memerhatikan harapan orang tua.&lt;br /&gt; Dalam keluarga biasanya didominasi orang tua.&lt;br /&gt;Sosialisasi represif umumnya dilakukan oleh orang tua yang otoriter. Sikap orang tua yang otoriter dapat menghambat pembentukan kepribadian seorang anak. Mengapa? Anak tidak dapat membentuk sikap mandiri dalam bertindak sesuai dengan perannya. Seorang anak yang sejak kecil selalu dikendalikan secara berlebihan oleh orang tuanya, setelah dewasa ia tidak akan berani mengembangkan diri, tidak dapat mengambil suatu keputusan, dan akan selalu bergantung pada orang lain. Kata-kata 'harus', 'jangan', dan 'tidak boleh ini dan itu' akan selalu terngiang-ngiang dalam pikirannya.&lt;br /&gt;b. Sosialisasi Partisipatif&lt;br /&gt;Pola ini lebih menekankan pada interaksi anak yang menjadi pusat sosialisasi. Dalam pola ini, bahasa merupakan sarana yang paling baik sebagai alat untuk membentuk hati nurani seseorang dan sebagai perantara dalam pengembangan diri. Dengan bahasa, seseorang belajar berkomunikasi, belajar berpikir, dan mengenal diri. Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa sosialisasi partisipatif memiliki ciri-ciri antara lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;1) Memberikan imbalan bagi perilaku baik.&lt;br /&gt;2) Hukuman dan imbalan bersifat simbolis.&lt;br /&gt;3) Otonomi anak.&lt;br /&gt;4) Interaksi sebagai komunikasi.&lt;br /&gt;5) Komunikasi verbal atau komunikasi dua arah, baik dari anak maupun dari orang tua.&lt;br /&gt;6) Sosialisasi berpusat pada anak.&lt;br /&gt;7) Orang tua memerhatikan keinginan anak.&lt;br /&gt; Dalam keluarga biasanya mempunyai tujuan yang sama.&lt;br /&gt;6. Media (Agen) Sosialisasi&lt;br /&gt;Setiap individu menjadi anggota dari satu atau lebih kelompok sosial di dalam masyarakat dan menjalankan peranannya sesuai dengan kedudukan dalam kelompoknya.&lt;br /&gt;Dalam proses sosialisasi, ia mengembangkan kepribadian melalui interaksi dengan setiap individu di dalam kelompokkelompok tersebut. Jadi, kelompok merupakan media sosialisasi dalam membentuk kepribadian seseorang. Kelompok inilah yang melaksanakan proses sosialisasi. Dalam sosiologi, kelompok ini dinamakan agen sosialisasi. Ada lima agen sosialisasi utama yang menjadi wahana di mana individu akan mengalami sosialisasi untuk mempersiapkan dirinya masuk ke dalam masyarakat sepenuhnya.&lt;br /&gt;a. Keluarga&lt;br /&gt;Dalam keadaan normal, lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak adalah keluarga. Keluarga merupakan kelompok sosial terkecil yang terdiri atas orang tua, saudara-saudara, serta mungkin kerabat dekat yang tinggal serumah. Keluarga merupakan media sosialisasi yang pertama dan utama atau yang sering dikenal dengan istilah media sosialisasi primer. Melalui keluarga, anak mengenal dunianya dan pola pergaulan sehari-hari. Arti pentingnya keluarga sebagai media sosialisasi primer bagi anak terletak pada pentingnya kemampuan yang diajarkan pada tahap ini. Orang tua umumnya mencurahkan perhatian untuk mendidik anak agar memperoleh dasar-dasar pergaulan hidup yang benar dan baik melalui penanaman disiplin, kebebasan, dan penyerasian.&lt;br /&gt;b. Teman Sepermainan (Kelompok Sebaya)&lt;br /&gt;Media sosialisasi berikutnya adalah teman sepermainan. Proses sosialisasi ini berbeda dengan proses sosialisasi dalam keluarga. Seorang anak belajar berinteraksi dengan orangorang yang sebaya dengan dirinya. Pada tahap ini anak mempelajari aturan-aturan yang mengatur orang-orang yang kedudukannya sejajar. Dalam kelompok teman sepermainan, anak mulai mempelajari nilai-nilai keadilan.&lt;br /&gt;Semakin meningkat umur anak, semakin penting pula pengaruh kelompok teman sepermainan. Kadang-kadang dapat terjadi konflik antara norma yang didapatkan dari keluarga dengan norma yang diterimanya dalam pergaulan dengan teman sepermainan. Terutama pada masyarakat yang berkembang dengan amat dinamis, hal itu dapat menjurus pada tindakan yang bertentangan dengan moral masyarakat umum.&lt;br /&gt;Pada usia remaja, kelompok sepermainan itu berkembang menjadi kelompok persahabatan yang lebih luas. Perkembangan itu antara lain disebabkan oleh remaja yang bertambah luas ruang lingkup pergaulannya, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Akan tetapi, perlu diwaspadai pengaruhpengaruh yang akan muncul ketika remaja mulai bergaul dengan sebayanya, karena pada tahap ini, tingkat kerawanan terhadap hal-hal yang cenderung ke arah negatif sangat tinggi. Mudah sekali, si remaja terpengaruh apabila basis sosialisasi keluarga yang pernah dialami sangat lemah. Sehingga, dengan kata lain, sebelum anak mulai masuk ke dalam lingkungan sebayanya, sosialisasi primer yang berlangsung dalam keluarga hendaknya diperkuat secara nyata.&lt;br /&gt;c. Sekolah&lt;br /&gt;Sekolah dengan lembaga yang melaksanakan sistem pendidikan formal merupakan agen sosialisasi yang akan kita bahas selanjutnya. Di sekolah seorang anak akan belajar mengenai hal-hal baru yang tidak ia dapatkan di lingkungan keluarga maupun teman sepermainannya. Selain itu juga belajar mengenai nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat sekolah, seperti tidak boleh terlambat waktu masuk sekolah, harus mengerjakan tugas atau PR, dan lain-lain. Sekolah juga menuntut kemandirian dan tanggung jawab pribadi seorang anak dalam mengerjakan tugas-tugasnya tanpa bantuan orang tuanya.&lt;br /&gt;Hal itu sejalan dengan pendapat Dreeben yang mengatakan bahwa dalam lembaga pendidikan sekolah (pendidikan formal) seseorang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Aspek lain yang dipelajari adalah aturan-aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), dan kekhasan (specificity) .&lt;br /&gt;Adapun fungsi pendidikan sekolah sebagai salah satu media sosialisasi, antara lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;1) Mengembangkan potensi anak untuk mengenal kemampuan dan bakatnya.&lt;br /&gt;2) Melestarikan kebudayaan dengan cara mewariskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.&lt;br /&gt;3) Merangsang partisipasi demokrasi melalui pengajaran keterampilan berbicara dan mengembangkan kemampuan berpikir secara rasional dan bebas.&lt;br /&gt;4) Memperkaya kehidupan dengan menciptakan cakrawala intelektual dan cita rasa keindahan kepada para siswa serta meningkatkan kemampuan menyesuaikan diri melalui bimbingan dan penyuluhan.&lt;br /&gt;5) Meningkatkan taraf kesehatan melalui pendidikan olahraga dan kesehatan.&lt;br /&gt;6) Menciptakan warga negara yang mencintai tanah air, serta menunjang integritas antarsuku dan antarbudaya.&lt;br /&gt;7) Mengadakan hiburan umum (pertandingan olahraga atau pertunjukan kesenian).&lt;br /&gt;d. Lingkungan Kerja&lt;br /&gt;Di lingkungan kerja, seseorang akan berinteraksi dengan teman sekerja, pimpinan, dan relasi bisnis. Dalam melakukan interaksi di lingkungan kerja, setiap orang harus menjalankan peranan sesuai dengan kedudukannya. Misalnya, sebagai seorang pemimpin, ia menjalankan peranannya untuk mengelola atau mengarahkan para karyawannya, sedangkan sebagai pekerja ia melaksanakan perintah pemimpin dan tugas sesuai dengan kedudukannya.&lt;br /&gt;Nilai dan norma pergaulan sehari-hari tidak dapat diterapkan pada lingkungan kerja karena posisi atau jabatan seseorang sangat memengaruhi hubungan yang harus dijalankannya. Seorang pemimpin suatu perusahaan walaupun umurnya lebih muda tetap harus dipatuhi dan dihormati oleh bawahannya yang mungkin umurnya lebih tua. Jadi, lingkungan kerja telah melahirkan peranan seseorang sesuai dengan jabatan atau kedudukannya yang memengaruhi tindakannya sebagai anggota masyarakat.&lt;br /&gt;e. Media Massa&lt;br /&gt;Media massa terdiri atas media cetak (surat kabar dan majalah) dan media elektronik (radio, televisi, video, film, dan internet). Meningkatnya teknologi komunikasi dan informasi memungkinkan peningkatan kualitas pesan serta peningkatan frekuensi penyertaan masyarakat atas pesan tersebut memberi peluang bagi media massa untuk berperan sebagai agen sosialisasi yang semakin penting.&lt;br /&gt;Salah satu media massa yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa adalah televisi. Acara apa yang sering kamu tonton? Film, musik, infotainment, sinetron, berita, atau yang lainnya? Acara yang disuguhkan oleh stasiun televisi sangat beragam, dari pendidikan, hiburan, berita, bahkan tindak kriminal pun saat ini banyak ditayangkan dan telah menjadi konsumsi publik. Berbagai acara yang ditayangkan oleh stasiun televisi itu akan berpengaruh pada tindakan yang dilakukan masyarakat, terutama remaja dan anak-anak.&lt;br /&gt;Pesan-pesan yang ditayangkan melalui televisi dapat mengarahkan masyarakat ke arah perilaku proporsional (sesuai dengan norma-norma masyarakat) atau perilaku antisosial (bertentangan dengan norma-norma masyarakat). Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, beberapa stasiun televisi menyarankan agar anak selalu didampingi oleh orang tuanya dalam menonton acara televisi. Hal ini dimaksudkan agar orang tua memberikan pengertian kepada anak mengenai acara yang disajikan, supaya anak mengerti maksud isi acara itu.&lt;br /&gt;7. Bentuk Sosialisasi&lt;br /&gt;Kita telah belajar mengenai media sosialisasi, yaitu keluarga, sekolah, teman sepermainan, media massa, dan lingkungan kerja. Dilihat dari siapa atau media yang berperan dalam melakukan sosialisasi, maka sosialisasi dibedakan menjadi dua, yaitu sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder.&lt;br /&gt;a. Sosialisasi Primer&lt;br /&gt;Menurut Peter L. Berger dan Luckmann, sosialisasi primer adalah sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Pada sosialisasi ini, anak mulai mengenal anggota keluarga yang lain dan lingkungan keluarganya. Secara bertahap dia mulai mampu membedakan dirinya dengan anggota keluarga yang lain dan orang-orang di sekitar keluarganya.&lt;br /&gt;Pada tahap ini, peran anggota keluarga sangat menentukan corak kepribadian anak. Dengan demikian sosialisasi primer bukan saja berpengaruh pada masa awal anak mulai menjalani sosialisasi, tetapi lebih dari itu, apa yang telah diserap anak di masa tersebut akan mendarah daging pada diri anak dan menjadi ciri mendasar kepribadian anak setelah dewasa.&lt;br /&gt;b. Sosialisasi Sekunder&lt;br /&gt;Sosialisasi sekunder merupakan proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Dalam sosialisasi sekunder, yang berperan adalah pihak-pihak di luar keluarga, seperti sekolah, teman sepermainan, media massa, dan lingkungan kerja. Bentuk sosialisasi sekunder yang ada di masyarakat adalah resosialisasi dan desosialisasi.&lt;br /&gt;1) Resosialisasi adalah suatu proses sosialisasi di mana seseorang diberi identitas baru. Misalnya seseorang yang dirawat di rumah sakit jiwa mendapat identitas baru sebagai orang yang sakit jiwa. Dapatkah kamu menyebutkan contoh lainnya?&lt;br /&gt;2) Desosialisasi adalah suatu proses sosialisasi di mana seseorang mengalami pencabutan identitas diri yang lama. Misalnya orang yang telah selesai menjalani masa hukuman dan menjadi anggota masyarakat kembali, maka identitasnya sebagai narapidana telah tercabut.&lt;br /&gt;Kedua proses tersebut seringkali dikaitkan dengan apa yang dinamakan proses pemasyarakatan total, yaitu hidup terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu tertentu, terkungkung, dan diatur secara formal.&lt;br /&gt;8. Tipe Sosialisasi&lt;br /&gt;Sosialisasi merupakan suatu proses di mana individu mempelajari nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat guna mengembangkan diri sendiri. Individu tidak hanya belajar bertindak atas dasar cara tertentu karena ada imbalan atau hukuman dari luar, tetapi karena adanya kesadaran diri untuk maju. Setiap kelompok masyarakat mempunyai standar dan nilai yang berbeda-beda dalam menentukan tindakan seseorang.&lt;br /&gt;Standar seseorang disebut baik di sekolah dan di kelompok sepermainan tentu berbeda. Di sekolah, misalnya, seseorang dapat disebut baik apabila tidak pernah terlambat datang ke sekolah atau tidak pernah membuat keonaran. Sementara di kelompok sepermainan, seseorang dapat disebut baik apabila memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi dengan teman dan saling membantu. Perbedaan standar dan nilai pun tidak terlepas dari tipe sosialisasi yang ada. Ada dua tipe sosialisasi dalam masyarakat, yaitu tipe formal dan tipe informal.&lt;br /&gt;a. Tipe Formal&lt;br /&gt;Sosialisasi tipe ini terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara. Atau dengan kata lain sosialisasi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang bersifat resmi. Pada tipe sosialisasi ini, biasanya ada aturan-aturan yang sifatnya mengikat dan harus dipatuhi oleh semua anggota lembaga, serta tidak dilandasi oleh sifat kekeluargaan. Sosialisasi tipe ini terdapat pada lembaga-lembaga, seperti pendidikan di sekolah dan pendidikan militer.&lt;br /&gt;b. Tipe Informal&lt;br /&gt;Sosialisasi tipe ini terdapat di dalam masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti antarteman, sahabat, dan kelompok-kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat. Baik sosialisasi formal maupun informal tetap mengarah kepada pertumbuhan pribadi seseorang agar sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungannya. Meskipun proses sosialisasi dipisahkan secara formal dan informal, namun hasilnya sangat sulit untuk dipisah-pisahkan karena individu biasanya mendapat sosialisasi formal maupun informal secara bersamaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-3922943973513285652?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/3922943973513285652/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/sosialisasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/3922943973513285652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/3922943973513285652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/sosialisasi.html' title='SOSIALISASI'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-6422647691286652672</id><published>2011-10-11T08:35:00.002-07:00</published><updated>2011-10-11T08:36:53.153-07:00</updated><title type='text'>PERILAKU MENYIMPA</title><content type='html'>Tindakan manusia tidak selamanya sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakatnya. Adakalanya terjadi penyimpangan terhadap nilai dan norma yang ada. Tindakan manusia yang menyimpang dari nilai dan norma atau peraturan disebut dengan perilaku menyimpang. Apakah perilaku menyimpang itu? Pernahkah kamu melakukan tindakantindakan yang termasuk dalam kategori perilaku menyimpang?&lt;br /&gt;Ada banyak perilaku menyimpang yang terjadi di masyarakat. Dari yang sederhana atau kecil sampai yang kompleks yang akibatnya sangat meresahkan masyarakat. Apa yang kamu ketahui mengenai perilaku menyimpang?&lt;br /&gt;1. Pengertian Perilaku Menyimpang&lt;br /&gt;Pagi itu di sebuah perempatan, lampu lalu lintas sedang menyala merah. Karena kesiangan dan takut terlambat sampai di sekolah, Damar justru menambah laju kecepatan sepeda motornya dan menerobos lampu merah. Tindakan Damar itu diketahui polisi dan akhirnya dia ditilang. Berdasarkan cerita di atas, bagaimana pendapatmu terhadap tindakan yang dilakukan Damar? Tindakan Damar merupakan salah satu contoh sederhana adanya penyimpangan terhadap aturan-aturan yang ada di masyarakat. Masih banyak lagi jenisjenis penyimpangan yang terjadi di masyarakat.&lt;br /&gt;Dalam kenyataan sehari-hari, tidak semua orang bertindak berdasarkan norma-norma dan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Tindakan yang tidak sesuai dengan norma dan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat dinamakan perilaku menyimpang. Penyimpangan terjadi apabila seseorang atau sekelompok orang tidak mematuhi norma atau patokan dan nilai yang sudah baku di masyarakat. Penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat disebut deviasi ( deviation ), sedangkan pelaku atau individu yang melakukan penyimpangan ini disebut dengan devian ( deviant ).&lt;br /&gt;Berikut ini pengertian perilaku menyimpang menurut pandangan beberapa ahli.&lt;br /&gt;a. James Vander Zenden&lt;br /&gt;Menyebutkan bahwa penyimpangan adalah perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi.&lt;br /&gt;b. Robert M.Z. Lawang&lt;br /&gt;Mengungkapkan penyimpangan adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang itu.&lt;br /&gt;c. Bruce J. Cohen&lt;br /&gt;Mengatakan bahwa perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.&lt;br /&gt;d. Paul B. Horton&lt;br /&gt;Mengutarakan bahwa penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.&lt;br /&gt;e. Lewis Coser&lt;br /&gt;Mengemukakan bahwa perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial.&lt;br /&gt;2. Proses Pembentukan Perilaku Menyimpang&lt;br /&gt;Bagaimanakah sebenarnya pembentukan perilaku menyimpang dalam masyarakat? Dan faktor-faktor apa sajakah yang turut memengaruhinya? Mari kita bahas dalam subpokok bahasan ini.&lt;br /&gt;a. Faktor Biologis&lt;br /&gt;Cesare Lombrosso, seorang kriminolog dari Italia, dalam bukunya Crime, Its Causes and Remedies (1918) memberikan gambaran tentang perilaku menyimpang yang dikaitkan dengan bentuk tubuh seseorang. Dengan tegas, Lombrosso mengatakan bahwa ditinjau dari segi biologis penjahat itu keadaan fisiknya kurang maju apabila dibandingkan dengan keadaan fisik orang-orang biasa. Lombrosso berpendapat bahwa orang yang jahat dicirikan dengan ukuran rahang dan tulang-tulang pipi panjang, kelainan pada mata yang khas, tangan beserta jari-jarinya dan jari-jari kaki relatif besar, serta susunan gigi yang abnormal.&lt;br /&gt;Sementara itu William Sheldon, seorang kriminolog Inggris dalam bukunya Varieties of Delinquent Youth (1949) membedakan bentuk tubuh manusia yang mempunyai kecenderungan melakukan penyimpangan ke dalam tiga bentuk, yaitu endomorph, mesomorph, dan ectomorph yang masing-masing memiliki ciri-ciri tertentu.&lt;br /&gt;1) Endomorph (Bulat dan Serba Lembek)&lt;br /&gt;Orang dengan bentuk tubuh ini menurut kesimpulannya dapat terpengaruh untuk melakukan perilaku menyimpang, karena sangat mudah tersinggung dan cenderung suka menyendiri.&lt;br /&gt;2) Mesomorph (Atletis, Berotot Kuat, dan Kekar)&lt;br /&gt;Orang dengan bentuk tubuh seperti ini sering menunjukkan sifat kasar dan bertekad untuk menuruti hawa nafsu atau keinginannya. Bentuk demikian ini biasanya identik dengan orang jahat yang paling sering melakukan perilaku menyimpang.&lt;br /&gt;3) Ectomorph (Kurus Sekali dan Memperlihatkan Kelemahan Daya)&lt;br /&gt;Orang yang seperti ini selalu menunjukkan kepasrahan, akan tetapi apabila mendapat penghinaan-penghinaan yang luar biasa tekanan jiwanya dapat meledak, dan barulah akan terjadi perilaku menyimpang darinya.&lt;br /&gt;b. Faktor Psikologis&lt;br /&gt;Banyak ahli sosiologi yang cenderung untuk menerima sebab-sebab psikologis sebagai penyebab pembentukan perilaku menyimpang. Misalnya hubungan antara orang tua dan anak yang tidak harmonis. Banyak orang meyakini bahwa hubungan antara orang tua dan anak merupakan salah satu ciri yang membedakan orang 'baik' dan orang 'tidak baik'. Sikap orang tua yang terlalu keras maupun terlalu lemah seringkali menjadi penyebab deviasi pada anak-anak.&lt;br /&gt;c. Faktor Sosiologis&lt;br /&gt;Dari sudut pandang sosiologi, telah banyak teori yang dikembangkan untuk menerangkan faktor penyebab perilaku menyimpang. Misalnya, ada yang menyebutkan kawasan kumuh ( slum ) di kota besar sebagai tempat persemaian deviasi dan ada juga yang mengatakan bahwa sosialisasi yang buruk membuat orang berperilaku menyimpang. Selanjutnya ditemukan hubungan antara 'ekologi' kota dengan kejahatan, mabuk-mabukan, kenakalan remaja, dan bunuh diri. Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan diuraikan beberapa sebab atau proses terjadinya perilaku menyimpang ditinjau dari faktor sosiologis.&lt;br /&gt;1) Penyimpangan sebagai Hasil Sosialisasi yang Tidak Sempurna&lt;br /&gt;Menurut teori sosialisasi, perilaku manusia, baik yang menyimpang maupun yang tidak dikendalikan oleh norma dan nilai yang dihayati. Apabila sosialisasi tidak sempurna akan menghasilkan perilaku yang menyimpang. Sosialisasi yang tidak sempurna timbul karena nilai-nilai atau norma-norma yang dipelajari kurang dapat dipahami dalam proses sosialisasi, sehingga seseorang bertindak tanpa memperhitungkan risiko yang akan terjadi.&lt;br /&gt;Contohnya anak sulung perempuan, dapat berperilaku seperti laki-laki sebagai akibat sosialisasi yang tidak sempurna di lingkungan keluarganya. Hal ini terjadi karena ia harus bertindak sebagai ayah, yang telah meninggal. Di pihak lain, media massa, terutama sering menyajikan gaya hidup yang tidak sesuai dengan anjuran-anjuran yang disampaikan dalam keluarga atau sekolah. Di dalam keluarga telah ditanamkan perilaku pemaaf, tidak balas dendam, mengasihi, dan lain-lain, tetapi di televisi selalu ditayangkan adegan kekerasan, balas dendam, fitnah, dan sejenisnya. Nilai-nilai kebaikan yang ditawarkan oleh keluarga dan sekolah harus berhadapan dengan nilai-nilai lain yang ditawarkan oleh media massa, khususnya televisi. Proses sosialisasi seakan-akan tidak sempurna karena adanya saling pertentangan antara agen sosialisasi yang satu dengan agen yang lain, seperti antara sekolah dan keluarga berhadapan dengan media massa. Lama kelamaan seseorang akan terpengaruh dengan cara-cara yang kurang baik, sehingga terjadilah penyimpanganpenyimpangan dalam masyarakat.&lt;br /&gt;2) Penyimpangan sebagai Hasil Sosialisasi dari Nilai- Nilai Subkebudayaan Menyimpang&lt;br /&gt;Shaw dan Mc. Kay mengatakan bahwa daerah-daerah yang tidak teratur dan tidak ada organisasi yang baik akan cenderung melahirkan daerah kejahatan. Di daerahdaerah yang demikian, perilaku menyimpang (kejahatan) dianggap sebagai sesuatu yang wajar yang sudah tertanam dalam kepribadian masyarakat itu. Dengan demikian, proses sosialisasi tersebut merupakan proses pembentukan nilai-nilai dari subkebudayaan yang menyimpang.&lt;br /&gt;Contohnya di daerah lingkungan perampok terdapat nilai dan norma yang menyimpang dari kebudayaan setempat. Nilai dan norma sosial itu sudah dihayati oleh anggota kelompok sebagai proses sosialisasi yang wajar. Perilaku menyimpang seperti di atas merupakan penyakit mental yang banyak berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Sehubungan dengan itu kita mengenal konsep anomie yang dikemukakan oleh Emile Durkheim . Anomie adalah keadaan yang kontras antara pengaruh subkebudayaan-subkebudayaan dengan kenyataan sehari-hari dalam masyarakat. Indikasinya adalah masyarakat seakan-akan tidak mempunyai aturan-aturan yang dijadikan pegangan atau pedoman dan untuk ditaati bersama.&lt;br /&gt;Akibat tidak adanya keserasian dan keselarasan, normanorma dalam masyarakat menjadi lumpuh dan arahnya menjadi samar-samar. Apabila hal itu berlangsung lama dalam masyarakat, maka besar pengaruhnya terhadap proses sosialisasi. Anggota masyarakat akan bingung dan sulit memperoleh pedoman. Akhirnya, mereka memilih cara atau jalan sendiri-sendiri. Jalan yang ditempuh tidak jarang berupa perilaku-perilaku yang menyimpang.&lt;br /&gt;3) Proses Belajar yang Menyimpang&lt;br /&gt;Mekanisme proses belajar perilaku menyimpang sama halnya dengan proses belajar terhadap hal-hal lain yang ada di masyarakat. Proses belajar itu dilakukan terhadap orang-orang yang melakukan perbuatan menyimpang. Misalnya, seorang anak yang sering mencuri uang dari tas temannya mula-mula mempelajari cara mengambil uang tersebut mulai dari cara yang paling sederhana hingga yang lebih rumit. Cara ini dipelajarinya melalui media maupun secara langsung dari orang yang berhubungan dengannya. Penjelasan ini menerangkan bahwa untuk menjadi penjahat kelas 'kakap', seseorang harus mempelajari terlebih dahulu bagaimana cara yang paling efisien untuk beroperasi.&lt;br /&gt;4) Ikatan Sosial yang Berlainan&lt;br /&gt;Dalam masyarakat, setiap orang biasanya berhubungan dengan beberapa kelompok yang berbeda. Hubungan dengan kelompok-kelompok tersebut akan cenderung membuatnya mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok yang paling dihargainya. Dalam hubungan ini, individu tersebut akan memperoleh pola-pola sikap dan perilaku kelompoknya. Apabila pergaulan itu memiliki pola-pola sikap dan perilaku yang menyimpang, maka kemungkinan besar ia juga akan menunjukkan pola-pola perilaku menyimpang. Misalnya seorang anak yang bergaul dengan kelompok orang yang sering melakukan aksi kebut-kebutan di jalan raya. Kemungkinan besar dia juga akan melakukan tindakan serupa.&lt;br /&gt;5) Ketegangan antara Kebudayaan dan Struktur Sosial&lt;br /&gt;Setiap masyarakat tidak hanya memiliki tujuan-tujuan yang dianjurkan oleh kebudayaannya, tetapi juga caracara yang diperkenankan oleh kebudayaannya itu untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Apabila seseorang tidak diberi peluang untuk menggunakan caracara ini dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, maka kemungkinan besar akan terjadi perilaku menyimpang. Misalnya dalam sebuah perusahaan, pengusaha memberikan upah kepada buruhnya di bawah standar UMK. Hal itu apabila dibiarkan berlarut-larut, maka ada kemungkinan si buruh akan melakukan penyimpangan, seperti melakukan demonstrasi atau mogok kerja.&lt;br /&gt;3. Bentuk-Bentuk Perilaku Menyimpang&lt;br /&gt;Di masyarakat kita mengenal bentuk-bentuk penyimpangan yang terdiri atas penyimpangan individual ( individual deviation ), penyimpangan kelompok ( group deviation ), dan penyimpangan gabungan dari keduanya ( mixture of both deviation ). Terkadang ada pula yang menambahkan dengan penyimpangan primer ( primary deviation ) dan penyimpangan sekunder ( secondary deviation ).&lt;br /&gt;a. Penyimpangan Individual ( Individual Deviation )&lt;br /&gt;Penyimpangan ini biasanya dilakukan oleh orang yang telah mengabaikan dan menolak norma-norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Orang seperti itu biasanya mempunyai kelainan atau mempunyai penyakit mental sehingga tidak dapat mengendalikan dirinya. Contohnya seorang anak yang ingin menguasai warisan atau harta peninggalan orang tuanya. Ia mengabaikan saudarasaudaranya yang lain. Ia menolak norma-norma pembagian warisan menurut adat masyarakat maupun menurut norma agama. Ia menjual semua peninggalan harta orang tuanya untuk kepentingan diri sendiri.&lt;br /&gt;Penyimpangan yang bersifat individual sesuai dengan kadar penyimpangannya dibedakan atas pembandel, pembangkang, perusuh atau penjahat, dan munafik.&lt;br /&gt;1) Pembandel, yaitu penyimpangan karena tidak patuh pada nasihat orang tua agar mengubah pendiriannya yang kurang baik.&lt;br /&gt;2) Pembangkang, yaitu penyimpangan karena tidak taat pada peringatan orang-orang.&lt;br /&gt;3) Pelanggar, yaitu penyimpangan karena melanggar norma-norma umum yang berlaku. Misalnya orang yang melanggar rambu-rambu lalu lintas pada saat di jalan raya.&lt;br /&gt;4) Perusuh atau penjahat, yaitu penyimpangan karena mengabaikan norma-norma umum sehingga menimbulkan kerugian harta benda atau jiwa di lingkungannya. Misalnya pencuri, penjambret, penodong, dan lain-lain.&lt;br /&gt;5) Munafik, yaitu penyimpangan karena tidak menepati janji, berkata bohong, berkhianat, dan berlagak membela.&lt;br /&gt;b. Penyimpangan Kelompok ( Group Deviation )&lt;br /&gt;Penyimpangan ini dilakukan oleh sekelompok orang yang tunduk pada norma kelompoknya, namun bertentangan dengan norma masyarakat yang berlaku. Penyimpangan ini terjadi dalam subkebudayaan menyimpang yang umumnya telah memiliki norma, nilai, sikap, dan tradisi sendiri, sehingga cenderung untuk menolak norma-norma yang berlaku dalam masyarakat yang lebih luas. Contohnya kelompok orang yang menyelundupkan serta menyalahgunakan narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya, teroris, kelompok preman, dan separatis. Mereka memiliki aturan-aturan sendiri yang harus dipatuhi oleh anggotanya.&lt;br /&gt;Dalam melakukan aksinya, mereka memiliki aturan permainan yang cermat, termasuk dalam membentuk jaringan yang kuat untuk melakukan kejahatannya, sehingga sulit dilacak dan dibongkar pihak yang berwenang, dalam hal ini kepolisian.&lt;br /&gt;c. Penyimpangan Campuran ( Mixture of Both Deviation )&lt;br /&gt;Sebagian remaja yang putus sekolah (penyimpangan individual) dan pengangguran yang frustasi (penyimpangan individual), biasanya merasa tersisih dari pergaulan dan kehidupan masyarakat. Mereka sering berpikir seperti anak orang berkecukupan, yang akhirnya menempuh jalan pinta untuk hidup enak. Di bawah pimpinan seorang tokoh yang terpilih karena kenekatan dan kebrutalannya, mereka berkelompok dalam 'organisasi rahasia' (penyimpangan kelompok) dengan memiliki norma yang mereka buat sendiri. Pada dasarnya norma yang mereka buat bertentangan dengan norma yang berlaku umum di masyarakat.&lt;br /&gt;Penyimpangan seperti itu ada yang dilakukan oleh suatu golongan sosial yang memiliki organisasi yang rapi, sehingga individu ataupun kelompok di dalamnya taat dan tunduk kepada norma golongan yang secara keseluruhan mengabaikan norma yang berlaku. Misalnya gank-gank anak nakal. Kelompok semacam itu dapat berkembang menjadi semacam kelompok mafia dunia kejahatan yang terdiri atas preman-preman yang sangat meresahkan masyarakat.&lt;br /&gt;d. Penyimpangan Primer ( Primary Deviation )&lt;br /&gt;Penyimpangan ini dilakukan oleh seseorang, di mana hanya bersifat temporer atau sementara dan tidak berulang-ulang. Individu yang melakukan penyimpangan ini masih dapat diterima oleh masyarakat karena hidupnya tidak didominasi oleh pola perilaku menyimpang tersebut dan di lain kesempatan tidak akan melakukannya lagi. Misalnya seorang siswa yang terlambat masuk sekolah karena ban sepeda motornya bocor, seseorang yang menunda pembayaran pajak karena alasan keuangan yang tidak mencukupi, atau pengemudi kendaraan bermotor yang sesekali melanggar rambu-rambu lalu lintas.&lt;br /&gt;e. Penyimpangan Sekunder ( Secondary Deviation )&lt;br /&gt;Penyimpangan ini dilakukan oleh seseorang secara terusmenerus, sehingga akibatnya pun cukup parah serta mengganggu orang lain. Dalam penyimpangan ini, seseorang secara khas memperlihatkan perilaku menyimpang yang secara umum dikenal sebagai seorang yang menyimpang. Masyarakat tidak dapat menerima dan tidak menghendaki individu semacam itu hidup bersama dalam masyarakat mereka. Misalnya seorang siswa yang sering tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Contoh lainnya adalah seseorang yang sering mabuk-mabukan baik di rumah, di pesta, maupun di tempat umum serta seseorang yang sering melakukan pencurian, perampokan, dan tindak kriminal lainnya.&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk penyimpangan tersebut harus diatasi karena penyimpangan menyangkut masalah mental perilaku. Misalnya, melalui berbagai penataran, pendidikan keagamaan, pemulihan disiplin, serta pelatihan-pelatihan lainnya.&lt;br /&gt;4. Ciri-Ciri Perilaku Menyimpang&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa perilaku menyimpang merupakan tindakan yang tidak dikehendaki oleh masyarakat karena telah melanggar norma atau aturan-aturan yang berlaku. Namun tetap saja perilaku menyimpang itu ada dalam masyarakat. Ada beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi suatu tindakan dikatakan sebagai perilaku menyimpang. Tahukah kamu, ciri-ciri apa sajakah yang dimaksud? Menurut Paul B. Horton, penyimpangan sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Penyimpangan Harus Dapat Didefinisikan&lt;br /&gt;Suatu perbuatan anggota masyarakat dapat dikatakan menyimpang apabila memang didefinisikan sebagai menyimpang. Perilaku menyimpang bukanlah semata-mata ciri tindakan yang dilakukan orang, melainkan akibat dari adanya peraturan dan penerapan sanksi yang dilakukan oleh orang lain terhadap perilaku tersebut. Singkatnya, penilaian menyimpang tidaknya suatu perilaku harus berdasar kriteria tertentu dan diketahui penyebabnya.&lt;br /&gt;b. Penyimpangan Bisa Diterima Bisa juga Ditolak&lt;br /&gt;Perilaku menyimpang ada yang positif dan negatif. Positif, apabila penyimpangan yang diterima bahkan dipuji dan dihormati, seperti penemuan baru oleh para ahli itu kadangkadang bertentangan budaya masyarakat. Sedangkan penyimpangan negatif adalah penyimpangan yang ditolak oleh masyarakat, seperti perampokan, pembunuhan terhadap etnis tertentu, dan menyebarkan teror dengan bom atau gas beracun.&lt;br /&gt;c. Penyimpangan Relatif dan Mutlak&lt;br /&gt;Dalam masyarakat, tidak ada seorang pun yang masuk dalam kategori sepenuhnya penurut (konformis) ataupun sepenuhnya penyimpang (orang yang benar-benar menyimpang). Orang yang termasuk kedua kategori itu justru akan mengalami kesulitan dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;Pada dasarnya semua orang normal sesekali pernah melakukan tindakan menyimpang, tetapi pada batas-batas tertentu yang bersifat relatif untuk setiap orang. Perbedaannya hanya pada frekuensi dan kadar penyimpangannya saja. Secara umum, penyimpangan yang dilakukan tiap orang cenderung relatif. Bahkan orang yang tadinya penyimpang mutlak lambat laun harus berkompromi dengan lingkungannya.&lt;br /&gt;d. Penyimpangan terhadap Budaya Nyata ataukah Budaya Ideal&lt;br /&gt;Budaya ideal adalah segenap peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. Dalam kenyataan di masyarakat, banyak anggota masyarakat yang tidak patuh terhadap segenap peraturan resmi tersebut. Jadi antara budaya nyata dengan budaya ideal selalu terjadi kesenjangan. Artinya, peraturan yang telah menjadi pengetahuan umum dalam kenyataan sehari-hari cenderung banyak dilanggar. Contohnya peraturan mengenai penggunaan helm pada saat mengendarai sepeda motor. Banyak masyarakat yang melanggar peraturan tersebut, di mana kita dapat melihat di jalan-jalan banyak orang mengendarai sepeda motor tanpa memakai helm.&lt;br /&gt;e. Terdapat Norma-Norma Penghindaran dalam Penyimpangan&lt;br /&gt;Norma penghindaran ini muncul apabila pada suatu masyarakat terdapat nilai atau norma yang melarang suatu perbuatan yang ingin sekali diperbuat oleh banyak orang. Apakah norma penghindaran itu? Pola perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan mereka, tanpa harus menentang nilai-nilai tata kelakuan secara terbuka. Jadi, norma-norma penghindaran merupakan suatu bentuk penyimpangan perilaku yang bersifat setengah melembaga ( semi-institusionalized ).&lt;br /&gt;f. Penyimpangan Sosial Bersifat Adaptif (Menyesuaikan)&lt;br /&gt;Tidak selamanya penyimpangan sosial menjadi ancaman bagi kehidupan masyarakat, karena kadang-kadang dapat dianggap sebagai alat pemelihara stabilitas sosial. Perilaku apa yang kita harapkan dari orang lain, apa yang orang lain inginkan dari kita, serta wujud masyarakat seperti apa yang pantas bagi sosialisasi anggotanya. Di lain pihak, perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial. Tidak ada masyarakat yang mampu bertahan dalam kondisi statis untuk jangka waktu yang lama. Masyarakat yang terisolasi sekalipun akan mengalami perubahan. Ledakan penduduk, perubahan teknologi, serta hilangnya kebudayaan lokal dan tradisional mengharuskan banyak orang menerapkan norma-norma baru.&lt;br /&gt;5. Sifat-Sifat Perilaku Menyimpang&lt;br /&gt;Dalam masyarakat kita mengenal dua sifat perilaku menyimpang yaitu perilaku menyimpang yang bersifat positif dan perilaku menyimpang yang bersifat negatif.&lt;br /&gt;a. Penyimpangan yang Bersifat Positif&lt;br /&gt;Penyimpangan yang bersifat positif adalah penyimpangan yang tidak sesuai dengan aturan-aturan atau norma-norma yang berlaku, tetapi mempunyai dampak positif terhadap sistem sosial. Atau dengan kata lain, penyimpangan yang terarah pada nilai-nilai sosial yang ideal (didambakan) walaupun cara atau tindakan yang dilakukan itu seolah-olah atau tampaknya menyimpang dari norma yang berlaku, padahal sebenarnya tidak. Seseorang dikatakan menyimpang secara positif apabila dia berusaha merealisasikan suatu citacita, namun masyarakat pada umumnya menolak atau tidak dapat menerima caranya. Akibatnya orang tersebut akan menerima celaan dari masyarakat. Dapatkah kamu menyebutkan contoh-contohnya?&lt;br /&gt;b. Penyimpangan yang Bersifat Negatif&lt;br /&gt;Penyimpangan negatif adalah kecenderungan bertindak ke arah nilai-nilai sosial yang dipandang rendah dan akibatnya selalu buruk. Jenis tindakan seperti ini dianggap tercela dalam masyarakat. Si pelaku bahkan bisa dikucilkan dari masyarakat. Bobot penyimpangan negatif itu diukur menurut kaidah susila dan adat istiadat, sehingga sanksi yang diberikan kepada pelanggarnya dinilai lebih berat daripada pelanggaran terhadap tata cara dan sopan santun. Contohnya pencurian, perampokan, pelacuran, dan pemerkosaan.&lt;br /&gt;6. Tipe-Tipe Perilaku Menyimpang&lt;br /&gt;Menurut Robert M.Z. Lawang, perilaku menyimpang dapat digolongkan menjadi empat tipe, yaitu tindakan kriminal atau kejahatan, penyimpangan seksual, penyimpangan dalam bentuk pemakaian atau konsumsi secara berlebihan, serta penyimpangan dalam gaya hidup ( lifestyle ).&lt;br /&gt;a. Tindakan Kriminal atau Kejahatan&lt;br /&gt;Tindakan kriminal merupakan suatu bentuk penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok terhadap nilai dan norma atau peraturan perundang-undangan yang berlaku di masyarakat. Kita mengenal dua jenis kejahatan seperti yang tercantum dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yaitu violent offenses dan property offenses .&lt;br /&gt;1) Violent offenses atau kejahatan yang disertai dengan kekerasan pada orang lain, seperti pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan, dan lain sebagainya. 2) Property offenses atau kejahatan yang menyangkut hak milik orang lain, seperti perampasan, pencurian tanpa kekerasan, dan lain sebagainya. Sementara itu Light, Keller, dan Callhoun dalam bukunya yang berjudul Sociology (1989) membedakan kejahatan menjadi empat tipe, yaitu crime without victim, organized crime, white collar crime, dan corporate crime.&lt;br /&gt;1) White Collar Crime (Kejahatan Kerah Putih)&lt;br /&gt;Kejahatan ini mengacu pada kejahatan yang dilakukan oleh orang yang terpandang atau berstatus tinggi dalam hal pekerjaannya. Contohnya penghindaran pajak, penggelapan uang perusahaan, manipulasi data keuangan sebuah perusahaan (korupsi), dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;2) Crime Without Victim (Kejahatan Tanpa Korban)&lt;br /&gt;Kejahatan tidak menimbulkan penderitaan pada korban secara langsung akibat tindak pidana yang dilakukan. Contohnya berjudi, mabuk, dan hubungan seks yang tidak sah tetapi dilakukan secara sukarela.&lt;br /&gt;3) Organized Crime (Kejahatan Terorganisir)&lt;br /&gt;Kejahatan ini dilakukan secara terorganisir dan berkesinambungan dengan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan (biasaya lebih ke materiil) dengan jalan menghindari hukum. Contohnya penyedia jasa pelacuran, penadah barang curian, perdagangan perempuan ke luar negeri untuk komoditas seksual, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;4) Corporate Crime (Kejahatan Korporasi)&lt;br /&gt;Kejahatan ini dilakukan atas nama organisasi formal dengan tujuan menaikkan keuntungan dan menekan kerugian. Lebih lanjut Light, Keller, dan Callhoun membagi tipe kejahatan korporasi ini menjadi empat, yaitu kejahatan terhadap konsumen, kejahatan terhadap publik, kejahatan terhadap pemilik perusahaan, dan kejahatan terhadap karyawan.&lt;br /&gt;b. Penyimpangan Seksual&lt;br /&gt;Penyimpangan seksual adalah perilaku seksual yang tidak lazim dilakukan oleh masyarakat. Adapun beberapa jenis perilaku ini di antaranya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;1) Perzinaan, yaitu hubungan seksual di luar nikah.&lt;br /&gt;2) Homoseksual, yaitu hubungan seksual yang dilakukan dengan sesama jenis. Homoseksual dibedakan atas lesbian dan homoseks. Lesbian adalah sebutan bagi wanita yang melakukan hubungan seksual dengan sesama wanita, sedangkan homoseks adalah sebutan bagi pria yang melakukan hubungan seksual dengan sesama pria.&lt;br /&gt;3) Kumpul kebo, yaitu hidup bersama seperti suami istri, namun tanpa ada ikatan pernikahan.&lt;br /&gt;4) Sadomasochist , yaitu pemuasan nafsu seksual dengan melakukan penyiksaan terhadap pasangannya.&lt;br /&gt;5) Paedophilia , yaitu memuaskan keinginan seksual yang dilampiaskan kepada anak kecil.&lt;br /&gt;6) Sodomi, yaitu hubungan seksual yang dilakukan melalui anus atau dubur.&lt;br /&gt;7) Gerontophilia , yaitu hubungan seksual yang dilakukan dengan orang-orang lanjut usia.&lt;br /&gt;c. Penyimpangan dalam Bentuk Pemakaian atau Konsumsi Berlebihan&lt;br /&gt;Penyimpangan ini biasanya diidentikkan dengan pemakaian dan pengedaran narkoba atau obat-obatan terlarang serta alkoholisme. Hal ini lebih banyak terjadi pada kaum remaja karena perkembangan emosi mereka yang belum stabil dan cenderung ingin mencoba serta adanya rasa keingintahuan yang besar terhadap suatu hal.&lt;br /&gt;Menurut Dr. Graham Baliane (Kartini Kartono, 1992) kaum muda atau remaja lebih mudah terjerumus pada penggunaan narkotika karena faktor-faktor sebagai berikut.&lt;br /&gt;1) Ingin membuktikan keberaniannya dalam melakukan tindakan berbahaya.&lt;br /&gt;2) Ingin menunjukkan tindakan menentang terhadap orang tua yang otoriter.&lt;br /&gt;3) Ingin melepaskan diri dari kesepian dan memperoleh pengalaman emosional.&lt;br /&gt;4) Ingin mencari dan menemukan arti hidup.&lt;br /&gt;5) Ingin mengisi kekosongan dan kebosanan.&lt;br /&gt;6) Ingin menghilangkan kegelisahan.&lt;br /&gt;7) Solidaritas di antara kawan.&lt;br /&gt; Ingin tahu.&lt;br /&gt;Penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol secara berlebih dilarang oleh hukum karena dapat mendorong terjadinya tindak kriminal yang lain. Selain dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Bahaya terhadap diri sendiri, antara lain dapat merusak organ-organ tubuh, sehingga tidak berfungsi sempurna, bahkan susunan syaraf yang berfungsi sebagai pengendali daya pikir turut pula dirusak. Akibatnya tidak dapat berpikir secara rasional dan cenderung untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.&lt;br /&gt;d. Penyimpangan dalam Bentuk Gaya Hidup&lt;br /&gt;Di masyarakat, kita bisa menemukan berbagai gaya hidup yang antara orang yang satu dengan orang yang lain mungkin terdapat perbedaan-perbedaan. Gaya hidup setiap orang bisa dipengaruhi oleh lingkungan, pendapatan, kemampuan pribadi, dan lain-lain. Namun demikian gaya hidup seseorang juga dapat menimbulkan suatu penyimpangan dalam masyarakat. Gaya hidup yang bagaimanakah itu? Ada dua bentuk penyimpangan dalam gaya hidup yang lain dari biasanya, yaitu sikap organisasi dan sikap eksentrik.&lt;br /&gt;1) Sikap arogansi adalah kesombongan terhadap sesuatu yang dimilikinya seperti kekayaan, kekuasaan, dan kepandaian. Atau bisa saja sikap itu dilakukan untuk menutupi kekurangannya.&lt;br /&gt;2) Sikap eksentrik adalah perbuatan yang menyimpang dari biasanya, sehingga dianggap aneh. Misalnya anak lakilaki memakai anting-anting, berambut panjang.&lt;br /&gt;7. Teori-Teori Perilaku Menyimpang&lt;br /&gt;Dalam sosiologi dikenal berbagai teori yang membahas perilaku menyimpang, yaitu Teori Pergaulan Berbeda, Teori Fungsi, dan Teori Tipologi Adaptasi.&lt;br /&gt;a. Teori Pergaulan Berbeda ( Differential Association )&lt;br /&gt;Teori ini dikemukakan oleh Edwin H. Sutherland . Menurut teori ini, penyimpangan bersumber dari pergaulan dengan sekelompok orang yang telah menyimpang. Penyimpangan diperoleh melalui proses alih budaya (cultural transmission) . Melalui proses ini seseorang mempelajari suatu subkebudayaan menyimpang (deviant subculture).&lt;br /&gt;Contohnya perilaku siswa yang suka bolos sekolah. Perilaku tersebut dipelajarinya dengan melakukan pergaulan dengan orang-orang yang sering bolos sekolah. Melalui pergaulan itu ia mencoba untuk melakukan penyimpangan tersebut, sehingga menjadi pelaku perilaku menyimpang.&lt;br /&gt;b. Teori Labelling&lt;br /&gt;Teori ini dikemukakan oleh Edwin M. Lemert . Menurut teori ini, seseorang menjadi penyimpang karena proses labelling yang diberikan masyarakat kepadanya. Maksudnya adalah pemberian julukan atau cap yang biasanya negatif kepada seseorang yang telah melakukan penyimpangan primer (primary deviation ) misalnya pencuri, penipu, pemerkosa, pemabuk, dan sebagainya. Sebagai tanggapan terhadap cap itu, si pelaku penyimpangan kemudian mengidentifikasikan dirinya sebagai penyimpang dan mengulangi lagi penyimpangannya sehingga terjadi dengan penyimpangan sekunder ( secondary deviation) . Alasannya adalah sudah terlanjur basah atau kepalang tanggung.&lt;br /&gt;c. Teori Fungsi&lt;br /&gt;Teori ini dikemukakan oleh Emile Durkheim . Menurut teori ini, keseragaman dalam kesadaran moral semua anggota masyarakat tidak dimungkinkan karena setiap individu berbeda satu sama lain. Perbedaan-perbedaan itu antara lain dipengaruhi oleh faktor lingkungan, fisik, dan keturunan. Oleh karena itu dalam suatu masyarakat orang yang berwatak jahat akan selalu ada, dan kejahatanpun juga akan selalu ada. Durkheim bahkan berpandangan bahwa kejahatan perlu bagi masyarakat, karena dengan adanya kejahatan, maka moralitas dan hukum dapat berkembang secara normal.&lt;br /&gt;d. Teori Konflik&lt;br /&gt;Teori ini dikembangkan oleh penganut Teori Konflik Karl Marx . Para penganut teori ini berpandangan bahwa kejahatan terkait erat dengan perkembangan kapitalisme. Sehingga perilaku menyimpang diciptakan oleh kelompokkelompok berkuasa dalam masyarakat untuk melindungi kepentingan mereka sendiri. Pandangan ini juga mengatakan bahwa hukum merupakan cerminan kepentingan kelas yang berkuasa dan sistem peradilan pidana mencerminkan nilai dan kepentingan mereka.&lt;br /&gt;e. Teori Tipologi Adaptasi&lt;br /&gt;Dengan menggunakan teori ini, Robert K. Merton mencoba menjelaskan penyimpangan melalui struktur sosial. Menurut teori ini, struktur sosial bukan hanya menghasilkan perilaku yang konformis saja, tetapi juga menghasilkan perilaku menyimpang. Dalam struktur sosial dijumpai tujuan atau kepentingan, di mana tujuan tersebut adalah halhal yang pantas dan baik. Selain itu, diatur juga cara untuk meraih tujuan tersebut. Apabila tidak ada kaitan antara tujuan (cita-cita) yang ditetapkan dengan cara untuk mencapainya, maka akan terjadi penyimpangan.&lt;br /&gt;Dalam hal ini Merton mengemukakan tipologi cara-cara adaptasi terhadap situasi, yaitu konformitas, inovasi, ritualisme, pengasingan diri, dan pemberontakan (keempat yang terakhir merupakan perilaku menyimpang). Perhatikan tabel di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda '+' berarti ada penyelarasan, di mana warga masyarakat menerima nilai-nilai sosiobudaya atau norma-norma yang ada, sedangkan tanda '-' berarti menolaknya. Adapaun tanda '+/-' menunjuk pada pola-pola perilaku yang menolak serta menghendaki nilai-nilai dan norma-norma yang baru.&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;1. Konformitas ( conformity ) , merupakan cara adaptasi dimana pelaku mengikuti tujuan dan cara yang ditentukan oleh masyarakat. Misalnya Gaelan belajar dengan sungguh-sungguh agar nilai ulangannya bagus.&lt;br /&gt;2. Inovasi ( inovation ), terjadi apabila seseorang menerima tujuan yang sesuai dengan nilai-nilai budaya yang diidamkan masyarakat, tetapi menolak norma dan kaidah yang berlaku. Misalnya untuk memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM), Arif tidak mengikuti ujian, melainkan melalui calo.&lt;br /&gt;3. Ritualisme ( ritualism ), terjadi apabila seseorang menerima cara-cara yang diperkenankan secara kultural, namun menolak tujuan-tujuan kebudayaan. Misalnya, walaupun tidak mempunyai keahlian atau keterampilan di bidang komputer, Mita berusaha untuk mendapatkan&lt;br /&gt;ijazah itu agar diterima kerja di perusahaan asing.&lt;br /&gt;4. Pengasingan diri ( retreatism ), timbul apabila seseorang menolak tujuan-tujuan yang disetujui maupun cara-cara pencapaian tujuan tersebut. Dengan kata lain, pengasingan diri terjadi apabila nilai-nilai sosial budaya yang berlaku tidak dapat dicapai melalui cara-cara yang telah ditetapkan. Misalnya tindakan siswa yang membakar gedung sekolahnya karena tidak lulus Ujian Akhir Nasional.&lt;br /&gt;5. Pemberontakan ( rebellion ), terjadi apabila seseorang menolak sarana maupun tujuan yang disahkan oleh kebudayaan dan menggantikannya dengan yang lain. Misalnya pemberontakan G 30S/PKI yang ingin mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi komunis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-6422647691286652672?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/6422647691286652672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/perilaku-menyimpa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/6422647691286652672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/6422647691286652672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/perilaku-menyimpa.html' title='PERILAKU MENYIMPA'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-2886121342202547711</id><published>2011-10-11T08:35:00.001-07:00</published><updated>2011-10-11T08:35:55.332-07:00</updated><title type='text'>PENGENDALIAN SOSIAL</title><content type='html'>PENGENDALIAN SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari kamu melakukan kegiatan-kegiatan yang sudah terpola, seperti mandi, makan, tidur, bermain, belajar, dan sekolah. Kegiatan-kegiatan itu kamu lakukan secara otomatis dan terkendali dengan baik. Apakah pengendalian? Siapa yang melakukan pengendalian? Mari kita bahas pada subpokok bahasan berikut ini.&lt;br /&gt;1. Pengertian Pengendalian Sosial&lt;br /&gt;Pengendalian sosial dilakukan untuk menjamin bahwa nilainilai dan norma sosial yang berlaku ditaati oleh anggota masyarakat. Hal ini menyangkut manusia sebagai makhluk sosial yang hidup bersama dalam kelompok atau masyarakat. Dalam pergaulan sehari-hari, perilaku manusia selalu diatur oleh nilai dan norma sosial yang memberi batas pada kelakuannya. Tujuan pengaturan itu dimaksudkan agar tindakan yang dilakukan seseorang atau suatu kelompok tidak merugikan pihak lain. Pelanggaran terhadap nilai dan norma sosial yang berlaku akan menimbulkan pertentangan-pertentangan antara berbagai kepentingan dari bermacam-macam pihak, sehingga terjadi guncangan-guncangan di dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Dengan demikian, pengendalian sosial dapat diartikan sebagai suatu proses yang direncanakan atau yang tidak direncanakan yang bertujuan untuk mengajak, membimbing, bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang berlaku . Apabila pengendalian sosial dijalankan secara efektif, maka perilaku individu akan konsisten dengan tipe perilaku yang diharapkan. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai hakikat pengendalian sosial, kita dapat memahami definisi pengendalian sosial yang dikemukakan para sosiolog berikut ini.&lt;br /&gt;a. Peter L. Berger&lt;br /&gt;Pengendalian sosial adalah berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggotanya yang menyimpang.&lt;br /&gt;b. Bruce J. Cohen&lt;br /&gt;Pengendalian sosial adalah cara-cara atau metode yang digunakan untuk mendorong seseorang agar berperilaku selaras dengan kehendak kelompok atau masyarakat luas tertentu.&lt;br /&gt;c. Joseph S. Roucek&lt;br /&gt;Pengendalian sosial adalah segenap cara dan proses pengawasan yang direncanakan atau tidak direncanakan yang bertujuan mengajak, mendidik, atau bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi norma dan nilai yang berlaku.&lt;br /&gt;Berdasarkan pengertian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa pengendalian sosial meliputi sistem dan proses yang mendidik, mengajak, dan memaksa.&lt;br /&gt;a. Mendidik, dimaksudkan agar dalam diri seseorang terdapat perubahan sikap dan tingkah laku untuk bertindak sesuai dengan norma. Sikap dan tindakan ini didapat melalui pendidikan formal maupun informal.&lt;br /&gt;b. Mengajak, bertujuan untuk mengarahkan agar perbuatan seseorang didasarkan pada norma-norma yang berlaku, dan tidak menuruti kemauannya sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;c. Memaksa, bertujuan untuk memengaruhi secara tegas agar seseorang bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku, apabila tidak akan dikenai sanksi.&lt;br /&gt;2. Ciri dan Tujuan Pengendalian Sosial&lt;br /&gt;Pengendalian sosial sangat penting demi kelangsungan hidup suatu masyarakat. Lalu, apakah yang menjadi ciri dan tujuan pengendalian sosial?&lt;br /&gt;a. Ciri-Ciri Pengendalian Sosial&lt;br /&gt;Merujuk pada definisi di atas kita dapat mengidentifikasi ciri-ciri yang terdapat dalam pengendalian sosial, di antaranya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;1) Suatu cara atau metode tertentu terhadap masyarakat.&lt;br /&gt;2) Bertujuan mencapai keserasian antara stabilitas dengan perubahan-perubahan yang terus terjadi di dalam suatu masyarakat.&lt;br /&gt;3) Dapat dilakukan oleh suatu kelompok terhadap kelompok lainnya atau oleh suatu kelompok terhadap individu.&lt;br /&gt;4) Dilakukan secara timbal balik meskipun terkadang tidak disadari oleh kedua belah pihak.&lt;br /&gt;b. Tujuan Pengendalian Sosial&lt;br /&gt;Secara sederhana, tujuan pengendalian sosial dapat dirumuskan sebagai berikut.&lt;br /&gt;1) Tujuan eksploratif, karena dimotivasikan oleh kepentingan diri, baik secara langsung maupun tidak.&lt;br /&gt;2) Tujuan regulatif, dilandaskan pada kebiasaan atau adat istiadat.&lt;br /&gt;3) Tujuan kreatif atau konstruktif, diarahkan pada perubahan sosial yang dianggap bermanfaat.&lt;br /&gt;3. Jenis Pengendalian Sosial&lt;br /&gt;Dalam kehidupan bersama di masyarakat, pengendalian sosial berfungsi untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang teratur dan sesuai dengan norma-norma yang telah disepakati bersama. Guna mewujudkan maksud tersebut kita mengenal beberapa jenis pengendalian sosial yang didasarkan pada sifat dan tujuannya, resmi dan tidaknya, serta siapa yang melakukan pengendalian.&lt;br /&gt;a. Menurut Sifat dan Tujuan&lt;br /&gt;Dilihat dari sifat dan tujuannya, kita mengenal pengendalian preventif, pengendalian represif, serta pengendalian gabungan antara pengendalian preventif dan represif.&lt;br /&gt;1) Pengendalian preventif, merupakan usaha yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penyimpangan terhadap norma dan nilai sosial yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian pengendalian ini dilakukan sebelum terjadinya penyimpangan dengan maksud untuk melakukan pencegahan sedini mungkin guna menghindari kemungkinan terjadinya tindakan penyimpangan. Usahausaha pengendalian preventif dapat dilakukan melalui pendidikan dalam keluarga dan masyarakat (informal), serta pendidikan di sekolah (formal). Misalnya pemasangan rambu-rambu lalu lintas guna mencegah ketidaktertiban dan kecelakaan di jalan raya.&lt;br /&gt;2) Pengendalian represif, merupakan usaha untuk mengembalikan keserasian, keteraturan, dan keharmonisan yang terganggu akibat adanya pelanggaran norma atau perilaku menyimpang. Jadi, pengendalian ini dilakukan setelah terjadi pelanggaran. Tujuannya adalah untuk menyadarkan pihak yang berperilaku menyimpang tentang akibat dari perbuatannya, sekaligus agar ia mematuhi norma-norma sosial yang berlaku di dalam masyarakat. Misalnya seorang guru yang mencoret pekerjaan (ulangan) salah satu siswanya karena ketahuan menyontek.&lt;br /&gt;3) Pengendalian gabungan, merupakan usaha yang bertujuan untuk mencegah terjadinya penyimpangan (preventif) sekaligus mengembalikan penyimpangan yang tidak sesuai dengan norma sosial (represif). Usaha pengendalian yang memadukan ciri preventif dan represif ini dimaksudkan agar suatu perilaku tidak sampai menyimpang dari norma, dan kalaupun terjadi, penyimpangan itu tidak sampai merugikan orang yang bersangkutan maupun orang lain.&lt;br /&gt;b. Menurut Resmi dan Tidak&lt;br /&gt;Dilihat dari resmi dan tidaknya, kita mengenal pengendalian resmi dan pengendalian tidak resmi.&lt;br /&gt;1) Pengendalian resmi adalah pengawasan yang didasarkan atas penugasan oleh badan-badan resmi. Misalnya pengawasan yang dilakukan oleh sekolah terhadap semua warga sekolah agar perilakunya sesuai dengan peraturan sekolah.&lt;br /&gt;2) Pengendalian tidak resmi adalah pengendalian yang dilakukan sendiri oleh warga masyarakat dan dilaksanakan demi terpeliharanya peraturan-peraturan yang tidak resmi milik masyarakat. Dikatakan tidak resmi karena peraturan itu sendiri tidak dirumuskan dengan jelas dan tidak ditemukan dalam hukum tertulis, tetapi hanya diingatkan oleh warga masyarakat. Contohnya dalam masyarakatmu terdapat kesepakatan pemberlakuan jam malam bagi tamu. Apabila kamu melanggar, maka kamu akan ditegur warga masyarakat yang lain, seperti tetangga atau ketua RT.&lt;br /&gt;c. Menurut Siapa yang Melakukan Pengendalian&lt;br /&gt;Dilihat dari siapa yang melakukan pengendalian, kita mengenal pengendalian institusional dan pengendalian berpribadi.&lt;br /&gt;1) Pengendalian institusional adalah pengaruh yang datang dari suatu pola kebudayaan yang dimiliki lembaga (institusi) tertentu. Pola-pola kelakuan dan kaidah-kaidah lembaga itu tidak saja mengontrol anggota lembaga, tetapi juga warga masyarakat yang berada di luar lembaga itu.&lt;br /&gt;2) Pengendalian berpribadi adalah pengaruh baik atau buruk yang datang dari orang tertentu. Artinya, tokoh yang berpengaruh itu dapat dikenal.&lt;br /&gt;4. Cara Pengendalian Sosial&lt;br /&gt;Proses pengendalian sosial dalam masyarakat agar dapat berjalan dengan lancar, efektif, dan mencapai tujuan yang diinginkan diperlukan cara. Kita mengenal empat cara pengendalian sosial, yaitu dengan menggunakan kekerasan, tanpa menggunakan kekerasan, formal, dan informal.&lt;br /&gt;a. Pengendalian Tanpa Kekerasan (Persuasi)&lt;br /&gt;Pengendalian ini biasanya dilakukan terhadap suatu masyarakat yang relatif hidup dalam keadaan tenteram. Sebagian besar nilai dan norma telah melembaga dan mendarah daging dalam diri warga masyarakat. Pengendalian ini dilakukan dengan pemberian ceramah umum atau keagamaan, pidato-pidato pada acara resmi, dan lain-lain.&lt;br /&gt;b. Pengendalian dengan Kekerasan (Koersi)&lt;br /&gt;Pengendalian ini dilakukan bagi masyarakat yang kurang tenteram atau apabila cara pengendalian tanpa kekerasan tidak berhasil. Misalnya menindak tegas para pengedar, bandar, pemakai narkoba, dan pihak-pihak terkait dengan menjatuhi hukuman penjara. Jenis pengendalian dengan kekerasan ini ada dua, yaitu kompulsi dan pervasi.&lt;br /&gt;1) Kompulsi ( compulsion ) adalah situasi yang diciptakan sedemikian rupa sehingga seseorang terpaksa taat atau mengubah sifatnya dan menghasilkan kepatuhan yang tidak langsung. Misalnya pemberlakuan hukuman penjara untuk mengendalikan perbuatan mencuri.&lt;br /&gt;2) Pervasi ( pervasion ) adalah penanaman norma-norma yang ada secara berulang-ulang dan terus-menerus dengan harapan bahwa hal tersebut dapat meresap ke dalam kesadaran seseorang. Misalnya bahaya narkoba yang dapat disampaikan secara berulang-ulang dan terusmenerus melalui media massa.&lt;br /&gt;c. Pengendalian Formal&lt;br /&gt;Pengendalian secara formal dapat dilakukan melalui hukuman fisik, lembaga pendidikan, dan lembaga keagamaan.&lt;br /&gt;1) Hukuman Fisik&lt;br /&gt;Model pengendalian ini dilakukan oleh lembaga-lembaga resmi yang diakui oleh semua lapisan masyarakat, seperti kepolisian, sekolah, dan yang lainnya. Misalnya menghukum siswa agar berdiri di depan kelas karena tidak mengerjakan tugas atau PR.&lt;br /&gt;2) Lembaga Pendidikan&lt;br /&gt;Pengendalian sosial melalui lembaga pendidikan formal, nonformal, maupun informal mengarahkan perilaku seseorang agar sesuai dengan norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.&lt;br /&gt;3) Lembaga Keagamaan&lt;br /&gt;Setiap agama mengajarkan hal-hal yang baik kepada para penganutnya. Ajaran tersebut terdapat dalam kitab suci masing-masing agama. Pemeluk agama yang taat pada ajaran agamanya akan senantiasa menjadikan ajaran itu sebagai pegangan dan pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku, serta berusaha mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dia juga merasa apabila tingkah lakunya melanggar dari ketentuan-ketentuan ajaran agamanya pasti berdosa.&lt;br /&gt;d. Pengendalian Informal&lt;br /&gt;Pengendalian sosial secara tidak resmi (informal) dapat dilakukan melalui desas-desus, pengucilan, celaan, dan ejekan.&lt;br /&gt;1) Desas-desus (gosip) adalah berita yang menyebar secara cepat dan tidak berdasarkan fakta (kenyataan) atau buktibukti yang kuat. Dengan beredarnya gosip orang-orang yang telah melakukan pelanggaran akan merasa malu dan berusaha untuk memperbaiki perilakunya.&lt;br /&gt;2) Pengucilan adalah suatu tindakan pemutusan hubungan sosial dari sekelompok orang terhadap seorang anggota masyarakat yang telah melakukan pelanggaran terhadap nilai dan norma yang berlaku.&lt;br /&gt;3) Celaan adalah tindakan kritik atau tuduhan terhadap suatu pandangan, sikap, dan perilaku yang tidak sejalan (tidak sesuai) dengan pandangan, sikap, dan perilaku anggota kelompok pada umumnya.&lt;br /&gt;4) Ejekan adalah tindakan membicarakan seseorang dengan menggunakan kata-kata kiasan, perumpamaan, atau kata-kata yang berlebihan serta bermakna negatif. Mungkin juga dengan menggunakan kata-kata yang artinya berlawanan dengan yang dimaksud.&lt;br /&gt;5. Pola Pengendalian Sosial&lt;br /&gt;Di masyarakat, proses pengendalian sosial umumnya dilakukan dengan pola-pola seperti berikut ini.&lt;br /&gt;a. Pengendalian Kelompok terhadap Kelompok&lt;br /&gt;Pengendalian ini terjadi apabila suatu kelompok mengawasi perilaku kelompok yang lain. Misalnya DPR RI dalam acara dengar pendapat dengan Menteri Kehutanan dan staf Departemen Kehutanan, meminta agar pengawasan hutan benar-benar ditingkatkan, sehingga penebangan hutan secara liar tidak terulang kembali. Contoh itu memperlihatkan bahwa pengendalian sosial dari kelompok terhadap kelompok terjadi antara kelompok sebagai suatu kesatuan dan bukan menyangkut pribadipribadi dari anggota kelompok yang bersangkutan.&lt;br /&gt;b. Pengendalian Kelompok terhadap Anggotanya (Individu)&lt;br /&gt;Pengendalian ini terjadi apabila suatu kelompok menentukan perilaku para anggotanya. Misalnya sekolah memberi teguran kepada salah seorang siswa karena telah melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Contoh lainnya adalah Dewan Perwakilan Rakyat yang mengawasi jalannya pemerintahan yang diselenggarakan oleh presiden.&lt;br /&gt;c. Pengendalian Pribadi terhadap Pribadi Lainnya&lt;br /&gt;Pengendalian ini terjadi apabila individu mengadakan pengawasan terhadap individu lainnya. Contoh pengen-dalian sosial ini dapat kamu pahami dalam peristiwa berikut ini. A sebagai individu, menegur B yang merupakan sahabatnya, supaya tidak melakukan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. Dalam peristiwa kecil di atas, A telah melakukan pengendalian sosial. Hal semacam itu juga pasti pernah kamu lakukan ketika teman-temanmu melakukan hal yang tidak semestinya, misalnya mencontek waktu ujian, menggosip, mencuri uang teman, ingin mengonsumsi narkotika, dan berkelahi. Atau sebaliknya kamu sendiri pernah ditegur oleh orang-orang di sekitarmu, seperti teman, Bapak, Ibu, dan guru, ketika kamu melakukan hal-hal&lt;br /&gt;yang tidak semestinya dilakukan.&lt;br /&gt;d. Pengendalian Individu terhadap Kelompok&lt;br /&gt;Pengendalian sosial jenis ini terjadi misalnya, ketika seorang guru sedang mengawasi para siswa yang sedang mengerjakan ujian. Dalam peristiwa itu guru melakukan pengendalian sosial terhadap kelompok (para siswa).&lt;br /&gt;6. Agen (Media) Pengendalian Sosial&lt;br /&gt;Beberapa pranata sosial yang berperan sebagai agen pengendalian sosial di antaranya adalah kepolisian, pengadilan, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, sekolah, keluarga, dan mahasiswa.&lt;br /&gt;a. Kepolisian&lt;br /&gt;Polisi merupakan aparat resmi pemerintah yang bertugas menertibkan keamanan. Secara umum tugas polisi adalah memelihara ketertiban masyarakat serta menangkap dan menahan setiap anggota masyarakat yang dituduh atau dicurigai melakukan kejahatan yang meresahkan masyarakat.&lt;br /&gt;b. Pengadilan&lt;br /&gt;Pengadilan merupakan suatu badan yang dibentuk oleh negara untuk menangani, menyelesaikan, dan mengadili setiap perbuatan yang melanggar hukum. Dalam mengadili&lt;br /&gt;sekaligus memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Unsur-unsur aparat yang berhubungan dengan pengadilan, antara lain hakim, jaksa, polisi, dan pengacara. Dapatkah kamu menyebutkan tugas masing-masing?&lt;br /&gt;c. Tokoh Adat&lt;br /&gt;Kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dan berkembang dalam masyarakat, memiliki nilai dan dijunjung tinggi oleh anggotanya, serta bersifat magis religius mengenai nilai-nilai budaya, norma-norma hukum, dan aturan-aturan yang mengikat disebut adat. Adat biasanya disebut juga sebagai aturan tradisional. Pihak yang berperan menegakkan adat adalah tokoh adat. Peranan tokoh adat sangat penting untuk membina serta mengendalikan sikap dan tingkah laku warga masyarakat agar sesuai dengan ketentuan adat. Bentuk pengendalian sosial ini, antara lain penetapan sanksi berupa denda, pengucilan dari lingkungan adat, atau teguran.&lt;br /&gt;d. Tokoh Agama&lt;br /&gt;Orang yang memiliki pemahaman luas tentang suatu agama dan menjalankan pengaruhnya sesuai dengan pemahaman tersebut dinamakan tokoh agama. Orang yang termasuk tokoh agama adalah pendeta, ulama, biksu, ustadz, pastor, kyai, dan brahmana bagi umat Hindu. Tokoh agama ini sangat berpengaruh di lingkungannya karena nilai-nilai dan norma-norma yang ditanamkannya berkaitan dengan perdamaian, sikap saling mengasihi, saling menghargai, saling mencintai, saling menghormati antarsesama manusia, kebaikan, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;e. Tokoh Masyarakat&lt;br /&gt;Setiap orang yang dianggap berpengaruh dalam kehidupan sosial suatu masyarakat disebut sebagai tokoh masyarakat. Tokoh ini dapat mencakup golongan terpandang atau terkemuka dalam masyarakat, seperti penguasa, cendekiawan, dan ketua adat. Seseorang dianggap 'tokoh' karena mempunyai kelebihan tertentu dan dapat menjadi panutan atau contoh di lingkungan masyarakatnya.&lt;br /&gt;f. Sekolah&lt;br /&gt;Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki peranan dalam pengendalian sosial. Guru-guru senantiasa mendidik dan menegur murid-muridnya agar mau menaati tata tertib yang berlaku di sekolah. Sebaliknya, apabila ada murid yang melanggar, guru memiliki kewajiban untuk memberikan sanksi kepada murid tersebut.&lt;br /&gt;g. Keluarga&lt;br /&gt;Setiap orang tua pasti mengendalikan perilaku anak-anaknya agar sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Caranya dengan mendidik, menasihati, dan turut menyosialisasikan nilai dan norma yang ada.&lt;br /&gt;h. Mahasiswa&lt;br /&gt;Mahasiswa dapat selalu memonitor semua kebijakan pemerintah dan berusaha untuk melakukan counter terhadap kebijakan yang tidak sesuai dengan aspirasi dan kondisi masyarakat. Misalnya dengan melakukan demonstrasi.&lt;br /&gt;7. Fungsi Pengendalian Sosial&lt;br /&gt;Koentjaraningrat mengidentifikasikan fungsi pengendalian sosial sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Mempertebal Keyakinan Masyarakat tentang Kebaikan Norma&lt;br /&gt;Norma diciptakan oleh masyarakat sebagai petunjuk hidup bagi anggotanya dalam bersikap dan bertingkah laku, agar tercipta ketertiban dan keteraturan dalam hidup bermasyarakat. Untuk mempertebal keyakinan ini dapat ditempuh melalui pendidikan di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah. Pendidikan di lingkungan keluarga merupakan cara yang paling pokok untuk meletakkan dasar keyakinan akan norma pada diri anak sejak dini. Selanjutnya, seiring dengan pertambahan usia anak, maka lingkungan sosialisasinya juga semakin luas, sehingga masyarakat dan sekolah juga turut berperan dalam mempertebal keyakinan terhadap norma-norma.&lt;br /&gt;Selain itu juga dapat dilakukan dengan sugesti sosial. Cara ini dilakukan dengan memengaruhi alam pikiran seseorang melalui cerita-cerita, dongeng-dongeng, karya-karya orang besar, atau perjuangan pahlawan. Misalnya cerita mengenai seorang anak yang taat beribadah. Tujuannya memberikan gambaran pada seseorang untuk dapat mengambil hikmah dari hal-hal tersebut.&lt;br /&gt;Cara lainnya adalah dengan menonjolkan kelebihan normanorma pada saat mengenalkan dan menanamkannya pada diri anak. Maksudnya agar anak tertarik untuk mempelajari, menghayati, dan mengamalkan norma-norma itu dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.&lt;br /&gt;b. Memberikan Imbalan kepada Warga yang Menaati Norma&lt;br /&gt;Pemberian imbalan ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat dalam diri orang-orang yang berbuat baik agar mereka tetap melakukan perbuatan yang baik dan menjadi contoh bagi warga lain. Imbalan ini dapat berupa pujian dan penghormatan. Apabila perbuatan tersebut sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial, maka imbalan yang diberikan dapat berupa penghargaan yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;c. Mengembangkan Rasa Malu&lt;br /&gt;Dapat dipastikan bahwa setiap orang mempunyai 'rasa malu'. Terutama apabila telah melakukan kesalahan dengan melanggar norma sosial. Masyarakat yang secara agresif mencela setiap perbuatan yang menyimpang dari norma-norma dengan melemparkan gosip dan gunjingan akan memengaruhi jiwa seseorang yang melakukan penyimpangan tersebut. Sifat demikian menimbulkan kesadaran dalam diri seseorang bahwa perbuatannya mendatangkan malu. Oleh karena itu ia akan menjauhkan diri dari perbuatan menyimpang itu.&lt;br /&gt;d. Mengembangkan Rasa Takut&lt;br /&gt;Rasa takut mengakibatkan seseorang menghindarkan diri dari suatu perbuatan yang dinilai mengandung risiko. Oleh karena itu orang akan berkelakuan baik, taat kepada tata kelakuan atau adat istiadat karena sadar bahwa perbuatan yang menyimpang dari norma-norma akan berakibat tidak baik bagi dirinya maupun orang lain. Rasa takut biasanya muncul dalam diri seseorang karena adanya 'ancaman'. Misalnya, seseorang yang mencuri atau membunuh diancam dengan hukuman penjara. Selain itu, hampir semua agama mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berbuat baik karena perbuatan yang tidak sesuai dengan norma-norma&lt;br /&gt;akan mendapatkan hukuman di akhirat.&lt;br /&gt;e. Menciptakan Sistem Hukum&lt;br /&gt;Setiap negara memiliki sistem hukum yang berisi perintah dan larangan yang dilengkapi dengan sanksi yang tegas. Hukum mengatur semua tindakan setiap warga masyarakatnya, agar tercipta ketertiban dan keamanan.&lt;br /&gt;Di sini, perwujudan pengendalian sosialnya dengan hukuman pidana, kompensasi, terapi, dan konsolidasi.&lt;br /&gt;1) Hukuman pidana, diberlakukan bagi orang-orang yang melanggar peraturan-peraturan negara, seperti membunuh, mencuri, dan merampok.&lt;br /&gt;2) Kompensasi adalah kewajiban pihak yang melakukan kesalahan untuk membayar sejumlah uang kepada pihak yang dirugikan akibat kesalahan tersebut. Misalnya, orang yang mencemarkan nama baik orang lain dapat dituntut di pengadilan dengan ganti rugi berupa sejumlah uang.&lt;br /&gt;3) Terapi adalah inisiatif untuk memperbaiki diri sendiri dengan bantuan pihak-pihak tertentu. Misalnya pengguna narkotika yang masuk ke panti rehabilitasi ketergantungan narkoba.&lt;br /&gt;4) Konsolidasi adalah upaya untuk menyelesaikan dua pihak yang bersengketa, baik secara kompromi maupun dengan mengundang pihak ketiga sebagai penengah (mediator).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-2886121342202547711?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/2886121342202547711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pengendalian-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/2886121342202547711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/2886121342202547711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pengendalian-sosial.html' title='PENGENDALIAN SOSIAL'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-7957740854408262257</id><published>2011-10-11T08:34:00.001-07:00</published><updated>2011-10-11T08:34:43.034-07:00</updated><title type='text'>PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN</title><content type='html'>PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kamu tidak asing lagi dengan istilah kepribadian bukan? Kepribadian dimiliki seseorang melalui sosialisasi sejak ia dilahirkan. Lalu apakah yang kamu ketahui tentang kepribadian?&lt;br /&gt;1. Pengertian Kepribadian&lt;br /&gt;Kepribadian menunjuk pada pengaturan sikap-sikap seseorang untuk berbuat, berpikir, dan merasakan, khususnya apabila dia berhubungan dengan orang lain atau menanggapi suatu keadaan. Kepribadian mencakup kebiasaan, sikap, dan sifat yang dimiliki seseorang apabila berhubungan dengan orang lain. Konsep kepribadian merupakan konsep yang sangat luas, sehingga sulit untuk merumuskan satu definisi yang dapat mencakup keseluruhannya. Oleh karena itu, pengertian dari satu ahli dengan yang lainnya pun juga berbeda-beda. Namun demikian, definisi yang berbeda-beda tersebut saling melengkapi dan memperkaya pemahaman kita tentang konsep kepribadian. Apakah kepribadian itu? Secara umum yang dimaksud kepribadian adalah sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang yang membedakan dengan orang lain. Untuk memahami lebih jauh mengenai pengertian kepribadian, berikut ini definisi yang dipaparkan oleh beberapa ahli.&lt;br /&gt;a. M.A.W. Brower&lt;br /&gt;Kepribadian adalah corak tingkah laku sosial yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini, dan sikap-sikap seseorang.&lt;br /&gt;b. Koentjaraningrat&lt;br /&gt;Kepribadian adalah suatu susunan dari unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau tindakan seseorang.&lt;br /&gt;c. Theodore R. Newcomb&lt;br /&gt;Kepribadian adalah organisasi sikap-sikap yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku.&lt;br /&gt;d. Yinger&lt;br /&gt;Kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi.&lt;br /&gt;e. Roucek dan Warren&lt;br /&gt;Kepribadian adalah organisasi faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari perilaku seseorang. Dari pengertian yang diungkapkan oleh para ahli di atas, dapat kita simpulkan secara sederhana bahwa yang dimaksud kepribadian ( personality ) merupakan ciri-ciri dan sifat-sifat khas yang mewakili sikap atau tabiat seseorang, yang mencakup polapola pemikiran dan perasaan, konsep diri, perangai, dan mentalitas yang umumnya sejalan dengan kebiasaan umum.&lt;br /&gt;2. Unsur-Unsur dalam Kepribadian&lt;br /&gt;Kepribadian seseorang bersifat unik dan tidak ada duanya. Unsur-unsur yang memengaruhi kepribadian seseorang itu adalah pengetahuan, perasaan, dan dorongan naluri.&lt;br /&gt;a. Pengetahuan&lt;br /&gt;Pengetahuan seseorang bersumber dari pola pikir yang rasional, yang berisi fantasi, pemahaman, dan pengalaman mengenai bermacam-macam hal yang diperolehnya dari lingkungan yang ada di sekitarnya. Semua itu direkam dalam otak dan sedikit demi sedikit diungkapkan dalam bentuk perilakunya di masyarakat.&lt;br /&gt;b. Perasaan&lt;br /&gt;Perasaan merupakan suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang menghasilkan penilaian positif atau negatif terhadap sesuatu atau peristiwa tertentu. Perasaan selalu bersifat subjektif, sehingga penilaian seseorang terhadap suatu hal atau kejadian akan berbeda dengan penilaian orang lain. Contohnya penilaian terhadap jam pelajaran yang kosong. Mungkin kamu menganggap sebagai hal yang tidak menyenangkan karena merasa rugi tidak memperoleh pelajaran. Lain halnya dengan penilaian temanmu yang menganggap sebagai hal yang menyenangkan. Perasaan mengisi penuh kesadaran manusia dalam hidupnya.&lt;br /&gt;c. Dorongan Naluri&lt;br /&gt;Dorongan naluri merupakan kemauan yang sudah menjadi naluri setiap manusia. Hal itu dimaksudkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup manusia, baik yang bersifat rohaniah maupun jasmaniah. Sedikitnya ada tujuh macam dorongan naluri, yaitu untuk mempertahankan hidup, seksual, mencari makan, bergaul dan berinteraksi dengan sesama manusia, meniru tingkah laku sesamanya, berbakti, serta keindahan bentuk, warna, suara, dan gerak.&lt;br /&gt;3. Faktor-Faktor yang Membentuk Kepribadian&lt;br /&gt;Secara umum, perkembangan kepribadian dipengaruhi oleh lima faktor, yaitu warisan biologis, warisan lingkungan alam, warisan sosial, pengalaman kelompok manusia, dan pengalaman unik.&lt;br /&gt;a. Warisan Biologis (Heredity)&lt;br /&gt;Warisan biologis memengaruhi kehidupan manusia dan setiap manusia mempunyai warisan biologis yang unik, berbeda dari orang lain. Artinya tidak ada seorang pun di dunia ini yang mempunyai karakteristik fisik yang sama persis dengan orang lain, bahkan anak kembar sekalipun. Faktor keturunan berpengaruh terhadap keramah-tamahan, perilaku kompulsif (terpaksa dilakukan), dan kemudahan dalam membentuk kepemimpinan, pengendalian diri, dorongan hati, sikap, dan minat. Warisan biologis yang terpenting terletak pada perbedaan intelegensi dan kematangan biologis. Keadaan ini membawa pengaruh pada kepribadian seseorang. Tetapi banyak ilmuwan berpendapat bahwa perkembangan potensi warisan biologis dipengaruhi oleh pengalaman sosial seseorang. Bakat memerlukan anjuran, pengajaran, dan latihan untuk mengembangkan diri melalui kehidupan bersama dengan manusia lainnya.&lt;br /&gt;b. Warisan Lingkungan Alam (Natural Environment)&lt;br /&gt;Perbedaan iklim, topografi, dan sumber daya alam menyebabkan manusia harus menyesuaikan diri terhadap alam. Melalui penyesuaian diri itu, dengan sendirinya pola perilaku masyarakat dan kebudayaannyapun dipengaruhi oleh alam. Misalnya orang yang hidup di pinggir pantai dengan mata pencaharian sebagai nelayan mempunyai kepribadian yang berbeda dengan orang yang tinggal di daerah pertanian. Mereka memiliki nada bicara yang lebih keras daripada orang-orang yang tinggal di daerah pertanian, karena harus menyamai dengan debur suara ombak. Hal itu terbawa dalam kehidupan sehari-hari dan telah menjadi kepribadiannya.&lt;br /&gt;c. Warisan Sosial (Social Heritage) atau Kebudayaan&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa antara manusia, alam, dan kebudayaan mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling memengaruhi. Manusia berusaha untuk mengubah alam agar sesuai dengan kebudayaannya guna memenuhi kebutuhan hidup. Misalnya manusia membuka hutan untuk dijadikan lahan pertanian. Sementara itu kebudayaan memberikan andil yang besar dalam memberikan warna kepribadian anggota masyarakatnya.&lt;br /&gt;d. Pengalaman Kelompok Manusia (Group Experiences)&lt;br /&gt;Kehidupan manusia dipengaruhi oleh kelompoknya. Kelompok manusia, sadar atau tidak telah memengaruhi anggota-anggotanya, dan para anggotanya menyesuaikan diri terhadap kelompoknya. Setiap kelompok mewariskan pengalaman khas yang tidak diberikan oleh kelompok lain kepada anggotanya, sehingga timbullah kepribadian khas anggota masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;e. Pengalaman Unik ( Unique Experience )&lt;br /&gt;Setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda dengan orang lain, walaupun orang itu berasal dari keluarga yang sama, dibesarkan dalam kebudayaan yang sama, serta mempunyai lingkungan fisik yang sama pula. Mengapa demikian? Walaupun mereka pernah mendapatkan pengalaman yang serupa dalam beberapa hal, namun berbeda dalam beberapa hal lainnya. Mengingat pengalaman setiap orang adalah unik dan tidak ada pengalaman siapapun yang secara sempurna menyamainya.&lt;br /&gt;Menurut Paul B. Horton, pengalaman tidaklah sekedar bertambah, akan tetapi menyatu. Pengalaman yang telah dilewati memberikan warna tersendiri dalam kepribadian dan menyatu dalam kepribadian itu, setelah itu baru hadir pengalaman berikutnya.&lt;br /&gt;Selain kelima faktor pembentuk kepribadian yang telah kita bahas di atas, F.G. Robbins dalam Sumadi Suryabrata (2003), mengemukakan ada lima faktor yang menjadi dasar kepribadian, yaitu sifat dasar, lingkungan prenatal, perbedaan individual, lingkungan, dan motivasi.&lt;br /&gt;a. Sifat Dasar&lt;br /&gt;Sifat dasar merupakan keseluruhan potensi yang dimiliki seseorang yang diwarisi dari ayah dan ibunya. Dalam hal ini, Robbins lebih menekankan pada sifat biologis yang merupakan salah satu hal yang diwariskan dari orang tua kepada anaknya.&lt;br /&gt;b. Lingkungan Prenatal&lt;br /&gt;Lingkungan prenatal merupakan lingkungan dalam kandungan ibu. Pada periode ini individu mendapatkan pengaruh tidak langsung dari ibu. Maka dari itu, kondisi ibu sangat menentukan kondisi bayi yang ada dalam kandungannya tersebut, baik secara fisik maupun secara psikis. Banyak peristiwa yang sudah ada membuktikan bahwa seorang ibu yang pada waktu mengandung mengalami tekanan psikis yang begitu hebatnya, biasanya pada saat proses kelahiran bayi ada gangguan atau dapat dikatakan tidak lancar.&lt;br /&gt;c. Perbedaan Individual&lt;br /&gt;Perbedaan individu merupakan salah satu faktor yang memengaruhi proses sosialisasi sejak lahir. Anak tumbuh dan berkembang sebagai individu yang unik, berbeda dengan individu lainnya, dan bersikap selektif terhadap pengaruh dari lingkungan.&lt;br /&gt;d. Lingkungan&lt;br /&gt;Lingkungan meliputi segala kondisi yang ada di sekeliling individu yang memengaruhi proses sosialisasinya. Proses sosialisasi individu tersebut akan berpengaruh pada kepribadiannya.&lt;br /&gt;e. Motivasi&lt;br /&gt;Motivasi adalah dorongan-dorongan, baik yang datang dari dalam maupun luar individu sehingga menggerakkan individu untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Dorongandorongan inilah yang akan membentuk kepribadian individu sebagai warna dalam kehidupan bermasyarakat.&lt;br /&gt;4. Teori-Teori Perkembangan Kepribadian&lt;br /&gt;Ada beberapa teori yang membahas mengenai perkembangan kepribadian dalam proses sosialisasi. Teori-teori tersebut antara lain Teori Tabula Rasa, Teori Cermin Diri, Teori Diri Antisosial, Teori Ralph Conton, dan Teori Subkultural Soerjono Soekanto.&lt;br /&gt;a. Teori Tabula Rasa&lt;br /&gt;Pada tahun 1690, John Locke mengemukakan Teori Tabula Rasa dalam bukunya yang berjudul " An Essay Concerning Human Understanding." Menurut teori ini, manusia yang baru lahir seperti batu tulis yang bersih dan akan menjadi seperti apa kepribadian seseorang ditentukan oleh pengalaman yang didapatkannya. Teori ini mengandaikan bahwa semua individu pada waktu lahir mempunyai potensi kepribadian yang sama. Kepribadian seseorang setelah itu semata-mata hasil pengalaman-pengalaman sesudah lahir (Haviland, 1989:398). Perbedaan pengalaman yang dialami seseorang itulah yang menyebabkan adanya bermacam-macam kepribadian dan adanya perbedaan kepribadian antara individu yang satu dengan individu yang lain.&lt;br /&gt;Teori tersebut tidak dapat diterima seluruhnya. Kita tahu bahwa setiap orang memiliki kecenderungan khas sebagai warisan yang dibawanya sejak lahir yang akan memengaruhi kepribadiannya pada waktu dewasa. Akan tetapi juga harus diingat bahwa warisan genetik hanya menentukan potensi kepribadian setiap orang. Tumbuh dan berkembangnya potensi itu tidak seperti garis lurus, namun ada kemungkinan terjadi penyimpangan. Kepribadian seseorang tidak selalu berkembang sesuai dengan potensi yang diwarisinya.&lt;br /&gt;Warisan genetik itu memang memengaruhi kepribadian, tetapi tidak mutlak menentukan sifat kepribadian seseorang. Pengalaman hidup, khususnya pengalaman-pengalaman yang diperoleh pada usia dini, sangat menentukan kepribadian individu.&lt;br /&gt;b. Teori Cermin Diri&lt;br /&gt;Teori Cermin Diri (The Looking Glass Self) ini dikemukakan oleh Charles H. Cooley . Teori ini merupakan gambaran bahwa seseorang hanya bisa berkembang dengan bantuan orang lain. Setiap orang menggambarkan diri mereka sendiri dengan cara bagaimana orang-orang lain memandang mereka. Misalnya ada orang tua dan keluarga yang mengatakan bahwa anak gadisnya cantik. Jika hal itu sering diulang secara konsisten oleh orang-orang yang berbedabeda, akhirnya gadis tersebut akan merasa dan bertindak seperti seorang yang cantik. Teori ini didasarkan pada analogi dengan cara bercermin dan mengumpamakan gambar yang tampak pada cermin tersebut sebagai gambaran diri kita yang terlihat orang lain.&lt;br /&gt;Gambaran diri seseorang tidak selalu berkaitan dengan faktafakta objektif. Misalnya, seorang gadis yang sebenarnya cantik, tetapi tidak pernah merasa yakin bahwa dia cantik, karena mulai dari awal hidupnya selalu diperlakukan orang tuanya sebagai anak yang tidak menarik. Jadi, melalui tanggapan orang lain, seseorang menentukan apakah dia cantik atau jelek, hebat atau bodoh, dermawan atau pelit, dan yang lainnya.&lt;br /&gt;Ada tiga langkah dalam proses pembentukan cermin diri.&lt;br /&gt;1) Imajinasi tentang pandangan orang lain terhadap diri seseorang, seperti bagaimana pakaian atau tingkah lakunya di mata orang lain.&lt;br /&gt;2) Imajinasi terhadap penilaian orang lain tentang apa yang terdapat pada diri masing-masing orang. Misalnya, pakaian yang dipakai.&lt;br /&gt;3) Perasaan seseorang tentang penilaian-penilaian itu, seperti bangga, kecewa, gembira, atau rendah diri.&lt;br /&gt;Meskipun demikian, teori ini memiliki dua kelemahan yang menjadi sorotan banyak pihak. Apa sajakah itu?&lt;br /&gt;Pertama, pandangan Cooley dinilai lebih cocok untuk memahami kelompok tertentu saja di dalam masyarakat yang memang berbeda dengan kelompok-kelompok lainnya. Misalnya anak-anak belasan tahun, memang peka menerima pendapat orang lain tentang dirinya. Sedangkan orang dewasa tidak mengacuhkan atau menghiraukan pandangan orang lain, apabila memang tidak cocok dengan dirinya.&lt;br /&gt;Kedua, teori ini dianggap terlalu sederhana. Cooley tidak menjelaskan tentang suatu kepribadian dewasa yang bisa menilai tingkah laku orang lain dan juga dirinya.&lt;br /&gt;c. Teori Diri Antisosial&lt;br /&gt;Teori ini dikemukakan oleh Sigmund Freud . Dia berpendapat bahwa diri manusia mempunyai tiga bagian, yaitu id, superego, dan ego.&lt;br /&gt;1) Id adalah pusat nafsu serta dorongan yang bersifat naluriah, tidak sosial, rakus, dan antisosial.&lt;br /&gt;2) Ego adalah bagian yang bersifat sadar dan rasional yang mengatur pengendalian superego terhadap id. Ego secara kasar dapat disebut sebagai akal pikiran.&lt;br /&gt;3) Superego adalah kompleks dari cita-cita dan nilai-nilai sosial yang dihayati seseorang serta membentuk hati nurani atau disebut sebagai kesadaran sosial.&lt;br /&gt;Gagasan pokok teori ini adalah bahwa masyarakat atau lingkungan sosial selamanya akan mengalami konflik dengan kedirian dan selamanya menghalangi seseorang untuk mencapai kesenangannya. Masyarakat selalu menghambat pengungkapan agresi, nafsu seksual, dan dorongan-dorongan lainnya atau dengan kata lain, id selalu berperang dengan superego . Id biasanya ditekan tetapi sewaktu-waktu ia akan lepas menantang superego, sehingga menyebabkan beban rasa bersalah yang sulit dipikul oleh diri. Kecemasan yang mencekam diri seseorang itu dapat diukur dengan bertitik tolak pada jauhnya superego berkuasa terhadap id dan ego . Dengan cara demikian, Freud menekankan aspek-aspek tekanan jiwa dan frustasi sebagai akibat hidup berkelompok.&lt;br /&gt;d. Teori Ralph dan Conton&lt;br /&gt;Teori ini mengatakan bahwa setiap kebudayaan menekankan serangkaian pengaruh umum terhadap individu yang tumbuh di bawah kebudayaan itu. Pengaruh-pengaruh ini berbeda antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain, tetapi semuanya merupakan bagian dari pengalaman bagi setiap orang yang termasuk dalam masyarakat tertentu (Horton, 1993:97). Setiap masyarakat akan memberikan pengalaman tertentu yang tidak diberikan oleh masyarakat lain kepada anggotanya. Dari pengalaman sosial itu timbul pembentukan kepribadian yang khas dari masyarakat tersebut. Selanjutnya dari pembentukan kepribadian yang khas ini kita mengenal ciri umum masyarakat tertentu sebagai wujud kepribadian masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;e. Teori Subkultural Soerjono Soekanto&lt;br /&gt;Teori ini mencoba melihat kaitan antara kebudayaan dan kepribadian dalam ruang lingkup yang lebih sempit, yaitu kebudayaan khusus (subcultural). Dia menyebutkan ada beberapa tipe kebudayaan khusus yang memengaruhi kepribadian, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;1) Kebudayaan Khusus Atas Dasar Faktor Kedaerahan&lt;br /&gt;Di sini dijumpai kepribadian yang berbeda dari individuindividu yang merupakan anggota suatu masyarakat tertentu, oleh karena masing-masing tinggal di daerahdaerah yang berlainan dengan kebudayaan khusus yang berbeda pula.&lt;br /&gt;2) Cara Hidup di Kota dan di Desa yang Berbeda&lt;br /&gt;Ciri khas yang dapat dilihat pada anggota masyarakat yang hidup di kota besar adalah sikap individualistik. Sedangkan orang desa lebih menampakkan diri sebagai masyarakat yang mempunyai sikap gotong royong yang sangat tinggi.&lt;br /&gt;3) Kebudayaan Khusus Kelas Sosial&lt;br /&gt;Dalam kenyataan di masyarakat, setiap kelas sosial mengembangkan kebudayaan yang saling berbeda, yang pada akhirnya menghasilkan kepribadian yang berbeda pula pada masing-masing anggotanya. Misalnya kebiasaan orang-orang yang berasal dari kelas atas dalam mengisi waktu liburannya ke luar negeri. Kebiasaan tersebut akan menghasilkan kepribadian yang berbeda dengan kelas sosial lainnya di masyarakat.&lt;br /&gt;4) Kebudayaan Khusus Atas Dasar Agama&lt;br /&gt;Agama juga mempunyai pengaruh yang besar untuk membentuk kepribadian individu. Adanya mazhabmazhab tertentu dalam suatu agama dapat melahirkan kepribadian yang berbeda-beda di kalangan anggotaanggota mazhab yang berlainan itu.&lt;br /&gt;5) Kebudayaan Khusus Atas Dasar Pekerjaan atau Keahlian&lt;br /&gt;Pekerjaan atau keahlian yang dimiliki seseorang juga mempunyai pengaruh terhadap kepribadiannya. Contohnya kepribadian seorang guru pasti berbeda dengan militer. Profesi-profesi tersebut mempunyai cara yang berbeda dalam mendidik anak dan cara bergaul.&lt;br /&gt;5. Tahap-Tahap Perkembangan Kepribadian&lt;br /&gt;Tahap-tahap perkembangan kepribadian setiap individu tidak dapat disamakan satu dengan yang lainnya. Tetapi secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Fase Pertama&lt;br /&gt;Fase pertama dimulai sejak anak berusia satu sampai dua tahun, ketika anak mulai mengenal dirinya sendiri. Pada fase ini, kita dapat membedakan kepribadian seseorang menjadi dua bagian penting, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;1) Bagian yang pertama berisi unsur-unsur dasar atas berbagai sikap yang disebut dengan attitudes yang kurang lebih bersifat permanen dan tidak mudah berubah di kemudian hari. Unsur-unsur itu adalah struktur dasar kepribadian (basic personality structure) dan capital personality . Kedua unsur ini merupakan sifat dasar dari manusia yang telah dimiliki sebagai warisan biologis dari orang tuanya.&lt;br /&gt;2) Bagian kedua berisi unsur-unsur yang terdiri atas keyakinan-keyakinan atau anggapan-anggapan yang lebih fleksibel yang sifatnya mudah berubah atau dapat ditinjau kembali di kemudian hari.&lt;br /&gt;b. Fase Kedua&lt;br /&gt;Fase ini merupakan fase yang sangat efektif dalam membentuk dan mengembangkan bakat-bakat yang ada pada diri seorang anak. Fase ini diawali dari usia dua sampai tiga tahun. Fase ini merupakan fase perkembangan di mana rasa aku yang telah dimiliki seorang anak mulai berkembang karakternya sesuai dengan tipe pergaulan yang ada di lingkungannya, termasuk struktur tata nilai maupun struktur budayanya.&lt;br /&gt;Fase ini berlangsung relatif panjang hingga anak menjelang masa kedewasaannya sampai kepribadian tersebut mulai tampak dengan tipe-tipe perilaku yang khas yang tampak dalam hal-hal berikut ini.&lt;br /&gt;1) Dorongan-Dorongan (Drives)&lt;br /&gt;Unsur ini merupakan pusat dari kehendak manusia untuk melakukan suatu aktivitas yang selanjutnya akan membentuk motif-motif tertentu untuk mewujudkan suatu keinginan. Drivers ini dibedakan atas kehendak dan nafsu-nafsu. Kehendak merupakan dorongan-dorongan yang bersifat kultural, artinya sesuai dengan tingkat peradaban dan tingkat perekonomian seseorang. Sedangkan nafsu-nafsu merupakan kehendak yang terdorong oleh kebutuhan biologis, misalnya nafsu makan, birahi (seksual), amarah, dan yang lainnya.&lt;br /&gt;2) Naluri (Instinct)&lt;br /&gt;Naluri merupakan suatu dorongan yang bersifat kodrati yang melekat dengan hakikat makhluk hidup. Misalnya seorang ibu mempunyai naluri yang kuat untuk mempunyai anak, mengasuh, dan membesarkan hingga dewasa. Naluri ini dapat dilakukan pada setiap makhluk hidup tanpa harus belajar lebih dahulu seolah-olah telah menyatu dengan hakikat makhluk hidup.&lt;br /&gt;3) Getaran Hati (Emosi)&lt;br /&gt;Emosi atau getaran hati merupakan sesuatu yang abstrak yang menjadi sumber perasaan manusia. Emosi dapat menjadi pengukur segala sesuatu yang ada pada jiwa manusia, seperti senang, sedih, indah, serasi, dan yang lainnya.&lt;br /&gt;4) Perangai&lt;br /&gt;Perangai merupakan perwujudan dari perpaduan antara hati dan pikiran manusia yang tampak dari raut muka maupun gerak-gerik seseorang. Perangai ini merupakan salah satu unsur dari kepribadian yang mulai riil, dapat dilihat, dan diidentifikasi oleh orang lain.&lt;br /&gt;5) Inteligensi (Intelligence Quetient-IQ)&lt;br /&gt;Inteligensi adalah tingkat kemampuan berpikir yang dimiliki oleh seseorang. Sesuatu yang termasuk dalam intelegensi adalah IQ, memori-memori pengetahuan, serta pengalaman-pengalaman yang telah diperoleh seseorang selama melakukan sosialisasi.&lt;br /&gt;6) Bakat (Talent)&lt;br /&gt;Bakat pada hakikatnya merupakan sesuatu yang abstrak yang diperoleh seseorang karena warisan biologis yang diturunkan oleh leluhurnya, seperti bakat seni, olahraga, berdagang, berpolitik, dan lainnya. Bakat merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam mengembangkan keterampilan-keterampilan yang ada pada seseorang. Setiap orang memiliki bakat yang berbeda-beda, walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama.&lt;br /&gt;c. Fase Ketiga&lt;br /&gt;Pada proses perkembangan kepribadian seseorang, fase ini merupakan fase terakhir yang ditandai dengan semakin stabilnya perilaku-perilaku yang khas dari orang tersebut.&lt;br /&gt;Pada fase ketiga terjadi perkembangan yang relatif tetap, yaitu dengan terbentuknya perilaku-perilaku yang khas sebagai perwujudan kepribadian yang bersifat abstrak. Setelah kepribadian terbentuk secara permanen, maka dapat diklasifikasikan tiga tipe kepribadian, yaitu kepribadian normatif, kepribadian otoriter, dan kepribadian perbatasan.&lt;br /&gt;1) Kepribadian Normatif ( Normative Man )&lt;br /&gt;Kepribadian ini merupakan tipe kepribadian yang ideal, di mana seseorang mempunyai prinsip-prinsip yang kuat untuk menerapkan nilai-nilai sentral yang ada dalam dirinya sebagai hasil sosialisasi pada masa sebelumnya. Seseorang memiliki kepribadian normatif apabila terjadi proses sosialisasi antara perlakuan terhadap dirinya dan perlakuan terhadap orang lain sesuai dengan tata nilai yang ada di dalam masyarakat. Tipe ini ditandai dengan kemampuan menyesuaikan diri yang sangat tinggi dan dapat menampung banyak aspirasi dari orang lain.&lt;br /&gt;2) Kepribadian Otoriter ( Otoriter Man )&lt;br /&gt;Tipe ini terbentuk melalui proses sosialisasi individu yang lebih mementingkan kepentingan diri sendiri daripada kepentingan orang lain. Situasi ini sering terjadi pada anak tunggal, anak yang sejak kecil mendapat dukungan dan perlindungan yang lebih dari lingkungan orang-orang di sekitarnya, serta anak yang sejak kecil memimpin kelompoknya.&lt;br /&gt;3) Kepribadian Perbatasan ( "text-align: justify;"&gt;Kepribadian ini merupakan tipe kepribadian yang relatif labil di mana ciri khas dari prinsip-prinsip dan perilakunya seringkali mengalami perubahan-perubahan, sehingga seolah-olah seseorang itu mempunyai lebih dari satu corak kepribadian. Seseorang dikatakan memiliki kepribadian perbatasan apabila orang ini memiliki dualisme budaya, misalnya karena proses perkawinan atau karena situasi tertentu hingga mereka harus mengabdi pada dua struktur budaya masyarakat yang berbeda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-7957740854408262257?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/7957740854408262257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pembentukan-kepribadian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/7957740854408262257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/7957740854408262257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pembentukan-kepribadian.html' title='PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-1221117598815684072</id><published>2011-10-11T08:33:00.001-07:00</published><updated>2011-10-11T08:33:57.498-07:00</updated><title type='text'>MASYARAKAT SEBAGAI SISTEM SOSIAL</title><content type='html'>MASYARAKAT SEBAGAI SISTEM SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian-bagian terdahulu, kita sudah menyinggung masyarakat. Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan masyarakat itu? Apakah mereka membentuk sebuah sistem setelah mengadakan proses sosial atau interaksi sosial? Mari kita pelajari dalam bab ini. Kamu tentu tidak asing lagi dengan istilah masyarakat. Setiap hari kamu mendengar, mengucapkan, bahkan hidup atau berkumpul dengan orang lain dalam masyarakat. Nah, sekarang kita akan belajar mengenai kehidupan bermasyarakat.&lt;br /&gt;1. Pengertian Masyarakat&lt;br /&gt;Lingkungan tempat kita tinggal dan melakukan berbagai aktivitas disebut dengan masyarakat. Apakah masyarakat hanya sebatas pada pengertian itu? Tidak. Untuk memahami lebih jauh tentang pengertian masyarakat, sebaiknya kita pahami beberapa definisi menurut pendapat para ahli sosiologi.&lt;br /&gt;a. Emile Durkheim&lt;br /&gt;Masyarakat adalah suatu kenyataan objektif individuindividu yang merupakan anggota-anggotanya.&lt;br /&gt;b. Karl Marx&lt;br /&gt;Masyarakat adalah suatu struktur yang menderita ketegangan organisasi ataupun perkembangan karena adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terpecah-pecah secara ekonomis.&lt;br /&gt;c. Max Weber&lt;br /&gt;Masyarakat adalah suatu struktur atau aksi yang pada pokoknya ditentukan oleh harapan dan nilai-nilai yang dominan pada warganya.&lt;br /&gt;d. Koentjaraningrat&lt;br /&gt;Masyarakat adalah kesatuan hidup dari makhluk-makhluk manusia yang terikat oleh suatu sistem adat istiadat tertentu.&lt;br /&gt;e. Mayor Polak&lt;br /&gt;Masyarakat adalah wadah segenap antarhubungan sosial yang terdiri dari banyak sekali kolektivitas serta kelompok, dan tiap-tiap kelompok terdiri lagi atas kelompok-kelompok yang lebih kecil (subkelompok).&lt;br /&gt;f. Roucek dan Warren&lt;br /&gt;Masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki rasa dan kesadaran bersama, di mana mereka berdiam (bertempat tinggal) dalam daerah yang sama yang sebagian besar atau seluruh warganya memperlihatkan adanya adat istiadat serta aktivitas yang sama pula.&lt;br /&gt;g. Paul B. Horton&lt;br /&gt;Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri, yang hidup bersama-sama cukup lama, yang mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama dan melakukan sebagian besar kegiatan dalam kelompok itu. Pada bagian lain Horton mengemukakan bahwa masyarakat adalah suatu organisasi manusia yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat dapat dibedakan dalam pengertian natural dan kultural.&lt;br /&gt;a. Masyarakat dalam pengertian natural adalah community yang ditandai oleh adanya persamaan tempat tinggal ( the same geographic area ). Misalnya masyarakat Sunda, masyarakat&lt;br /&gt;Jawa, masyarakat Batak, dan sebagainya.&lt;br /&gt;b. Masyarakat dalam pengertian kultural adalah society yang keberadaannya tidak terikat oleh the same geographic area, melainkan hasil dinamika kebudayaan peradaban manusia. Misalnya masyarakat pelajar, masyarakat petani, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Soerjono Soekanto mengemukakan bahwa ciri-ciri suatu masyarakat pada umumnya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Manusia yang hidup bersama, sekurang-kurangnya terdiri atas dua orang.&lt;br /&gt;b. Bercampur atau bergaul dalam waktu yang cukup lama. Berkumpulnya manusia akan menimbulkan manusiamanusia baru. Sebagai akibat hidup bersama itu, timbul sistem komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antarmanusia.&lt;br /&gt;c. Sadar bahwa mereka merupakan satu-kesatuan.&lt;br /&gt;d. Merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena mereka merasa dirinya terikat satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;2. Masyarakat sebagai Suatu Sistem&lt;br /&gt;Sebagai suatu sistem, individu-individu yang terdapat di dalam masyarakat saling berhubungan atau berinteraksi satu sama lain, misalnya dengan melakukan kerja sama guna memenuhi kebutuhan hidup masing-masing.&lt;br /&gt;a. Sistem Sosial&lt;br /&gt;Sistem adalah bagian-bagian yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya, sehingga dapat berfungsi melakukan suatu kerja untuk tujuan tertentu. Sistem sosial itu sendiri adalah suatu sistem yang terdiri dari elemenelemen sosial. Elemen tersebut terdiri atas tindakan-tindakan sosial yang dilakukan individu-individu yang berinteraksi satu dengan yang lainnya. Dalam sistem sosial terdapat individu-individu yang berinteraksi dan bersosialisasi sehingga tercipta hubungan-hubungan sosial. Keseluruhan hubungan sosial tersebut membentuk struktur sosial dalam kelompok maupun masyarakat yang akhirnya akan menentukan corak masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;b. Struktur Sosial&lt;br /&gt;Struktur sosial mencakup susunan status dan peran yang terdapat di dalam satuan sosial, ditambah nilai-nilai dan norma-norma yang mengatur interaksi antarstatus dan antarperan sosial. Di dalam struktur sosial terdapat unsurunsur sosial yang pokok, seperti kaidah-kaidah sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial, dan lapisan-lapisan sosial. Bagaimana sebetulnya unsur-unsur sosial itu terbentuk, berkembang, dan dipelajari oleh individu dalam masyarakat? Melalui proses-proses sosial semua itu dapat dilakukan. Proses sosial itu sendiri merupakan hubungan timbal balik antara bidang-bidang kehidupan dalam masyarakat dengan memahami dan mematuhi norma-norma yang berlaku.&lt;br /&gt;c. Masyarakat sebagai Suatu Sistem&lt;br /&gt;Apabila kita mengikuti pengertian masyarakat baik secara natural maupun kultural, maka akan tampak bahwa keberadaan kedua masyarakat itu merupakan satu-kesatuan. Dengan demikian, kita akan tahu bahwa unsur-unsur yang ada di dalam masyarakat yang masing-masing saling bergantung merupakan satu-kesatuan fungsi. Adanya mekanisme yang saling bergantung, saling fungsional, saling mendukung antara berbagai unsur dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain itulah yang kita sebut sebagai sistem.&lt;br /&gt;Masyarakat sebagai suatu sistem selalu mengalami dinamika yang mengikuti hukum sebab akibat (kausal). Apabila ada perubahan pada salah satu unsur atau aspek, maka unsur yang lain akan menerima konsekuensi atau akibatnya, baik yang positif maupun yang negatif. Oleh karena itu, sosiologi melihat masyarakat atau perubahan masyarakat selalu dalam kerangka sistemik, artinya perubahan yang terjadi di salah satu aspek akan memengaruhi faktor-faktor lain secara menyeluruh dan berjenjang.&lt;br /&gt;Menurut Charles P. Loomis, masyarakat sebagai suatu sistem sosial harus terdiri atas sembilan unsur berikut ini.&lt;br /&gt;1) Kepercayaan dan Pengetahuan&lt;br /&gt;Unsur ini merupakan unsur yang paling penting dalam sistem sosial, karena perilaku anggota dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka yakini dan apa yang mereka ketahui tentang kebenaran, sistem religi, dan cara-cara penyembahan kepada sang pencipta alam semesta.&lt;br /&gt;2) Perasaan&lt;br /&gt;Unsur ini merupakan keadaan jiwa manusia yang berkenaan dengan situasi alam sekitarnya, termasuk di dalamnya sesama manusia. Perasaan terbentuk melalui hubungan yang menghasilkan situasi kejiwaan tertentu yang sampai pada tingkat tertentu harus dikuasai agar tidak terjadi ketegangan jiwa yang berlebihan.&lt;br /&gt;3) Tujuan&lt;br /&gt;Manusia sebagai makhluk sosial dalam setiap tindakannya mempunyai tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Tujuan adalah hasil akhir atas suatu tindakan dan perilaku seseorang yang harus dicapai, baik melalui perubahan maupun dengan cara mempertahankan keadaan yang sudah ada.&lt;br /&gt;4) Kedudukan (Status) dan Peran ( Role )&lt;br /&gt;Kedudukan (status) adalah posisi seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang lain, dalam arti lingkungan pergaulan, prestasi, hak, serta kewajibannya. Kedudukan menentukan peran atau apa yang harus diperbuatnya bagi masyarakat sesuai dengan status yang dimilikinya. Jadi peran ( role ) merupakan pelaksanaan hak dan kewajiban seseorang sehubungan dengan status yang melekat padanya. Contohnya seorang guru (status) mempunyai peranan untuk membimbing, mengarahkan, dan memberikan atau menyampaikan materi pelajaran kepada siswa-siswanya.&lt;br /&gt;5) Kaidah atau Norma&lt;br /&gt;Norma adalah pedoman tentang perilaku yang diharapkan atau pantas menurut kelompok atau masyarakat atau biasa disebut dengan peraturan sosial. Norma sosial merupakan patokan-patokan tingkah laku yang diwajibkan atau dibenarkan dalam situasi-situasi tertentu dan merupakan unsur paling penting untuk meramalkan tindakan manusia dalam sistem sosial. Norma sosial dipelajari dan dikembangkan melalui sosialisasi, sehingga menjadi pranata-pranata sosial yang menyusun sistem itu sendiri.&lt;br /&gt;6) Tingkat atau Pangkat&lt;br /&gt;Pangkat berkaitan dengan posisi atau kedudukan seseorang dalam masyarakat. Seseorang dengan pangkat tertentu berarti mempunyai proporsi hak-hak dan kewajiban-kewajiban tertentu pula. Pangkat diperoleh setelah melalui penilaian terhadap perilaku seseorang yang menyangkut pendidikan, pengalaman, keahlian, pengabdian, kesungguhan, dan ketulusan perbuatan yang dilakukannya.&lt;br /&gt;7) Kekuasaan&lt;br /&gt;Kekuasaan adalah setiap kemampuan untuk memengaruhi pihak-pihak lain. Apabila seseorang diakui oleh masyarakat sekitarnya, maka itulah yang disebut dengan kekuasaan.&lt;br /&gt;Sanksi&lt;br /&gt;Sanksi adalah suatu bentuk imbalan atau balasan yang diberikan kepada seseorang atas perilakunya. Sanksi dapat berupa hadiah ( reward ) dan dapat pula berupa hukuman ( punishment ). Sanksi diberikan atau ditetapkan oleh masyarakat untuk menjaga tingkah laku anggotanya agar sesuai dengan norma-norma yang berlaku.&lt;br /&gt;9) Fasilitas (Sarana)&lt;br /&gt;Fasilitas adalah semua bentuk cara, jalan, metode, dan benda-benda yang digunakan manusia untuk menciptakan tujuan sistem sosial itu sendiri. Dengan demikian fasilitas di sini sama dengan sumber daya material atau kebendaan maupun sumber daya imaterial yang berupa ide atau gagasan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-1221117598815684072?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/1221117598815684072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/masyarakat-sebagai-sistem-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/1221117598815684072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/1221117598815684072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/masyarakat-sebagai-sistem-sosial.html' title='MASYARAKAT SEBAGAI SISTEM SOSIAL'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-1676825010207511018</id><published>2011-10-11T08:32:00.002-07:00</published><updated>2011-10-11T08:33:22.984-07:00</updated><title type='text'>PENGERTIAN PERUBAHAN SOSIAL</title><content type='html'>PENGERTIAN PERUBAHAN SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu tentu selalu ingin mengalami perubahan bukan? Ataukah kamu merasa puas dengan kondisi yang ada seperti saat ini? Perubahan sosial merupakan suatu perwujudan dinamika kehidupan sosial. Maka, tentunya untuk mencapai dinamika kehidupan sosial itu, masyarakat selalu mengalami perubahan.&lt;br /&gt;Di tengah-tengah masyarakat, kelompok-kelompok sosial yang ada bukanlah sesuatu yang statis atau tetap, melainkan selalu mengalami perkembangan sesuai dengan perubahan yang diperlukan oleh kelompok tersebut. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Auguste Comte bahwa sosiologi pada dasarnya mempelajari masyarakat, baik yang bersifat statis maupun dinamis. Perubahan diperlukan karena kelompok sosial tersebut tidak cocok lagi dengan situasi dan kondisi yang ada pada saat itu.&lt;br /&gt;Mengapa terjadi perubahan? Pada dasarnya manusia adalah makhluk dinamis. Manusia tidak pernah merasa puas atau cukup dengan keadaan yang ada sekarang. Melalui interaksinya dengan manusia lain serta alam sekitarnya, manusia menyadari dan menemukan sesuatu yang lain, yang harus dilakukan untuk mengubah dan memperbarui hidupnya. Tentunya disesuaikan dengan perkembangan pola pikir dan kemampuan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;Perubahan merupakan gejala sosial yang dialami oleh setiap masyarakat. Masyarakat memiliki kecenderungan untuk semakin maju dan berkembang, seiring dengan kemajuan pola pikir dan tingkat kemampuannya. Kecenderungan ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini.&lt;br /&gt;1. Rasa tidak puas terhadap keadaan dan situasi yang ada.&lt;br /&gt;2. Timbul keinginan untuk mengadakan perubahan.&lt;br /&gt;3. Sadar akan adanya kekurangan dalam kebudayaan sendiri sehingga berusaha untuk menutupinya dengan mengadakan perbaikan.&lt;br /&gt;4. Adanya usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.&lt;br /&gt;5. Banyaknya kesulitan yang dihadapi memungkinkan manusia berusaha untuk dapat mengatasinya.&lt;br /&gt;6. Tingkat kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dan adanya keinginan untuk meningkatkan taraf hidup.&lt;br /&gt;7. Sikap terbuka dari masyarakat terhadap hal-hal yang baru, baik yang datang dari dalam maupun dari luar masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;8. Sistem pendidikan yang dapat memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia untuk meraih masa depan yang lebih baik.&lt;br /&gt;Perubahan dilakukan oleh manusia menuju ke sebuah keadaan baru yang berbeda dengan keadaan sebelumnya. Perubahan dimaksudkan untuk meningkatkan taraf dan derajat kehidupannya, baik secara moral maupun materiil. Apakah perubahan sosial itu? Berikut ini beberapa ahli sosiologi mengungkapkan definisi perubahan sosial sesuai dengan sudut pandang mereka.&lt;br /&gt;1. Kingsley Davis&lt;br /&gt;Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.&lt;br /&gt;2. Robert Mac Iver&lt;br /&gt;Perubahan sosial adalah perubahan dalam hubungan sosial atau perubahan terhadap keseimbangan hubungan sosial.&lt;br /&gt;3. Samuel Koenig&lt;br /&gt;Perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia.&lt;br /&gt;4. J.P. Gillin dan J.L. Gillin&lt;br /&gt;Perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan materiil, komposisi penduduk, dan ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuanpenemuan baru dalam masyarakat.&lt;br /&gt;5. Hans Garth dan C. Wright Mills&lt;br /&gt;Perubahan sosial adalah apapun yang terjadi (baik itu kemunculan, perkembangan ataupun kemunduran), dalam kurun waktu tertentu terhadap peran, lembaga, atau tatanan yang meliputi struktur sosial.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-1676825010207511018?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/1676825010207511018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pengertian-perubahan-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/1676825010207511018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/1676825010207511018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/pengertian-perubahan-sosial.html' title='PENGERTIAN PERUBAHAN SOSIAL'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-3285772271119285729</id><published>2011-10-11T08:32:00.001-07:00</published><updated>2011-10-11T08:32:48.986-07:00</updated><title type='text'>TEORI-TEORI PERUBAHAN SOSIAL</title><content type='html'>TEORI-TEORI PERUBAHAN SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan terjadinya perubahan-perubahan sosial merupakan gejala yang wajar yang timbul dari pergaulan hidup manusia di dalam masyarakat. Perubahan-perubahan sosial akan terus berlangsung sepanjang masih terjadi interaksi antarmanusia dan antarmasyarakat. Perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat, seperti perubahan dalam unsurunsur geografis, biologis, ekonomis, dan kebudayaan. Perubahan-perubahan tersebut dilakukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang dinamis. Adapun teori-teori yang menjelaskan mengenai perubahan sosial adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Teori Evolusi ( Evolution Theory )&lt;br /&gt;Teori ini pada dasarnya berpijak pada perubahan yang memerlukan proses yang cukup panjang. Dalam proses tersebut, terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Ada bermacam-macam teori tentang evolusi. Teori tersebut digolongkan ke dalam beberapa kategori, yaitu unilinear theories of evolution, universal theories of evolution, dan multilined theories of evolution.&lt;br /&gt;a. Unilinear Theories of Evolution&lt;br /&gt;Teori ini berpendapat bahwa manusia dan masyarakat termasuk kebudayaannya akan mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan-tahapan tertentu dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang kompleks dan akhirnya sempurna. Pelopor teori ini antara lain Auguste Comte dan Herbert Spencer.&lt;br /&gt;b. Universal Theories of Evolution&lt;br /&gt;Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap. Kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi tertentu. Menurut Herbert Spencer, prinsip teori ini adalah bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan dari kelompok homogen menjadi kelompok yang heterogen.&lt;br /&gt;c. Multilined Theories of Evolution&lt;br /&gt;Teori ini lebih menekankan pada penelitian terhadap tahaptahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya mengadakan penelitian tentang perubahan sistem mata pencaharian dari sistem berburu ke sistem pertanian menetap dengan menggunakan pemupukan dan pengairan.&lt;br /&gt;Menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, ada beberapa kelemahan dari Teori Evolusi yang perlu mendapat perhatian, di antaranya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Data yang menunjang penentuan tahapan-tahapan dalam masyarakat menjadi sebuah rangkaian tahapan seringkali tidak cermat.&lt;br /&gt;b. Urut-urutan dalam tahap-tahap perkembangan tidak sepenuhnya tegas, karena ada beberapa kelompok masyarakat yang mampu melampaui tahapan tertentu dan langsung menuju pada tahap berikutnya, dengan kata lain melompati suatu tahapan. Sebaliknya, ada kelompok masyarakat yang justru berjalan mundur, tidak maju seperti yang diinginkan oleh teori ini.&lt;br /&gt;c. Pandangan yang menyatakan bahwa perubahan sosial akan berakhir pada puncaknya, ketika masyarakat telah mencapai kesejahteraan dalam arti yang seluas-luasnya. Pandangan seperti ini perlu ditinjau ulang, karena apabila perubahan memang merupakan sesuatu yang konstan, ini berarti bahwa setiap urutan tahapan perubahan akan mencapai titik akhir.&lt;br /&gt;Padahal perubahan merupakan sesuatu yang bersifat terusmenerus sepanjang manusia melakukan interaksi dan sosialisasi.&lt;br /&gt;2. Teori Konflik ( Conflict Theory )&lt;br /&gt;Menurut pandangan teori ini, pertentangan atau konflik bermula dari pertikaian kelas antara kelompok yang menguasai modal atau pemerintahan dengan kelompok yang tertindas secara materiil, sehingga akan mengarah pada perubahan sosial. Teori ini memiliki prinsip bahwa konflik sosial dan perubahan sosial selalu melekat pada struktur masyarakat.&lt;br /&gt;Teori ini menilai bahwa sesuatu yang konstan atau tetap adalah konflik sosial, bukan perubahan sosial. Karena perubahan hanyalah merupakan akibat dari adanya konflik tersebut. Karena konflik berlangsung terus-menerus, maka perubahan juga akan mengikutinya. Dua tokoh yang pemikirannya menjadi pedoman dalam Teori Konflik ini adalah Karl Marx dan Ralf Dahrendorf.&lt;br /&gt;Secara lebih rinci, pandangan Teori Konflik lebih menitikberatkan pada hal berikut ini.&lt;br /&gt;a. Setiap masyarakat terus-menerus berubah.&lt;br /&gt;b. Setiap komponen masyarakat biasanya menunjang perubahan masyarakat.&lt;br /&gt;c. Setiap masyarakat biasanya berada dalam ketegangan dan konflik.&lt;br /&gt;d. Kestabilan sosial akan tergantung pada tekanan terhadap golongan yang satu oleh golongan yang lainnya.&lt;br /&gt;3. Teori Fungsionalis ( Functionalist Theory )&lt;br /&gt;Konsep yang berkembang dari teori ini adalah cultural lag (kesenjangan budaya). Konsep ini mendukung Teori Fungsionalis untuk menjelaskan bahwa perubahan sosial tidak lepas dari hubungan antara unsur-unsur kebudayaan dalam masyarakat. Menurut teori ini, beberapa unsur kebudayaan bisa saja berubah dengan sangat cepat sementara unsur yang lainnya tidak dapat mengikuti kecepatan perubahan unsur tersebut. Maka, yang terjadi adalah ketertinggalan unsur yang berubah secara perlahan tersebut. Ketertinggalan ini menyebabkan kesenjangan sosial atau cultural lag .&lt;br /&gt;Para penganut Teori Fungsionalis lebih menerima perubahan sosial sebagai sesuatu yang konstan dan tidak memerlukan penjelasan. Perubahan dianggap sebagai suatu hal yang mengacaukan keseimbangan masyarakat. Proses pengacauan ini berhenti pada saat perubahan itu telah diintegrasikan dalam kebudayaan. Apabila perubahan itu ternyata bermanfaat, maka perubahan itu bersifat fungsional dan akhirnya diterima oleh masyarakat, tetapi apabila terbukti disfungsional atau tidak bermanfaat, perubahan akan ditolak. Tokoh dari teori ini adalah William Ogburn.&lt;br /&gt;Secara lebih ringkas, pandangan Teori Fungsionalis adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Setiap masyarakat relatif bersifat stabil.&lt;br /&gt;b. Setiap komponen masyarakat biasanya menunjang kestabilan masyarakat.&lt;br /&gt;c. Setiap masyarakat biasanya relatif terintegrasi.&lt;br /&gt;d. Kestabilan sosial sangat tergantung pada kesepakatan bersama (konsensus) di kalangan anggota kelompok masyarakat.&lt;br /&gt;4. Teori Siklis ( Cyclical Theory )&lt;br /&gt;Teori ini mencoba melihat bahwa suatu perubahan sosial itu tidak dapat dikendalikan sepenuhnya oleh siapapun dan oleh apapun. Karena dalam setiap masyarakat terdapat perputaran atau siklus yang harus diikutinya. Menurut teori ini kebangkitan dan kemunduran suatu kebudayaan atau kehidupan sosial merupakan hal yang wajar dan tidak dapat dihindari.&lt;br /&gt;Sementara itu, beberapa bentuk Teori Siklis adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Teori Oswald Spengler (1880-1936)&lt;br /&gt;Menurut teori ini, pertumbuhan manusia mengalami empat tahapan, yaitu anak-anak, remaja, dewasa, dan tua. Pentahapan tersebut oleh Spengler digunakan untuk menjelaskan perkembangan masyarakat, bahwa setiap peradaban besar mengalami proses kelahiran, pertumbuhan, dan keruntuhan. Proses siklus ini memakan waktu sekitar seribu tahun.&lt;br /&gt;b. Teori Pitirim A. Sorokin (1889-1968)&lt;br /&gt;Sorokin berpandangan bahwa semua peradaban besar berada dalam siklus tiga sistem kebudayaan yang berputar tanpa akhir. Siklus tiga sistem kebudayaan ini adalah kebudayaan ideasional, idealistis, dan sensasi.&lt;br /&gt;1) Kebudayaan ideasional, yaitu kebudayaan yang didasari oleh nilai-nilai dan kepercayaan terhadap kekuatan supranatural.&lt;br /&gt;2) Kebudayaan idealistis, yaitu kebudayaan di mana kepercayaan terhadap unsur adikodrati (supranatural) dan rasionalitas yang berdasarkan fakta bergabung dalam menciptakan masyarakat ideal.&lt;br /&gt;3) Kebudayaan sensasi, yaitu kebudayaan di mana sensasi merupakan tolok ukur dari kenyataan dan tujuan hidup.&lt;br /&gt;c. Teori Arnold Toynbee (1889-1975)&lt;br /&gt;Toynbee menilai bahwa peradaban besar berada dalam siklus kelahiran, pertumbuhan, keruntuhan, dan akhirnya kematian. Beberapa peradaban besar menurut Toynbee telah mengalami kepunahan kecuali peradaban Barat, yang dewasa ini beralih menuju ke tahap kepunahannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-3285772271119285729?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/3285772271119285729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/teori-teori-perubahan-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/3285772271119285729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/3285772271119285729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/teori-teori-perubahan-sosial.html' title='TEORI-TEORI PERUBAHAN SOSIAL'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-14139288236217088</id><published>2011-10-11T08:31:00.002-07:00</published><updated>2011-10-11T08:32:15.096-07:00</updated><title type='text'>FAKTOR PENYEBAB PERUBAHAN SOSIAL</title><content type='html'>FAKTOR PENYEBAB PERUBAHAN SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini perubahan merupakan suatu hal yang tidak bisa dielakkan lagi. Mengapa masyarakat melakukan perubahan? Dapatkah kamu menyebutkan faktor-faktor yang menjadi penyebab perubahan sosial? Soerjono Soekanto menyebutkan adanya faktor-faktor intern dan ekstern yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat.&lt;br /&gt;1. Faktor Intern&lt;br /&gt;Ada beberapa faktor yang bersumber dalam masyarakat itu sendiri yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial, yaitu perubahan penduduk, penemuan-penemuan baru, konflik dalam masyarakat, dan pemberontakan.&lt;br /&gt;a. Perubahan Penduduk&lt;br /&gt;Perubahan penduduk berarti bertambah atau berkurangnya penduduk dalam suatu masyarakat. Hal itu bisa disebabkan oleh adanya kelahiran dan kematian, namun juga bisa karena adanya perpindahan penduduk, baik transmigrasi maupun urbanisasi. Transmigrasi dan urbanisasi dapat mengakibatkan bertambahnya jumlah penduduk daerah yang dituju, serta berkurangnya jumlah penduduk daerah yang ditinggalkan. Akibatnya terjadi perubahan dalam struktur masyarakat, seperti munculnya berbagai profesi dan kelas sosial.&lt;br /&gt;b. Penemuan-Penemuan Baru&lt;br /&gt;Seiring dengan perkembangan zaman, kebutuhan manusia akan barang dan jasa semakin bertambah kompleks. Oleh karena itu berbagai penemuan baru diciptakan oleh manusia untuk membantu atau memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Penemuan baru yang menyebabkan perubahan pada masyarakat meliputi proses discovery, invention, dan inovasi.&lt;br /&gt;1) Discovery , yaitu suatu penemuan unsur kebudayaan baru oleh individu atau kelompok dalam suatu masyarakat. Unsur baru itu dapat berupa alat-alat baru ataupun ideide baru.&lt;br /&gt;2) Invention, yaitu bentuk pengembangan dari suatu discovery, sehingga penemuan baru itu mendapatkan bentuk yang dapat diterapkan atau difungsikan. Discovery baru menjadi invention apabila masyarakat sudah mengakui, menerima, serta menerapkan penemuan baru ini dalam kehidupan nyata di masyarakat.&lt;br /&gt;3) Inovasi atau proses pembaruan, yaitu proses panjang yang meliputi suatu penemuan unsur baru serta jalannya unsur baru dari diterima, dipelajari, dan akhirnya dipakai oleh sebagian besar warga masyarakat.&lt;br /&gt;Suatu penemuan baru, baik kebudayaan rohaniah (imaterial) maupun jasmaniah (material) mempunyai pengaruh bermacam-macam. Biasanya pengaruh itu mempunyai pola sebagai berikut.&lt;br /&gt;1) Suatu penemuan baru menyebabkan perubahan dalam bidang tertentu, namun akibatnya memancar ke bidang lainnya. Contohnya penemuan handphone yang menyebabkan perubahan di bidang komunikasi, interaksi sosial, status sosial, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Suatu penemuan baru menyebabkan perubahan yang menjalar dari satu lembaga ke lembaga yang lain. Contohnya penemuan internet yang membawa akibat pada perubahan terhadap pengetahuan, pola pikir, dan tindakan masyarakat.&lt;br /&gt; 3) Beberapa jenis penemuan baru dapat mengakibatkan satu jenis perubahan. Contohnya penemuan internet, e-mail, televisi, dan radio menyebabkan perubahan pada bidang informasi dan komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Penemuan baru dalam hal kebudayaan rohaniah (ideologi, kepercayaan, sistem hukum, dan sebagainya) berpengaruh terhadap lembaga kemasyarakatan, adat istiadat, maupun pola perilaku sosial. Contohnya pemahaman dan kesadaran akan nasionalisme oleh orangorang Indonesia yang belajar di luar negeri pada awal abad ke-20, mendorong lahirnya gerakan-gerakan yang menginginkan kemerdekaan politik dan lembagalembaga sosial baru yang bersifat nasional.&lt;br /&gt;c. Konflik dalam Masyarakat&lt;br /&gt;Suatu konflik yang kemudian disadari dapat memecahkan ikatan sosial biasanya akan diikuti dengan proses akomodasi yang justru akan menguatkan ikatan sosial tersebut. Apabila demikian, maka biasanya terbentuk keadaan yang berbeda dengan keadaan sebelum terjadi konflik. Contohnya konflik antarteman di sekolah. Konflik dapat merubah kepribadian orang-orang yang terlibat di dalamnya, misalnya jadi murung, pendiam, tidak mau bergaul, dan lain-lain. Namun apabila orang-orang yang terlibat konflik sadar akan hal itu, maka mereka akan berusaha untuk memperbaiki keadaan itu agar lebih baik dari sebelumnya.&lt;br /&gt;d. Pemberontakan (Revolusi) dalam Tubuh Masyarakat&lt;br /&gt;Revolusi di Indonesia pada 17 Agustus 1945 mengubah struktur pemerintahan kolonial menjadi pemerintahan nasional. Hal itu diikuti dengan berbagai perubahan mulai dari lembaga keluarga, sistem sosial, sistem politik, sistem ekonomi, dan sebagainya.&lt;br /&gt;2. Faktor Ekstern&lt;br /&gt;Dengan melakukan interaksi sosial, banyak pengaruhpengaruh dari luar masyarakat kita yang mendorong terjadinya perubahan sosial. Faktor-faktor ekstern yang menyebabkan perubahan sosial adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Faktor Alam yang Ada di Sekitar Masyarakat Berubah&lt;br /&gt;Bagi manusia, alam mempunyai makna yang sangat penting bagi kehidupannya. Misalnya alam mempunyai nilai estetika yang mendorong manusia untuk cinta pada alam, alam sebagai sumber penyediaan bahan-bahan makanan dan pakaian, serta alam menjadi sumber kesehatan, keindahan, dan hiburan atau rekreasi.&lt;br /&gt;Mengingat pentingnya alam bagi kehidupan manusia, maka sudah seharusnyalah kita menjalin keserasian hubungan dengan alam yang ada di sekitar kita agar tetap terjaga kelestariannya. Namun apa yang terjadi? Tidak jarang tindakan manusia justru mengakibatkan munculnya kerusakan alam. Misalnya tindakan manusia menebang hutan secara liar. Tindakan tersebut dapat menimbulkan banjir dan tanah longsor pada musim penghujan karena terjadinya pengikisan tanah oleh air hujan (erosi). Akibatnya banyak masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, keluarga, dan sarana umum lainnya.&lt;br /&gt;b. Peperangan&lt;br /&gt;Peperangan yang terjadi antara negara yang satu dengan negara yang lain dapat menyebabkan terjadinya perubahan yang sangat mendasar, baik seluruh wujud budaya (sistem budaya, sistem sosial, dan unsur-unsur budaya fisik) maupun seluruh unsur budaya (sistem pengetahuan, teknologi, ekonomi, bahasa, kesenian, sistem religi, dan kemasyarakatan). Perubahan-perubahan itu umumnya terjadi pada negara yang kalah perang karena biasanya negara yang menang cenderung untuk memaksakan nilai-nilai, budaya, cara-cara, dan lembaga kemasyarakatannya kepada negara tersebut.&lt;br /&gt;c. Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain&lt;br /&gt;Terjadinya pengaruh kebudayaan masyarakat lain adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;1) Apabila terjadi hubungan primer, maka akan terjadi pengaruh timbal balik. Di samping dipengaruhi, suatu masyarakat akan memengaruhi masyarakat lain.&lt;br /&gt;2) Apabila kontak kebudayaan terjadi melalui sarana komunikasi massa seperti radio, televisi, majalah atau surat kabar. Dalam hal ini pengaruh kebudayaan hanya terjadi sepihak, yaitu pengaruh dari masyarakat yang menguasai sarana komunikasi massa tersebut.&lt;br /&gt;3) Apabila dua masyarakat yang mengalami kontak kebudayaan mempunyai taraf kebudayaan yang sama, terkadang yang terjadi justru cultural animosity, yaitu keadaan di mana dua masyarakat yang meskipun berkebudayaan berbeda dan saling hidup berdampingan itu saling menolak pengaruh kebudayaan satu terhadap yang lain. Biasanya terjadi antara dua masyarakat yang pada masa lalunya mempunyai konflik fisik ataupun nonfisik.&lt;br /&gt;4) Apabila dua kebudayaan bertemu salah satunya mempunyai taraf yang lebih tinggi, maka yang terjadi adalah proses imitasi (peniruan) unsur-unsur kebudayaan masyarakat yang telah maju oleh kebudayaan yang masih rendah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-14139288236217088?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/14139288236217088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/faktor-penyebab-perubahan-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/14139288236217088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/14139288236217088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/faktor-penyebab-perubahan-sosial.html' title='FAKTOR PENYEBAB PERUBAHAN SOSIAL'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-2368727567929648914</id><published>2011-10-11T08:31:00.001-07:00</published><updated>2011-10-11T08:31:35.610-07:00</updated><title type='text'>PROSES PERUBAHAN SOSIAL</title><content type='html'>PROSES PERUBAHAN SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan sosial terjadi pada setiap masyarakat. Bagaimanakah proses terjadinya perubahan sosial? Perubahan sosial dapat terjadi melalui difusi, akulturasi, asimilasi, dan akomodasi.&lt;br /&gt;1. Difusi&lt;br /&gt;Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan (ide-ide, keyakinan, hasil-hasil kebudayaan, dan sebagainya) dari individu kepada individu lain, dari satu golongan ke golongan lain dalam suatu masyarakat atau dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Dari pengertian tersebut dapat dibedakan dua macam difusi, yaitu difusi intramasyarakat dan difusi antarmasyarakat.&lt;br /&gt;a. Difusi intramasyarakat ( intrasociety diffusion ), yaitu difusi unsur kebudayaan antarindividu atau golongan dalam suatu masyarakat. Difusi intramasyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut ini.&lt;br /&gt;1) Adanya suatu pengakuan bahwa unsur baru tersebut mempunyai banyak kegunaan.&lt;br /&gt;2) Ada tidaknya unsur kebudayaan yang memengaruhi diterima atau tidaknya unsur yang lain.&lt;br /&gt;3) Unsur baru yang berlawanan dengan unsur lama kemungkinan besar tidak akan diterima.&lt;br /&gt;4) Kedudukan dan peranan sosial dari individu yang menemukan sesuatu yang baru tadi akan dengan mudah diterima atau tidak.&lt;br /&gt;5) Pemimpin atau penguasa dapat membatasi proses difusi tersebut.&lt;br /&gt;b. Difusi antarmasyarakat ( intersociety diffusion ), yaitu difusi unsur kebudayaan dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Faktor-faktor yang memengaruhi difusi antarmasyarakat adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;1) Adanya kontak antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain.&lt;br /&gt;2) Kemampuan untuk mendemonstrasikan manfaat penemuan baru tersebut.&lt;br /&gt;3) Pengakuan akan kegunaan penemuan baru tersebut.&lt;br /&gt;4) Ada tidaknya unsur kebudayaan lain yang menyaingi unsur penemuan baru tersebut.&lt;br /&gt;5) Peranan masyarakat dalam menyebarkan penemuan baru tersebut.&lt;br /&gt;6) Paksaan untuk menerima unsur baru tersebut.&lt;br /&gt;Mengenai masuknya unsur-unsur baru ke dalam suatu masyarakat dapat terjadi melalui perembesan secara damai, perembesan dengan kekerasan, dan simbiotik.&lt;br /&gt;a. Perembesan damai ( penetration passifique ), yaitu masuknya unsur baru ke dalam suatu masyarakat tanpa kekerasan dan paksaan, namun justru mengakibatkan masyarakat yang menerima semakin maju. Contohnya masuknya internet ke sekolah-sekolah.&lt;br /&gt;b. Perembesan dengan kekerasan ( penetration violente ), yaitu masuknya unsur baru ke dalam suatu masyarakat yang diwarnai dengan kekerasan dan paksaan, sehingga merusak kebudayaan masyarakat penerima. Contohnya masuknya budaya asing pada masa penjajahan kolonial Belanda.&lt;br /&gt;c. Simbiotik, yaitu proses masuknya unsur-unsur kebudayaan ke atau dari dalam masyarakat yang hidup berdampingan. Ada tiga macam proses simbiotik, yaitu mutualistik, komensalistik, dan parasitistik.&lt;br /&gt;1) Mutualistik, yaitu simbiose yang saling menguntungkan&lt;br /&gt;2) Komensalistik, yaitu simbiose di mana satu pihak mendapatkan keuntungan, tetapi pihak lain tidak untung namun juga tidak rugi.&lt;br /&gt;3) Parasitistik, yaitu simbiose di mana satu pihak mendapatkan keuntungan dan pihak lain menderita kerugian.&lt;br /&gt;2. Akulturasi&lt;br /&gt;Akulturasi merupakan proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya, tanpa menghilangkan sifat khas kepribadian kebudayaan asli.&lt;br /&gt;Proses akulturasi dapat berjalan sangat cepat atau lambat tergantung persepsi masyarakat setempat terhadap budaya asing yang masuk. Apabila masuknya melalui proses pemaksaan, maka akulturasi memakan waktu relatif lama. Sebaliknya, apabila masuknya melalui proses damai, akulturasi tersebut akan berlangsung relatif lebih cepat.&lt;br /&gt;3. Asimilasi&lt;br /&gt;Asimilasi adalah proses sosial tingkat lanjut yang timbul apabila terdapat golongan-golongan manusia yang mempunyai latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda, saling berinteraksi dan bergaul secara langsung dan intensif dalam waktu yang lama, dan kebudayaan-kebudayaan golongan-golongan tadi masingmasing berubah sifatnya yang khas menjadi unsur-unsur kebudayaan yang baru, yang berbeda dengan aslinya.&lt;br /&gt;Asimilasi terjadi sebagai usaha untuk mengurangi perbedaan antarindividu atau antarkelompok guna mencapai satu kesepakatan berdasarkan kepentingan dan tujuan-tujuan bersama. Menurut Koentjaraningrat, proses asimilasi akan timbul apabila ada kelompok-kelompok yang berbeda kebudayaan saling berinteraksi secara langsung dan terusmenerus dalam jangka waktu yang lama, sehingga kebudayaan masing-masing kelompok berubah dan saling menyesuaikan diri.&lt;br /&gt;4. Akomodasi&lt;br /&gt;Akomodasi dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang menunjuk terciptanya keseimbangan dalam hubungan-hubungan sosial antarindividu dan kelompok-kelompok sehubungan dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk kepada usaha-usaha manusia untuk meredakan pertentangan-pertentangan atau usaha-usaha untuk mencapai kestabilan interaksi sosial.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-2368727567929648914?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/2368727567929648914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/proses-perubahan-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/2368727567929648914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/2368727567929648914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/proses-perubahan-sosial.html' title='PROSES PERUBAHAN SOSIAL'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-2043092746017654506</id><published>2011-10-11T08:30:00.003-07:00</published><updated>2011-10-11T08:30:59.465-07:00</updated><title type='text'>BENTUK-BENTUK PERUBAHAN SOSIAL</title><content type='html'>BENTUK-BENTUK PERUBAHAN SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya, perubahan sosial dalam masyarakat dapat dibedakan ke dalam beberapa bentuk. Untuk mengetahuinya, mari kita simak bersama uraian berikut ini.&lt;br /&gt;1. Perubahan Lambat (Evolusi)&lt;br /&gt;Perubahan secara lambat atau evolusi memerlukan waktu yang lama. Perubahan ini biasanya merupakan rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat. Pada evolusi, perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa rencana atau kehendak tertentu. Masyarakat hanya berusaha menyesuaikan dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.&lt;br /&gt;2. Perubahan Cepat (Revolusi)&lt;br /&gt;Perubahan yang berlangsung secara cepat dinamakan dengan revolusi. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan terlebih dahulu maupun tanpa direncanakan. Selain itu dapat dijalankan tanpa kekerasan maupun dengan kekerasan. Ukuran kecepatan suatu perubahan sebenarnya relatif karena revolusi pun dapat memakan waktu lama. Perubahan-perubahan tersebut dianggap cepat karena mengubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat, seperti sistem kekeluargaan dan hubungan antarmanusia. Suatu revolusi dapat juga berlangsung dengan didahului suatu pemberontakan.&lt;br /&gt;Secara sosiologis, persyaratan berikut ini harus dipenuhi agar suatu revolusi dapat tercapai.&lt;br /&gt;a. Harus ada keinginan dari masyarakat banyak untuk mengadakan perubahan. Di dalam masyarakat harus ada perasaan tidak puas terhadap keadaan dan harus ada keinginan untuk mencapai keadaan yang lebih baik.&lt;br /&gt;b. Ada seorang pemimpin atau sekelompok orang yang mampu memimpin masyarakat untuk mengadakan perubahan.&lt;br /&gt;c. Pemimpin harus dapat menampung keinginan atau aspirasi dari rakyat untuk kemudian merumuskan aspirasi tersebut menjadi suatu program kerja.&lt;br /&gt;d. Ada tujuan konkret yang dapat dicapai. Artinya, tujuan itu dapat dilihat oleh masyarakat dan dilengkapi oleh suatu ideologi tertentu.&lt;br /&gt;e. Harus ada momentum yang tepat untuk mengadakan revolusi, yaitu saat di mana keadaan sudah tepat dan baik untuk mengadakan suatu gerakan.&lt;br /&gt;3. Perubahan Kecil&lt;br /&gt;Pada zaman dahulu, kaum perempuan di Indonesia setiap harinya mengenakan baju kebaya. Seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan mode, model pakaian yang mereka kenakanpun mengalami perubahan. Ada yang memakai rok panjang, rok mini, celana panjang, kaos, dan lainlain. Contoh tersebut merupakan suatu bentuk perubahan kecil.&lt;br /&gt;Apa yang kamu ketahui mengenai perubahan kecil? Perubahan kecil adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat.&lt;br /&gt;4. Perubahan Besar&lt;br /&gt;Perubahan besar adalah suatu perubahan yang berpengaruh terhadap masyarakat dan lembaga-lembaganya, seperti dalam sistem kerja, sistem hak milik tanah, hubungan kekeluargaan, dan stratifikasi masyarakat. Contohnya kepadatan penduduk di Pulau Jawa telah melahirkan berbagai perubahan, seperti semakin sempitnya lahan, terjadinya banyak pengangguran tersamar di desa-desa, dan lainnya.&lt;br /&gt;5. Perubahan yang Dikehendaki&lt;br /&gt;Perubahan ini merupakan perubahan yang diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan dalam masyarakat. Pihakpihak ini dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat sebagai pemimpin dalam perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan.&lt;br /&gt;Cara-cara untuk memengaruhi masyarakat adalah dengan rekayasa sosial ( social engineering ), yaitu dengan sistem yang teratur dan direncanakan terlebih dahulu. Cara ini sering pula dinamakan perencanaan sosial ( social planning ). Contohnya, lahirnya undang-undang pemilu yang merubah tata cara pemilihan presiden dan wakil presiden di Indonesia. Saat ini rakyat memilihnya secara langsung.&lt;br /&gt;6. Perubahan yang Tidak Dikehendaki&lt;br /&gt;Pada tanggal 27 Mei 2006 di Jogjakarta dan Jawa Tengah diguncang gempa yang mengakibatkan banyak penduduk kehilangan keluarga dan tempat tinggal. Banyak fasilitas umum, seperti jalan, sekolah, dan rumah sakit rusak. Dengan demikian aktivitas masyarakat menjadi lumpuh. Peristiwa yang tidak mereka kehendaki tersebut telah menyebabkan terjadinya perubahan dalam masyarakat. Perubahan itu terjadi di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan tidak bisa diantisipasi atau diprediksi sebelumnya. Dalam sosiologi, perubahan tersebut biasa disebut dengan perubahan yang tidak dikehendaki karena menimbulkan akibatakibat sosial yang tidak diharapkan oleh masyarakat.&lt;br /&gt;7. Perubahan Struktural&lt;br /&gt;Perubahan struktural adalah perubahan yang sangat mendasar yang menyebabkan timbulnya reorganisasi dalam masyarakat. Contohnya perubahan sistem pemerintahan dari monarkhi ke sistem pemerintahan republik.&lt;br /&gt;8. Perubahan Proses&lt;br /&gt;Perubahan proses adalah perubahan yang sifatnya tidak mendasar. Perubahan tersebut hanya merupakan penyempurnaan dari perubahan sebelumnya. Contohnya, perubahan kurikulum dalam pendidikan. Sifatnya menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam perangkat atau dalam pelaksanaan kurikulum sebelumnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-2043092746017654506?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/2043092746017654506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/bentuk-bentuk-perubahan-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/2043092746017654506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/2043092746017654506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/bentuk-bentuk-perubahan-sosial.html' title='BENTUK-BENTUK PERUBAHAN SOSIAL'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-4759654357864201974</id><published>2011-10-11T08:30:00.001-07:00</published><updated>2011-10-11T08:30:26.249-07:00</updated><title type='text'>LEMBAGA SOSIAL</title><content type='html'>LEMBAGA SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I PENGERTIAN &lt;br /&gt;Lembaga Sosial adalah keseluruhan dari sistem norma yang terbentuk berdasarkan tujuan dan fungsi tertentu dalam masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga Sosial berbeda dengan asosiasi. lembaga sosial bukanlah kumpulan orang-orang atau bangunan besar, melainkan kumpulan norma. sementara itu, realisasi dari norma yang dianut dalam lembaga sosial tersebut terjadi dengan adanya asosiasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga Sosial disebut juga Pranata Sosial . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II JENIS-JENIS LEMBAGA SOSIAL &lt;br /&gt;Tipe-tipe Lembaga Sosial adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berdasarkan perkembangannya dalam masyarakat &lt;br /&gt;a. Crescive Institution : Tidak sengaja tumbuh dalam masyarakat melainkan karena adat istiadat masyarakat tertentu. contohnya lembaga perkawinan. &lt;br /&gt;b. Enacted Institution : Sengaja dibentuk dalam masyarakat. contohnya lembaga pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berdasarkan kepentingannya dalam masyarakat &lt;br /&gt;a. Basic Institution : lembaga sosial yang penting keberadaannya dalam masyarakat. contohnya lembaga pendidikan dan lembaga keluarga. &lt;br /&gt;b. Subsidiary Institution : lembaga sosial yang tidak terlalu penting . contohnya rekreasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berdasarkan penerimannya dalam masyarakat &lt;br /&gt;a. Approved/ Sanctioned Institution : diterima masyarakat. contohnya lembaga pendidikan. &lt;br /&gt;b. Unsanctioned Institution : tidak diterima masyarakat. contohnya pelacuran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Berdasarkan popularitasnya &lt;br /&gt;a. General Institution : dikenal dunia secara luas. contohnya lembaga agama. &lt;br /&gt;b. Restricted Institution : dikenal hanya oleh kalangan tertentu saja . contohnya lembaga agama Islam, Kristen, Hindu dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Berdasarkan tujuannya &lt;br /&gt;a. Operative Institution : didirikan untuk tujuan tertentu. contohnya lembaga industri. &lt;br /&gt;b. Regulative Institution : didirikan untuk mengawasi masyarakat. contohnya lembaga hukum dan kejaksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III FUNGSI DAN KOMPONEN LEMBAGA SOSIAL &lt;br /&gt;Lembaga Sosial memiliki dua fungsi, yakni:&lt;br /&gt;a. Fungsi Manifest : fungsi yang diharapkan dari lembaga sosial tersebut.&lt;br /&gt;b. Fungsi Laten : fungsi yang tidak diharapka n dari lembaga sosial tersebut, namun terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga Komponen Pokok Lembaga Sosial :&lt;br /&gt;1. Pedoman sikap &lt;br /&gt;2. Simbol budaya &lt;br /&gt;3. Ideologi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV MACAM-MACAM LEMBAGA SOSIAL &lt;br /&gt;1. Lembaga Keluarga, berfungsi sebagai sarana sosialisasi primer, afeksi, reproduksi, ekonomi, proteksi dan pemberian status.&lt;br /&gt;2. Lembaga Pendidikan, berfungsi sebagai perantara pewarisan budaya masyarakat, mengajarkan peranan sosial, dan mengembangkan hubungan sosial.&lt;br /&gt;3. Lembaga Ekonomi, berfungsi sebagai pengatur produksi, distribusi dan konsumsi barang dan jasa, serta memberi pedoman menggunakan tenaga kerja.&lt;br /&gt;4. Lembaga Politik, berfungsi sebagai pemelihara keamanan dan ketertiban, serta melayani dan melindungi masyarakat.&lt;br /&gt;5. Lembaga Agama, berfungsi sebagai sumber pedoman hidup bagi masyarakat dan pengatur tata cara hubungan manusia dengan sesama dan manusia dengan Tuhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-4759654357864201974?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/4759654357864201974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/lembaga-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/4759654357864201974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/4759654357864201974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/lembaga-sosial.html' title='LEMBAGA SOSIAL'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-5457611258019409994</id><published>2011-10-11T08:24:00.000-07:00</published><updated>2011-10-11T08:25:58.813-07:00</updated><title type='text'>Apakah sosiologi itu?</title><content type='html'>What is Sosiologi ?&lt;br /&gt;By : Y A S N I A R&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Apakah sosiologi itu? bagaimana latar belakang munculnya ? apa manfaat mempelajari ?&lt;br /&gt;Munculnya sosiologi sebagai sebuah ilmu, selain merupakan hasil dari proses empiricall-historis, juga merupakan hasil dari proses perkembangan pemikiran filosofis. Fenomena empiris yang melatarbelakangi situasi sosial-politik di Eropa Barat pada abad ke-15 sampai dengan abad ke-18 sangat mempengaruhi perkembangan sosiologis,disamping munculnya pandangan-pandangan filosofis tentang positivisme, yaitu mencari penjelasan semua gejala alam dan sosial dengan mengacu pada deskripsi dan hukum ilmiah.&lt;br /&gt;Penjelasan yang bersifat historis dan filosofis, mengantarkan pada pemahaman tentang pokok bahasan sosiologi yang membedakan dengan ilmu sosial lainnya, yang akan memberikan jawaban tentang hakekat dari sosiologi. Kompleksitas permasalahan yang mendorong lahirnya pemikiran sosiologi telah memberikan sumbangan yang besar bagi keragaman cara pandang, sehingga sosiologi dinyatakan sebagai ilmu dengan paradigma majemuk (’a multiple paradigm science’).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SEJARAH SOSIOLOGI SEBAGAI SEBUAH ILMU&lt;br /&gt;Menurut Berger dan Berger, pemikiran sosiologi berkembang ketika masyarakat menghadapi ’ancaman terhadap hal yang selama ini dianggap benar dan seharusnya, yang menjadi pegangan manusia’ (threats to the taken-for-granted world). Maksudnya yaitu, suatu keadaan masyarakat dimana tatanan sosial (’social order’) yang diyakini oleh sebagian besar anggota masyarakat terancam oleh berbagai bentuk perubahan.&lt;br /&gt;Sampai abad ke-18 Eropa Barat didominasi oleh sistem feodalisme yang sangat elitis dan mapan. Perkembangan yang terjadi kemudian, mengikuti tumbuhnya kapitalisme pada akhir abad ke-15, adalah munculnya kesadaran bahwa dominasi feodalisme sangat menghambat perkembangan kelompok intelektual serta kelas menengah. Bangkitnya kelas menengah mewarnai sebuah proses perubahan jangka panjang, seperti tumbuhnya kapitalisme,perubahan sosial dan politik, meningkatnya individualisme, serta lahirnya ilmu pengetahuan modern. Dua revolusi penting pada abad ke-18, ialah (1) Revolusi Industri, (2) Revolusi Perancis (Laeyendecker, 1983:11-43).&lt;br /&gt;Gejolak sosial dan politik yang terjadi pada masa itu telah menggoncang masyarakat Eropa, serta menggoyahkan tatanan sosial yang lama mapan. Faktor ini merupakan penyebab utama mengapa pemikiran sosiologi mulai berkembang secara serentak di beberapa negara Eropa (Inggris, Perancis, Jerman), Pada masa inilah peran para tokoh sosiologi klasik berawal. Mendorong para pemikir dan intelektual mencari jawaban yang rasional, serta menemukan formula yang mampu menguraikan semua gejala sosial yang muncul. Lahirlah kemudian pemikiran cemerlang tentang masyarakat, perubahan sosial serta konflik sosial dari tokoh-tokoh seperti, Auguste Comte (1798-1857), Herbert Spencer (1820-1903), Karl Marx (1818-1883), Emile Durkheim (1858-1917) dan Max Weber (1864-1920). Mereka ini kemudian diakui oleh para tokoh sosiologi abad 20 (tokoh sosiologi modern) sebagai perintis awal serta peletak dasar pemikiran sosiologi, sebagai ’the founding fathers’, dan oleh Lewis Coser dianggap sebagai ’masters of sociological thought’, yang memberikan sumbangan penting bagi lahir dan berkembangnya sosiologi sebagai sebuah ilmu.&lt;br /&gt;Nama ”sosiologi” merupakan ciptaan Auguste Comte. Pemikiran filsafat Comte memberikan sumbangan penting bagi sosiologi, dan mendorong perkembangan sosiologi, dalam bukunya : ’Course de Philosophie Positive’.Yang berisi pandangannya mengenai hukum kemajuan manusia dan masyarakat yang melewati tiga tahap. Tahap pertama adalah teologi, yaitu manusia mencoba menjelaskan gejala di sekitarnya dengan mengacu pada hal-hal yang bersifat adikodrati atau supranatural. Tahap kedua adalah metafisika, yaitu manusia mengacu pada kekuatan metafisik atau abstrak. Pada tahap ketiga, tahap positif, yaitu manusia mencari penjelasan gejala alam maupun sosial mangacu pada deskripsi ilmiah.&lt;br /&gt;Karena memperkenalkan metode positif ini maka Comte dikenal sebagai perintis positivisme. Pada pandangan Comte, sosiologi harus merupakan ilmu yang sama ilmiahnya dengan ilmu pengetahuan alam. Dengan kata lain sosiologi harus menjadi sebuah ilmu yang positif. Ciri metode positif mendasarkan pada cara berpikir ilmiah, bahwa obyek yang dikaji harus berupa fakta, dan kajian harus bermanfaat, serta mengarah pada kepastian dan kecermatan. Sarana yang digunakan dalam metode positif adalah :1) pengamatan, 2) perbandingan, 3) eksperimen, 4) metode historis. Penjelasan tentang hubungan antar manusia atau gejala-gejala masyarakat harus melalui rasionalisasi yang positif. Kegiatan kajian sosiologi yang tidak menggunakan metode pengamatan, perbandingan, eksperimen, ataupun historis.&lt;br /&gt;Auguste Comte memang mendapat kehormatan sebagai bapak sosiologi melalui karya filsafat positifnya. Namun demikian, Emile Durkheim menempati posisi penting dalam mengembangkan sosiologi sebagai disiplin yang berdiri sendiri. Peranan Durkheim yang terpenting adalah pada usahanya dalam merumuskan obyek studi sosiologi, dan memberikan rumusan penting dalam metode untuk mendekati dan mengamati obyek studi.&lt;br /&gt;Pandangan Comte yang masih abstrak tentang filsafat positif kemudian diperjelas oleh Durkheim dengan meletakkan sosiologi di atas dunia empiris. Dua karyanya yang besar dan berpengaruh adalah Suicide (1968) dan The Rule of Sociological Method (1965). Suicide adalah hasil karya Durkheim yang didasarkan atas hasil penelitian empiris terhadap gejala bunuh diri sebagai suatu fenomena sosial. Melalui karya ini Durkheim menegaskan bahwa obyek studi sosiologi adalah fakta sosial (social fact), yang untuk memahaminya diperlukan suatu kegiatan penelitian empiris, sama halnya dengan ilmu pengetahuan alam. Sedangkan The Rule of Sociological Method berintikan konsep-konsep dasar tentang metode yang dapat dipakai untuk melakukan penelitian empiris dalam lapangan sosiologi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;POKOK BAHASAN DALAM SOSIOLOGI&lt;br /&gt;Untuk membangun pemahaman tentang ruang lingkup serta pokok bahasan sosiologi. Dengan memahami Istilah sosiologi yang berasal dari kata dalam bahasa Yunani socius (kawan) dan logos (ilmu), lalu dinyatakan bahwa obyek formal sosiologi adalah hubungan antar orang.&lt;br /&gt;Pengertian sosiologi sering juga dikacaukan dengan pekerjaan sosial (social worker). Sebenarnya sosiologi tidak dapat secara langsung menjawab kebutuhan-kebutuhan semacam itu, dalam arti tidak mempersiapkan secara khusus profesi sebagai penyuluh atau counselling, atau membantu memecahkan persoalan pribadi. Namun demikian bukan berarti sosiologi tidak mempunyai kontribusi dalam usaha memecahkan persoalan semacam itu. Sosiologi telah membangun banyak teori yang berpijak pada asumsi-asumsi dasar dan perspektif tertentu, serta memiliki metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan untuk membuat evaluasi, interpretasi dan bahkan juga prediksi.&lt;br /&gt;Perhatian sosiologi terhadap fenomena sosial yang terjadi tidak semata-mata membuat deskripsi, atau merentang perbedaan dan persamaan karakteristik fenomena sosial yang berkembang, akan tetapi juga memperlihatkan tendensi-tendensi atau kecenderungan-kecenderungan yang terjadi. Sosiologi mampu menerangkan dan menafsirkan apa yang ada di balik fenomena sosial tersebut berdasarkan teori atau penelitian, dan tidak memberikan penilaian berdasarkan baik dan buruk pada sebuah tindakan sosial. Sehingga, tindakan sosial tertentu yang bagi orang awam terasa aneh, tidak wajar atau menyimpang, melalui sosiologi dapat menjadi sesuatu yang menarik, dan dapat ditelusuri pangkal-tolak kemunculannya dengan menggunakan berbagai sudut pandang. Hal ini merupakan bukti obyektivitas sosiologi sebagai sebuah ilmu.&lt;br /&gt;Beberapa contoh definisi sosiologi adalah, kajian ilmiah tentang man’s social life (kehidupan sosial), atau tentang human relationships and their consequences (hubungan antar orang dan konsekuensi-konsekuensinya), dan juga tentang social behaviour (tindakan sosial). Tentunya semua definisi ini benar adanya, namun kerapkali dianggap kurang rinci dan masih belum mampu membedakan sosiologi dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Tidak mudahnya menarik definisi sebuah disiplin ilmu kemasyarakatan, dalam hal ini sosiologi, bisa dipahami karena, pertama, apa yang ditangkap dan dikonstruksi oleh seorang ahli tentang disiplin tersebut sangat dipengaruhi oleh kepentingan dan fokus perhatiannya ketika itu; yang kedua, begitu banyaknya faktor yang berperan dan berubah pada masalah sosial yang tumbuh dalam masyarakat sehingga orientasi pokok kajian sebuah disiplin menjadi sulit diselaraskan.&lt;br /&gt;Water dan Crook menyatakan (Sunyoto Usman, 2004:hal 6-7) bahwa : “Sociology is the systematic analysis of the structure of social behaviour” (sosiologi adalah analisis yang sistematis tentang struktur tindakan sosial). Dalam definisi ini terdapat sedikitnya empat elemen penting. Pertama, pokok kajian adalah tindakan sosial, dan bukan tindakan individual. Tindakan sosial berarti tindakan yang diorientasikan pada orang lain, mempunyai konsekuensi bagi orang lain, atau merupakan akibat dari tindakan orang lain (ada hubungan timbal balik). Kedua, tindakan sosial yang dipelajari adalah tindakan yang berstruktur. Struktur disini berarti pola atau regulasi. Oleh karena itu analisis sosiologi dapat mengidentifikasi akar, proses, dan implikasi dari tindakan sosial yang diamati. Dalam konteks ini, sosiologi bukanlah semata-mata memberikan penjelasan deskriptif, tetapi berusaha memahami kaitan antara elemen-elemen tindakan sosial. Ketiga, penjelasan sosiologi bersifat analitis. Ini berarti bahwa dalam menjelaskan tindakan sosial, sosiologi berlandaskan pada prinsip-prinsip teori dan metodologi penelitian tertentu (scientific thought), dan bukan berdasarkan konsensus-konsensus yang hanya berlaku khusus (common sense). Keempat, penjelasan sosiologi adalah sistematis, artinya dalam memahami tindakan sosial sosiologi menempatkan diri sebagai disiplin yang mengikuti aturan-aturan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.&lt;br /&gt;Beberapa diskusi mengenai pokok bahasan sosiologi memberi gambaran bahwa ternyata cakupan dan ruang lingkup perhatian sosiologi cukup luas, meliputi mikrososiologi dan makrososiologi (menurut Inkeles, dalam Kamanto Sunarto:2004,hal.18-21). Mikrososiologi disebut juga sebagai ’the sociology of everyday life situation’, atau sosiologi kehidupan sehari-hari, yang mengkhususkan diri pada fenomena antar individu disaat mereka berinteraksi tatap muka, bertindak dan berkomunikasi. Sedangkan makrososiologi disebut sebagai the ’sociology of social structures’ atau sosiologi struktur sosial, yang mempelajari masyarakat secara keseluruhan serta hubungan antar bagian dalam masyarakat. Dalam hal ini masyarakat dipandang sebagai sesuatu yang melebihi kumpulan individu yang membentuknya. Diantara mikrososiologi dan makrososiologi, ada lingkup pokok bahasan yang disebut mesososiologi yang lebih menekankan pada institusi sosial. Dengan demikian Alex Inkeles menyatakan bahwa sosiologi memiliki tiga pokok bahasan yang khas, yaitu hubungan sosial, institusi, dan masyarakat.&lt;br /&gt;Hubungan antara metode, teori dan paradigma Sosiologi, dapat dilihat dalam tabel berikut ini :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Paradigma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran dasar pokok permasalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Teori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Metode&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Eksemplar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;FAKTA SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyek :&lt;br /&gt;Eksternal&lt;br /&gt;Memaksa&lt;br /&gt;Umum&lt;br /&gt;Riil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STRUKTURAL FUNGSIONAL DAN KONFLIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode Survei dengan Kuesioner dan wawancara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EMILE DURKHEIM :&lt;br /&gt;The Rules of Sociological Method, Suicide&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DEFINISI SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subyek :&lt;br /&gt;internal&lt;br /&gt;bebas&lt;br /&gt;khusus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINDAKAN (Weber, Parsons),&lt;br /&gt;INTERAKSIONISME SIMBOLIK (Weber, Mac Iver, Mead, Cooley, Thomas, Blumer)&lt;br /&gt;SOSIOLOGI FENOMENOLOGI (Weber, Schutz, Garfinkel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamatan, verstehen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAX WEBER : Tindakan Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PERILAKU SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku manusia deterministik : penghargaan dan hukuman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERILAKU (Burgers &amp; Bushell, Homans)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksperimen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.F.SKINNER : Perilaku Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Durkheim membangun konsep fakta sosial yang kemudian diterapkannya dalam mempelajari gejala bunuh diri, dan dimaksudkan untuk memisahkan sosiologi dari arena psikologi dan filsafat. Menurut Durkheim, fakta sosial harus dinyatakan sebagai sesuatu yang berada diluar individu dan bersifat memaksa. Ada dua tipe dasar dari fakta sosial, yakni : struktur sosial dan pranata sosial. Paradigma ini memandang tindakan individu sebagai tindakan yang ditentukan oleh norma-norma, nilai-nilai, serta struktur sosial.&lt;br /&gt;Eksemplar paradigma definisi sosial adalah karya Max Weber tentang ’tindakan sosial’. Weber tertarik pada makna subyektif yang diberikan individu terhadap tindakan mereka, dan tidak tertarik untuk mempelajari fakta sosial yang bersifat makro seperti struktur sosial dan pranata sosial. Bagi Weber yang menjadi pokok persoalan sosiologi adalah proses pendefinisian sosial dan akibat-akibat dari suatu aksi serta interaksi sosial. Paradigma ini secara pasti memandang individu sebagai orang yang aktif menciptakan kehidupan sosialnya sendiri, sementara struktur dan pranata sosial hanya merupakan kerangka tempat proses pendefinisian sosial dan proses interaksi berlangsung.&lt;br /&gt;Paradigma perilaku sosial menetapkan pokok persoalan sosiologi adalah perilaku atau tingkahlaku dan kemungkinan perulangannya, serta memusatkan perhatiannya kepada hubungan saling pengaruh antara individu dan lingkungannya, atau dengan kata lain tingkahlaku individu yang berlangsung dalam hubungannya dengan faktor lingkungan. Pandangan ini lebih mengarahkan pendekatannya pada psikologi, dimana Skinner mencoba menerjemahkan prinsip-prinsip psikologi aliran behaviourisme ke dalam sosiologi. Teori, gagasan, dan praktek yang dilakukannya telah memegang peranan penting dalam pengembangan sosiologi behaviour.&lt;br /&gt;Pengetahuan tentang adanya tiga paradigma ini tidak berkaitan dengan penganutan dalam mempelajari konsep-konsep dan teori-teori sosiologi. Pada kenyataannya, sosiologi modern berkembang melampaui perbedaan-perbedaan ini. Berbagai komponen dalam masing-masing paradigma saling menyesuaikan diri ke arah hubungan yang harmonis. Eksemplar pada suatu paradigma tertentu mendapat pengakuan dari hampir semua orang. Keseluruhan pendekatan teoritis dalam masing-masing paradigma diakui sebagai persamaan yang mendasar, meskipun terdapat perbedaan dalam orientasi teoritis. Metode yang disukai oleh masing-masing paradigma jelas sekali saling terpaut dengan masing-masing paradigma. Menjadi jelas disini bahwa dalam mempelajari sosiologi dan melakukan pendekatan dengan menggunakan konsep-konsep sosiologi, seorang pelajar sosiologi harus memahami benar tentang keragaman konsep yang muncul, serta pendekatan-pendekatan yang nampaknya bertentangan, serta kemungkinan adanya perbedaan paradigma yang mungkin menjadi penyebabnya.&lt;br /&gt;SUMBER BACAAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Johnson, Doyle Paul,1986, Teori Sosiologi Klasik dan Modern, Jakarta : Gramedia&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Laeyendecker,L, 1983, Tata, Perubahan, dan Ketimpangan : Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi, Jakarta : Gramedia&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ritzer, George,1985, Sosiologi - Ilmu Berparadigma Ganda, Jakarta : Rajawali&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sunarto, Kamanto,2004, Pengantar Sosiologi, Jakarta: FEUI&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Usman, Sunyoto, Sosiologi – Sejarah, Teori dan Metodologi,2004, Yogyakarta: CIRED&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Asriwandari,Hesti. 2008,Multi paradigma dalam Sosiologi sebuah penantar, UNRI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-5457611258019409994?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/5457611258019409994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/apakah-sosiologi-itu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/5457611258019409994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/5457611258019409994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/apakah-sosiologi-itu.html' title='Apakah sosiologi itu?'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-2222998017003217032</id><published>2011-10-11T08:07:00.000-07:00</published><updated>2011-10-11T08:08:32.343-07:00</updated><title type='text'>Perubahan sosial</title><content type='html'>Pengertian Perubahan sosial&lt;br /&gt;Perubahan sosial merupakan fenomena yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini dikarenakan setiap manusia mempunyai kepentingan yang tidak terbatas. Untuk mencapainya, manusia melakukan berbagai perubahan-perubahan. Perubahan tidak hanya semata-mata berarti suatu kemajuan, namun dapat pula berarti suatu kemunduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, unsur-unsur kemasyarakatan yang mengalami perubahan antara lain nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku, organisasi sosial, lembaga-lembaga kemasyarakatan, stratifikasi sosial, kekuasaan, tanggung jawab, kepemimpinan, dan sebagainya, kesemua perubahan ini dinamakan perubahan sosial.Beberapa ahli sosial berusaha mendefinisikan pengertian perubahan sosial sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Selo Soemardjan&lt;br /&gt;Perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai, sikap-sikap sosial, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Mac Iver&lt;br /&gt;Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam hubungan (social relation), atau perubahan terhadap keseimbangan hubungan social&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Gillin dan Gillin&lt;br /&gt;Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi sebagai suatu variasi dari cara hidup yang telah diterima karena adanya perubahan kondisi geografi, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi, maupun adanya difusi atau penemuan penemuan baru dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Kingsley David&lt;br /&gt;Perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.William F. Ogburn&lt;br /&gt;Perubahan sosial adalah perubahan yang mencakup unsur-unsur kebudayaan baik material maupun immaterial yang menekankan adanya pengaruh besar dari unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial.&lt;br /&gt;Dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial adalah perubahan yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat yang termasuk perubahan sistem nilai dan norma sosial, sistem pelapisan sosial, struktur sosial, proses-proses sosial, pola dan tindakan sosial warga masyarakat serta lembaga-lembaga kemasyarakatan&lt;br /&gt;Bentuk bentuk perubahan sosial&lt;br /&gt;Perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat dapat dibedakan atas beberapa sudut pandang. Pertama dari sudut pandang waktu berlangsungnya, kedua dari sudut pandang ruang lingkupnya, dan yang terakhir dari sudut pandang kehendak agen perubahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)Berdasarkan proses berlangsungnya&lt;br /&gt;Berdasarkan cepat lambatnya, perubahan sosial dibedakan menjadi dua bentuk umum yaitu perubahan yang berlangsung cepat dan perubahan yang berlangsung lambat. Kedua bentuk perubahan tersebut dalam sosiologi dikenal dengan revolusi dan evolusi.&lt;br /&gt;a.Perubahan Evolusi&lt;br /&gt;Perubahan evolusi adalah perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam proses lambat, dalam waktu yang cukup lama dan tanpa ada kehendak tertentu dari masyarakat yang bersangkutan. Perubahan-perubahan ini berlangsung mengikuti kondisi perkembangan masyarakat, yaitu sejalan dengan usaha-usaha masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dengan kata lain, perubahan sosial terjadi karena dorongan dari usaha-usaha masyarakat guna menyesuaikan diri terhadap kebutuhan-kebutuhan hidupnya dengan perkembangan masyarakat pada waktu tertentu. Contoh, perubahan sosial dari masyarakat berburu menuju ke masyarakat meramu.&lt;br /&gt;Menurut Soerjono Soekanto (1987), terdapat tiga teori yang mengupas tentang evolusi, yaitu:&lt;br /&gt;1) Unilinier Theories of Evolution&lt;br /&gt;Teori ini menyatakan bahwa manusia dan masyarakat mengalami perkembangan sesuai dengan tahap-tahap tertentu, dari yang sederhana menjadi kompleks dan sampai pada tahap yang sempurna.&lt;br /&gt;2) Universal Theory of Evolution&lt;br /&gt;Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap. Menurut teori ini, kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi yang tertentu.&lt;br /&gt;3) Multilined Theories of Evolution&lt;br /&gt;Teori ini menekankan pada penelitian terhadap tahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya, penelitian pada pengaruh perubahan sistem pencaharian dari sistem berburu ke pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Perubahan Revolusi&lt;br /&gt;Perubahan revolusi merupakan perubahan yang berlangsung secara cepat dan tidak ada kehendak atau perencanaan sebelumnya. Secara sosiologis perubahan revolusi diartikan sebagai perubahan-perubahan social mengenai unsur-unsur kehidupan atau lembaga lembaga kemasyarakatan yang berlangsung relative cepat. Dalam revolusi, perubahan dapat terjadi dengan direncanakan atau tidak direncanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi sering kali diawali adanya ketegangan atau konflik dalam tubuh masyarakat yang bersangkutan. Revolusi tidak dapat terjadi di setiap situasi dan kondisi masyarakat. Secara sosiologi, suatu revolusi dapat terjadi harus memenuhi beberapa syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)Ada beberapa keinginan umum mengadakan suatu perubahan.Di dalam masyarakat harus ada perasaan tidak puas terhadap keadaan, dan harus ada suatu keinginan untuk mencapai perbaikan dengan perubahan keadaan tersebut.&lt;br /&gt;2)Adanya seorang pemimpin atau sekelompok orang yang dianggap mampu memimpin masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;3)Pemimpin tersebut dapat menampung keinginan-keinginan tersebut, untuk kemudian merumuskan serta menegaskan rasa tidak puas dari masyarakat, untuk dijadikan program dan arah bagi geraknya masyarakat.&lt;br /&gt;4)Pemimpin tersebut harus dapat menunjukkan suatu tujuan pada masyarakat. Artinya adalah bahwa tujuan tersebut bersifat konkret dan dapat dilihat oleh masyarakat. Selain itu, diperlukan juga suatu tujuan yang abstrak. Misalnya perumusan sesuatu ideologi tersebut.&lt;br /&gt;5)Harus ada momentum untuk revolusi, yaitu suatu saat di mana segala keadaan dan faktor adalah baik sekali untuk memulai dengan gerakan revolusi. Apabila momentum (pemilihan waktu yang tepat) yang dipilih keliru, maka revolusi dapat gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)Berdasarkan ruang lingkupnya&lt;br /&gt;Berdasarkan ruang lingkupnya, perubahan social dibagi menjadi dua, yaitu perubahan social yang berpengaruh besar dan perubahan social yang berpengaruh kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Perubahan Berpengaruh Besar&lt;br /&gt;Suatu perubahan dikatakan berpengaruh besar jika perubahan tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan pada struktur kemasyarakatan, hubungan kerja, sistem mata pencaharian, dan stratifikasi masyarakat.Sebagaimana tampak pada perubahan masyarakat agraris menjadi industrialisasi. Pada perubahan ini memberi pengaruh secara besar-besaran terhadap jumlah kepadatan penduduk di wilayah industri dan mengakibatkan adanya perubahan mata pencaharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Perubahan Berpengaruh Kecil&lt;br /&gt;Perubahan-perubahan berpengaruh kecil merupakan perubahanperubahan yang terjadi pada struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat. Contoh, perubahan mode pakaian dan mode rambut. Perubahan-perubahan tersebut tidak membawa pengaruh yang besar dalam masyarakat karena tidak mengakibatkan perubahan-perubahan pada lembaga kemasyarakatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-2222998017003217032?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/2222998017003217032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/perubahan-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/2222998017003217032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/2222998017003217032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/perubahan-sosial.html' title='Perubahan sosial'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-285723593082301161</id><published>2011-10-11T07:24:00.000-07:00</published><updated>2011-10-11T07:28:40.394-07:00</updated><title type='text'>struktur sosial sebagai konsep</title><content type='html'>Pengertian struktur sosial sebagai konsep adalah kerangka hubungan antar posisi didalam masyarakat yang mana hubungan tersebut sudah dibakukan. Struktur sosial dapat dilihat melalui pola perilaku antar individu atau antar kelompok dalam masyarakat yang berlaku secara berulang. Elemen-elemen struktur sosial yaitu ada hubungan baik antar individu maupun antar kelompok, ada prinsip-prinsip umum, posisi/status dan sifat.  Dalam kehidupan masyarakat, struktur sosial memiliki pokok-pokok yaitu pola perilaku, simbol-simbol yang digunakan, sistem sosial yang digunakan dan wujud fakta empiris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antar posisi yang ada dalam masyarakat tersebut sudah berlaku sejak lama dan sudah menjadi sesuatu yang dianggap oleh masyarakat sebagai prinsip-prinsip umum. Sehingga individu ataupun kelompok yang tidak berperilaku sesuai dengan prinsip itu dianggap tidak lazim, tidak seperti aturan yang lebih bersifat memaksa, prinsip ini tidak memberi sanksi pada orang yang melanggarnya seperti aturan. Prinsip-prinsip umum ini terpengaruh oleh status dan posisi seseorang dalam suatu kelompok, sehingga perilaku orang tersebut diatur sesuai dengan posisi dan status orang tersebut berada. Konsep struktur sosial dapat dilihat pada cara perilaku dua orang atau kelompok yang berbeda status, misalnya dikeraton, cara abdi dalem bersikap kepada raja atau golongan yang lebih tinggi, abdi dalem tersebut menggunakan unggah-ungguh dalam berbicara maupun bersikap. Hal lainnya dalam cara berpakaian dan gelar yang diberikan, ada juga simbol-simbol tertentu yang dipakai guna menunjukan posisi orang tersebut. Dengan demikian struktur sosial tergantung pada hieraki tempat posisi atau status seseorang berada, sehingga struktur sosial menjelaskan hubungan yang berbentuk vertikal bukannya horizontal. Artinya struktur sosial menjelaskan hubungan antara orang yang berada pada posisi/status yang berbeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Majemuk Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia yang merupakan Negara kepulauan dengan kebudayaan yang beragam. Struktur masyarakat Indonesia ditandai dua ciri yang bersifat unik. Secara horizontal, ditandai kenyataan adanya kesatuan sosial berdasarkan perbedaan-perbedaan suku bangsa, agama, adat serta kedaerahan. Sedangkan secara vertical struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertical antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam. Perbedaan-perbedaan yang ada sering disebut sebagai cirri masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk. Masyarakat Indonesia menurut Furnivall adalah suatu masyarakat majemuk (plural society), yakni suatu masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa adanya pembauran satu sama lain didalam suatu kesatuan politik. Dalam masyarakat majemuk terdapat sistem nilai yang dianut oleh berbagai kesatuan sosial yang menjadi bagian-bagiannya sehingga anggota masyarakat kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai keseluruhan, kurang memiliki homogenitas kebudayaan atau kurang memahami satu sama lain. Masyarakat majemuk secara structural memiliki sub-sub kebudayaan yang bersifat diverse, ditandai dengan kurang berkembangnya sistem nilai yang disepakati, sering terjadi konflik-konflik sosial.&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat Indonesia yang pluralistis diantaranya adalah keadaan geografis, letak Indonesia diantara Samudera Pasifik dan Samudera Indonesia dan perbedaan iklim dan struktur tanah.&lt;br /&gt;Piere L Van de Berghe menyebutkan sifat-sifat dasar dari masyarakat majemuk, sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Terjadinya segmentasi kedalam kelompok-kelompok.&lt;br /&gt;2. Memiliki struktur sosial yang terbagi dalam lembaga yang bersifat non komplementer.&lt;br /&gt;3. Kurang mengwmbangkan consensus.&lt;br /&gt;4. Sering terjadi konflik-konflik.&lt;br /&gt;5. Integrasi sosial tumbuh karena paksaan (coercion).&lt;br /&gt;6. Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok yang lain.&lt;br /&gt;Van de Berghe menganggap masyarakat majemuk tidak dapat digolongkan kedalam salah satu jenis masyarakat menurut model analisis Emile Durkheim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan fungsional struktural&lt;br /&gt;Suatu pendekatan yang menganggap bahwa masyarakat pada dasarnya terintegrasi diatas dasar kesepakatan para anggotanya terhadap nilai-nilai kemasyarakatan tertentu. Pendekatan structural fungsional yang dikembangkan oleh Talcot Parsons dapat dikaji sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Masyarakat dilihat sebagai suatu sistem&lt;br /&gt;2. Hubungan pengaruh mempengaruhi diantara bagian-bagian tersebut adalah beersifat ganda dan timbal balik&lt;br /&gt;3.  Sistem sosial cenderung bergerak kea rah equilibrium yang bersifat dinamis&lt;br /&gt;4. Disfungsi, ketegangan-ketegangan dan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi akan teratasi melalui penyesuaian-penyesuaian dan institusionalisasi.&lt;br /&gt;5. Perubahan-perubahan sosial yang terjadi pada umumnya terjadi secara gradual&lt;br /&gt;6. Perubahan sosial yang terjadi melalui : penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan oleh sistem sosial terhadap perubahan yang dating dari luar (extra systemic change), pertumbuhan melalui proses diferensiasi structural dan fungsional dan penemuan-penemuan baru oleh anggota-anggota masyarakat.&lt;br /&gt;7. Daya pengintegrasi suatu sistem sosial adalah konsensus diantara para anggota masyarakat mengenai nilai-nilai kemasyarakatan tertentu.&lt;br /&gt;Pendekatan fungsionalisme struktural terlalu menekankan anggapan-anggapam dasarnya pada peranan unsur-unsur normatif dari tingkah laku, khususnya pada proses-proses dengan hasrat-hasrat perseorangan diatur secara normatif untuk menjamin terjadinya stabilitas sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan konflik&lt;br /&gt;Anggapan-anggapan dasar pendekatan konflik sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Setiap masyarakat berada dalam proses perubahan yang tidak pernah berakhir.&lt;br /&gt;2. Setiap masyarakat mengandung konfik-konflik didalam dirinya.&lt;br /&gt;3. Setiap unsur dalam masyarakat memberikan sumbangan bagi terjadinya disentegrasi dan perubahan-perubahan sosial.&lt;br /&gt;4. Setiap masyarakat terintegrasi diatas penguasa atau dominasi oleh sejumlah orang atas sejumlah orang-orang lainnya.&lt;br /&gt;Suatu sistem sosial seringkali mampu melakukan penyesuaian terhadap perubahan-perubahan yang datang dari luar, tetapi suatu sitem sosial dapat juga menolak perubahan tersebut baik dengan cara tetap memelihara status quo atau dengan cara melakukan perubahan yang reaksioner. Keadaan ini dapat mengakibatkan disfungsional, hal yang mengakibatkan ketegangan sosial. Apabila faktor dari luar cukup kuat mempengaruhi bagian-bagian tersebut diatas tanpa diikuti oleh penyesuaian-penyesuaian dari bagian yang lain maka disfungsi dan ketegangan tersebut akan berkembang secara kumulatif dan terjadinya perubahan sisial yang bersifat revolusioner.&lt;br /&gt;Menurut penganut pendekatan konflik, perubahan sosial tidak saja dipandang sebagai gejala yang melekat dalam kehidupan masyarakat tetapi malah dianggap bersumber di dalam faktor-faktor yang ada dalam masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan :&lt;br /&gt;Integrasi Masyarakat Indonesia Yang Majemuk&lt;br /&gt;Masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku bangsa, agama dan kebudayaan telah mengindikasikan bahwa masyarakat Indonesia bersifat majemuk. Perbedaaan-perbedaan yang ada merupakan kekayaan nasional yang semakin memperkaya kebudayaan Indonesia. Disamping itu strukur masyaraat Indonesia yang plural juga menimbulkan persoalan tentang bagaimana masyarakat Indonesia dapat terintegrasi secara nasional.&lt;br /&gt;Menurut penganut pandangan fungsionalisme struktural bahwa untuk mengintegrasikan masyakat yang majemuk dibutuhkan faktor yang disepakati bersama atau consensus nasional. Sedangkan Parsons mengemukakan bahwa kelangsungan hidup masyarakat Indonesia tidak hanya menuntut pada konsensus masyarakat Indonesia tersebut harus benar-benar dihayati melalui proses sosialisasi. Masyarakat Indonesia sepakat bahwa secara yuridis formal, Pancasila sebagai dasar falsafah Negara merupakan salah satu konsensus yang disepakati. Selanjutnya masyarakat Indonesia setuju tentang Bhineka Tunggal Ika karena mereka menyadari bahwa Indonesia memiliki beragam suku, agama dan kebudayaan yang bersatu dalam NKRI. Lalu prinsip Pancasila diturunkan dalam bentuk norma hukum berupa UUD 1945 dan berbagai Perpu.&lt;br /&gt;Kemejemukan masyarakat Indonesia dilain sisi juga menimbulkan ancaman terhadap kesatuan bangsa. Konflik-konflik sosial yang muncul lebih disebabkan karena sentiment keagamaan dan sentiment kesukuan, misalnya kasus yang terjadi di Ambon. Dalam penyelesaiannya diperlukan peranan pemerintah dalam hal ini sebagai wasit sehingga integrasi yang tumbuh diatas landasan coercion (paksaan). Dilain pihak integrasi timbul karena kesepakatan terhadap nilai-nilai yang fundamental, misalnya Pancasila, bhineka tunggal ika, UUD 1945 dan sebagainya.&lt;br /&gt;Struktur sosial adalah suatu bangunan sosial yang terdiri dari berbagai unsur pembentuk masyarakat. Unsur-unsur tersebut saling berhubungan satu dengan yang lain dan fungsional. Artinya kalau terjadi perubahan salah satu unsur, unsur yang lain akan mengalami perubahan juga. Unsur pembentuk masyarakat dapat berupa manusia atau individu yang ada sebagai anggota masyarakat, tempat tinggal atau suatu lingkungan kawasan yang menjadi tempat dimana masyarakat itu berada dan juga kebudayaan serta nilai dan norma yang mengatur kehidupan bersama tersebut. Tiap unsur tersebut akan membentuk sistem atau pola hubungan yang menjadi roh dari struktur tersebut sekaligus menunjukan dinamika sosial yang terjadi didalamnya. Hubungan antar individu menghasilakan pola-pola hubungan yang ada, dalam bentuk status dan peran masing-masing. Hubungan anatara individu dan kelompok akan memunculkan proses sosialisasi dan juga pola interaksi yang ada. Sementara hubungan antara manusia dengan lingkungannya akan menimbulkan kebudayaan baik yang bersifat material maupun kebudayaan material. Pola hubungan-hubungan yang terjdi dari berbagai unsure kehidupan masyarakat ini akan menjadi ciri dari masyarakat mereka sendiri yang mungkin berbeda dengan masyarakat lainnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-285723593082301161?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/285723593082301161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/struktur-sosial-sebagai-konsep.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/285723593082301161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/285723593082301161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/struktur-sosial-sebagai-konsep.html' title='struktur sosial sebagai konsep'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-8457620555316422743</id><published>2011-10-11T07:17:00.000-07:00</published><updated>2011-10-11T07:19:31.291-07:00</updated><title type='text'>Interaksi sosial</title><content type='html'>Pengertian Interaksi&lt;br /&gt;Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh karena tanpa interaksi, tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Bertemunya orang perorangan secara badaniah belaka tidak akan menghasilakn pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. Pergaulan hidup semacam itu akan baru akan terjadi apabila orang-orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia bekerja sama, saling berbicara, dan seterusnya untuk mencapai tujuan bersama, atau persaingan, pertikaian dan lain sebagainya. Maka dapat dikatakan bahwa interaksi sosial adalah dasar proses sosial, pengertian mana menunjukkan pada hubungan sosial yang dinamis.[1]&lt;br /&gt;Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu. Dalam interaksi juga terdapat simbol, di mana simbol diartikan sebagai sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh mereka yang menggunakannya.&lt;br /&gt;Interaksi sosial Sebagai Faktor Utama Dalam Kehidupan Sosial&lt;br /&gt;Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial (yang juga dapat dinamakan proses sosial), oleh karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Bentuk lain dari proses sosial hanya merupakan bentuk-bentuk khusus dari interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan dengan kelompok manusia. Apabila dua orang bertemu, interaksi sosial dimulai pada saat itu. Mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara atau bahkan mungkin saling berkelahi. Aktivitas-aktivitas semacam itu merupakan bentuk-bentuk interaksi sosial. Walaupun orang-orang yang bertemu muka tersebut tidak saling berbicara atau tidak saling menukar tanda-tanda, interaksi sosial telah terjadi oleh karena masing-masing sadar akan adanya fihak lain yang menyebabkan perubahan-perubahan dalam perasaan maupun syaraf orang-orang yang bersangkutan, kesemuanya itu menimbulkan kesan di dalam fikiran seseorang, yang kemudian menentukan tindakan apa yang akan dilakukannya.&lt;br /&gt;Interaksi sosial tak akan mungkin terjadi apabila apabila manusia mengadakan hubungan yang langsung dengan sesuatu yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap sistem syarafnya, sebagai akibat hubungan termaksud.&lt;br /&gt;Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada berbagai faktor diantaranya, faktor imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati. Faktor-faktor tersebut dapat bergerak terpisah maupun dalam keadaan tergabung. Maka faktor imitasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses interaksi sosial. Salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat mendorong seseorang mematuhi kaidah-kaida dan nilai-nilai yang berlaku. Namun demikian, imitasi mungkin pula mengakibatkan terjadinya hal-hal yang negatif dimana misalnya, yang ditiru adalah tindakan yang menyimpang. Kecuali hal itu, imitasi juga dapat melemahkan pengembangan daya kreasi  seseorang.&lt;br /&gt;Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi sesuatu pandangan atau sesuatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain. Berlangsungnya sugesti dapat terjadi karena pihak yang menerima sugesti dilanda oleh emosi, hal mana menghambat daya berfikir rasionalnya.&lt;br /&gt;Mungkin proses sugesti berlangsung apabilaorang yang memberikan pandangan adalah orang yang berwibawa atau mungkin pula sifatnya otoriter. Kiranya mungkin pula bahwa sugesti terjadi oleh sebab yang memberikan pandangan merupakan bagian terbesar dari kelompok yang bersangkutan, atau masyarakat.&lt;br /&gt;Identifikasi sebenarnya merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi sifatnya lebih dalam daripada imitasi, oleh karena kepribadian dapat terbentuk atas dasar proses ini. Proses identifikasi dapat berlangsung dengan sendirinya, maupun dengan disengaja oleh karena seringkali seseorang memerlukan tipe-tipe ideal tertentu di dalam proses kehidupannya. Walaupun dapat berlangsung dengan sendirinya, proses identifikasi berlangsung dalam keadaan di mana seseorang yang beridentifikasi benar-benar mengenal fisik lain (yang menjadi idealnya), sehingga pandangan,  sikap maupun kaidah-kaidah yang berlaku pad pihak lain tadi dapat melembaga dan bahkan menjiwainya. Bahwa berlangsungnya identifikasi mengakibatkan terjadinya pengaruh-pengaruh yang lebih mendalam ketimbang proses imitasi dan sugesti walaupun ada kemungkinan bahwa pada mulanya proses identifikasi diawali oleh imitasi dan atas sugesti.&lt;br /&gt;Proses simpati sebenarnya merupakan suatu proses di mana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Di dalam proses ini perasaan memegang peranan yang sangat penting, walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerjasama dengannya.&lt;br /&gt;Syarat-syarat Terjadinya Interaksi Sosial&lt;br /&gt;Suatu interaksi sosial tidak akan mungkin tejadi apabila tida memenuhi syarat, yaitu:[2]&lt;br /&gt;1. Kontak sosial,&lt;br /&gt;2. adanya komunikasi.&lt;br /&gt;Kontak sosial dapat diartikan bila individu satu dengan individu lainnya melakukan kontak atau hubungan fisik seperti menyentuh, atau melakukan hubungan dengan pihak lain dengan tanpa menyentuh seperti berbicara dengan pihak lain. Dengan perkembangan teknologi orang-orang dapat berhubungan satu dengan yang lain melaui telepon, telegrap, radio, surat dan seterusnya, yang tidak memerlukan hubungan badaniah atau bertemu langsung. Bahkan hubungan badaniah tidak perlu menjadi syarat utama kontak sosial.[3]&lt;br /&gt;Suatu kontak dapat pula bersifat primer atau sekunder. Kontak primer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan langsung, seperti orang yang berjabat tangan, saling menyapa dan seterusnya. Sebalikny kontak sekunder memerlukan suatu perantara. Misalnya A berkata kepada B, bahwa C mengagumi permainanya sebagai salah satu pemegang peranan utama salah satu sandiwara. A sama sekali tidak bertemu dengan C, akan tetapi telah terjadi kontak antara mereka, oleh karena masing-masing memberi tanggapan, walau melalui perantara B.&lt;br /&gt;Kontak yang bersifat sekunder dibagi menjadi sekunder langsung dan sekunder tak langsung. Hubungan sekunder tersebut apabila dilakukan menggunakan alat misalnya telepon, telegrap, radio, dan seterusnya. Dalam A menghubungi B, maka terjadi kontak sekunder langsung, akan tetapi bila A meminta tolong kepada B supaya diperkenalkan dengan gadis C, maka kontak tersebut bersifat tak langsung.&lt;br /&gt;Arti terpenting dari komunilaksi adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain ( yang berupa pembicaraan, gerak-gerak badaniah atau sikap), perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang tersebut kemudian memberikan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut.&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk Interaksi Sosial&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk interaksi sosial yang berkaitan dengan proses asosiatif dapat terbagi atas bentuk kerja sama, akomodasi, dan asimilasi. Kerja sama merupakan suatu usaha bersama individu dengan individu atau kelompok-kelompok untuk mencapai satu atau beberapa tujuan. Akomodasi dapat diartikan sebagai suatu keadaan, di mana terjadi keseimbangan dalam interaksi antara individu-individu atau kelompok-kelompok manusia berkaitan dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Usaha-usaha itu dilakukan untuk mencapai suatu kestabilan. Sedangkan Asimilasi merupakan suatu proses di mana pihak-pihak yang berinteraksi mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan-kepentingan serta tujuan-tujuan kelompok.&lt;br /&gt;Bentuk interaksi yang berkaitan dengan proses disosiatif ini dapat terbagi atas bentuk persaingan, kontravensi, dan pertentangan. Persaingan merupakan suatu proses sosial, di mana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing, mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan. Bentuk kontravensi merupakan bentuk interaksi sosial yang sifatnya berada antara persaingan dan pertentangan. Sedangkan pertentangan merupakan suatu proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Interaksi Sosial&lt;br /&gt;Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu. Dalam interaksi juga terdapat simbol, di mana simbol diartikan sebagai sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh mereka yang menggunakannya.&lt;br /&gt;Proses Interaksi sosial menurut Herbert Blumer adalah pada saat manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki sesuatu tersebut bagi manusia. Kemudian makna yang dimiliki sesuatu itu berasal dari interaksi antara seseorang dengan sesamanya. Dan terakhir adalah Makna tidak bersifat tetap namun dapat dirubah, perubahan terhadap makna dapat terjadi melalui proses penafsiran yang dilakukan orang ketika menjumpai sesuatu. Proses tersebut disebut juga dengan interpretative process&lt;br /&gt;Interaksi sosial dapat terjadi bila antara dua individu atau kelompok terdapat kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial merupakan tahap pertama dari terjadinya hubungan sosial Komunikasi merupakan penyampaian suatu informasi dan pemberian tafsiran dan reaksi terhadap informasi yang disampaikan. Karp dan Yoels menunjukkan beberapa hal yang dapat menjadi sumber informasi bagi dimulainya komunikasi atau interaksi sosial. Sumber Informasi tersebut dapat terbagi dua, yaitu Ciri Fisik dan Penampilan. Ciri Fisik, adalah segala sesuatu yang dimiliki seorang individu sejak lahir yang meliputi jenis kelamin, usia, dan ras. Penampilan di sini dapat meliputi daya tarik fisik, bentuk tubuh, penampilan berbusana, dan wacana.&lt;br /&gt;Interaksi sosial memiliki aturan, dan aturan itu dapat dilihat melalui dimensi ruang dan dimensi waktu dari Robert T Hall dan Definisi Situasi dari W.I. Thomas. Hall membagi ruangan dalam interaksi sosial menjadi 4 batasan jarak, yaitu jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, dan jarak publik. Selain aturan mengenai ruang, Hall juga menjelaskan aturan mengenai Waktu. Pada dimensi waktu ini terlihat adanya batasan toleransi waktu yang dapat mempengaruhi bentuk interaksi. Aturan yang terakhir adalah dimensi situasi yang dikemukakan oleh W.I. Thomas. Definisi situasi merupakan penafsiran seseorang sebelum memberikan reaksi. Definisi situasi ini dibuat oleh individu dan masyarakat.&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk Interaksi Sosial&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk interaksi sosial yang berkaitan dengan proses asosiatif dapat terbagi atas bentuk kerja sama, akomodasi, dan asimilasi. Kerja sama merupakan suatu usaha bersama individu dengan individu atau kelompok-kelompok untuk mencapai satu atau beberapa tujuan. Akomodasi dapat diartikan sebagai suatu keadaan, di mana terjadi keseimbangan dalam interaksi antara individu-individu atau kelompok-kelompok manusia berkaitan dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Usaha-usaha itu dilakukan untuk mencapai suatu kestabilan. Sedangkan Asimilasi merupakan suatu proses di mana pihak-pihak yang berinteraksi mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan-kepentingan serta tujuan-tujuan kelompok.&lt;br /&gt;Bentuk interaksi yang berkaitan dengan proses disosiatif ini dapat terbagi atas bentuk persaingan, kontravensi, dan pertentangan. Persaingan merupakan suatu proses sosial, di mana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing, mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan. Bentuk kontravensi merupakan bentuk interaksi sosial yang sifatnya berada antara persaingan dan pertentangan. Sedangkan pertentangan merupakan suatu proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan kekerasan.&lt;br /&gt;Untuk tahapan proses-proses asosiatif dan disosiatif Mark L. Knapp menjelaskan tahapan interaksi sosial untuk mendekatkan dan untuk merenggangkan. Tahapan untuk mendekatkan meliputi tahapan memulai (initiating), menjajaki (experimenting), meningkatkan (intensifying), menyatupadukan (integrating) dan mempertalikan (bonding). Sedangkan tahapan untuk merenggangkan meliputi membeda-bedakan (differentiating), membatasi (circumscribing), memacetkan (stagnating), menghindari (avoiding), dan memutuskan (terminating).&lt;br /&gt;Perspektif Interaksionis&lt;br /&gt;Perspektif interaksionis adalah pandangan tentang masyarakat yang memusatkan perhatian pada interaksi antar perorangan dan kelompok.&lt;br /&gt;Peerspektif ini tidak menyarankan teori-teori besar tentang masyarakat karena istilah “masyarakat”, “negara”, dan “lembaga masyarakat” adalah abtraksi konseptual saja, sedangkan yang dapat  ditelaah secara langsung hanyalah orang-orang dan interaksinya saja.&lt;br /&gt;Para ahli interaksi simbolik seperti G.H. Mead (1863-1931) dan C.H. Cooley (1846-1929) memusattkan perhatiannya terhadap interaksi antara individu dan kelompok. Mereka menemukan bahwa orang-orang berinteraksi terutama dengan menggunakan simbol-simbol yang mencangkup tanda, isyarat dan, yang paling penting, melalui kata-kata secara tertulis dan lisan. Suatu kata tidak memiliki makna yang melekat dalam kata itu sendiri, melainkan hanyalah suatu bunyi, dan baru akan mempunyai makna bila orang sependapat bahwa bunyi tersebut mengandung suatu arti khusus. Dengan demikian kata-kata “ya”, “tidak”, “pergi”, “datang” dan ribuan bunyi lainnya adalah simbol-simbol karena melekatnya suatu arti pada setiap kata tersebut. Meskipun beberapa arti dapat dikomunikasikan tanpa kata-kata sebagaimana diketahui oleh semua yang sedang bercinta, sebagian besar dapat di komunikasikan secara lisan atau tulisan.&lt;br /&gt;Manusia tidak bereaksi terhadap dunia sekitar secera langsung, mereka bereaksi terhadap makna yang mereka hubungkan dengan benda-benda dan kejadian-kejadian sekitar mereka: lampu lalu lintas, antrian loket karcis, peluit seorang polisi dan isyarat tangan. Seorang sosiolog dini, W.I. Thomas (1863-1947), mengungkapkan tentang definisi suatu situasi, yang mengutarakan bahwa kita hanya dapat bertindak tepat bila kita telah menetapkan sifat situasinya. Bila seorang laki-laki mendekat dan mengulurkan tangan kanannya, kita mengartikannya sebagai salam persahabatan; bila mendekat dengan tangan mengepal, maka situasinya akan berlainan. Seorang yang keliru mengartikan situasi, umpamanya berusaha lari pada hal seharusnya bercumbu atau sebaliknya, akan tampak seperti orang aneh. Akan tetapi, dalam kehidupan nyata, kegagalan merumuskan situasi perilaku secara benar dan bereaksi dengan tepat, dapat menimbulkan akibat-akibat yang kurang menyenangkan.&lt;br /&gt;Sebagaimana yang diungkapkan Berger dan Luckman dalam buku mereka Social Construction of Reality (1966), masyarakat adalah suatu kenyataan objektif, dalam arti orang, kelompok, dan lembaga-lembaga adalah nyata, terlepas dari pandangan kita terhadap mereka. Akan tetapi, masyarakat adalah juga suatu kenyataan subjektif dalam arti bagi setiap orang, orang dan lembaga-lembaga lain tergantung pada pandangan subjektif orang tersebut. Apakah sebagian besar orang sangat baik atau sangat keji, apakah polisi pelindung atau penindas, apakah perusahaan swasta melayani kepentingan umum atau kepentingan pribadi. Ini adalah persepsi yang mereka bentukdari pengalaman-pengalaman mereka sendiri, dan persepsi ini merupakan “kenyataan” bagi mereka yang memberikan penilaian tersebut.&lt;br /&gt;Para ahli dalam bidang perspektif interaksi modern, seperti Erving Goffman (1959) dan Herbert Blumer (1962) menekankan bahwa orang tidak menagnggapi orang lain secara lain, sebaliknya mereka menanggapi orang lain sesuai dengan “bagaimana mereka membayangkan orang itu”. Dalam perilaku manusia, “kenyataan” bukanlah sesuatu yang tampak saja seperti trotoar sepanjang jalan, kenyataan dibangun dalam alam fikiran orang-orang pada waktu mereka saling menilai dan menerka perasaan serta gerak hati satu sama lainnya. Apakah seorang teman atau musuh, atau seorang asing, bukanlah karakteristik dari orang tersebut. Baik buruknya dia, diukur oleh pandangan tentang dia. Dengan demikian saya menciptakan kenyataan tentang dia dalam pikiran saya sendiri, dan kemudian saya bereaksi terhadap kenyataan yang telah saya bangun tersebut. Pembentukan kenyataan sosial ini berlangsung berkesinambungan sepanjang orang menetapkan perasaan-perasaan dan keinginan atas orang lain. Dengan demikian, “orang-orang” dengan siapa kita saling berhubungan, dalam batas-batas tertentu, adalah makhluk-makhluk bayangan kita. Suatu “pembentukan kenyataan sosial” terjadi bilamana dua kelompok, misalnya buruh dan manajer sampai pada seperangkat penilaian yang dipegang kuat terhadap masing-masing pihak. Dengan cara yang sama, kita mendefinisikan situasi dan menjadi bagian dari kenyataan yang kita tanggapi. Apakah suatu peraturan baru merupakan perlindungan atau suatu tekanan, diukur oleh definisi kita.&lt;br /&gt;Ini tidak berarti bahwa semua kenyataan adalah subjektif, yakni hanya ada dalam pikiran. Ada juga fakta objektif dalam alam semesta. Matahari, bulan dan bintang adalah nyata dan tetap “berada di sana”, sekalipun tak ada manusia yang melihatnya. Manusia adalah nyata, mereka lahir dan mati, mereka melakukan tindakan-tindakan yang mengandung sebab akibat. Namun, suatu fakta tidak dengan sendirinya mempunyai suatu makna. Makna diberikan pada suatu fakta dan tindakan manusia oleh manusia. Perspektif simbolik memusatkan perhatian pada arti-arti apa yang ditemukan orang pada perilaku orang lain, bagaimana arti ini diturunkan dan bagaimana orang lain menanggapinya.&lt;br /&gt;Pendekatan interaksi lainnya adalah pendekatan dramaturgi menurut Erving Goffman. Melalui pendekatan ini Erving Goffman menggunakan bahasa dan khayalan teater untuk menggambarkan fakta subyektif dan obyektif dari interaksi sosial. Konsep-konsepnya dalam pendekatan ini mencakup tempat berlangsungnya interaksi sosial yang disebut dengan social establishment, tempat mempersiapkan interaksi sosial disebut dengan back region/backstage, tempat penyampaian ekspresi dalam interaksi sosial disebut front region, individu yang melihat interaksi tersebut disebut audience, penampilan dari pihak-pihak yang melakukan interaksi disebut dengan team of performers, dan orang yang tidak melihat interaksi tersebut disebut dengan outsider.&lt;br /&gt;Erving Goffman juga menyampaikan konsep impression management untuk menunjukkan usaha individu dalam menampilkan kesan tertentu pada orang lain. Konsep expression untuk individu yang membuat pernyataan dalam interaksi. Konsep ini terbagi atas expression given untuk pernyataan yang diberikan dan expression given off untuk pernyataan yang terlepas. Serta konsep impression untuk individu lain yang memperoleh kesan dalam interaksi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-8457620555316422743?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/8457620555316422743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/interaksi-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/8457620555316422743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/8457620555316422743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/interaksi-sosial.html' title='Interaksi sosial'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-2685238000010033288</id><published>2011-10-11T07:09:00.000-07:00</published><updated>2011-10-11T07:16:47.670-07:00</updated><title type='text'>PERUBAHAN SOSIAL DAN STRUKTUR SOSIAL</title><content type='html'>PERUBAHAN SOSIAL DAN STRUKTUR SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Douglas (1973), mikrososiologi mempelajari situasi sedangkan makrososiologi mempelajari struktur. George C. Homans yang mempelajari mikrososiologi mengaitkan struktur dengan perilaku sosial elementer dalam hubungan sosial sehari-hari, sedangkan Gerhard Lenski lebih menekankan pada struktur masyarakat yang diarahkan oleh kecenderungan jangka panjang yang menandai sejarah. Talcott Parsons yang bekerja pada ranah makrososiologi menilai struktur sebagai kesalingterkaitan antar manusia dalam suatu sistem sosial. Coleman melihat struktur sebagai pola hubungan antar manusia dan antar kelompok manusia atau masyarakat. Kornblum (1988) menyatakan struktur merupakan pola perilaku berulang yang menciptakan hubungan antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Mengacu pada pengertian struktur sosial menurut Kornblum yang menekankan pada pola perilaku yang berulang, maka konsep dasar dalam pembahasan struktur adalah adanya perilaku individu atau kelompok. Perilaku sendiri merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungannya yang didalamnya terdapat proses komunikasi ide dan negosiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pembahasan mengenai struktur sosial oleh Ralph Linton dikenal adanya dua konsep yaitu status dan peran. Status merupakan suatu kumpulan hak dan kewajiban, sedangkan peran adalah aspek dinamis dari sebuah status. Menurut Linton (1967), seseorang menjalankan peran ketika ia menjalankan hak dan kewajiban yang merupakan statusnya. Tipologi lain yang dikenalkan oleh Linton adalah pembagian status menjadi status yang diperoleh (ascribed status) dan status yang diraih (achieved status).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Status yang diperoleh adalah status yang diberikan kepada individu tanpa memandang kemampuan atau perbedaan antar individu yang dibawa sejak lahir. Sedangkan status yang diraih didefinisikan sebagai status yang memerlukan kualitas tertentu. Status seperti ini tidak diberikan pada individu sejak ia lahir, melainkan harus diraih melalui persaingan atau usaha pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Social inequality merupakan konsep dasar yang menyusun pembagian suatu struktur sosial menjadi beberapa bagian atau lapisan yang saling berkait. Konsep ini memberikan gambaran bahwa dalam suatu struktur sosial ada ketidaksamaan posisi sosial antar individu di dalamnya. Terdapat tiga dimensi dimana suatu masyarakat terbagi dalam suatu susunan atau stratifikasi, yaitu kelas, status dan kekuasaan. Konsep kelas, status dan kekuasaan merupakan pandangan yang disampaikan oleh Max Weber (Beteille, 1970).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas dalam pandangan Weber merupakan sekelompok orang yang menempati kedudukan yang sama dalam proses produksi, distribusi maupun perdagangan. Pandangan Weber melengkapi pandangan Marx yang menyatakan kelas hanya didasarkan pada penguasaan modal, namun juga meliputi kesempatan dalam meraih keuntungan dalam pasar komoditas dan tenaga kerja. Keduanya menyatakan kelas sebagai kedudukan seseorang dalam hierarkhi ekonomi. Sedangkan status oleh Weber lebih ditekankan pada gaya hidup atau pola konsumsi. Namun demikian status juga dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti ras, usia dan agama (Beteille, 1970).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Berbagai kasus yang disajikan oleh beberapa penulis di depan dapat kita pahami sebagai bentuk adanya peluang mobilitas sosial dalam masyarakat. Kemunculan kelas-kelas sosial baru dapat terjadi dengan adanya dukungan perubahan moda produksi sehingga menimbulkan pembagian dan spesialisasi kerja serta hadirnya organisasi modern yang bersifat kompleks. Perubahan tatanan masyarakat dari yang semula tradisional agraris bercirikan feodal menuju masyarakat industri modern memungkinkan timbulnya kelas-kelas baru. Kelas merupakan perwujudan sekelompok individu dengan persamaan status. Status sosial pada masyarakat tradisional seringkali hanya berupa ascribed status seperti gelar kebangsawanan atau penguasaan tanah secara turun temurun. Seiring dengan lahirnya industri modern, pembagian kerja dan organisasi modern turut menyumbangkan adanya achieved status, seperti pekerjaan, pendapatan hingga pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Teori inkonsistensi status telah mencoba menelaah tentang adanya inkonsistensi dalam individu sebagai akibat berbagai status yang diperolehnya. Konsep ini memberikan gambaran bagaimana tentang proses kemunculan kelas-kelas baru dalam masyarakat sehingga menimbulkan perubahan stratifikasi sosial yang tentu saja mempengaruhi struktur sosial yang telah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Apabila dilihat lebih jauh, kemunculan kelas baru ini akan menyebabkan semakin ketatnya kompetisi antar individu dalam masyarakat baik dalam perebutan kekuasaan atau upaya melanggengkan status yang telah diraih. Fenomena kompetisi dan konflik yang muncul dapat dipahami sebagai sebuah mekanisme interaksional yang memunculkan perubahan sosial dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pengertian struktur sosial&lt;br /&gt;Menurut Talcott parsons (sunarto,2004:54), berbicara tentang struktur berarti berbicara tetntang kesalingterkaitan antarinstitusi, bukan antar individu. sedangkan menurut coleman, struktur adalah pola hubungan antar manusia. William kornblum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1988:77) mendefinisikan struktur social sebagai pola perilaku berulang-ulang yang menciptakan hubungan antarindividu dan antarlkelompok dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Calhoun (1997:7), struktur social adalah pola hubungan-hubungan, kedudukan-kedudukan, dan jumlah orang yang memberikan kerangka bagi organisasi manusia, baik dalam kelompok kecil atau keseluruhan masyarakat. Hubungan-hubungan terjadi ketika manusia memasuki pola interaksi yang relatife stabil dan berkesinambungan dan/ saling kertergantungan yang menguntungkan. kedudukan atau status menunjukan tempat seseorang di dalam jaringan hubungan social yang diakui dan biasanya mengandung perilaku yang diharapkan (peran). jumlah orang yang berbeda-beda, memiliki konsekuensi terhadap struktur social.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat lain dari Borgatta &amp; Borgatta (1992: 1970) menyatakan, struktur social adalah lingkungan social bersama yang tak dapat diubah oleh orang perorang, yang menyediakan konteks atau lingkungan bagi tindakan manusia. Ukuran organisasi, bahasa yang dipergunakan bersama, dan pembagian kesejahteraan adalah hal-hal yang membentuk lingkungan social yang bersifat structural dan membatasi prilaku orang perorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, harus dibedakan antara struktur social dengan individu yang mengisi struktur tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;struktur social terjadi karena bertahannya rutinitas social. Rutinitas social itu bertahan dalam jangka waktu lama karena 2 hal berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1  Hambatan-hambatan fisik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hambatan fisik seperti jarak satu tempat dengan tempat lainnya. oleh karena itu, orang cenderung memilih bertempat tinggal di dekat tempat kerjanya. Kecenderungan-kecenderungan ini membuat adanya rutinitas dalam kehidupan social.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2  keterbatasan kemampuan belajar manusia dan kompleksitas kegiatan social&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata bahasa, tata karma, dan keterampilan kerja adalah kecakapan social yang memerlukan waktu atau usaha khusus untuk dikuasai. kesulitan dalam memperoleh kecakapan itu dapat membatasi pilihan orang dlam kegiatan social. Betrnstien (1975)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mencatat bahwa kebiasaan seorang anak dirumah yang mencerminkan kondisi kerja orang tuanya, akan membuat anak tersebut hanya mampu menjalani pekerjaan yang sama dengan orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor Ketidaksamaan Sosial&lt;br /&gt;Beteille (1977:4) menyebutkan ada dua jenis sumber ketidaksamaan dalam masyarakat, yaitu (a) yang bersifat alami dan (b) yang bersifat social, sumber ketidaksamaan dalam masyarakat yang bersifat alami menurut Rousseau adalah usia, kesehatan, kekuatan tubuh, kualitas pikiran dan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber kekuasaan yang bersifat social adalah kekuasaan, prestise, kedudukan, dan kekayaan yang nilainya masing-masing sangat ditentukan oleh penilaian masyarakat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sumber-sumber ketidaksamaan social itu, kita meneganal adanya 2 konsep pokok dalam pembicaraan tentang struktur social yaitu diferensasi social (pembedaan social) dan stratifikasi social (pelapisan social) . Namun demikian, Sunarto(2004:86) tidak membedakan antara diferensiasi dan straktifikasi social. hal-hal yang sering disebut sebagai aspek diferensiasi seperti ras,etnis, usia dan jenis kelamin.kebanyakan pakar pun cenderung lebih membahas startifikasi social daripada difersifikasi social.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STRUKTUR SOSIAL&lt;br /&gt;A. Pengertian Struktur Sosial&lt;br /&gt;Istilah struktur berasal dari bahasa latin, yaitu structum yang berarti susunan, bangunan atau konstruksi.&lt;br /&gt;Struktur sosial merupakan keseluruhan susunan status, peran dan tata aturan yang mengatur interaksi antar status dan peran dalam suatu aturan sosial.&lt;br /&gt;Struktur sosial merujuk pada pola interaksi sosial tertentu yang pada umumnya mantap dan tetap, terdiri atas jalinan relasi-relasi sosial hierarki dan pembagian kerja tertentu serta ditopang oleh kaidah-kaidah, peraturan-peraturan dan nilai-nilai budaya.&lt;br /&gt;Konsep struktur sosial menurut para ahli sosiologi sangatlah beragam, mengingat dalam sosiologi merupakan imu yang mempunyai banyak teori dan paradigma.&lt;br /&gt;Para ahli sosiologi merumuskan definisi struktur sosial sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. George C. Homans: struktur sosial merupakan hal yang memiliki hubungan erat dengan perilaku sosial dasar dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;b. William Kornblum: struktur sosial adalah susunan yang dapat terjadi karena adanya pengulangan pola perilaku undividu.&lt;br /&gt;c. Soerjono Soekanto: struktur sosial adalah hubungan timbal balik antara posisi-posisi dan peranan-peranan sosial.&lt;br /&gt;B. Ciri-ciri Struktur Sosial&lt;br /&gt;1. Muncul pada kelompok masyarakat&lt;br /&gt;Struktur sosial hanya bisa muncul pada individu-individu yang memiliki status dan peran. Status dan peranan masing-masing individu hanya bisa terbaca ketika mereka berada dalam suatu sebuah kelompok atau masyarakat.&lt;br /&gt;Pada setiap sistem sosial terdapat macam-macam status dan peran indvidu. Status yang berbeda-beda itu merupakan pencerminan hak dan kewajiban yang berbeda pula.&lt;br /&gt;2. Berkaitan erat dengan kebudayaan&lt;br /&gt;Kelompok masyarakat lama kelamaan akan membentuk suatu kebudayaan. Setiap kebudayaan memiliki struktur sosialnya sendiri. Indonesia mempunyai banyak daerah dengan kebudayaan yang beraneka ragam. Hal ini menyebabkan beraneka ragam struktur sosial yang tumbuh dan berkembang di Indonesia.&lt;br /&gt;Hal-hal yang memengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia adalah sbb:&lt;br /&gt;a. Keadaan geografis&lt;br /&gt;Kondisi geografis terdiri dari pulau-pulau yang terpisah. Masyarakatnya kemudian mengembangkan bahasa, perilaku, dan ikatan-ikatan kebudayaan yang berbeda satu sama lain.&lt;br /&gt;b. Mata pencaharian&lt;br /&gt;Masyarakat Indonesia memiliki mata pencaharian yang beragam, antara lain sebagai petani, nelayan, ataupun sektor industri.&lt;br /&gt;c. Pembangunan&lt;br /&gt;Pembangunan dapat memengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia. Misalnya pembangunan yang tidak merata antra daerah dapat menciptakan kelompok masyarakat kaya dan miskin.&lt;br /&gt;3. Dapat berubah dan berkembang&lt;br /&gt;Masyarakat tidak statis karena terdiri dari kumpulan individu. Mereka bisa berubah dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Karenanya, struktur yang dibentuk oleh mereka pun bisa berubah sesuai dengan perkembangan zaman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1975303108139571959-2685238000010033288?l=smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/feeds/2685238000010033288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/perubahan-sosial-dan-struktur-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/2685238000010033288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1975303108139571959/posts/default/2685238000010033288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smamuhammadiyahtasikmalayasosiologi.blogspot.com/2011/10/perubahan-sosial-dan-struktur-sosial.html' title='PERUBAHAN SOSIAL DAN STRUKTUR SOSIAL'/><author><name>IWANGEODRS GURU GEOGRAFI SMA MUHAMMADIYAH 1 TASIKMALAYA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00023913015636300559</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_2z1pJ7MCT34/S7pmVCihi1I/AAAAAAAAApw/7QX39xY1-kQ/S220/IWANGEODRS.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1975303108139571959.post-6590600975799604894</id><published>2011-10-11T05:57:00.000-07:00</published><updated>2011-10-11T06:14:12.268-07:00</updated><title type='text'>Bentuk – Bentuk Struktur Sosial</title><content type='html'>A. Definisi Struktur Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara harfiah, struktur bisa diartikan sebagai susunan atau bentuk. Struktur tidak harus dalam bentuk fisik, ada pula struktur yang berkaitan dengan sosial. Menurut ilmu sosiologi, struktur sosial adalah tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Susunannya bisa vertikal atau horizontal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli sosiologi merumuskan definisi struktur sosial sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v     George Simmel: struktur sosial adalah kumpulan individu serta pola perilakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v     George C. Homans: struktur sosial merupakan hal yang memiliki hubungan erat dengan perilaku sosial dasar dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v     William Kornblum: struktur sosial adalah susunan yang dapat terjadi karena adanya pengulangan pola perilaku undividu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v     Soerjono Soekanto: struktur sosial adalah hubungan timbal balik antara posisi-posisi dan peranan-peranan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Ciri-ciri Struktur Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Muncul pada kelompok masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur sosial hanya bisa muncul pada individu-individu yang memiliki status dan peran. Status dan peranan masing-masing individu hanya bisa terbaca ketika mereka berada dalam suatu sebuah kelompok atau masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada setiap sistem sosial terdapat macam-macam status dan peran indvidu. Status yang berbeda-beda itu merupakan pencerminan hak dan kewajiban yang berbeda pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berkaitan erat dengan kebudayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok masyarakat lama kelamaan akan membentuk suatu kebudayaan. Setiap kebudayaan memiliki struktur sosialnya sendiri. Indonesia mempunyai banyak daerah dengan kebudayaan yang beraneka ragam. Hal ini menyebabkan beraneka ragam struktur sosial yang tumbuh dan berkembang di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang memengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia adalah sbb: a. Keadaan geografis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi geografis terdiri dari pulau-pulau yang terpisah. Masyarakatnya kemudian mengembangkan bahasa, perilaku, dan ikatan-ikatan kebudayaan yang berbeda satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Mata pencaharian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Indonesia memiliki mata pencaharian yang beragam, antara lain sebagai petani, nelayan, ataupun sektor industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pembangunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan dapat memengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia. Misalnya pembangunan yang tidak merata antra daerah dapat menciptakan kelompok masyarakat kaya dan miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dapat berubah dan berkembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat tidak statis karena terdiri dari kumpulan individu. Mereka bisa berubah dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Karenanya, struktur yang dibentuk oleh mereka pun bisa berubah sesuai dengan perkembangan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Fungsi Struktur Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Fungsi Identitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur sosial berfungsi sebagai penegas identitas yang dimiliki oleh sebuah kelompok. Kelompok yang anggotanya memiliki kesamaan dalam latar belakang ras, sosial, dan budaya akan mengembangkan struktur sosialnya sendiri sebagai pembeda dari kelompok lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.   Fungsi Kontrol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan bermasyarakat, selalu muncul kecenderungan dalam diri individu untuk melanggar norma, nilai, atau peraturan lain yang berlaku dalam masyarakat. Bila individu tadi mengingat peranan dan status yang dimilikinya dalam struktur sosial, kemungkinan individu tersebut akan mengurungkan niatnya melanggar aturan. Pelanggaran aturan akan berpotensi menibulkan konsekuensi yang pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Fungsi Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Individu belajar dari struktur sosial yang ada dalam masyarakatnya. Hal ini dimungkinkan mengingat masyarakat merupakan salah satu tempat berinteraksi. Banyak hal yang bisa dipelajari dari sebuah struktur sosial masyarakat, mulai dari sikap, kebiasaan, kepercayaan dan kedisplinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Bentuk Struktur Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk struktur sosial terdiri dari stratifikasi sosial dan diferensiasi sosial. Masing-masing punya ciri tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Stratifikasi Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stratifikasi berasal dari kata strata atau tingkatan. Stratifikasi sosial adalah struktur dalam masyarakat yang membagi masyarakat ke dalam tingkatan-tingkatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran yang dipakai bisa kekayaan, pendidikan, keturunan, atau kekuasaan. Max Weber menyebutkan bahwa kekuasaan, hak istimewa dan prestiselah yang menjadi dasar terciptanya stratifikasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya perbedaan dalam jumlah harta, jenjang pendidikan, asal-usul keturunan, dan kekuasaan membuat manusia dapat disusun secara bertingkat. Ada yang berada di atas, ada pula yang menempati posisi terbawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sifatnya, stratifikasi sosial dapat dibagi menjadi 2:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Stratifikasi Sosial Tertutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah stratifikasi sosial yang tidak memungkinkan terjadinya perpindahan posisi (mobilitas sosial)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.   Stratifikasi Sosial terbuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah stratifikasi yang mengizinkan adanya mobilitas, baik naik ataupun turun. Biasanya stratifikasi ini tumbuh pada masyarakat modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk mobilitas sosial: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mobilitas Sosial Horizontal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, perpindahan yang terjadi tidak mengakibatkan berubahnya status dan kedudukan individu yang melakukan mobilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Mobilitas Sosial Vertikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobilitas sosial yang terjadi mengakibatkan terjadinya perubahan status dan kedudukan individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobilitas sosial vertikal terbagi menjadi 2:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#Vertikal naik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status dan kedudukan individu naik setelah terjadinya mobilitas sosial tipe ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#Vertikal turun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status dan kedudukan individu turun setelah terjadinya mobilitas sosial tipe ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Mobilitas antargenerasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bisa terjadi bila melibatkan dua individu yang berasal dari dua generasi yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Stratifikasi Sosial Campuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bisa terjadi bila stratifikasi sosial terbuka bertemu dengan stratifikasi sosial tertutup. Anggotanya kemudian menjadi anggota dua stratifikasi sekaligus. Ia harus menyesuaikan diri terhadap dua stratifikasi yang ia anut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dasar ukurannya, stratifikasi sosial dibagi menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Dasar ekonomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan status ekonomi yang dimilikinya, masyarakat dibagi menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1)      Golongan Atas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk golongan ini adalah orang-orang kaya, pengusaha, penguasan atau orang yang memiliki penghasilan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)      Golongan Menengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdiri dari pegawai kantor, petani pemilik lahan dan pedagang.;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)      Golongan Bawah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdiri dari buruh tani dan budak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Dasar pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berpendidikan rendah menempati posisi terendah, berturut-turut hingga orang yang memiliki pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Dasar kekuasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stratifikasi jenis ini berhubungan erat dengan wewenang atau kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang. Semakin besar wewenang atau kekuasaan seseorang, semakin tinggi strata sosialnya. Penggolongan yang paling jelas tentang stratifikasi sosial berdasarkan kekuasaan terlihat dalam dunia politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak adanya stratifikasi sosial:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Dampak Positif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berada pada lapisan terbawah akan termotivasi dan terpacu semangatnya untuk bisa meningkatkan kualitas dirinya, kemudian mengadakan mobilitas sosial ke tingkatan yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Dampak Negatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat menimbulkan kesenjangan sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Diferensiasi Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Soerjono Soekanto, diferensiasi sosial adalah penggolongan masyarakat atas perbedaan-perbedaan tertentu yang biasanya sama atau sejajar. Jenis diferensiasi antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Diferensiasi ras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ras adalah su8atu kelompok manusia dengan ciri-ciri fisik bawaan yang sama. Secara umum, manusia dapat dibagi menjadi 3 kelompok ras, yaitu Ras Mongoloid, Negroid, dan Kaukasoid. Orang Indonesia termasuk dalam ras Mongoloid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Diferensiasi suku bangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku bangsa adalah kategori yang lebih kecil dari ras. Indonesia termasuk negara dengan aneka ragam suku bangsa yang tersebar dari Pulau Sumatera hingga papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Diferensiasi klen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klen merupakan kesatuan keturunan, kepercayaan, dan tradisi. Dalam masyarakat Indonesia terdapat 2 bentuk klen utama, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Klen atas dasar garis keturunan ibu (matrilineal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya yang terdapat pada masyarakat Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Klen atas dasar garis keturunan ayah (patrilineal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya yang terdapat pada masyarakat Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Diferensiasi agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia kita mengenal agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghuchu, dan kepercayaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Diferensiasi profesi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat biasanya dikelompokkan atas dasar jenis pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Diferensiasi jenis kelamin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan jenis kelamin, masyarakat dibagi atas laki-laki dan perempuan yang memiliki derajat yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Alam S&amp; Henry H, 2008, Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMK dan MAK Kelas XI, Jakarta: Erlangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk – Bentuk Struktur Sosial A. Struktur sosial Struktur social merupakan pola perilaku dari setiap individu masyarakat yang tersusun&lt;br /&gt;sebagai suatu system. baik vertikal maupun horizontal.struktur vertikal yaitu berbentuk&lt;br /&gt;stratifikasi sosial,dan sedangkan harizontal yaitu berbentuk diferensiasi sosial.&lt;br /&gt;Dalam ilmu sosiologi,penbentuk struktur sosial,yaitu status dan peran sosial .&lt;br /&gt;B. Diferensiasi Sosial dan Stratifikasi Sosial. 1. Diferensiasi Sosial Diferensiasi adalah klasifikasi terhadap perbedaan-perbedaan yang biasanya sama.&lt;br /&gt;Pengertian sama disini menunjukkan pada penggolongan atau klasifikasi masyarakat&lt;br /&gt;secara horisontal, mendatar, atau sejajar. Asumsinya adalah tidak ada golongan dari&lt;br /&gt;pembagian tersebut yang lebih tinggi daripada golongan lainnya..Pengelompokan&lt;br /&gt;horisontal yang didasarkan pada perbedaan ras, etnis (sukubangsa), klan dan agama&lt;br /&gt;disebut kemajemukan sosial, sedangkan pengelompokan berasarkan perbedaan profesi&lt;br /&gt;dan jenis kelamin disebut heterogenitas social&lt;br /&gt;Pada intinya hal-hal yang terdapat dalamdifer ens ias i itu tidak terdapat tingkatan-&lt;br /&gt;tingkatan, namun yang membedakan satu individu dengan individu yang lainnya adalah&lt;br /&gt;sesuatu yang biasanya telah ia bawa sejak lahir. contohnya saja, suku sunda dan suku&lt;br /&gt;batak memiliki kelebihan masing-masing. jadi seseorang tidak bisa menganggap suku&lt;br /&gt;bangsanya lebih baik, karena itu akan menimbulkan etnosentrisme dalam masyarakat.&lt;br /&gt;diferensiasi merupakan perbedaan yang dapat kita lihat dan kita rasakan dalam masyarakat, bukan untuk menjadikan kita berbeda tingkat sosialnya seperti yang terjadi&lt;br /&gt;di Afrika Selatan.&lt;br /&gt;Diferensiasi sosial ditandai dengan adanya perbedaan berdasarkan ciri-ciri sebagai&lt;br /&gt;berikut:&lt;br /&gt;a. Ciri Fisik&lt;br /&gt;Diferensiasi ini terjadi karena perbedaan ciri-ciri tertentu.&lt;br /&gt;Misalnya : warna kulit, bentuk mata, rambut, hidung, muka, dsb.&lt;br /&gt;b. Ciri Sosial&lt;br /&gt;Diferensiasi sosial ini muncul karena perbedaan pekerjaan yang menimbulkan cara&lt;br /&gt;pandang dan pola perilaku dalam masyarakat berbeda. Termasuk didalam kategori ini&lt;br /&gt;adalah perbedaan peranan, prestise dan kekuasaan.&lt;br /&gt;Contohnya : pola perilaku seorang perawat akan berbeda dengan seorang karyawan&lt;br /&gt;kantor.&lt;br /&gt;c. Ciri Budaya&lt;br /&gt;Diferensiasi budaya berhubungan erat dengan pandangan hidup suatu masyarakat&lt;br /&gt;menyangkut nilai-nilai yang dianutnya, seperti religi atau kepercayaan, sistem&lt;br /&gt;kekeluargaan, keuletan dan ketangguhan (etos). Hasil dari nilai-nilai yang dianut suatu&lt;br /&gt;masyarakat dapat kita lihat dari bahasa,kesenian, arsitektur, pakaian adat, agama, dsb.&l
